Jumat, 21 Juli 2017

Ano.ma.li

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Aku menyerah pada keputusan langit, pasrah pada kehendak orang. Aku akan berhenti memaksakan ribuan ingin atau egoku saat ini. Aku akan menjelma menjadi air, mengalir walau sesekali aku akan menemukan celah kecil untuk singgah sebelum panas menarikku dan menjatuhkanku sebagai rinai hujan. Aku akan jatuh di manapun, terserah pada angin. Aku tak berkuasa meminta diri untuk jatuh di telapak tanganmu.
Sekeras apapun aku meminta langit untuk mengabulkan doaku saat ini, selalu akan berakhir pada kata tunggu atau yang lebih buruk jawaban lainnya yaitu tidak. Sedangkan, rindu tak berhenti tuk tumbuh dan sepi tak kunjung luruh. Ketika aku mencoba untuk paham dengan keadaan, mengalah pada jarak, menuruti semua perintah. Aku cemas, aku takut kelak aku akan terlupakan. Aku khawatir jika kau terbiasa atau aku terbiasa tanpa sebuah hadir. Pada akhirnya kita takkan lagi mempermasalahkan temu yang tak jua dihadiahi semesta. Ah. Sungguh aku gemetar rasanya.
Aku cemas, segala percakapan kecil kita menguap karena tak lagi menarik untukmu. Ketika kau beranjak dewasa, kau takkan lagi menghiraukan ada atau tiadanya aku. Pada kesempatan itu, kau memilih untuk tak hadir untuk menenangkan amarah. Kau dengan mudah melarikan diri, menyelamatkan telingamu dari semua bising yang menyakitkan. Dan aku sendiri menjadi menyesal atas perkataanku.
Beranjak dewasa, ku pikir kita akan lebih baik dalam perasaan. Ternyata logika yang akan lebih berhak memegang tahta. Lalu ketika diujung malam datang, aku merengek tak kau hiraukan. Kau mengakhirinya dengan mengucapkan semoga aku bermimpi indah. Namun, akankah aku sempat bertemu kasih dengan segala macam keindahan disaat aku dipaksa terjaga oleh tangis. Aku sadari bahwa aku mencintaimu seperti bocah nakal. Mengganggu semua yang kau tengah rencanakan.
Dulu, dulu sekali. Sebelum kau beranjak dewasa, kita seringkali membicarakan hal-hal yang kadang sampai mengocok perut, sampai pula aku disebut gila karena terus tertawa membaca gurauanmu. Dan tak jarang kita bertaruh tentang apa saja dan yang menang akan mendapatkan satu permintaan. Kadang pula kau mengaduh rindu. Dan juga kadang, saat aku terlambat membalas pesanmu. Entah karena aku masih terlelap, kau dengan lucunya  menggangguku lewat perantara lainnya dengan berkata,"Bangun dong bangun. Perempuan yg gak pnh betah kalo sama kita bangun!". Begitu katamu, lalu ketika aku membalasnya dengan emoticon ini ("•˘ะท˘•). Kau pasti mengatakan kalau kau juga mau emoticon lucu seperti itu. Semua gurauan jenaka seperti itu, terasa mewahnya kalau diingat lagi disaat ini. Ketika aku mengajakmu becanda, kau selalu membalasnya dengan bilang,"Ada-ada saja yang kau katakan". Dan aku akhirnya tak melanjutkan gurauanku.
Dulu, dulu sekali. Ketika aku merajuk, kau dengan manis merayuku. Kau dengan tabah mengantarkan pejam di mataku dengan nyenyak. Tak sekalipun kau tinggalkan aku dalam duka nestapa sendiri, takkan kau tega menyisakan malam dengan rasa sesak di dadaku. Tak masalah jika sudah lewat tengah malam, kau tetap terjaga tanpa keluh kesah datangnya pagi. Kau mendamaikan apa yang dimusuhi oleh hatiku. Walaupun kita dekat saat itu, kau akan merasa cemas tak bisa menenangkanku,  setiap aku dengan gilanya marah padamu. Sebaliknya justru saat kita jauh, kau dengan tenangnya terlelap. Dengan alasan dulu seluruh waktumu adalah milikku, sekarang waktumu adalah milikmu. Aku mencoba memahami apa yang kau lontarkan itu, aku memutar kepala memikirkan makna dari perkataanmu.
Mungkin ada benarnya, dulu kau selalu menghabiskan waktu bersamaku. Dan menyenangkan, rasanya aku ingin kembali lagi ke masa itu. Tepat disaat sebelum menyadari kau lebih dulu didewasakan jarak. Kau lebih dulu menyadari, cinta bukan satu-satunya agenda penting dalam kalendermu. Ada banyak hal yang harus terselesaikan daripada sibuk bicara fantasi tentang cinta remaja. Aku takut kau tak memperdulikan sebuah kehilangan. Dan kau semakin cerdas, telah mempelajari berbagai kelemahanku, hingga aku tak mungkin untuk pergi jauh ketika aku hendak merajuk. Kau pun kini sepertinya memang tak lagi mau susahkan diri untuk mengambil hatiku, mungkin yang ku tangkap darimu kini seperti; ah sudahlah. Nanti dia akan baik-baik saja, aku tak usah mencarinya.
Kelak mungkin tak ku temui seorang yang berhati lembut sepertimu dulu. Sebagian hatiku bergetar ingin bertanya. Aku takut pada abai yang kau seringkali kau hadiahkan untukku akhir-akhir ini. Caramu menjelaskan sesuatu pun telah berubah, terdengar ada rasa sarkas di nadanya. Ada kata-kata yang diburu waktu pada tiap penjelasannya, singkat dan cukup jelas bagimu.
Dan lucunya, ketika segala lelah yang kau kotakkan, yang katanya untukku itu. Aku ingin tertawa. Rasanya geli sekali. Aku melihatmu lelah karena sebab yang bahkan tidak ada keturutsertaanku. Kau malah hadiahkan untukku. Aku sebenarnya (tak) apa-apa jika harus menerimanya, kau lelah dan akhirnya memejam lalu tak melihat betapa inginnya aku, kau tak merasa lelah. (Tak) apa-apa mengaduh.
Mungkin seharusnya aku memberikan ruang untukmu, agar kau bisa bernapas dengan semestinya.  Mungkin tak cukup jarak untuk dihadiahkan, ku sisa sedikit bayangku di sampingmu. Bukan bayang yang menghantuimu. Tapi menjagamu. Bayang yang ada namun tak terlihat.

Terimakasih karena alasan kau tumbuh dewasa adalah aku. Rencana itu adalah rencana untuk mendekatkan.
Apa kau tega membuatku menunggu dalam keseriusan tanpa candamu?

Rasa letupan degup karena temu apakah rasanya masih ada di dadamu?
Berlarilah meski aku tak terkejar, merayulah meski aku memaki, berhentilah berlari jika aku lelah mengejar, lelah disembunyikan.


aku hanya berdecak pelan.
Ah, rindu sekali rasanya aku padamu malam ini.

It is not the distance that kills a relationship, it is the silence, the breakdown of communication and indifference

Rabu, 12 Juli 2017

Mengapa aku seorang Perempuan (PART II)

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Aku marah kepada diriku setiap hari, atas ketidakadagunaanku semasa ini, aku hanya menunggu, mendengarkan, dan menaati. Apa memang harus seperti itu, agar aku menjadi manusia yang beradab untuk menjaga baik predikat keperempuananku? Aku seringkali menghela napas panjang-panjang. Karena kejenuhanku pada kegiatan yang berulang kali terjadi tanpa perubahan, tanpa adanya target yang ingin ku panah tetap sasaran. Kadang aku menggelengkan kepala, aku ini kenapa? Kenapa tak ada sedikitpun ku perbuat? Saat itu rasa-rasanya, ada yang ingin lompat dari kepalaku, berlari lalu pergi; ide-ideku.
Aku merasa jengah pada keadaan yang membuatku dunguh, pada puji-puja mereka yang terlalu berlebihan dilayangkan kepadaku. Tiap hari mendengar bualan yang mengatakan kebaikan namun dalam dadanya tak merasa demikian. Ah, manusia memang dari dulu memang seperti itu. Mengapa aku baru merasa risih sekarang?
Aku mencoba belajar bagaimana cara mensyukuri apa yang sudah menjadi bagianku, tapi aku gagal karena tak tahu harus mencoba dari mana.

Aku mungkin kurang kreatif, aku tak bisa menghidupkan warna sarangku. Putih ya putih. Hijau ya hijau. Tak ada yang harus berubah. Seperti pemikiran mereka. Bukan aku. Ketika aku siap untuk berubah selalu ada ketuk yang menghentikan detak. Aku mati, sebelum ku tahu bunyi itu apa.

Mengapa aku seorang Perempuan (PART I)

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Aku tak tahu apa yang sedang aku inginkan, jika aku berdoa. Entah apa aku benar-benar ingin pintaku terwujud atau tidak, hatiku tak benar-benar mengingkan sesuatu. Namun jika aku harus dihadapkan pada pilihan aku akan memilih dengan pertimbangan tentunya, mana yang lebih banyak membawa baik bagiku. Namun jika ditanya apa yang paling kuinginkan mungkin yang pasti adalah bersamamu sekarang sampai nanti, sampai Tuhan bilang; usiamu sampai di sini. Selain itu, aku tak lagi bisa memaksa diri untuk melakukan ini itu untuk kepuasan bukan tak ada waktu, tapi tak ada kesempatan untuk melakukannya lagi. Karena ada yang harus ditaati dari sekedar mauku yang banyak. Mengalah, itu adalah kata yang tepat untuk mengganti nama tengahku sekarang. Dari semua keinginanku, hanya sisa beberapa yang masih ingin ku pertahankan ada, sebab sisanya harus ku runtuhkan untuk menghidupakan keinginan oranglain. Dari panjang doaku, hanya ada satu dua tentangku sisanya untuk mereka yang harus kumenangkan bahagianya.
Jika boleh jujur, aku sendiri sedang kebingungan atas keberadaanku saat ini. Aku tak banyak membawa keberuntungan, dan akupun tak berbuat banyak untuk sekitarku. Hingga seringkali aku bertanya, untuk apa kehadiranku. Untuk apa aku bersembunyi padahal yang mencariku pun tak ada. Tapi aku harus kemana dengan kedua tangan kosongku. Seringkali aku bertanya pada diriku lalu kepada Tuhanku, mengapa aku harus menjadi seorang perempuan. Padahal jika aku laki-laki, mungkin kakiku akan membawaku jauh dari apa yang bisa ku bayangkan. Mungkin dengan menjadi laki-laki, aku takkan cemas meninggalkan rumah walau hanya dengan kaos tipis di tubuhku. Mimpiku mungkin tak hanya nyata saat menjelang lelap. Mungkin,
Mengapa aku seorang perempuan, yang nyalinya hanya sebatas berani bermimpi. Yang nyalinya digenggam oleh sindiran orang.
Mengapa.
Untuk apa.
Menjadi apa.

Aku bertanya pada diriku.

Untuk aku di masa depan.

