Rabu, 30 Juli 2014

Selamat Pagi

Ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Hai, Tuanku yang baik hatinya.
Masih ingatkah kau tentang seorang perempuan ini? Semoga kau sama sekali tak lupa tentang perempuan yang seringkali berpenampilan aneh setiap perkuliahan.
Kini, perempuan itu kehilangan. Kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Entah apa yang telah hilang, entah apa yang telah pergi.  Sepenuh dari senyumnya telah pudar akan muramnya, dirajam oleh tanya tanya yang tak henti menghunusnya hingga tak berdaya.
Lalu apa kau masih memikirkan perempuan yang dulu kau panggil dengan sebutan bibi? Yang katamu perempuan itu terlalu cerewet. Sekarang perempuan itu kehilangan. Kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Entah apa yang telah hilang, entah apa yang telah pergi. Ia tak tahu lagi apa yang ingin ia suarakan. Berbagai macam aksara telah dulu terkubur hidup-hidup dalam diamnya hingga mati tak terselamatkan.
Kemudian apa kau masih berkenan menyimpan perempuan itu sebagai perempuan yang berdurja menakutkan? Yang sering kali kau goda kesabarannya dengan mengatakan bahwa tatapannya menyeramkan. Kini perempuan itu kehilangan. Kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Entah apa yang telah hilang, entah apa yang telah pergi. Perempuan yang berparas menyeramkan itu, kini lebih menyeramkan dari seorang monster. Bagaimana tidak? Ia sudah lupa bagaimana caranya bersolek, membenah parasnya agar tuan tak berpaling darinya. Ia sudah lupa. Tatapannyapun kosong tak berpenghuni.

Tentang perempuannya itu, ku harap kau mengenalnya, masih mengingat bahkan masih menjadi topik menyenangkan bagi keningmu, tuan. Karena sungguh ia kehilangan, kehilangan bagian dari dirinya. Entah apa yang telah hilang, entah apa yang telah pergi. Semoga itu bukan kamu, tuan. Semoga itu hanya rasa kehilangan biasa. Yang dirasa hampa dan hambar. Karena apa yang telah terjadi pada malam malam sebelumnya, saat malam memang seadanya gelap tanpa cahaya bintang dan sinar bulan telah menyamarkan apa saja yang ingin kita ketahui. Saat bulan memilih untuk menyabit maka semesta menyeruakkan pekat yang luar biasa. Langit pada malam malam sebelumnya begitu sepi, formasi formasi bintang yang biasanya terlihat mempesona tak sama sekali menampakkan diri. Hanya malam itu. Ku harap ini kehilangan yang hanya mampir, tak betah berlama-lama duduk dipangkuan kita. Semoga kehilangan ini laiknya malam kehilangan penerangnya, namun esok paginya Tuhan menjanjikan kita tentang cahaya yang lebih terang. Mengajarkan keindahan tentang suatu kehilangan. Tentang kita yang kehilangan senja. Tuhan menggantikannya dengan indahnya langit malam dengan cahaya rembulan dan gemerlap bintang. Dengan harap terdalam ini hanya kehilangan biasa. Semoga perempuan itu segera menemukanmu tuan, dalam keadaan sebaik baiknya, tak berkurang satu rasa dari berjuta rasa yang Tuhan hadiahi.

Perempuan dengan dada sesaknya ketika kau memilih diam. Perempuan yang malu untuk menyapamu, tapi perempuan ingin membuatmu mengatakan sesuatu. Perempuan dengan penuh harapan agar tak dijadikan seseorang yang berbeda atau orang asing dalam hatimu tuan.
Perempuan yang ingin sekali mengetahui apa jawaban dari sebuah teka tekimu. Sangat ingin sekali. Ku mohon, kau berkenan membisikanku, tuan. Salam perempuan yang begitu bodoh mengeja rasa rindu dengan sempurna. Dan maaf darinya.

Seandainya saja aku seperti peri peri mungil yang cantik, tak perlu banyak bicara namun memandangnya sudah meneduhkan hati, hanya saja aku perempuan biasa yang tak pandai membujuk.

Tidak ada komentar: