Aku menyerah pada keputusan langit, pasrah
pada kehendak orang. Aku akan berhenti memaksakan ribuan ingin atau egoku saat
ini. Aku akan menjelma menjadi air, mengalir walau sesekali aku akan menemukan
celah kecil untuk singgah sebelum panas menarikku dan menjatuhkanku sebagai
rinai hujan. Aku akan jatuh di manapun, terserah pada angin. Aku tak berkuasa
meminta diri untuk jatuh di telapak tanganmu.
Sekeras apapun aku meminta langit untuk mengabulkan
doaku saat ini, selalu akan berakhir pada kata tunggu atau yang lebih buruk
jawaban lainnya yaitu tidak. Sedangkan, rindu tak berhenti tuk tumbuh dan sepi
tak kunjung luruh. Ketika aku mencoba untuk paham dengan keadaan, mengalah pada
jarak, menuruti semua perintah. Aku cemas, aku takut kelak aku akan terlupakan.
Aku khawatir jika kau terbiasa atau aku terbiasa tanpa sebuah hadir. Pada
akhirnya kita takkan lagi mempermasalahkan temu yang tak jua dihadiahi semesta.
Ah. Sungguh aku gemetar rasanya.
Aku cemas, segala percakapan kecil kita
menguap karena tak lagi menarik untukmu. Ketika kau beranjak dewasa, kau takkan
lagi menghiraukan ada atau tiadanya aku. Pada kesempatan itu, kau memilih untuk
tak hadir untuk menenangkan amarah. Kau dengan mudah melarikan diri, menyelamatkan
telingamu dari semua bising yang menyakitkan. Dan aku sendiri menjadi menyesal
atas perkataanku.
Beranjak dewasa, ku pikir kita akan lebih
baik dalam perasaan. Ternyata logika yang akan lebih berhak memegang tahta.
Lalu ketika diujung malam datang, aku merengek tak kau hiraukan. Kau mengakhirinya
dengan mengucapkan semoga aku bermimpi indah. Namun, akankah aku sempat bertemu
kasih dengan segala macam keindahan disaat aku dipaksa terjaga oleh tangis. Aku
sadari bahwa aku mencintaimu seperti bocah nakal. Mengganggu semua yang kau
tengah rencanakan.
Dulu, dulu sekali. Sebelum kau beranjak dewasa,
kita seringkali membicarakan hal-hal yang kadang sampai mengocok perut, sampai pula
aku disebut gila karena terus tertawa membaca gurauanmu. Dan tak jarang kita bertaruh
tentang apa saja dan yang menang akan mendapatkan satu permintaan. Kadang pula
kau mengaduh rindu. Dan juga kadang, saat aku terlambat membalas pesanmu. Entah
karena aku masih terlelap, kau dengan lucunya menggangguku lewat perantara lainnya dengan berkata,"Bangun
dong bangun. Perempuan yg gak pnh betah kalo sama kita bangun!". Begitu katamu,
lalu ketika aku membalasnya dengan emoticon ini ("•˘ะท˘•). Kau pasti
mengatakan kalau kau juga mau emoticon lucu seperti itu. Semua gurauan jenaka seperti
itu, terasa mewahnya kalau diingat lagi disaat ini. Ketika aku mengajakmu
becanda, kau selalu membalasnya dengan bilang,"Ada-ada saja yang kau
katakan". Dan aku akhirnya tak melanjutkan gurauanku.
Dulu, dulu sekali. Ketika aku merajuk, kau
dengan manis merayuku. Kau dengan tabah mengantarkan pejam di mataku dengan nyenyak.
Tak sekalipun kau tinggalkan aku dalam duka nestapa sendiri, takkan kau tega menyisakan
malam dengan rasa sesak di dadaku. Tak masalah jika sudah lewat tengah malam,
kau tetap terjaga tanpa keluh kesah datangnya pagi. Kau mendamaikan apa yang
dimusuhi oleh hatiku. Walaupun kita dekat saat itu, kau akan merasa cemas tak bisa
menenangkanku, setiap aku dengan gilanya
marah padamu. Sebaliknya justru saat kita jauh, kau dengan tenangnya terlelap.
Dengan alasan dulu seluruh waktumu adalah milikku, sekarang waktumu adalah
milikmu. Aku mencoba memahami apa yang kau lontarkan itu, aku memutar kepala memikirkan
makna dari perkataanmu.
Mungkin ada benarnya, dulu kau selalu menghabiskan
waktu bersamaku. Dan menyenangkan, rasanya aku ingin kembali lagi ke masa itu. Tepat
disaat sebelum menyadari kau lebih dulu didewasakan jarak. Kau lebih dulu
menyadari, cinta bukan satu-satunya agenda penting dalam kalendermu. Ada banyak
hal yang harus terselesaikan daripada sibuk bicara fantasi tentang cinta remaja.
Aku takut kau tak memperdulikan sebuah kehilangan. Dan kau semakin cerdas, telah
mempelajari berbagai kelemahanku, hingga aku tak mungkin untuk pergi jauh
ketika aku hendak merajuk. Kau pun kini sepertinya memang tak lagi mau susahkan
diri untuk mengambil hatiku, mungkin yang ku tangkap darimu kini seperti; ah
sudahlah. Nanti dia akan baik-baik saja, aku tak usah mencarinya.
Kelak mungkin tak ku temui seorang yang berhati
lembut sepertimu dulu. Sebagian hatiku bergetar ingin bertanya. Aku takut pada
abai yang kau seringkali kau hadiahkan untukku akhir-akhir ini. Caramu
menjelaskan sesuatu pun telah berubah, terdengar ada rasa sarkas di nadanya. Ada kata-kata yang diburu waktu pada tiap
penjelasannya, singkat dan cukup jelas bagimu.
Dan lucunya, ketika
segala lelah yang kau kotakkan, yang katanya untukku itu. Aku ingin tertawa.
Rasanya geli sekali. Aku melihatmu lelah karena sebab yang bahkan tidak ada
keturutsertaanku. Kau malah hadiahkan untukku. Aku sebenarnya (tak) apa-apa
jika harus menerimanya, kau lelah dan akhirnya memejam lalu tak melihat betapa
inginnya aku, kau tak merasa lelah. (Tak) apa-apa mengaduh.
Mungkin seharusnya aku memberikan ruang
untukmu, agar kau bisa bernapas dengan semestinya. Mungkin tak cukup jarak untuk dihadiahkan, ku sisa
sedikit bayangku di sampingmu. Bukan bayang yang menghantuimu. Tapi menjagamu. Bayang yang ada namun tak terlihat.
Terimakasih
karena alasan kau tumbuh dewasa adalah aku. Rencana itu adalah rencana untuk
mendekatkan.
Apa kau tega membuatku menunggu dalam keseriusan
tanpa candamu?
Rasa letupan degup karena temu apakah
rasanya masih ada di dadamu?
Berlarilah meski aku tak terkejar, merayulah
meski aku memaki, berhentilah berlari
jika aku lelah mengejar, lelah disembunyikan.
aku hanya berdecak pelan.
Ah, rindu sekali rasanya aku padamu malam
ini.
It is not the distance
that kills a relationship, it is the silence, the breakdown of communication
and indifference