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*




Selamat pagi, semoga kau benar-benar membacanya di pagi hari di saat kepala sedang waras-warasnya.
Aku mengirimimu surat dari masa lalu untuk mengingatkanmu hal-hal baik dalam susahmu saat ini. Agar kau tak melupakannya kau pernah begitu hancur, pernah sangat rindu, pernah rasanya ingin mati; kau masih ingat siapa yang ada selalu untukmu selain Tuhanmu ? Dia yang sigap menunduk dikala kau meninggi. Dia yang meredam amarah saat kau berapi-api. Dia yang tetap mengulurkan tangannya walaupun kadang kau sombong menolaknya. Semoga kau tak lupa siapa dia, semoga kau masih bersama dia. Aku menulis ini, karena aku yang di masa lalu sekarang teramat khawatir. Kau dan dia sedang berjarak, jauh bagiku. Walaupun sekalinya ia bilang, “Ini jarak tak ada apa-apa dari apa yang kita dapatkan esok, jadi bersabarlah”. Ingatlah mungkin hari ini, aku menulis surat, aku sedang dalam keadaan “baik”, dalam keadaan rindu yang pelihara dengan sabar. Aku tak ingin kau melepaskan dia, maka berhentilah kejam kepadanya. Berhentilah memarahinya karena ia terlambat mengabarimu, berhentilah mencurigainya, berhentilah memaksanya melakukan yang ia tak ingin lakukan. Cintailah ia sebaik ia mencintaimu.
Jangan terlalu keras padanya, tapi sesekali tak apa jika memang dia sedang menyebalkan. Namun kau harus ingat, jangan membencinya, walau kelak ia akan mengabaikan ocehanmu, menutup telinganya atas tangismu, atau pergi karena keributanmu. Ingatlah jangan sesekali pergi untuk meninggalkannya.
Aku takut ia pada akhirnya tak mengejarmu, tak mengingatmu atau tak memperdulikanmu, titik dimana ia akan lelah dan menyerah padamu. Padamu yang sebenarnya tak ada apa-apanya bagiku yang sekarang. Entah apa yang terjadi dimasa depan, kau sudah menjadi lebih baik, atau lebih buruk dariku. Jangan pernah menghardiknya dengan kepergian. Mungkin saja ia akan benar-benar meninggalkan karena tak betah atau karena ia merasa kau terlalu memberatkan langkahnya.
Lantas kau sudah berubah? Jika bukan untuknya perubahan itu, setidaknya kau berubah untukmu. Kau akan menjadi tua, menjadi seorang ibu, menjadi tempat lahirnya kesabaran-kesabaran baru. Bukan seorang ibu yang pemarah. Itulah pintaku dari masalalu, kau harus menjadi yang berbeda sekarang dari yang dulu. Sebab, kau harus mencontohkan yang baik, mengajari anak-anakmu kesabaran yang tak henti, menumbuhkan kesederhanaan. Bersamanyalah itu adalah yang terbaik. Sebab ialah rumah yang menenangkan bagi keluargamu kelak. Percayalah, sekalipun aku belum tahu apa yang terjadi esok, aku yakin padanya.
Aku tahu, aku yang akan datang mungkin akan terluka entah karena dia atau sebabnya apa. Tapi ku mohon jangan coba-coba kau melarikan diri untuk jatuh cinta kepada bukan dia. Jatuh cinta memang mudah, menggantikan dia mungkin kau bisa. Sebab saat kau jatuh cinta kau akan lupa tentang dia, kau lupa rasa sakitmu dan kau lupa bahwa kau pernah begitu memperjuangkannya. Setiap orang akan selalu bisa digantikan posisi dan kenangannya. Lalu akan begitu mudah terlupakan. Aku tak ingin kau begitu. Jika kau ingin jatuh cinta, jatuh cintalah padanya. Ia akan tahu bagaimana membuat terguguh hingga mau. Semoga suratku belum terlambat, kau belum menjadi bodoh dengan memperlakukannya tidak menyenangkan setiap hari. Ku harap kau dan dia bahagia lalu sudah mampu mengubur jarak. Ku harap ia masih bisa kau ajak becanda, semoga ia tak terlalu banyak tumbuh dewasa. Semoga ia, tak mengabaikanmu lagi, semoga ia tak membiasakanmu untuk selalu sendiri, semoga ia tanggap atas diammu, lalu semoga ia sudah sedia mengenalkanmu pada dunianya. Semoga iapun lebih baik untukmu. Semoga. Namun, bagaimanapun dia. Ia masih yang terbaik bagiku. Semoga kelakpun begitu. Aku mencintaimu, diriku.

Aku akan mengirimimu surat, lagi.

Selasa, 04 Juli 2017

Perempuan Tanpa Rahasia (Part I)

