Rabu, 31 Desember 2014

Penghujung Tahun..

Di tahun ini, segala hal di mulai. Mulai melangkah, menitih, dan menata semesta bersamamu. Jika ada pertanyaan mengapa tahun ini berbeda, semua jawaban berawal dan berakhir dengan kamu.

adalah kamu yang ku cintai tak berjeda dan seutuh utuhnya rasa..

Senin, 17 November 2014

Senja


Pagi itu langit langit mendung membungkus kota. Namun pagi tetaplah pagi yang menyegerahkan seisi kota sibuk memulai hari. Tak peduli gerimis, hujan bahkan petir sekalipun tak menghambat langkah mereka yang dikejar deadline. Sementara aku, masih rindu dibelai selimut pemberian perempuanku yang berwajah menyenangkan itu.
Perempuan itu bernama senja. Aku pernah bertanya padanya sejak awal pendekatan, mengapa harus senja, mengapa bukan embun atau mentari, atau bahkan rembulan. Tapi ia hanya menjawab "RAHASIA". Demi apapun ia selalu menjawabnya seperti itu, dan aku selalu mencubit pipinya sebagai balasan rasa kesalku. Dan ia hanya tertawa lalu menggelitikiku, agar kesalku mati dihadapannya. Ia selalu punya cara, Perempuanku selalu hebat.
Drrrrrt ~~ "ponselku pagi itu bergetar panjang, aku hafal getaran itu miliknya.
Aku yang masih manja di dalam selimut, meraba meja meraih ponsel.
Senja : "Selamat pagi, kamu yang gantengnya cuma buat aku."
Alhasil ia tak pernah gagal mendapat senyumku tiap pagi.
Belum sempat aku membalasnya, getar kembali menguasai ponselku.
Senja : "Selamat 7 ke 7, sayang. Bawel, lucu, konyol, semua semuanya pokonya aku hak patenin milik aku aja ya. Boleh kan?"
Aku : "Selamat pagi, senja yang datangnya kepagian. :D , eh tanggal tujuh ya? Aku pikir tanggal 8, abis dimimpi tadi, aku pergi tanggal 7 bareng kamu liat senja, eh mendung. Untung ada senja kamu. Dimimpi itu juga kamu senyumnya manis banget. Sayang banget mimpinya bentar."

Aku : "Gak boleh. Kamu boleh patenin kalo uda ngasi tau kenapa nama kamu senja. :v"
Senja : "Emang kapan senyum aku gak manis?"
Senja : "Deal! Senja hari ini. Semoga mendung cepet cepet kamu bawa ke laut. Kamu mandi ih. Aku tunggu! "
Aku : "Haha, senyummu dimimpi lebih manis dari manis janji-janji kehidupan. Siap Jendral!".
....
Aku berangkat, mendung sepertinya telah dibawa angin ke gunung. Senja salah bila harus membawanya ke laut. Karena mungkin senja takkan nampak. Aku menjemputnya senja, ia tak pernah membuatku menunggu lama di depan gerbang rumahnya. Tapi hari ini berbeda, ia membuatku menunggu 5 menit lamanya. Suara kakinya mendekat, senja muncul dengan baju jingga, celana jeans, dan sepatu cats. Selalu tampak cerah menyenangkan.
"Selamat pagi, nona jingga yang manis", godaku.
Ia hanya menepuk pundakku dan tertawa mengacak rambutku. Itulah kebiasaannya, tiap kali aku memujinya ia kadang menginjak kakiku, mencubit, bahkan terparah ia menggigit. Tapi entah mengapa, aku selalu jatuh cinta berkali kali akan tingkahnya. Menurutku senja lucu, tak anggun tapi wajahnya penyayang. Aku satu kampus dengannya. Aku sudah lama menyukainya tapi baru tujuh bulan yang lalu aku mampu merebut hatinya. Tepat disaat senja sore itu di bangku taman kampus, keberuntungan yang kebetulan semesta mempertemukan. Aku duduk menatap senja dan senja menatap senja. Mata senja yang tanpa kedip membuat bulu matanya yang lentik terlihat jelas. Bibirnya yang ranum, sungguh membuat dadaku riuh berpesta debar.

Entah keberanian dari mana, langkahku tergerak mendekatinya.
"Hai, aku Byakta. Sendiri?" Tanganku gemetar terulur.
Senja menoleh, dan tertawa melihatku yang gugup. Iya itu pertama kalinya aku menegurnya dan mendengar tawanya langsung. Sungguh semestaku riang bereuforia. Saat itu aku menyukai sekali tawanya, tawa senja sore itu. Jika ada kata satu tingkat diatas kagum. Aku ingin katakan langsung padanya hari itu. Itulah awal mulanya aku dan senja saling mengenal. Senja, perempuan yang sulit ku definisikan.
.......
Sesampai di kampus, kebetulan kampus kita sama hanya beda jurusan. Senja jurusan psikologi sedang aku arsitek dan kebetulan jam kuliah kita pagi ini sama. Setelah kegiatan perkuliahanku hari ini, aku meraih ponsel dan mengirimkan senja pesan.
Aku : "Senja, lagi bentar mataharinya ditenggelam di laut nih, kamu gak mau nolongin? O, ya senja juga nunggu nih alasan namanya dipinjam sama perempuan manis seperti kamu."
Senja : "Haha. Kamu tunggu aja aku di tepi pantai itu, pesan aja dulu kopi biar gak kesepian. Tunggu 7 menit lagi, aku lagi dijalan nih mau nyebrang."
....
*Lampu kuning**traaaak*
Tangan kanan senja mengalir darah membasahi sebagian amplop putih yang ia genggam.
...
Untuk Byakta. Lelaki yang ku tertawai 7 bulan lalu. Aku jatuh cinta padamu, lewat jemarimu yang gemetar.
Untuk menepati janjiku, dan menagih janjimu mematenkan segala hal tentangmu hanya milikku. Berkali kali kau bertanya mengapa namaku senja. Kenapa bukan embun? Kata ayah, aku tak suka bangun pagi, jadi mana sempat aku melihat embun.

Aku selalu bangun ketika embun telah kembali menjadi mega. Lalu mengapa bukan mentari? Kata Ayah aku ini berbeda dengan mentari. Sejak kelahiranku, semua menatapku haru bahagia. Dan lagi lagi katanya wajahku menyenangkan. Sedangkan mentari tak ada yang mampu menatapnya lama lama. Haha apa kau setuju dengan ayah?. Sekarang kenapa bukan rembulan? Ah kamu tahukan? Rembulan terlihat sangat anggun. Apa aku seperti itu? Sekali lagi, ayah menjawabnya tidak. Dan kamu tahu itu, Byakta. O, ya aku menuliskan ini agar senja tak mendengar alasan mengapa namaku senja sepertinya. Ku biarkan ia selamanya penasaran.
Ini janjiku. Maukah kau menepati janjimu? Bisikan sekarang ditelingaku sebelum senja benar benar pergi hari ini..
....
Sebulan lalu, aku tak pernah berani membuka amplop ini, senja.
Dan hari ini, 7 ke 8 . Kau datang lagi ke mimpiku. Kau sungguh cantik tak lagi manis, kau berbeda kau tampak anggun. Tak sempat membisikkanmu , aku terbangun oleh bunyi ponselku..
Aku merindukanmu, begitupun senja yang penasaran padamu senja, perempuanku yang berwajah menyenangkan.

Minggu, 09 November 2014

Random

Entah mengapa apa kenapa.
Yang jelas pernahkah kau rasakan sepi hingga nadi nadimu berdenyut saja enggan?
Bagaimana rasanya. Rasa sepi seperti itu? Ah peduli sekali akan hal seperti itu.
Mati sajalah kau, aku tak peduli sepi.
Hurufku tetap hidup!
Tapi bagaimana tentang jiwa yang pergi sedang raga jemu sendiri.
Entah kemana pergi, tanpa petunjuk, setapak jejakpun tak ada atau sebenarnya hilang.
Yang tersisa raga, raga yang membosankan ditatap.
Lantas percumalah ragamu itu berparas menawan!
Jikalau jiwanya saja sukar menerima itu raganya sendiri.
"Pulang!", raga menggertak.
Namun jiwa tak tahu bahasa malah melenggang pergi kegirangan.

Sepuncuk surat tergeletak dalam gengamnya raga. "Carilah jiwa baru, yang mampu kau cintai sepenuh hati".

Kadang hati dan pikiran berselisih paham. Tak tahu menginginkan apa dan memenangkan apa.

Kamis, 30 Oktober 2014

Kata-Kata yang Tak Mampu diKatakan

Selamat tuan. Entah pagi, siang atau bahkan malam sedang menjelang. Bolehkah aku memelukmu saat aku menyapa sekarang ini? Sepertinya hari harimu terasa melelahkan sekali. Atau ini hanya sekedar perasaanku saja.
Takkan ada lagi kata yang sulit di tulisanku ini . Karena mungkin semakin lama tulisan ini menjenuhkan untuk dibaca. Bahkan tak ada lagi antusias dari wajahmu yang dulu tak sabar untuk membaca tiap tulisan yang ku posting. Jadi tulisan ini ditulis sesederhana mungkin, memudahkanmu untuk mengerti tiap ruas kata yang kau baca.
Tuan..
Kau tahu mengapa aku seringkali menulis walau ku tahu jarang sekali ada yang membaca? Dulu bahkan sampai detik ini, aku sulit sekali berkomunikasi dengan baik. Caraku berbicara berantakan sekali, tapi walaupun begitu banyak dari mereka mengangapku cerewet. Meski cerewet, aku tahu sekali apa yang aku ucap kebanyakan tak jelas. Padahal aku berharap sekali bisa berbicara lancar dan benar dengan berlatih berbicara, secerewet mungkin. Kadang berpikir, aku sebaiknya tak mengucapkan apapun, menjadi diam mungkin lebih baik, menanggapi seadanya pembicaraan. Tapi entah mengapa, akupun selalu gagal melakukannya. Aku selalu tertarik untuk berbicara. Bisa jadi karena aku tak pernah melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Aku memang payah, mudah sekali putus asa, dan malas mencoba lagi.

Memang benar tak ada yang bisa dibanggakan dari aku yang tak multitalenta. Membayangkan aku yang tak bisa apa-apa, aku seringkali menangis dalam hati, menghujat diri sendiri, mencaci maki kekurangan; sungguh apa yang aku lakukan itu sia sia saja. Bahkan hal yang paling sia-sia  adalah saat aku membandingku sendiri dengan perempuan lain, segitu tak bahagianya aku.
Beruntunglah aku suka menulis, menulis segala hal yang harus ku abadikan dan menulis apa yang harus dilupakan.  Itulah caraku mencintai diriku sendiri.
Tapi, sejak tanggal 27 maret 2014 . Kamis tepatnya, hatiku telah kau menangkan. Dihari itu, kau mengaku jika kau seringkali membaca tulisanku.  Kau tahu tuan? Sejak hari itu aku merasa sangat dicintai olehmu, menjadi orang yang sangat berharga di muka bumi ini; sungguh, aku sedang mengada-ada. Saat itu, ku rasa dicintaimu saja, cukup. Dan saat itu pula, aku terus menulis, berlatih agar tulisanku selalu tampak menyenangkan dibaca olehmu. Bahkan aku malu sekali bila menulis dengan kata kata sederhana, dan sangat menyesal bila tak mampu mempostingnya setiap bulan. Karena aku selalu menyukai antusiasmu. Antusiasmu menunggu, membaca atau bahkan mengkritik.
Sudah tujuh bulan tuan kita bersama. Aku tetap menulis, menulis dan hingga tak tahu pasti kapan sebenarnya aku menulis hal-hal yang membuatmu tak mengerti, tak membuatmu antusias lagi membacanya. 

Aku tak pernah sadar, kapan sebenarnya terjadi. Aku yang merasa kehilangan senyum, tawa dan bahagiamu, hingga berdampak buruk pada perilakuku di depanmu, yaitu menjadi perempuan bodoh yang seringkali tak tahu berbuat apa. Sungguh menyebalkan sekali menjadi aku. Bertingkah seolah tak pedulikanmu, padahal aku ingin sekali menghampirimu, menggodamu hingga membuatmu tertawa. Bertingkah seolah tak ingin berada didekatmu, padahal ingin sekali rasanya menggenggam jemarimu yang kosong lalu diam diam menggigitnya dan kau teriak kemudian kita duduk membicarakan kegaringan kita.
Beruntunglah aku masih bisa menulis, meluapkan apa yang tak bisa ku utarakan langsung kepadamu. Sungguh aku ingin menceritakan malam itu kepadamu, tapi berjanjilah kau tak perlu merasa bersalah setelah ini. Malam itu, 26 Oktober aku sengaja membuatmu begitu kesal, karena aku tengah sibuk membuat burung dari kertas origami yang telah ku pelajari beberapa hari dari sahabatku, didalam sana terdapat pertanyaan yang ku harap kau bisa jawab dihadapanku pada keesokkan harinya..... Aku sengaja membuat kesal, aku tengah membuat stop motion dadakan yang ku ubah dari konsep awalku.... Aku sengaja membuatmu kesal, karena esok pagi aku telah siap membahagiakanmu.... Dan tenyata benar, kesengajaanku berbuah buruk. Tepat, 27 Oktober lalu, aku terlalu berlebihan mengungkapkan bahagia memilikimu, hingga membuatmu jengah yang merasa ingin dicintai sesederhana mungkin. Maaf, aku terlalu antusias melihatmu bahagia.

Hingga penghujung malam itu, aku menyesal dalam diam, meredam suara isak sendiri dalam gelap sembari menunggu kabarmu hingga pagi dadaku masih menyimpan sesak.
Aku bahkan tak ingin menulis lagi rasanya setelah ini. Karena akhir-akhir ini aku tengah sibuk merasa  cemas akan kehilangan sosokmu.

Ps: Maaf atas berlebihan ini, aku merasa sangat tak berguna bila kau menceritakan kesedihanmu pada orang lain dan bukan padaku. Karena diammu, mendiamkanku. Takkah kau ingin mengatakan apa yang rasa saat ini? Perihal perasaanmu itu? Katakanlah sejujurnya, tanpa ada yang terlewatkan.

Rabu, 15 Oktober 2014

.

Rindu itu serupa bayang yang seringkali membuat takut hingga ingin menemuimu.

Minggu, 12 Oktober 2014

When You Say Nothing at All

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*



Sayang, Mengapa malam ini begitu senyap? Hingga rasa-rasanya ingin ku hempas apa saja agar berdenting ditelinga .
Mengapa malam ini begitu sendu? Hingga rasa-rasanya muakkan sekali menatap muka cantik ini di cermin.
Mengapa malam ini begitu dingin? Hingga rasa-rasanya aku malas sekali keluar menatap langit.
Mengapa malam ini begitu sepi? Hingga rasa-rasanya aku ingin merayakan pesta malam hingga pagi di rumahku.
Mengapa malam ini begitu lama? Hingga rasa-rasanya ingin ku beli saja waktu pagi yang meriah di dunia.
Mengapa malam ini begitu gelap? Hingga rasa-rasanya ingin mengangkat koper meninggalkan bumi dan pindah ke bintang.
Mengapa malam ini begitu sesak? Hingga rasa-rasanya ku ingin berlari terbang ke angkasa di antara benda-benda langit.
Lalu, mengapa malam ini kau ada diantara tiada?
Menjanjikan malam yang penuh euforia
Sedang tabir harapan kau buka selebar-lebarnya malam ini
HINGGA
Sekelilingku begitu senyap, hatiku sendu, tatapanku yang dingin, rinduku yang sepi, detik mengalun lama, pikiranku gelap, dan dadaku sesak.

 Benar, tak ada yang mampu menjanjikan kebahagiaan. Keegoisanlah yang mengikis sebongkah janji kebahagian itu, menjadikannya tiada tanpa sedikitpun.meninggalkan gemerlap tawa.
Kemanakah aku harus mengubur ego demi menyapamu terlebih dulu? Mengatakan bahwa aku ingin menatapmu sebentar saja? Membiarkan suara parauku terdengar manis di telingamu. Merampas jawab-jawabmu oleh pertanyaan yang akan ku jelali nanti. Menghadiahkanmu senyum untuk kau bawa dalam mimpimu dipetang nanti.
Tidakkah kau rindu disapa olehku?
Sekali lagi tidakkah kau rindu tentangku?
Dan terakhir aku bertanya, takkan ada pertanyaan selanjutnya setelah ini, tidakkah kau merasakan hal yang sama saat ini? -Menduga-duga sedang apa kau. 



Sabtu, 11 Oktober 2014

Masa Depan

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Disuatu sore, seorang laki-laki termanggu di sebuah balkon apartemen menatap mentari yang beringsut melambai hilang.. Lakil-aki itu sendiri, namun sesekali ia berbicara pada dirinya. "Aku tak seharusnya seperti ini", ucap sambil menyandarkan badannya ke kursi.
Ia menatap kedepan, memasang kedua bola matanya menangkap goresan jingga diufuk barat sana.Tak ada jawaban disana, ia hanya sedang menenangkan perasaan yang mengusiknya.  Sementara ia sibuk bertanya-tanya. Ponselnya berdering namun ia tak peduli hanya saja deringnya makin lama makin melengking ditelingga. Ia merabaraba diatas meja kecil, setelah ia mendapatkan ponselnya. Diponselnya tertulis Aliza memanggil. Tanpa pikir panjang ia menjawab telpon itu. Sebelum ia berkata halo, diujung sana mencegatnya dan berkata "kamu dimana? Aku sendirian, aku takut".
"Kau dimana sekarang? Aku kesana, jangan kemana-mana".
Pemuda itu lalu berangkat tergesa gesa sambil meraih jaket diatas sofa miliknya. Mengunci pintu dan menuruni tangga karena seminggu lalu lift apartemen yang ia sewa rusak. Pemuda itu menarik gas motor, dan melesat cepat mencari-cari seseorang yang menelponnya.
...
Pemuda itu turun dari motor besarnya menghampiri perempuan yang menunduk dikursi taman kota. Pemuda itupun duduk disampingnya.
"Ada apa?"
"Dia meninggalkan aku demi perempuan jalang itu", adu perempuan pada pemuda sambil terisak isak.
Pemuda itupun meraih tubuh perempuan yang tersedu-sedu meratap kesedihannya, -Mendekap tanpa ada lagi jarak yang diberi waktu untuk bernafas. 
"Dia tak pernah menjelaskan dimana letak kesalahanku, ia hanya bilang jika ia masih mencintai kineta, mantan kekasihnya". Laki-laki itu diam, mendengarkan dengan seksama, sesekali ia mengelus lembut pundak perempuan itu.
"Mengapa ia begitu tega mengatakannya, berkali-kali membandingkan aku dengan perempuan itu, dan menganggap aku tak lebih baik.", lanjut Aliza. "Aku ingin membenci, tapi hatiku memilih mencintainya dengan keukeuh walaupun berkali-kali dihianati, aku tetap akan menunggunya lagi".
"Kau tahu, Aliza? Apa yang paling menakutkan dalam sebuah hubungan?", sambut lelaki itu.
"Kehilangan?", jawabnya. "Seringkali orang menganggap bahwa ketakutan itu adalah kehilangan. Tapi bagiku, hal yang menakutkan adalah masa depan, kau tahu mengapa?". Aliza menggeleng lemah.
"Masa depan adalah misteri, menakutkan sekali bila kau membayangkan masa depanmu, kau justru melewatinya bersama orang yang masih ingin tinggal di masa lalu"."Ia sebisa mungkin bertahan denganmu, tapi hatinya begitu dingin bila kau sentuh. Bayang-bayang menakutkan di masa depan." Lelaki itu menghela nafas panjang, lalu melepas pelukannya. Ia menatap lamat-lamat Aliza yang masih tersedu-sedu.
"Bahkan kini, aku  mencintaimu, Za. Namun ketakutkanku memilih untuk diam sekarang. Tak membawamu ke masa depanku. Menunggumu mengatakan bahwa kau tak lagi ingin tinggal disana, tempat yang seharusnya jauh untuk ditinggalkan. Hingga ketika kau benar-benar datang membawa janji masa depan, kau tak lagi menatapku dengan tatapan kosong lagi. Menunggu debar-debarmu datang berlarian menghampiriku, menunggumu gelisah setiap malam memikirkanku. Menunggu, iya menunggu hingga kau benar-benar jatuh cinta dan bukan sebuah pelarian masalalu."

Rabu, 08 Oktober 2014

Tak Menjadi Berbeda

Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*

19:27
Selamat malam purnama..
Selamat malam pula tuan.
Teruntukmu tuan yang saat ini berada jauh dari tatapku.

Kelak jika kamu, tuan yang menyematkan cincin dijari manisku nanti. Yang akan bersamaku dalam menjejakkan langkah. Yang akan selalu menjadi tempat untuk pulangnya rinduku.
Perkenankanlah aku meminta kau menjadi seharusnya kau, tuan.
Yang artinya kau tak perlu selalu terlihat sempurna dihadapanku.
Meminta kau tak perlu menjadi berbeda dari apa adanya kamu. Seperti, bila kau ingin bermanja denganku, manjalah semestinya tanpa malu. Bila kau lelah, lelahkan lelahmu dipundakku sejenak jika kau butuh. Bila kau kesal, kesallah dengan lembutnya celotehan itu bila kau memang sedang cemburu, bisikkan aku cemburumu itu tanpa ada kau simpan sesak-sesak itu sendiri.
Aku tak ingin kau merasa bersandiwara atau bermain peran ketika sudah bersamaku.
Yang ku harap kau tak menjadi siapa-siapa didepanku, tak berperan menjadi sosok lain dari apa yang dirasakan sebenarnya, bertingkah seolah semua baik baik saja. Aku ingin mengetahui hal hal tentangmu, walau mungkin aku tak selalu hebat menenangkan gelisahmu, atau yang sering kau sebut basa basi. Tak apa-apa kau sebut apapun itu, aku hanya minta kau tetap menjadi dirimu, mengekpresikan apa yang kau rasa. Karena mungkin dengan itu aku tahu kapan aku harus memelukkmu, menggenggam tanganmu, mengusap pundakmu atau paling tidak menjadi sebaik-baiknya pendengar untukmu. Tak hanya menjadikanku pasangan, namun kau dapat menjadikanku teman atau bahkan sahabatmu. Karena aku ingin dan membuatmu merasa cukup akan aku. Tak egoiskah aku ? :D Semoga saja tidak.

......
Untuk itu aku menulis, merayumu lewat kata dalam jarak. Karna ku tahu, aku tak selalu hadir dalam titisan rindu yang menyuruhku datang, menggantikan kedua lenganku; memeluk tiap rindu yang mencekik sepimu.

Rabu, 01 Oktober 2014

Darrell Azhar

Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*

Aku mau nulis, nulis tentang apa saja yang bisa dibaca kamu kalo kamu lagi mampir ke sini. Jadi kamu gak bakal sia-sia kalo uda mampir ke sini, uda capek capek buka terus gak ada bacaan kan membosankan juga gitu. Begitu kamu buka, kamu mampir, kamu bisa baca. Walaupun isinya mungkin gak jelas seperti bacaan yang lain. Tapi setidaknya ini bisa dibaca buat mengisi waktu luang kamu ini.
Lebih baik baca atau tidak sama sekali. Karna menurutku, kamu pasti sering baca tulisan-tulisan yang ada diblog ini, jadi aku beranggapan kalo aku gak nulis kamu pasti kangen gitu. Anggap ini tulisan pengobat rindu buat kamu yang mungkin lagi kangen sama yang nulis, atau lagi galau karna tugas begitu cepat dikejar deadline. Atau mungkin galau karena pacar kamu php jadi mending baca ini, tulisan tulisan ini tidak php. Tulisan yang mungkin buat kamu gak merasa sendiri, untuk itu aku menulis. Pengganti kedua lenganku yang begitu jauh dari rengkuhanmu. Tulisan ini bisa nemenin kamu disaat saat kritis seperti ini. Begitu kamu baca kamu akhirnya tahu bahwa kamu gak merasa sendiri, kalo sepi gak berani datang kalo lagi baca. Maaf ya kalo isi tulisan cuma gini gini aja, kan uda aku bilang kalo aku gak tahu mau nulis apa. Gak papa ya? Aku yakin kamu gak marah paling kesel terus pengen nyubitin orang yang nulis. Oh maaf kePDan.
Jadi sekarang aku bingung nih, kamu punya ide gak, aku sebenarnya harus nulis apa? Tentang apa? Kalo kamu punya ide, kasih tahu dong ya. Udah ah besok lagi deh aku nulis kalo sempet.
Sampai sekarang, entah mau judulin apa, bagaimana kalo aku pinjem nama kamu aja. Bolehlah ya. Oke makasi.

Senin, 29 September 2014

Tak Ada Puisi Hari Ini

Pada apapun yang kau sukai, aku selalu berharap ada aku disana..

27 September 2014

Minggu, 21 September 2014

Tak Pernah

Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*

Darrell Azhar..
Kepadamu. Ada satu rahasia yang ingin ku sampaikan kepadamu. Atau mungkin lebih.
Tapi entah ini sudah kau ketahui apa tidak sebelumnya. Anggap saja ini rahasia, andai saja aku bisa mengatakannya langsung tanpa basa basi lewat tulisan seperti ini. Mungkin akan lebih mudah, tanpa berlelah-lelah untuk membacanya.

Aku mencintaimu.. Sedalam dalamnya aku tulis dalam ketinggian..

Tak pernah aku merasa seistimewa ini ketika waktu itu, diam kita yang penuh dengan debar menggantung di udara dan suara sumbangmu mengatakan jadilah perempuanku.

Tak pernah seistimewa itu, didatangi olehmu setelah ku pikir takkan ada lagi yang menganggapku 'cantik'. Tentunya terima kasih, telah menjemputku dan menjadikan perempuan aneh sebagai sosok yang istimewa. Kisah klasik 12 jam bersamamu, walau tak mendunia bagai kisah layla dan qais atau kisah romeo dan juliet atau kisah kisah cinta lainnya. Aku tetaplah istimewa dari mereka yang belum tentu seberuntung aku mendapatkanmu.

Tak pernah aku merasa seberarti ini ketika waktu itu, kau lindungi aku dari candaan mereka yang usil kepadaku.

Sungguh tak pernah seberarti ini setelah hati yang kesal kau redam dengan kata kata yang membuatku terhenyuh begitu saja ketika mendengarnya. Kata kata sederhana yang membuat sabar lebih mewah dari segalanya.

Tak pernah aku merasa sebahagia ini ketika waktu itu, kau pergi dan membawa pulang sunset dan sunrise dikala itu. Lengkap dengan seikat bunga edleweis dan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya.

Benar, tak pernah sebahagia ini setelah kau pulang dari puncak kerinduan itu, kau hadiahi segala macam tawa yang tak terduga. Di hari bahagiaku kau tetaplah kau, lelaki pemilik pesona yang menakjubkan lengkap dengan segala kejutan didalamnya.

Tak pernah aku merasa seantusias ini ketika kita bertemu dan kau menjabat tanganku lalu kau tersenyum.

Tak pernah sepertinya aku merasa seantusias ini tiap kali kita harus bertemu dan selalu ada debar yang membuat letih letihku mati ketika menatap wajahmu yang menyenangkan itu.

Tak pernah aku merasa sekagum ini ketika kau melafalkan tiap kata menjadi kalimat begitu apik dan menjadi merdu untuk didengar.

Dan sungguh, tak pernah sepertinya aku sekagum ini menatap lelaki yang begitu cekatan menyampaikan idenya. Bahwa tak ada satupun yang sepertimu sebelumnya. Aku kagum dengan caramu menyampaikan segala hal yang beralasan. Berbeda denganku.

Pada bait ini aku tersadar bahwa suka dan duka tak pernah sukar dirasakan.
Pada detik kesekian aku merasa diam dalam cemburu namun pada detik selanjutnya aku lupa berkeluh kesah tentang sedih ketika dihadapkan oleh senyummu yang pesona dan lebih lebih pada gelak tawamu.

Jika ada rahasia lagi, pasti akan kusampaikan di sini; tempat untuk mengabadikan tentangmu.
Ku harap kau percaya, percaya pada rahasia rahasia ini yang mungkin sulit untuk aku katakan langsung.

Senin, 08 September 2014

Ini bukan sekedar tapi lebih kepada

Ini bukan sekedar putih tapi lebih kepada warna.
Ini bukan sekedar suka tapi lebih kepada candu.
Ini bukan sekedar sunyi tapi lebih kepada sepi.
Ini bukan sekedar kata tapi lebih kepada isi.
Ini bukan sekedar ingin tapi lebih kepada doa.
Ini bukan sekedar bumi tapi lebih kepada semesta.
Ini bukan sekedar senyum tapi lebih kepada tawa.
Ini bukan sekedar jari manis tapi lebih kepada jemari.

Ah ini bukan sekedar tapi lebih kepada. Entah apalah itu.

Jumat, 05 September 2014

Singgah tak tahu malu.

Ada rasa yang datang bertamu saat ia tak sama sekali ingin membuka pintu. Rasa yang mendobrak tameng ketabahannya. Hingga bangunan rata dengan kesal. Ia lari ketakutan agar tak pecah tangisnya dalam keramaian, maka ia lari mencari cari tempat persembunyian.  Lalu tiba disebuah tempat yang dimana ia harus memilih dua pintu yang serupa bentuknya, pintu pertama bernama marah dan satunya lagi bernamakan diam. Sempat dirinya ingin menapakkan kaki pada pintu yang bertuliskan marah. Baru saja langkah pertama ingin ia rentangkan dan memegang gagang pintu itu. Ada yang menarik tangannya, lalu ia berbalik. Hanya saja seketika itu tak ada sosok siapapun. Tak ada. Begitu saja menghilang tertiup angin laiknya nafas pertama kali ia hirup dan ia hempas secepat mungkin. Lalu pergi tak terkenalkan dan lenyap tak meninggalkan bekas. Tak sadar tiba tiba saja, persendiannya melemah, lalu jatuh bersimpuh gemetar. Ia tertunduk, bibirnya yang merah terkatup sedari tadi kini merekah. "Apa Kau melihatku sekarang? Aku yakin sedang, Kau sedang memandangku tanpa ku tahu Kau berekspresi seperti apa. Ini sudah kesekian kalinya bukan?"
Lalu hening seketika, tak lama..
Nada suaranya meninggi disambut oleh tetes bening yang jatuh dari sudut matanya. "Kau tahu? Aku selalu benci seperti ini. Tak pernah sanggup menjadi tuan rumah yang ramah tamah kepada rasa itu. Rasanya yang berkunjung hanya bermaksud menagih kebahagian yang kau hadiahkan. Yang Kau hadiahkan lalu Kau kirim melalui senyumnya bukan?" ".
Suaranyapun mulai serak. Pipinya becek.

"Kau tahu pula aku tak sepaham dengan sendiri, dengan sunyi, begitu pula dengan sepi. Aku selalu bertentangan dengan mereka tapi Kau selalu mengajarkanku untuk selalu mengalah. KataMu "mengalah untuk menang. Menang dari ego yang keras kepala itu. Lalu kau lahir tidak untuk menjadi seorang pecundang". Aku selalu mengingat petuah itu. Tapi ini sudah kesekian kalinya bukan? Kesekian kalinya Kau mengharuskan aku masuk kepintu yang sama. Pintu bernamakan diam? Di dalam sana, seluruh darahku dipaksa mengalirkan racun. Pahit sekali rasanya sekujur tubuhku. Racun yang melumpuhkanku. Sedang aku ingin sekali mencoba pintu lain".
Ia masih menangis, nafasnya diburu sesak, kerongkongannya beranakkan duri.
"Baiklah aku kembali ke pintu itu", ia bangkit tertatih.
Belum sempurna tubuhnya berdiri, ada suara langkah kaki yang semakin dekat semakin pasti jika suara itu mengarah kepadanya.

Senin, 01 September 2014

Tak Bermakna Bila Kau Abaikan

Aku ingin bicara tentang waktu yang tak menjaga apapun. Menjaga tawa kita yang menggema diudara teruntuk bahagia yang tetap abadi.
Menjaga tenang laut dari amuk ombak ketika karang telah kendung menjadi ukiran.
Menjaga daun hijau yang muda tak menguning , lalu jatuh tanpa menyalahkan ranting yang tak lagi menginginkan.
Menjaga kulit untuk tetap lembut tak keriput, atau menjaga apapun itu.
Sekali lagi waktu tak menjaga apapun yang kau ingin kehendaki.
Karena waktu hanya perekam dan pembuat kenang.
Karena itu. Aku sama sekali tak ingin pergi, membiarkan diri untuk sendiri. Dan waktu hanya merekam sepi dan sunyi yang berbau duka dan pembuat duri.
Aku hanya ingin disini, menemanimu hingga rambutmu memutih hingga gurat wajahmu menjadi keriput. Karena aku tak ingin menepikan usia sendiri.
Aku ingin disini, tak berpindah pindah huni. Menetap di kursi ratu dihatimu.
Hingga kelak kita sama sama saling melindungi membiarkan waktu membuat kenang dan merekam kita dari kini. Sampai suatu hari, waktu akan melihat aku menyiapkan sarapan pagimu dan obat diruang kerja saat tubuhmu tak lagi muda. Lalu waktu menyaksikanku ketika aku dengan piawai menyelimutimu dengan peluk lembut semata mata untuk hangatkan sekujur tubuhmu yang renta. Dan kita sama sama tua. Meski wkt tak menjaga apapun tp aku percaya bahwa waktu sedang mengajari kita menjaga apa yang kita punya.

Lelakiku..
Pada paragraf ini , aku ingin mengangkat misteri senyummu. Mungkin kamu sudah teramat bosan membacanya. Tp entah mengapa aku tak pernah merasa jenuh menuliskannya. Bagaimana tidak, aku selalu menyukai senyuman terlebih lebih itu terbit dari bibirmu. Tiap kali aku memperhatikannya aku seolah menangkap pelangi disana. Warna warni semesta yang tak mengharuskan air jatuh dari sudut matamu dan cahaya karena tatapmu. Lalu dari mana datangnya pelangi selain dari air dan cahaya?  Apa aku sedang mengamati cinta? Yang mengalirkan deru arus sungai sepanjang perantaran retina hingga cahaya pelan pelan masuk kedalam korneaku yang ku pikir berasal dari pesonamu.
Mungkinkah cinta adalah misteri yang tak perlu berlelah pikir untuk menemukan kenyataan? Hingga aku sadar bahwa dalam lembut senyum simpulmu yang aku saksikan, maka aku hanya perempuan pengidap kelainan ketika aku menganggap diriku sendiri tak berguna untuk hidup

Kini paragraf selanjutnya tentang mengapa kamu masih dicintai, disayangi, disukai atau apalah sejenisnya oleh mereka termasuk mantan kekasihmu dan banyak orang lainnya lagi yang tak terdeteksi dengan radarku.  Aku akhirnya mengerti mengapa. Alasan-alasannya muncul dikepalaku ketika lambat laun lembar tiap lembar terlewati. Alasan-alasan logis yang berlandaskan fakta dan bernaung pada kenyataan. Apa kamu ingat ketika aku berkata kamu baik sekali? Pasti. Karena mungkin terlalu sering aku katakan.  Mengapa itu alasannya? Begini, sadar atau tak sadar kamu takkan pernah membiarkan seseorang merasa kesepian, kamu takkan menolak ketika siapapun meminta bantuanmu terkecuali ketika kamu benar benar ada hal lain yang harus kamu utamakan. Kamu penyemangat handal bagi yang merasa segalanya tak lagi mungkin disaat detik detik terakhir tak ada lagi harapan untuk berdiri. Kamu terkenal sebagai sosok yang slow but sure, lelaki yang memegang tanggung hingga jawab dengan sungguh.

Lelaki yang melakukan dan memikirkan hal dengan segala pertimbangan. Bukan pesimis, tidak juga seorang optimis.
Terkadang disela sela waktu saat semua sedang begitu sibuk dengan kemelut hatinya, kau muncul dengan celetuk celetukan yang tak jarang membuat semua menggeleng tertawa. Maka kaulah sebenarnya keturunan abu nawas bukan seperti yang kau tuduhkan berkali kali padaku.
Dari pertanyaan yang aku ajukan kepadamu kemarin. Aku tahu jika kamu pun bukan seorang yang introver atau seorang ekstrover. Kamu seseorang yang akan merasa nyaman dimanapun kamu berada, sendiri atau bersama orang lain.
Tanpa tespun. Aku tahu kamu, mahluk yang tak terlalu menyukai keramaian begitupun sebaliknya.
Pada paragrap kesekian ini aku ingin mengumbar rasa yang ku asinkan untuk lelaki lain selain kamu. Perihal Cinta. Aku cinta pada perasaanmu, pada kekalahanmu, pada terserahmu, pada ketidaktahuanmu, pada argument argument yang kau tasbihkan tanpa ragu. Aku tak benar bisa mengembangkan beberapa alasan tentang mengapa dan mengapa. Aku pun tak tau pasti kapan aku benar benar jatuh pada hatimu. Hanya saja, beruntunglah, berkatmu aku berlayar meninggalkan pulau kesepian berpasirkan duri dan berlangitkan kelam. Setelah lama melawan kekecewaan, kau datang bagai tameng disaat tenaga terakhirku dibawah kelemahan.

Kau tahu? Ketika kau mengjenguk rindumu pada rinduku lalu disaat saat waktu adalah penunggang detik menit dan jam, hingga ia bergema 'sampai disini'. Entah mengapa aku ingin melompat ke detik menit dan jam selanjutnya. Karena aku ingin menolak akan perpisahan.
Karena pada waktu punggungmu melambai tiada. Aku lirih mengeja kalimat demi kalimat, "aku belum siap mendengarkan gaduh rindumu pada rinduku. Memangut lunglai dan menggantungmu pada lamun. Aku ingin kau disini. Meniadakan waktu pada temu tanpa pulang. Aku tak ingin mengenal kepergian. Aku menyayangimu, lelaki yang merampas kesedihanku. Aku menyayangimu seperti caramu menyayangiku".

Hingga ada bayangmu yang seolah sedang bercengkrama dengan senja sore itu. Ah. Bayang itu. Aku merindukanmu.

Dalam semesta yang menyenja kau biarkan aku rebah dibahumu sembari mengucap selamat tinggal jingga. Mentaripun beringsut tenggelam diujung laut sana.
Dan dalam semesta yang pekat, aku menggenggam jemarimu mengusir jauh jauh ketakutanku akan gelap. Kau menunjuk ke atas; kepada langit langit yg sepi. Ternyata disana ada bintang yang kejora, kerlap kerlip manja menyapa.
Aku tersenyum..
Lagi lagi kau menunjuk langit ke tmpt berbeda. Ada rembulan. Rembulan perawan yang anggun singgah dikorneaku.

Saat kakimu mulai rapuh melangkah, maka akan ada bahuku yang menopang persendianmu yang lunglai.
Saat matamu mulai tertatih membaca koran diruang kerjamu. Maka akan ada aku yang setia mengantar secangkir kopi kesukaanmu; menyegarkan ingatanmu.

Selasa, 19 Agustus 2014

Takjub

Ada radar yang mendeteksi hal-hal tersirat :*

Izinkan aku mengenalkan rindu dipelukmu
Hingga ia tunduk pada senyummu
Dan manja didadamu..

Aku datang menawarkan kedua lenganku untuk kau sambut dengan kedua lenganmu.

Lalu merebahkan kepalaku didadamu hingga degupmu yang bertalu talu itu terdengar jelas ditelingaku.

Ketika itu, dari atas kepalaku jatuhlah sebuah kecupan lembut yang lahir dari bibirmu yang merona.

Setelahnya kubiarkan ia tumbuh sebagai kenang yang kian meradang diubun-ubunku.

Menatapmu yang lebih tinggi dariku membuatku yang ringgih merasa tenggelam dalam tenang dan redupnya binar korneamu.

Kini, kau mengecup tepat dikeningku;  Tempat aku menyimpan segala hal tentangmu. Seraya aku menutup mata, merasa dan merekam bagaimana cinta memberikan jeda pada rindu untuk bertemu.

Bulu kuduk berdiri membaur dengan degupku yang kian tak karuan seolah menghujam bertubi tubi dalam dadaku.

Suhu tubuhku turun namun tak kurasakan gigil. Ini hanya semilir angin debar yang tak sengaja ku hirup dan masuk atas tanpa izin.

Usainya, kau mengacak lembut rambutku dan aku tetap menatapmu dengan sempurna. Karena aku akan sungguh merasa malang ketika harus melewati senyummu.

Waktu, menyadarkan kita. Meringkuk temu yang tak ingin tersudahi. Temu menunduk seolah memang saat untuk mengalah dan pergi.

Temu untuk pergi, namun sesungguhnya temu adalah pulang. (?)

Aku kembali harus menghela nafas panjang ketika melihat pundakmu menghilang hingga tiada.

-draft puisi 19 Agustus 2014

Senin, 18 Agustus 2014

Degupku

Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*

Pernah rasa degupku menjadi lebih haru dari yang ku duga.
Pernah rasa degupku begitu riuh dari yang ku kira.
Dan pernah rasa degupku ini merangkai kagum dari yang kupikir.
Akhirnya aku pernah kelawahan menata degupku saat harus menciptakan percakapan kecil kita hingga ujung waktu aku menjadi gagu didekatmu.

Ketika lelakiku yang begitu ragu mengatakan hal menakjudkan. Seperti ini :
aku...
Y aku, dan ratusan org yg menantimu saat it..
saat penggantimu mulai memudar dan trlupakan, saat barat tak lg jd kiblat, saat merah mulai memanis menyambutmu datang...

aku..
Y aku, dan ratusan org saat it..
Tengah brsiap dgn sgala ap, sgenap daya, seikat asa,,
menantimu, Y kamu yg memikat mereka..

aku dan ratusan org saat it..
Menikmati indahmu, memanjakan diri, menelanjangimu sampai kami puas melihat sisi yg tak trlihat dgn cara kami masing"..

aku dan ratusan org saat it,
Brahsil Kau kuatkn ikatannya, kau kuatkan dayanya, kau adakn ap yg tak ada..

aku, Y hanya aku saat it..
Mash menikmatimu, melihat byang mu yg lain, yg membuat abadi setiap ap, menguatkn daya dan mewjudkan asa..

aku, Y tetap hanya aku...

"menaruh rindu padamu pagi it.."

....
Perempuanmu menyambut ragumu..

Iya akhirnya kamu, yang ganjil menutupi genap. Yang cela mengindahkan puji. Yang duka menawarkan suka. Iya akhirnya kamu, yang melengkapi apa yg tak sempurna. Merengkuh apa yang terlepas. Iya, sekali lagi tentu kamu, lelaki yang memanjakanku dengan rayu dalam setengah sadarmu. Dan.. aku perempuan yang telah kalah hingga jatuh telak terperangah akan pesonamu. Namun aku satu satunya perempuan yang akhirnya menjadi juara; beruntung memilikimu..

Saat ;
Tawamu adalah obat yang mujarab bagi kesedihan.
Lalu ;
Tawamu adalah sebongkah berlian yang selalu membuatku merasa mewah dan kaya tiap kali mendengar.
Ketika ;
Tawamu adalah penawar sejuk pada kemarau yang panjang.
Lantas ;
Tawamu adalah langit langit pagi yang biru melukis cerah ceria
Ketika ;
Tawamu adalah senja jingga yang terindukan.
Maka;
Tawamu adalah sebaris bahasa hias yang penuh euforia.
Namun;
Tawamu adalah selimut hangat dimusim dingin.
Dan akhirnya;
Tawamu adalah dongeng yang tak jenuh ku dengar.

Aku mencintaimu pemilik tawa, pemilik peluk yang menenangkan anak-anak rinduku.
Aku mencintaimu dari segala keluh kesah, duka lara, dan gelap gulita semesta.

Degupku tiada ketika kau tiada.
Degupku meredup ketika kau tak sua.
Degupku memilih memutih ketika kau acuhkan.
Degupku hanya lahir darimu, dari sela jemarimu, senyum simpulmu, dan dari mata sipitmu yang binar itu ~

Lelakiku, Maka tenanglah rinduku yang liar oleh senyummu. Dan siumanlah aku dari cemburu lewat pelukmu.

080714 00:54
180814

Rabu, 30 Juli 2014

Selamat Pagi

Ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Hai, Tuanku yang baik hatinya.
Masih ingatkah kau tentang seorang perempuan ini? Semoga kau sama sekali tak lupa tentang perempuan yang seringkali berpenampilan aneh setiap perkuliahan.
Kini, perempuan itu kehilangan. Kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Entah apa yang telah hilang, entah apa yang telah pergi.  Sepenuh dari senyumnya telah pudar akan muramnya, dirajam oleh tanya tanya yang tak henti menghunusnya hingga tak berdaya.
Lalu apa kau masih memikirkan perempuan yang dulu kau panggil dengan sebutan bibi? Yang katamu perempuan itu terlalu cerewet. Sekarang perempuan itu kehilangan. Kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Entah apa yang telah hilang, entah apa yang telah pergi. Ia tak tahu lagi apa yang ingin ia suarakan. Berbagai macam aksara telah dulu terkubur hidup-hidup dalam diamnya hingga mati tak terselamatkan.
Kemudian apa kau masih berkenan menyimpan perempuan itu sebagai perempuan yang berdurja menakutkan? Yang sering kali kau goda kesabarannya dengan mengatakan bahwa tatapannya menyeramkan. Kini perempuan itu kehilangan. Kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Entah apa yang telah hilang, entah apa yang telah pergi. Perempuan yang berparas menyeramkan itu, kini lebih menyeramkan dari seorang monster. Bagaimana tidak? Ia sudah lupa bagaimana caranya bersolek, membenah parasnya agar tuan tak berpaling darinya. Ia sudah lupa. Tatapannyapun kosong tak berpenghuni.

Tentang perempuannya itu, ku harap kau mengenalnya, masih mengingat bahkan masih menjadi topik menyenangkan bagi keningmu, tuan. Karena sungguh ia kehilangan, kehilangan bagian dari dirinya. Entah apa yang telah hilang, entah apa yang telah pergi. Semoga itu bukan kamu, tuan. Semoga itu hanya rasa kehilangan biasa. Yang dirasa hampa dan hambar. Karena apa yang telah terjadi pada malam malam sebelumnya, saat malam memang seadanya gelap tanpa cahaya bintang dan sinar bulan telah menyamarkan apa saja yang ingin kita ketahui. Saat bulan memilih untuk menyabit maka semesta menyeruakkan pekat yang luar biasa. Langit pada malam malam sebelumnya begitu sepi, formasi formasi bintang yang biasanya terlihat mempesona tak sama sekali menampakkan diri. Hanya malam itu. Ku harap ini kehilangan yang hanya mampir, tak betah berlama-lama duduk dipangkuan kita. Semoga kehilangan ini laiknya malam kehilangan penerangnya, namun esok paginya Tuhan menjanjikan kita tentang cahaya yang lebih terang. Mengajarkan keindahan tentang suatu kehilangan. Tentang kita yang kehilangan senja. Tuhan menggantikannya dengan indahnya langit malam dengan cahaya rembulan dan gemerlap bintang. Dengan harap terdalam ini hanya kehilangan biasa. Semoga perempuan itu segera menemukanmu tuan, dalam keadaan sebaik baiknya, tak berkurang satu rasa dari berjuta rasa yang Tuhan hadiahi.

Perempuan dengan dada sesaknya ketika kau memilih diam. Perempuan yang malu untuk menyapamu, tapi perempuan ingin membuatmu mengatakan sesuatu. Perempuan dengan penuh harapan agar tak dijadikan seseorang yang berbeda atau orang asing dalam hatimu tuan.
Perempuan yang ingin sekali mengetahui apa jawaban dari sebuah teka tekimu. Sangat ingin sekali. Ku mohon, kau berkenan membisikanku, tuan. Salam perempuan yang begitu bodoh mengeja rasa rindu dengan sempurna. Dan maaf darinya.

Seandainya saja aku seperti peri peri mungil yang cantik, tak perlu banyak bicara namun memandangnya sudah meneduhkan hati, hanya saja aku perempuan biasa yang tak pandai membujuk.

Jumat, 11 Juli 2014

Pernah.

Ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Kemarilah sepi..
Sapa aku dalam hati kecil yang bisu.
Hunus aku tepat dalam keramaian.
Matikan aku hingga berdarah-berdarah merasa luka.
Hingga aku terkubur gelap gulita ditemani olehmu, sepi.
Sesungguhnya aku ingin mengancungkan setinggi-tinggi tanganku dalam kerumunan ini.

Begini, pernahkah kamu memaki-maki orang lain hingga meluap-luap?
Pernahkah setelah memaki-maki, kamu memilih pergi dari tempat itu?
Pernahkah kamu setelah meninggalkan tempat itu, lalu mencari-cari tempat agar tak terlihat dari siapapun?
Pernahkan setelah menemukan tempat, lalu seketika itu kamu menangis sejadi jadi hingga tersedu-sedu meluapkan amarah dan penyesalan karna kamu menyebalkan?
Lalu pernahkah kamu setelah menangis, kamu pergi dari tempat itu meski dadamu sebenarnya terasa sesak akan janggal itu dan kamu mengutus dirimu untuk melupakan?
Dan pernahkah kamu berpikir untuk berhenti melakukan itu semua ?

Pernah.

Apa yang kita pikir menyenangkan, belum tentu kita beruntung merasakannya.

Bersyukur :")
Dan kita saling merafal doa dan saling mengaminkan dari bibir yang memudar pesonanya sebab lupa untuk berbagi senyum agar tak runtuhnya pertahanan kita.

Kamis, 26 Juni 2014

Perihal Rindu

Mataram. 23:20

Tanpa menunggu lagi, aku mengirimkan seamplop surat berwarna merah. Bukalah semoga kau tak terkejut bahwa rinduku benar benar liar untuk kau baca dari tulisan tangan perempuanmu yang menunggu kabar baik dari bibirmu yang pesona.

Tentang malam-malam yang terlewatkan begitu saja tanpa ada seamplop pesan yang terdapat pada kotak pos yang berdiri tegak tepat dihalaman rumahku.
Ku sampaikan sedalam dalamnya, aku teramat rindu.
Aku rindu. Iya ini perihal rindu yang mengobral sepi yang kepanjangan.
Rindu yang tak terbayarkan. Rindu yang ku telan bagai obat pesakit tanpa minum. Berbagai macam pikiran jahat menggelitik pelan-pelan ketika rindu tak terbalas. "Apa aku ada dipikirannya?". "Apa aku ada dihatinya?". "Siapa saja yang ia tunggu balasan suratnya?". "Adakah selain aku?".

Aku rindu. Iya perihal rindu yang telah dipertemukan kepada pemiliknya. Telah mendengar sapa pujangganya, tersentuh jemarinya. Maka rinduku Lebih riang, lebih terang dari redupnya terdahulu. Tapi sepertinya pepatah memang selalu ada benarnya. Rindu terlalu riang. Tak tahu diri bahwa Tuhan penguasa membalik-balikkan rasa. Hingga rindu telah menyisakan sesak yang menawarkan tangis yang memilukan. Hanya saja, hati mampu menahan diri, namun tak selalu bisa menyembunyikannya. Tampaknya rinduku membeku seketika.

Aku rindu. Perihal hari hari yang banyak terlewatkan. Banyak yang ingin ditanyakan rindu kepada pemiliknya. Rinduku yang tak jarang menunggu disapa tiap paginya, menanti senyummu yang menggetarkan hati seorang perempuan.

Aku rindu. Sekali lagi aku rindu. Jika hanya untuk membiasakan. Aku akan terbiasa. Ketika rindu diberi kesempatan untuk berucap, namun tak untuk terdengar. Maka terucap saja cukuplah.
Teruntuk pemilik rindu, ketahuilah maafku ingin mengunjungimu. Berkata bahwa aku membiarkanmu sendiri tanpaku. Terbiasa tanpaku. Tanpa tawa bahkan canda yang pernah membuatmu candu.

Diujung 3 menit menuju jenjang waktu kita. Semoga kau menyambut baik maafku dalam surat yang akan ku letakkan tepat dalam keningmu. Agar aku adalah maaf bagi kenangmu.

Terimakasih telah datang begitu manis menawarkan terang dalam gelap yang paling sunyi.

I love you.

Rabu, 18 Juni 2014

Rip peduli

Rasa pekat menghambur di dadanya. Menabur tiap durja di tiap ruang tersebut hatinya. Kabur, buram pandangannya. Tak nampak kebenaran. Semburat kehitaman mengukung tubuhnya berpadu dengan tetes bening yang mengalir. Darah merahnya sepakat menggumpalkan damai. Mengalirlah sepi. Sepi yang sebenar benarnya sepi.  Diam? Ah tidak. Hati bergumam, menyumpah serapah sekelilingnya. Ia telah diperdayai kebencian. Diperbudak oleh amarah. Perlahan tak tertahan, pedih resmi menguasai dirinya. Ia sesekali memukul mukul dadanya, isaknya pun mulai pecah. Tak lagi ada pita kesabaran yang menghias jiwanya dari hitam putih yang membosankan. Tak ayal ia tenggelam tak mengenal dirinya.

Siapa yang akan hendak menjabat tangannya? Menyelamatkan sisa-sisa kelembutan perempuannya?  Tolonglah dia, lihatlah ke dalam matanya yang membengkak dengan lamat lamat. Ada sepi yang meluap luap. Ada luka yang menjadi jadi. Tatap dalam jiwanya, jiwa mengais ais perhatian. Malangnya.

Kemana mereka yang berteriak akan ada? Yang menggemakan pengorbangan? Kemana mereka yang takkan meninggalkan? Dimana? Apa diseberang sana, berpura pura menjerit khawatir. Sedangkan tangannya sama sekali tak terulur. Berpura pura menyemangati. Padahal sesungguhnya mereka enggan.

Rip pada peduli yang benar benar peduli. Ah peduli. I miss you so badly

Rabu, 11 Juni 2014

Ini aku (/▽\)

Ayah Ibu, ini anakmu. Buah hati yang katamu paling dinanti, seperti terjemaahan dari sebuah nama yang kau namakan padaku.

Baiklah ibu..

Ini aku yang tak jarang membuatmu bersusah hati karena terus mengkhawatirkanku.

Ini aku ibu, yang seringkali terperangkap dalam ruang  kelalaian yang akhirnya banyak menghilangkan.

Ini aku yg tak jarang meluluh lantahkan harapan dan akhirnya membuatmu bermuram durja.

Ini aku , seseorang anak yang tak bisa merapikan waktu untuk mengusir sepimu.

Ini aku, salah satu anakmu yg terlampau sering kau selipkan rindu dalam suara.

Ini aku, anak tak sempat membalas perhatianmu.

Kali ini ayah..
Ini anakmu yang berkali kali kau lepas.
Anak yang tak lagi menaiki sepeda seperti dulu ketika kau memegangi tempat dudukku hingga perlahan lahan kau lepas aku mengayuh sendiri. Tersadar kau lepaskan, akupun mengayuh ketakutan. Kau berteriak ketika aku jauh dari pandanganmu. "Jangan takut. Terus nak terus. Ayah disini". Sejak itu, aku bisa. Aku tak takut mengayuh.
Sayang kini aku belajar mengemudi. Tak sama sekali tergenggam olehmu, ayah. Tapi suaramu terdengar disampingku, menyemangati ketika aku mulai putus asa ketika aku berkali kali akan menabrak.

Ibu, maaf..

Dr anak yg ingin sesekali memeluk surgamu dan anak yang ingin mengenyahkan jarak untukmu. 

Dengarlah tiupan terompet emas keberuntungan itu, kelak. Atau bahkan sebentar lagi, ayah ibu.
Terimakasihku atas wejangan lemah lembut itu. Sungguh anak perempuan kalian sangat merindukan dekapan.

Sedikit saja tentang mereka

Ah mereka.
Dua perempuan dengan sejuta keunikan didalamnya. Dua perempuan yang dianugrahi sekotak rasa penyayang didalam darahnya.
Sama sama dianugrahi itu, namun sesungguhnya dua perempuan itu berbeda. Sungguh berbeda.

Satu perempuan..
Mungkin bila anda tak mengenalnya, ia tampak seperti orang pendiam bersuara emas. Saat itulah tebakan anda salah. Suara yang melengking, alis tipis bermata sipit walaupun tak ada keturunan chinese sebenarnya. Jika tersenyum maka nampaklah gigi kecilnya yang jarang.  Dari bentuk mukanya di anugrahi bentuk muka kotak. Pun bentuk tubuhnya mungkil disertai keringkihannya. Hanya saja ketika siapapun melihatnya, ada keistimewaan yang terpancar dari kesederhanaannya. Maka tak jarang yang jatuh hati padanya setiap kali bertemu pandang. Hanya saja, ia perempuan dengan kesetiaan dalam genggamannya. Satu lelakinya, maka cukuplah baginya. Keunikannya? Lamban- mengIkat rambutnya tinggitinggi seperti lilin. Cara bicaranya yang terlalu imut dan caranya yang lucu. Saya tidak bisa mendeskripsikannya seperti apa.

Satu perempuan yang lain.
Perempuan dengan paras berbentuk bulat yang memiliki lesung bibir dan memiliki ginsul serta berkulit putih. Suaranya maksimalis, maksudnya cukup merdu. Dari penjabaran yang sedikit itu, bukankah sudah tampak menarik? Tentu. Hanya saja bentuk tubuh bagian pinggang disana akan tampak sedikit tumpukan lemak. Tidak, dia tidak gemuk, proporsi badannya pas. Hanya dia kurang sedikit tinggi. Walaupun seperti itu, telah banyak lelaki jatuh telak dihadapannya. Cantik sih. Jauh daripada itu dulu ketika musim berganti maka yang bersamanyapun berbeda. Silih berganti dan biasa tak berganti hanya bertambah. Tapi percayalah itu dulu. Sekarang ia benar-benar ingin setia. Sangat ingin. Keunikanya itu tergesa-gesa, memikirkan hal hal yang kecil secara lebih.
Sekian tentang dua perempuan. Dari perbedaan itu. Sekalilagi mereka sama sama penyayang.
Oh mereka juga sama sama mancung ke dalam dan mereka sesungguhnya cantik jelita.

Ketahuilah ketika bersama mereka, kau takkan bisa berlama lama bermuram durja.

Selasa, 03 Juni 2014

Dua tujuh ..

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Mataram, 27 Mei 2014 01:13

Kepadamu lelakiku, di dalam mata dan dadamu, aku tenggelam..

Aku tak lupa pada letupan yang bertalu talu bernama debar itu, karena senyummu adalah pengingat.
Terimakasih ..

Mataram, 27 mei 2014 9.30

"Selamat pagi ^- ", sapaannya yang tak kulewatkan walau hanya sehari. Kebiasaan kecil yang selalu ku wanti-wanti hadirnya. Bahwa akan lebih menyenangkan lagi bila mampu melihat wajahnya di saat mentari bangun dari singgasana.
Hari itu ketika subuh, aku berharap bahwa hari ini membuka kotak misteri yang berisikan banyak keberuntungan. Karena tepat tanggal 27 aku pernah diculik olehnya ke tempat yang bernama nirwana. Tempat yang banyak di ceritakan di negeri dongeng. Tempat dimana seseorang mengutarakan perasaannya. Aku selalu tersenyum mengingat tempat itu. Tempat bersejarah tentunya.
....
Hari itu, aku sedang asik membaca novel di sebuah tempat yang paling kusukai. Sedangkan lelakiku sedang bergulat dengan dunia kesayangannya, tentu saja bermain futsal layaknya lelaki lain. Akupun menunggu hingga ia usai dari berlelah-lelah menyenangkan itu. Hanya saja aku lupa untuk mengingatkan ia untuk memanjakan perutnya terlebih dahulu, aku hanya tau menunggu. Aku memang payah dalam hal seperti ini. Lalu usai lelakiku bermain, ia berpindah tempat ke rumah temannya. Sesampai disana, perutnya meronta ronta. Aku pikir itu penyakit maagnya kembali bertamu. Lalu aku mengusulkannya untuk menyegerakan diri untuk sarapan. Setelah itu lelakiku berkata ia mendapatkan sarapan dari seorang perempuan. Seorang perempuan yang baik hati kepadanya.
Hati tertegun, tak tau apa yang sebaiknya aku ucap untuk membalas yang baru saja ia katakan. Bertingkah seperti apa lagi, hati sudah begitu hebat mengendalikan.  "Kemanakah logika disaat seperti itu?" Aku memilih tak mengatakan apa-apa, aku memilih diam dan hanyut terbawa gelisah. Gelisah yang membawaku pada muara tanya.
Entah kenapa tiba-tiba saja aku tak peduli pada katakatanya, tidakpula pada perih perutnya.
Akupun bersikap acuh tak acuh, ku kira aku tak perlu memikirkannya. Toh sudah ada yang memperhatikanya jauh lebih dariku. Jauh lebih hebat dari "ingat sarapan". "Sudahlah" pikirku.
Aku memutuskan percakapan dan menghela nafas panjang, dugaan-dugaan tak becus itu memulai tempur hingga sesak lebih cepat bergegas mengantarkan duri ke kekerongan menuju ke sela-sela bola mata. Apa yang terjadi? Entah. Aku terlalu kekanakan-kanak dalam hal ini. Maka disaat seperti itu, mandi salah satu cara menghilangkan resah, membuang ganjil dalam hati. Usai itu aku kembali diam, pikirankulah yang nelangsa. Pikiran yang dipenuhi prasangka-prasangka tak beralasan.
Sekian lama terdiam,"aku harus membuang resah dalam tulisan, harus". Akupun menulis, dua tulisan terlewatkan. Seketika itu..
Alarmku berdering dan suaranya begitu melingking di telinga. Waktu untuk pergi rapat.
....
Aku membuang pandangan ku keseluruh ruangan, mencari sosok lelakiku. Tak ada ku temukan, tak terlihat sama sekali oleh retinaku. "Mungkin dia tidak datang, mungkin dia sedang sibuk jadi ia tak sempatkan diri untuk hadir, iya mungkin saja", benakku.
Entah mengapa merasa sepi diantara keramaian seperti ini. Ada banyak yang mengajakku berbicara, namun aku hanya mengangguk, menggeleng, atau berbicara hanya sepatah dua patah. Aku sedang tak bersemangat.
Usai semua itu, aku mengirim pesan untuk lelakiku. Bertanya sedang dimana. Tak lama ia menjawabnya dan bertanya kembali padaku sedang dimana. Akupun memberitahu dan ia berkata akan datang ke tempatku sedang menunggunya. Tak lama kemudian ia datang. Entah mengapa ketika melihat, aku seringkali aku tak mampu menahan debar. Kekesalanku menjadi salah tingkah. Membuatku malu sendiri. Lalu aku berkata,"Tunggu ya sholat dulu". "Sholat di rumah aja. Kita juga mau beli buku", sambutnya.

Kamipun pulang, dalam perjalanan ia berkata,"sebenarnya kita diajak buat pergi renang sekarang".

"Sama siapa?"
"Sama cewek"
<°Д°>
"Kenapa gak pergi?" (•˘˛˘•)
"Haha becanda, sama guru kita, tapikan kita uda janji sama yang murung tadi".
╰(◣﹏◢)╯
"Siapa?"
"Pacar kitakan. Kita gak ditanya-tanya nih?"
"Apa?"
"Tanya tentang perempuan yang anter makan buat kita".
"Gak, lupain. Gak mau denger, gak mau bahas lagi" ◀-- perempuan banget. (┌','┐)
"Bener nih gak mau? Yaudah".
"Iya gak" *(╥﹏╥).
Sesampai dirumah, lelakikupun pulang. Dia bahkan tak mengucapkan kata maaf sedari tadi. Sambil melihat pundaknya menghilang dari pandanganku, aku melangkah masuk. .....
Lalu beberapa jam kemudian, aku menunggu pesan darinya masuk. Tak ada tanda-tanda sedikitpun ponselku akan berbunyi. Jadi kupikir, akulah yang akan memulai bertanya jadi atau tidak kita akan pergi ke toko buku. Iapun membalasnya, tentu ucapnya.
...
19.00

Sesampai di toko buku, matanya langsung menangkap novel yang buru, ia sangat hebat. Kamipun terpisah, gelap mata diperdayai oleh novel-novel yang ada disana. Aku berkeliling menjamah satu persatu yang ku pikir menarik dari sisi covernya. Singkat cerita kami memborong 1 buku dan 3 novel. Walaupun sekian banyak yang kita beli. Kita tidak mendapat apapun dari toko buku itu. Kekesalan mungkin mempengaruhi keberuntungan kita.
.....
Usai itu, aku mengajaknya berpindah ke sebuah tempat makan. Di dalam perjalananpun kite berbicara.
"Bener nih gak mau tau? Jangan mikir terlalu jauh".
"Udalah lupain, sesuatu yang menyebalkan seharusnya dilupain".
"Maaf uda buat kesel, kita jelasin tapi kita dilarang".
"Lagi senyum ya?".
"Iya, tapi kita lagi gak bener-bener seneng".
"*speechless*
Entah, saat itu aku tak ingat pasti  apa yang ku katakan untuk memaksanya bercerita tentang kejadian pagi itu. Yang pasti ia bercerita kejadian sebenarnya. Dan apa yang sebenarnya terjadi?  Siapa perempuan itu? Perempuan itu adalah penjual nasi. Mendengar kata itu, sontak aku terkejut malu. Aku tak tau harus seperti apa, yang ku ingat saat itu, aku hampir saja menangis. Namun aku juga bernafas lega. Aku bahkan tak kunjung berakhir memikirkannya, sesekali aku tersenyum, berkata lirih :aku tertipu". Rasanya aku ingin terus menggelitinya karena berani sekali menggoda kesabaranku dengan candaan seperti itu. Dengan candaan seperti itu, ia membuatku lupa memberi gigitan di jempol kirinya. Namun ia mengingatkanku, mungkin karna ia merasa bersalah berbuat seperti itu. Maka dengan senang hati aku membalasnya dengan gigitan, pelan sih. Bagaimana mungkin aku tega menyakitinya terlalu dalam. Takkan pernah aku lakukan
(っ˘з(˘.˘ )♥.
Dan usai makan aku dan lelakiku pulang dengan membawa segenggam pena dan kertas yang tertuai cerita hari itu.

Lelakiku, setulus hati maaf untuk cemburu yang seringkali menenggelamkan peduli. Cemburu yang membuat bahasa tubuhku menjadi kekanak-kanakan. Cemburu yang tak jarang menutupi kebenaran.

-Aku terlambat menemukan logika dipadang pasir itu, melihatmu dikejauhan bahwa ada yang menyuapimu minum ketika tubuhmu membutuhkan dahaga. Mendengar dari kejauhan bahwa ada yang menguatkan senyum ketika lelah menguasai pikiranmu.  Aku berlari sejauh jauh mungkin mengibaskan debu agar tak lagi melihat dan mendengar. Ketika aku telah jauh, nafasku tersengal dan terjatuh menangis. Aku tersungkur, melumat suka cita yang tersisa. Aku menutup keras-keras telinga, agar tak lagi mendengar angin yang membawa tawamu. Aku menutup mata agar tak lagi melihat kejadian yang terseret oleh fatamorgana.

Aku menutup diri dari kebenaran. Membiarkan gelap membumbui perasaan dan pikiran. Tapi kini aku tau, aku tersadar teramat lama bahwa aku memang tak seharusnya cemburu kepada mereka yang lebih baik mengenalmu bahkan kepada mereka yang membuatmu tersenyum. Bukankah senyummu adalah hal yang hal paling kugilai? Maka aku takkan tega melihat itu menghilang.

Minggu, 01 Juni 2014

Draf

Aku merebahkan diri bukan pada kasur kesayangan melainkan diatas selapis tipis kain spaduk , sedang diatasku bukan juga plafon putih yang biasa menyaksikan aku terlelap perlahan tapi sekarang beratap kerlap kerlip bintang, iya aku tidak sedang dikamar pastinya. Aku di sebuah lembah kecil.
Bermalam...
Langit malam yang seringkali ku anggap pekat, ternyata begitu berbeda. Beda dari dugaan awalku. Bagaimana tidak langit pada malam ini -

End-catatan yang menjadi draf yang ku tulis ketika Diam diam aku mencuri suara tawanya yang terbawa angin dari sebatas tenda malam itu. Aku tak berniat untuk berbicara kepada siapapun malam itu. Walaupun sesekali menyahut seadaanya hanya untuk memastikan bahwa aku ada di sana. Perasaan saja yang tak karuan. Nelangsa sejak mendengar yang tak seharusnya terdengar. Meski hanya sekedar gurauan. Mungkin tak lucu bagiku kesensitifanku.

Hingga malam itu, aku memilih diam, mendengar apa saja yang terbawa ke kuping. Bising? Tidak. Karena tawanya begitu pas untuk dijadikan nyanyian malam. Tapi tidak untuk malam itu, kesal mengelapkannya. Mengubah nyanyian lembut itu menjadi nyanyian menyayat hati. Tenggelamlah dalam pedih, dalam gelap. Cahaya bintang takkan cukup menampakkan wajahku yang menyedihkan waktu itu. Takkan jadi masalah jika aku seperti ini, pikirku. Aku memilih diam. Sungguh perasaan keperempuanku menyebalkan saat itu.

Hingga dipertengahan petang.
Ada lelaki yang ku curi tawanya berkata," dimanakah seseorang berhargaku".
Lagi lagi aku mengutus diri untuk diam.
Lelaki itupun melanjutkan permainan dengan teman lainnya malam itu.
Hingga ia meletakkan kartu, ia pun mulai berkata lagi, " sudah cukup, aku ingin menghampiri perempuanku yang sedang bermurung diri".
Aku dikala itu, tersenyum. Hanya dengan sayup kata seperti itu, kesalku tak lagi meresahkan, kesalku mati seketika dengan nada bicaranya. Lelaki itupun datang duduk disampingku, aku menyambutnya dengan senyum manja (〃 ̄︶ ̄)┘└( ̄︶ ̄〃) kemudian *tos. :D
Lalu lelaki itupun tersenyum. Senyum yang pesona itu mengantarku rebah dipangkuannya. Dalam pangkuannya, jemarinya membelai lembut mengirimku ke dalam damainya malam itu. Lalu kesal mana yang betah berlama-lama ketika seperti ini? Tak ada.
Itu semua karena lelaki itu. Lelaki yang selalu menutup dirinya dari pandangan. Namun begitu menarik perhatian. Lihatlah, Menakjubkannya lelaki itu.

Hangatnya perlakuanmu, kesalku tak ingin memperumit. Bolehkah aku lelap kembali dalam damai itu?

Welcome june !

〜(^∇^〜)(〜^∇^)〜 juni ! juni ! juni !

Oke, hari ini adalah hari minggu, hari pertama dalam bulan juni. Sekarang sudah memasuki pertengahan tahun 2014. Jadi ada apa? (¬,¬")

Akan ada banyak kotak misteri didalamnya. Tiap hari saya menerima dan harus membuka satu persatu kotak di waktu subuh, laiknya bulan lalu.
Saya masih ingat beberapa kotak misteri yang paling menyenangkan sampai mengejutkan dibulan lalu. Seperti :
1. Tanggal 6, hari itu hari selasa hari kelahiran lelaki saya (hanya hari). Hari sebenarnya saya kuliah pagi penelitian pendidikan, bahasa indonesia dan sorenya matematika. Berhubung dosen-dosen pagi pada hari itu berhalangan hadir untuk mengajar. Akhirnya kami mengutus diri pulang, walau sesungguhnya kami tidak pulang melainkan bertamu ke rumah teman saya bernama marina. Di sana kami menghadirkan percakapan-percakapan kecil persahabatan. Lalu ketika sore tiba, saya dan teman-teman lain berangkat kuliah dari rumah marina. Di dalam perjalanan, hp saya bergetar, ada 2 pesan masuk yang berisi bahwa dosen matematika juga tidak dapat hadir. Entah saya harus berekspresi seperti apa saat itu ┒(—˛—)┎. Antara pengen jingkrak-jingkrak atau jatuh terkapar tak berdaya. Sekali lagi entah ya. Tapi walaupun tidak ada dosen , kami tetap lanjutkan perjalanan ke kampus karna berniat mengambil surat pengantar untuk observasi. Sesampai di kampus, kampus terasa mistis tak berpenghuni. Tak ada penampakan ketua tingkat yang menjanjikan kaki surat pengantar (PHP).
(ノ `Д´)ノ~┻━┻
Akhir kata, terimakasih dosen dan ketua tingkat saya yang terhormat.
Akhirnya sayapun pulang ke rumah dengan langkah lemah gemulai. Tapi itu bukan akhir cerita hari itu, akan tetapi sesampainya saya di rumah. Saya berserah diri pada yang kuasa  (sholat )dan tak lupa mandi. Setelah itu saya berdiam diri, setelah bosan saya akhirnya guling-guling. Lalu saat hati gundah gulana tibatiba Hp saya bergetar -dahsyat- dan saya tau itu pasti sms dari lelaki saya karena getarannya yang luasa biasa <( ̄︶ ̄)>. Lelaki saya memang hebat, penenang segala gundah yang handal. Jadinya sejak sms itu masuk, saya berhenti guling-guling dan akhirnya menunggu lelaki saya datang. Dan benar beberapa menit lelaki saya sudah tersenyum di depan rumah. Sayapun bergegas keluar, dan duduk diatas rio (vario). Dan itulah akhir hari selasa, saya dan lelaki saya mengejar senja (post) ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~
2. Tanggal 14 hari rabu itu bertepatan dengan ulangan hari dan tanggal kelahiran sahabat saya bernama muazatul wardi. Sebelumnya, pagipagi saya dan teman kelompok melakukan observasi di sebuah SD di mataram untuk mata kuliah media dan abp. Usai observasi, kami menyusun hasil observasi di rumah dan sorenya kami berangkat kuliah. Sebelum sampai kampus, saya menyempatkan diri mampir disebuah toko dekat kampus untuk membeli 2 lilin dan korek untuk sahabat saya yang berulang hari dan bulan tadi. Lalu sesampai dikampus, ternyata terjadi miss komunikasi antara dosen dan sebagian mahasiswa; yang dimana permintaan dosen yang baik hatinya itu adalah hasil observasi harus dikumpulkan sedangkan sebagian mahasiswa menangkap sinyal bahwa hasil observasi tidak perlu dikumpulkan. Lalu bagaimana kami semua yang tidak mengumpulkan, mencoba berbicara dengan dosen di jam pulang. Akan tetapi hasilnya percuma dan siasia saja. Kami tetap disalahkan. Dengan terburu buru kami bergegas ngeprint dan mengumpulkannya di meja walaupun kami tidak tahu diperiksa atau tidak, dinilai atau tidak, di anggap atau tidak. Kami tidak tahu pasti. Hanya berdoa semoga semua baik baik saja diakhir kuliah. Oke, fix. Dengan langkah gontai sayapun pulang dan memberi kejutan kecil ke sahabat saya. Hanya kejutan kecil dan mungkin tak layak disebut kejutan. Seusai itu, saya pulang bersama sahabat perempuan saya yang berulang tahun itu karena lelaki saya tidak bisa pulang bersama berhubung rio sedang bermasalah. Tapi setidaknya saat itu, seresah apapun kepada miss komunikasi. Wajah lelaki saya sudah mencukupkan bahagia hari itu. ^v^
3. Tanggal 16, yang pasti jumat adalah hari itu. Hari itu matakuliah psikologi kepribadian dan seni rupa. Saya tidak membahas perkuliahan hari itu, melainkan kisah pertama saya memasuki perpustakaan unram. Hari itu, lelaki saya mengajak saya terlebih dahulu untuk sarapan sebentar lalu lelaki saya iseng bertanya. Apakah saya mau ikut ke perpustakaan. Tentu, dengan senang saya mengangguk iya. Lalu seusai sarapan kami berangkat, sesampai disana ternyata banyak sekali mahasiswa yang duduk berjejer di depan perpustakaan, <°Д°> entah ngapain disana, kurang kerjaan banget haha. Atau saya yang kurang kerjaan perhatiin orang duduk :D.
Dengan langkah tak peduli, kami memasuki perpustakaan, menaiki tangga dan menyusuri lorong. Akhirnya tiba dipenitipan tas. Usai itu kami menaiki tangga lagi,
Lelaki saya lalu mengembalikan buku dan membayar denda(kebiasaan sering telat). ( ̄__ ̄>-(^▽^). Setelah mengembalikan buku, lalu lelaki saya mengajak untuk melihatblihat buku, lalu sayapun gelap mata mencari cari. Banyak buku yang judul-judulnya keren disana. Lalu lelaki saya, mentoyol toyol pundak saya, untuk mengajak saya duduk. Saya tidak mengerti apa yang akan dia lakukan. Maklum dia terlalu ajaib untuk diterka terka. Lelaki saya mengajukan 70an soal untuk saya jawab dengan iya atau tidak. Eh setelah begitu banyak pertanyaan yang telah terjawab, dia salah tehnis. Dia bingung, sayapun ikut bingung. Pasangan kompak. Akhirnya dia mengatakan maksud dia bertanya. Ternyata lelaki saya ingin mengetes seberapa kelembutan hati saya, pemirsa ((((*。_。). Lelaki saya memang hebat :D
4. Tanggal 17, hari itu hari sabtu. Lelaki saya sibuk membangunkan saya dengan katakata sindiran yang tajam "kalo gak disindir, gak bangun-bangun". Itu kata yang membuat saya sontak terkejut dan loncat dari kasur kasur tercinta. Kalimat magis. Lalu saya bangun dan dia pergi ke acara wisuda temannya. Saya ditinggalkan setelah dibangunkan. --) sekian waktu berlalu, saya beranjak pergi dari rumah yang sepi untuk rapat acara kbm dikampus. Lelaki sayapun ikut rapat walaupun saya rasa dia sangat lelah sekali. Selesai rapat lelaki saya menarik saya keluar dan pergi. Awalnya mau melihat senja di pantai ampenan untuk memastikan tanggal. Tapi karena tidak terkejar, kita ke memutuskan untuk karokean. Selama menatap dia, saya merasa beruntung memilikinya. Lelaki saya selalu pandai membuat suasana menyenangkan o(*////▽////*). Dan saat itu Pertama kalinya kami menyanyikan lagu dangdut (〃 ̄︶ ̄)┘└( ̄︶ ̄〃). Setelah itu, kami makan es krim.
5. Tanggal 28, kamis (hari kesukaan). Hari itu hari kbm dan gts. Lelaki saya dan 3 teman lain berangkat ke lokasi lebih awal dari saya dan yang lain untuk memasang tenda. Lalu siangpun sekitar jam 2 kami berangkat menyusul mereka. Sesampai disana lelaki saya tergulai lemah disebuah mussollah, tidak hanya terlihat lelah ternyata kakinya terluka (post). Berhubung teman kelas saya dan saya kuliah besok pagi, kamipun pulang sorenya setelah menatap senja yang ditemani wajah lelaki saya yang menyenangkan itu. Sebelum pulang, kami menyempat diri solat di kediaman lelaki. Kami yang kerumah lelaki di jamu begitu lembut. o(*////▽////*). Usai itu kami berniat main ke bundaran gerung. Lalu usai itu, kami mengutus diri kembali pulang. Dalam perjalanan pulang, lelaki saya bertanya (post). Hari itu saya adalah perempuan yang paling beruntung.
6. (Kegiatan KBM dan GTS) keren, lucu, menyenangkan, menyebalkan, memalukan (cerita yang ini panjang, mungkin post selanjutnya akan diceritakan).
Oke itu sekilas cerita yang muncul setelah membuka kotak misteri diwaktu subuh.
Sekarang, di awal bulan ini saya berharap mendapatkan lebih banyak keberuntungan lagi didalam kotak. Dan setengah bulan lagi tahun 2015. Semakin menua bukan berati muka saya ikut menua juga. Percaya tidak percaya tiap detik muka saya tidak berubah sama sekali. Jangan tanya saya pake apaan. Tapi ini fakta. ʕ( ͡° ͜ʖ ͡°)ʔ

Oke sekian post ini. Silakan kembali lagi untuk membaca.

Jumat, 30 Mei 2014

Panas

14.14
Gumesa, 31 mei 2014..

Maaf ..
Pertama, untuk sapa pagi. Yang nampak menyebalkan.
Kedua, untuk peduli . Yang terlihat acuh.
Ketiga, untuk menunggu. Yang ada meninggalkan.
Keempat untuk melihat. Yang terasa tak tertuju.
Kelima, untuk tanya. Yang terlampau lambat.
Keenam, ...
Ketujuh, ...
Kedelapan, ...
Ke sembilan, ...
Ke sepuluh, ...
Ke sebelas, ...
Ke duabelas, ...
Ke tigabelas, ...
Ke empatbelas, ... untuk tingkah yang paling menyebalkan.

Maaf tertuju kepada lelaki pemilik hati yang menakjubkan.

Ttd
(*^ヮ^*)
Perempuan kerdil yang menyebalkan

Kamis, 29 Mei 2014

Senja kesekian kita

Tuan..
Duduklah dengan bersila saat kau mulai membaca coretan kisah hari ini.
O,ya hari ini hari kamis. Takdir memilih hari kamis sebagai hari kelahiranku. Percaya tidak percaya, seringkali aku merasa beruntung di hari yang dinamai kamis, termasuk saat ini. Aku selalu menyukai hari ini, sangat menyukai.

Hari ini kutemui lelaki muda disebuah rumah yang bersinarkan suci. Aku menghampirimu yang tergulai lemah di sana. Ku tanya kau sedang apa sambil memukul pelan dikakinya. Iya menjerit kesakitan, tenyata dikakinya terdapat luka gores yang bila diukur berkisar 3 cm. "Oh maaf, mengapa bisa terluka? kau tak kenapa-napa kan? Maafkan aku"

Yang ku lihat jelas saat itu wajah lelaki yang mengemaskan sedang menggerutu  kesal. Sungguh dia lebih terlihat lucu bak anak bayi yang merajuk meminta sesuatu. Haha manis sekali. 

Aku dan lelaki itu saling mengenal ..

Lelaki itu bangit dari tidurnya, mengajakku berjalan menuju ke suatu tempat. Jalan setapak yang kita lalui tidak begitu mulus, begitu banyak tanaman liar yang semakin meninggi. Perjalanan kitapun semakin lama semakin menanjak, untuk menuju ke tujuan aku berpegangan pada sebuah tali yang terbuat dari akar pepohonan. Tentu saja karna disekitaranku saat itu banyak pohon yang rindang juga. Setelah beberapa belas menit perjalanan, akhirnya tiba pada tempat yang kesekian mahal keindahannya. Tempat yang membuat hidupmu merasa lebih mudah dari kesulitan yang kamu bayangkan. Tempat dimana kau hanya perlu terdiam. Tempat dimana sayap burung tak lebih baik darimu. Sekali lagi kau hanya perlu terdiam, tanpa tersadar kita akan tergoda untuk tersenyum. Duduk dan tersungkur jatuh dalam pesonanya.

Mentari saat itu beringsut ke ufuk barat, tertanda langit akan menyuakkan warna jingga dicakrawala. Sedang lelaki itu tersenyum disampingku, -senyum yang berkalikali ku katakan sebagai tempat tinggalnya kebahagian- tentu aku membalas senyum itu dengan debar debar tak karuan pula.

Lelaki itu tiba-tiba bertanya,"Apa kau menyayangiku?"

"Ha?", menyakinkan diri bahwa aku mendengar sesuatu dari bibirnya.

"Tak ada", ucapnya sambil tersenyum menatap mentari yang melambai pergi. 

"Sangat. I love you more than you know". 

Ada senja disana yang berbisik,"Rebahlah dibahunya dan rengkuhlah kosong jemarinya".  

Akupun rebah dibahunya dan menggengam tangan pemilik wajah menyenangkan itu.

Sering kali aku merindukannya walau sebenarnya jarak begitu dekat berbicara.

Senin, 26 Mei 2014

Pertama

Disuatu sore, seorang laki-laki termanggu di sebuah balkon apartemen menatap mentari yang beringsut melambai hilang.. Lakilaki itu sendiri, namun sesekali ia berbicara pada dirinya. "Aku tak seharusnya seperti ini", ucap sambil menyandarkan badannya ke kursi.
Ia menatap kedepan, memasang kedua bola matanya menangkap goresan jingga diufuk barat sana.Tak ada jawaban disana, ia hanya sedang menenangkan perasaan yang mengusiknya.  Sementara ia sibuk bertanya-tanya. Ponselnya berdering namun ia tak peduli hanya saja deringnya makin lama makin melengking ditelingga. Ia merabaraba diatas meja kecil, setelah ia mendapatkan ponselnya. Diponselnya tertulis Rani memanggil. Tanpa pikir panjang ia menjawab telpon itu. Sebelum ia berkata halo, diujung sana mencegatnya dan berkata "kamu dimana? Aku sendirian, aku takut".
"Kau dimana sekarang?
Aku kesana, jangan kemana-mana". Pemuda itu lalu berangkat tergesa gesa sambil meraih jaket diatas sofa miliknya. Mengunci pintu dan menuruni tangga karena seminggu lalu lift apartemen yang ia sewa rusak. Pemuda itu menarik gas motor, dan melesat cepat mencari-cari seseorang yang menelponnya.
...
Pemuda itu turun dari motor besarnya menghampiri perempuan yang menunduk dikursi taman kota. Pemuda itupun duduk disampingnya.
"Ada apa?"
"Dia meninggalkan aku demi perempuan jalang itu", adu perempuan pada pemuda sambil terisak isak.