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Ialah perempuan yang selalu berkata apa yang ia rasakan. Setiap kali ia jatuh cinta, ia tak malu mengatakannya tanpa permisi dulu kepada kepalanya. Setiap ia marah, ia tak segan membentak siapapun tanpa harus takut dibenci. Setiap kali rindu, ia takkan memendam tanpa sudi menyembunyikan secuil katanya untuk hatinya.
Adakah seperti perempuan itu? Perempuan tanpa rahasia. Perempuan yang begitu berbaik hati kepada hatinya. Perempuan yang berjiwa bebas tanpa jajahan isi kepalanya, ia membebaskan hatinya untuk bertindak sesukanya. Tanpa perlu memberikan laki-laki sandi-sandi pramuka yang merekapun sebenarnya malas sekali untuk memecahkan teka-teki perempuan.
Tapi apakah perempuan seharusnya seperti itu? Mengutarakan apa yang mereka inginkan tanpa ada perantara, tanpa proses panjang untuk merenungkan sebelum melontarkan gejolak dadanya. Tanpa melalui jeda panjang dalam diam. Tanpa harus berkelut dulu dengan isi kepalanya sendiri. Tanpa harus menahan kecut dadanya berlama-lama. Perempuan tanpa rahasia. Apakah seperti itu yang diinginkan laki-laki? Rasanya sederhana sekali, sepertinya tak ada yang harus menjadi masalah dalam hubungan jika semua perempuan begitu. Perempuan bermental tinggi seperti itu apakah benar-benar menejaterahkan kaum laki-laki yang menolak keras sebuah kode-kodean? Mental yang tak takut jika pada akhirnya kandas pada pengabaian.
Perempuan tanpa rahasia, indahkah dirimu dengan keterusteranganmu? Tanpa rasa gengsi yang banyak perempuan junjung? Yang dimana perempuan ingin paling awal dimengerti dari segala pekerjaan para lelaki seharian ini? Indahkah dirimu dengan segala ucap, tanpa menghadirkan usaha laki-laki untuk mengerti mengapa diammu begitu menggemaskan, mengapa kau termanggu seperti kehilangan akal. Sekali lagi, sederhana sekali wahai kau perempuan tanpa rahasia. Tanpa ada setipis batas yang kau hadirkan untuk laki-laki yang mungkin enggan berpikir panjang.

Indah atau tidak, biarlah kau menjadi dirimu. Bertahan atas apa yang menghangatkan hatimu. Berharap kepada laki-laki dapat menghapus segala sedihmu dengan berani mengatakan segala mau. Tak usah paksa laki-laki untuk mengerti setiap detail tentangmu. Biarlah dia mencoba untuk mempelajari lebih dalam, menggali lebih tekun tentang perkara di sekelilingmu. Bila ia tak merasa terluka dengan diammu, mungkin sebagian dirinya tak berada denganmu. Sebagaian kendalinya ada pada yang lain. Karena hidupnya bukan hanya tentangmu.
Tapi sebuah keajaiban jika kau adalah perempuan tanpa rahasia, karena kau akan pulih dengan cepat ketika kau diabaikan. Dan kau teramat beruntung, segala hal yang memberatkan dadamu, seketika lega begitu saja karena tersampaikan tanpa harus menunggu kapan waktu membaik.


Setiap teka-teki perempuan ingin kau redakan dengan tanya bukan kau suguhkan pengalihan lalu dibumbui abai.

TAK BISAKAH?

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Tak bisakah hari ini saja kau coba bersikap manis seperti anak kecil yang rindu ibunya yang pergi barang sebentar?
Tak bisakah hari ini saja dadamu kau penuhi rasa cinta karena kau pikir esok belum tentu ada?
Tak bisakah hari ini saja kau bergembira tanpa takut diburu waktu?
Tak bisakah hari ini saja kau lupakan ambisi dan menikmati apa yang ada?
Tak bisakah hari ini saja kau tak risau memikirkan pekerjaan sedangkan aku di sampingmu?
Tak bisakah hari ini hatimu berbunga-bunga ketika kau menangkap senyumku?
Tak bisakah hari ini kau melepas apa yang kau genggam saat aku berbicara padamu?
Tak bisakah hari ini kau memalingkan pandanganmu kepadaku dan mengabaikan yang lain?
Tak bisakah hari ini kau menginginkan genggammu berada dalam genggamku?
Tak bisakah hari ini kau kenalkan aku pada seluruh dunia bahwa aku milikmu?
Tak bisakah hari ini kau bangga dengan kehadiranku dan tak memerdulikan yang lain?
Tak bisakah hari ini kau merasa riang atas kedatanganku yang mungkin akan lama sekali untuk bertemu lagi?
Akukah yang harus memahamimu selamanya bahwa kau sudah lebih dulu beranjak dewasa?
Sedangkan aku adalah gadis kecil yang baru mengenalmu sebagai cinta.
It is not the distance that kills a relationship, it is the silence, the breakdown of communication and indifference. -anonimtumblr-

Sebuah Pengabaian bagi Seseorang

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Siapa yang akan peduli pada daun kering yang rapuh
Siapa yang akan menangisi senja yang pulangnya lebih cepat
Siapa yang akan terpukul atas kepergian burung yang tak pernah ia pelihara
Tak ada yang terluka atas apa yang bukan miliknya
Tak ada yang akan rela dirinya menyia-yiakan waktu memikirkan atas apa yang tak ia ingin ributkan
Tak ada, kecuali perkaranya sendiri.
Pada kesekian kalinya, banyak yang terlewatkan, banyak yang dirasakan hati atas sebuah pengabaian
Pada kondisi wajar, beberapa orang akan memilih untuk mengabaikan rasa tak peduli seseorang pada dirinya, karena ia tak lagi ingin merasa miskin atas apa yang disisakan tunggu. Sebab tunggu bagi mereka ialah sesuatu yang takkan mereka dapatkan. Mereka akan mencoba diperuntungan yang lain, menggantung ingin pada pundak yang bersedia memberikan sebuah pengabulan. Bagi mereka, waktu ialah sebuah kesembuhan dan penemuan lainnya sampai ia mereka begitu tepat untuk berhenti.

Namun sebagian orang akan merasa langit seketika runtuh, nestapa seolah sedang senang mengurung dirinya. Terasa ia sedang diasingkan jauh dari peduli apalagi sentuh sebuah kasih. Di kepalanya tumbuh pohon kesepian yang makin meninggi dan penuh cabang tanpa ampun menghujamnya dalam kesendirian. Baginya tak ada lagi pinta, tak lagi ada bintang yang ia harap jatuh mengabulkan mau. Ia pikir menunggu adalah sebuah perubahan.Ia menantikan apa yang ia pikir akan berujung manis pada dalam hatinya ia sudah begitu muak untuk menunggu lebih lama. Ia menguatkan dirinya dengan janji-janji yang padahal tak pernah diucapkan seyakin ia menerima janji. Ia menumbuhkan rasanya dengan sebuah percaya, walaupun ia diingkari.

Janganlah Berjantung Pisang

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Ketika aku meletakkan kedua tanganku di pipimu, maka letakkan pula kedua tanganmu di wajahku. Ketika aku memelukmu, maka dekaplah aku seerat diriku memberi hangat itu. Ketika aku melangkah selangkah, maka jangan menambahnya menjadi dua langkah, agar kau tak ku anggap serakah. Ketika aku berkaca-kaca dengan rindu, maka tadahlah derainya dengan temu. Ketika aku malu-malu ingin menggapai jemarimu di keramaian, maka jangan acuh dengan menganggapku seperti tak butuh. Ketika berdua kau manis bak madu, maka dalam ramai janganlah berpura-pura menghormatiku jika yang terlihat hanya seperti teman bermainku. Ketika segalanya tentangku maka selalu ku harap itu terkait denganmu. Tak kau kurangi takarnya, tak kau tambahkan janjinya , tak kau hilangkan manisnya.
Janganlah kau berjantung pisang. Adakah waktu selain pagi, siang, sore, malam takku ingin adanya sapamu?. Sedangkan waktu petang dan subuh tak henti mulutku melayangkan namamu, lalu jika kau pikir cintaku hanya kumpulan mauku, sekelompok egoku, ribuan rengekanku, maka aku hanyalah gadis kecil yang mencintai laki-laki dewasa sepertimu. Penuh ambisi, penuh mimpi. Haruskah mendapatkanku seperti kau sedang berlomba dengan waktu? Haruskah kedewasaan melepaskan rasa senangmu padaku? Haruskan kini aku merasa tiada agar kau tenang memperjuangkan masa depan itu?
Kesedehanaan yang ada menjadi mewah, sebuah kemudahan yang menjadi rumit dengan sebuah tanya tentang kabar, hadir yang terasa samar diikuti oleh jarak yang yang menampar. Hingga akhirnya sebuah tawa mencapai sedihnya di sebuah jarak yang belum usai, bersanding dengan waktu yang pura-pura kita abaikan. Lalu aku adalah yang kau sisakan pada senggangmu, mengingatku memang tak seharusnya menjadi salah satu aktivitas yang harus digentingkan. Segala perdebatan kita tak diharuskan sampai pada meja diskusi untuk mencapai kata damai.


Tak ada kebahagian yang kulewatkan tanpa melibatkanmu, saat kau katakan setiap tujumu adalah aku. Ada harap yang menetas dari kata itu, berharap tak ada yang keliru dari maknanya. Saat nantimu tak lagi bicara tentangku, maka apa masih pantaskah aku bertanya tentang hari esokku denganmu?