Tak kenal waktu

Sebaik baik apapun cara kecewa bertamu takkan membuat tuan rumah merasa apik. Kecewa takkan pernah peduli kapan ia bertamu, entah disaat bahagia begitu erat memeluk mesra tuan rumah. Sekali lagi ia tak peduli. Kali ini ia datang mengejutkan tuan rumah, hingga bahagia yang sedari tadi memeluk merenggangkan lengannya perlahan. Tuan rumahpun menunduk dan menggeleng pelan, tak menahan lengan itu untuk tetap mendekapnya. "Menyedihkan" lirih hatinya.
Bahagia beranjak pergi seolah olah ia berpikir tak seharusnya berada disitu. Tanpa sepatah katapun diucapkan, bahagia meninggalkan tuan rumah itu sendiri. Oh tidak, dia tidak sendiri. Melainkan ada yang lain selain dirinya tadi, kecewa.

"Untuk apa kau datang?" Tuan rumah memecah hening
"Aku merindukanmu. Itu siapa yang memelukmu? Mengapa wajahmu bersemu merah dan matamu begitu tertarik ketika menatapnya, sedangkan ketika aku memelukmu, wajahmu begitu sembab dan tatapanmu sangat hampa", sambut kecewa.

"Aku tak pernah riang menyambutmu, oh bagaimana mungkin pula aku menyambutmu, aku tak pernah tau kau datang. Sekali aku berusaha menutup pintu, berpindah-pindah rumah. Namun kau selalu tau bagaimana cara menemuiku. Aku tak punya kuasa untuk menghentikanmu lagi. Kau terlalu tangguh untuk dilawan. Datanglah kapanpun engkau mau, aku takkan lagi kemana-mana. Terkecuali kau berulah kembali seperti dulu", kata tuan rumah sambil menggigit bibir menahan tangis.

Kecewa berbisik,"Mungkin aku takkan berlama-lama disini. Sudah ku bilang aku hanya merindukanmu. Aku tak tau sampai kapan aku akan bermalam disini. Percayalah aku tak berniat memporakporandakan tiap ruang dirumah ini seperti dulu. Mungkin lain kali, hahaha".

"PECUNDANG", tuan rumah mencicit sambil tersenyum getir.

Rabu, 07 Mei 2014

Mengejar Senja

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*
Waktu itu, ketika aku menengada sembari menutup mata berharap diberi sebuah kesempatan yang digadang-gadang sebagai sebuah kebentungan. Karna Tuhan sangat pemurah begitu berbaik hati kepadaku, aku dihadiahinya sosok yang didalam senyumnya ada ribuan dunia fantasi yang seringkali membuatku tenggelam, tak terselamatkan.
Ada cermin yang menjadi penghubung dua paras yang tak saling tatap. Didalam cermin bibirmu mengatup memilih diam. Akupun tersenyum menatapnya, seolah diamnya adalah sandi yang hanya bisa dipecahkan oleh hati. Lalu iapun menatap kedalam cermin melihat aku yang tersenyum, ia tersenyum hingga ginsulnya dan lesung pipi sebelah kanannya menghiasi parasnya. Aku berkata, “ Bagaimana mungkin kau bisa menyetting wajah semenarik itu”. Kitapun tertawa seolah memberi cuti kepada kesedihan disore itu. Setelah ia, kau mencubit tanganku hingga mengundang kesal dari wajahku. Kau malah menertawakan kekesalanku itu, lihatlah betapa kejamnya dirimu itu. “Siapa yang akan menghakimi kekejamanku itu?”, katamu sambil melirik ke dalam cermin. “Aku”, sambutku lantang. Sedangkan dalam hatiku mendumel,”Tuan, cintaku tak pernah mengajariku untuk membenci kekejamanmu, selebihnya cinta mengajariku untuk mencintai segala hal tentangmu”. Aku tertawa dan membuatmu bertanya,”Ada apa? Lihatlah kedepan”. Dipenghujung sana, ada mentari yang anggun menawarkan jingga kemerahan dengan sempurna, hingga cahayanya melukis senja yang manja dan haus akan pujian. Hanya saja sebentar lagi sepertinya kegelapan akan senang hati melumat tatanan keindahan itu sebelum kita menyapa.
............................................................................................................
Kau tepat didepan, membelakangiku. Lihatlah betapa durhakanya lelakiku itu.
“Meski tak terkejarkan, dan ternyata waktu berlari lebih cepat dari langkah kita. Lalu ketika jemarimu menggenggam jemariku, maka tak ada yang boleh merebutnya, tak juga waktu. Maka kecewa adalah omong kosong, & euforialah yang lebih tepat menggema”, lirihku dan memelukmu erat dari belakang.

Lalu, bagaimana dengan hatimu memaknai waktu saat itu, lelakiku?

Kamis, 01 Mei 2014

Cerita Pertama ( Sentuhan Magis)

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*




Lalu senjata kepedihan mana yang mampu menembus euforia ini, tak ada..


Nirwana; tempat suci untuk singgah dan bertamu. Kini kita berjarak puluhan kilo meter dan walau jarak tak bisa lebih dekat namun akan ada ingatan yang begitu lekat..

Seperti kapal yang terdampar didermaga, merindukan lautan, ombak dan angin. Begitupun kita, melanjutkan perjalanan, kali ini perjalanan baru, tak dimulai dengan kesendirian, namun berdua menuai jejak-jejak terbaik untuk dikenang pada kening kita kelak. Selangkah dan senada melipat jarak menemukan sekeping asa bersama; memulai, memulai dan memulai tanpa ingin ditemukan oleh akhir. Mengingat waktu beringsut mengantar mentari dipundak gunung sana.
Aku dan kamu, atau sebut saja kita berjalan menyusuri jalan setapak demi setapak. Beberapa langkah, aku berbisik ditelinga kirimu, “Semoga kau tak akan pernah jatuh cinta lagi pada yang lain, yang lain selain aku”. Lalu langkahmu berhenti dan jari manis kau ancungkan di depan wajahku, akupun membalasnya dengan mengangkat jari manisku dan mengikatnya dengan jari manismu. Kaupun meraih jemariku dan mengisinya dengan kekosongan dijemarimu, kau menggenggam erat segala ketakutanku, ketakutan yang akan terjadi sewaktu-waktu.
.................................

“Setelah berjalan begitu lama, dan nirwana pun tak lagi menampakan diri. Berkenankah nona berdiam sebentar di gubuk kecil itu menghilangkan dahaga”, tanyamu. “Tentu, dengan senang hati”, balasku. Kami pun, masuk ke gubuk itu, tak ada satu orangpun. Kita mencari-cari apa saja agar tenggorokan tak terasa kering. Hingga mata kita terpusat pada meja kayu yang mulai lapuk, kita menemukan dua gelas yang terbuat dari kayu jati. Kitapun menuju ke meja itu dan meminum yang ada digelas itu. Tak lama kemudian, perutmu sepertinya menjerit perih. Akupun terdiam cemas, tak tahu harus berbuat seperti apa. Lalu kau mengangkat tangan, seolah-olah mengisyaratkan bahwa “Aku baik-baik saja”. “Bagaimana mungkin baik-baik saja, sedangkan matamu mengatakan begitu sakit. Lebih baik kita berjalan lagi menemukan tempat untuk mengobati rasa sakitmu itu”, kataku.  Kemudian ku raih tanganmu meletakkannya dipundakku dan tangan kiriku melingkar di pinggangmu, menopang tubuhmu yang melemah seketika..
Entah mengapa disaat ia begitu merasakan sakit, ia masih bisa mengembangkan senyum lembut. “Magis”, lirih hati. Hingga tiba pada suatu tempat, tempat yang ku pikir bisa mengobati sakitmu itu.
...........................................
Kau kembali membaik, meski tak sebenar-benarnya pulih. Namun kau tak ingin berlama-lama disana, kita kemudian beranjak dari tempat itu dan memulai perjalanan lagi. Tak banyak percakapan setelah itu, hanya saja debar tetap begitu tangguh mempertahankan diri. Untuk membunuh keheningan, sesekali diperjalanan kau bernyanyi. “Berhentilah bernyanyi, bila tak bernyanyi untukku”, potongku yang menghentikan nyanyiannya. “Kau ingin mendengarkannya?”, sambutmu. “Tentu, ingin dan sangat”, jawabku bersemangat. “ Baiklah, aku akan mengajakmu kau ke negeri selanjutnya”, balasmu. Kaupun tersenyum dan menunjuk langit, “Disana ada megah-megah yang lamban, dibaliknya ada senja yang menawan, jingga yang akan menghilang dipelipis cakrawala, kita akan merindukan perjalanan ini”, ucapmu. Akupun terdiam menatap wajah yang dianugerahi lesung pipi itu.
....................................
Sesampai di sebuah negeri, kau bertemu dan menyapa seseorang serta ada percakapan kecil yang tercipta disana. Seseorang yang kau kenal baik tentunya. Negeri yang kita kunjungi tak sesunyi nirwana, jadi di negeri ini seolah dibangun untuk mengetahui kau sama sekali tak sendiri dalam hidup. Sesuai kau bebincang, lalu kau menuju kearahku dan mengajakku menemukan tempat yang tepat untuk singgah. “Berhenti nona, kita telah sampai pada tempat yang ku janjikan, disini tempatnya. Aku akan menyanyikan sebuah nada sederhana untukmu, kau duduk manislah disampingku”, bisikmu. Lalu kau duduk tepat disamping kananku.

Kemudian, kau mulai bernyanyi lagu pertama dan lagu kedua dan seterusnya. Untuk pertama kali kau bernyanyi untukku, dihadapanku, menatapku begitu hangat dan tersenyum begitu menawan. Sungguh saat itu, aku tercengang oleh suaranya hingga membuat rindu begitu manja. Suaranya seolah diiringi oleh petikan semesta yang alami, tak dibuat-buat agar terdengar merdu. Suara yang membuat seluruh semestaku luluh, tersungkur jatuh kedalam lubang yang bercahayakan ketenangan. Sungguh suaramu membuatku membungkam jauh-jauh kecemasan. Meski negeri ini, tak berbintang, namun dalam tatapmu begitu banyak cahaya yang memeluk kegelapan. Sementara kau bernyanyi, aku menuliskan sesuatu dinegeri itu, agar meninggalkan kenang yang akan kita rindui.
Setelah kau bernyanyi, kau mengajakku berjalan hingga puncak, kau bilang; kau ingin mencoba keberuntunganku hari ini. Aku tak mengerti, namun aku tak banyak tanya. Karna aku yakin tak ada tempat yang tak menyenangkan selama bersamamu. Aku berjalan sementara kau dibelakang memegang pundakku mengarahkan langkah. Tak butuh waktu lama, kita tiba disuatu tempat seperti taman bermain. Lalu kau berkata dengan senyum hangat yang menggantung,”Kau memiliki 10 kesempatan untuk mencoba keberuntunganmu”.
.................................
“Beruntungkah aku? Tidak tanpa kamu”.
“Perempuanku, aku menemukanmu terluka parah, kelelahan dan kesepian di anak tangga yang lantainya terbuat dari kaca, untung lantai itu tak begitu banyak retak hingga tak harus membuatmu jatuh ke dalamnya, membuatmu terkirim ke dimensi lain. Sungguh aku dirundung penyesalan karena begitu lama menemukanmu. Terima kasih telah menerima dengan baik kedatanganku, bersedia untuk berkenala mencari nirwana dan sebuah negeri tak bernama. Kelak akan ada detik yang menjadikan menit, jam, hari, bulan atau tahun, maka akan ada dari diriku yang mencelakai hatimu, sebaliknya kaupun akan mencelakai hatiku, akan ada keadaan yang menghunus kita dengan sebilah pisau tajam dalam perjalanan kita nanti. Tak ada yang mampu mengelaknya. Maka ketika aku, kau atau kita tak mampu mengelaknya, tetaplah setia disampingku, ingatkan aku untuk selalu menggenggam dan tak melepasmu, tegur aku agar aku tak lupa untuk selalu menatap dan tak berpaling darimu”.  Ucapnya sambil menatap lekat ke dalam mataku, sedangkan jemarinya merapikan barisan helai rambut yang menutupi wajahku.
Aku menatap sosoknya dengan begitu rinci, tak ada aksara yang terlontar dari bibirku, hanya saja setelah ia berkata seperti itu aku memeluknya dan berbisik,”Terima kasih, aku tak yakin bisa tertidur malam ini, rindu telah lebih dulu bertamu”
Hari bahagia, hari spesial, hari dimana senyum tak pudar-pudar.
Detik-detik bersamamu adalah WAKTU yang menjelmahku menjadi putri sesungguhnya..

Aku beruntung memilikimu.