Jumat, 27 Februari 2015

Akar Sembilan dikali Sembilan yang ke Dua puluh Dua dibagi dua.

Kekakuan malam ini bercampur dengan keringat dingin yang memilukan.
Seandainya terdengar, aku menyayangimu..

Lindes Aja

Hari ini panjang sekali rasanya uda kayak sungai nil. Haha.
Tapi walaupun gitu, saya lagi seneng banget sama hari ini. Hari ini tanggal 27 yang ke 11. Sudah banyak hari hari yang menakjubkan yang pernah saya lewati. Saya mungkin perempuan biasa saja yang mesti bersyukur bisa ke sampai ke waktu ini. Apalagi sampai ke tahap selanjutnya, mungkin saya akan terjun payung dari pohon rambutan depan rumah. Siapa sih yang gak bersyukur punya wajah pas pasan tapi dapat lelaki bak malaikat? Saya sungguh beruntung bertemu dengannya. Sampai kadang berpikir apa saya ini pantas untuk seseorang seperti dia? Sepertinya belum pantas atau memang belum memantaskan diri. Sedangkan yang saya punya cuma kesetiaan. Dari kepedulian maupun perhatian saya masih dibawah kurang. Sungguh tragis punya kekasih seperti saya. Disitu kadang saya merasa sedih, saat saya sadar saya selalu meminta banyak hal. Saat saya hanya bisa marah, mengeluh, manja atau cemburu. Hal yang paling menyedihkan ketika saya cuma sadar tapi tidak bisa berubah. Coba lindes aja pake cobek saya ini ya. Kan mumpung kecil gitu, imut. Hahaha. Tuhan itu adil ya? Tuhan tahu saya kurang bisa berbagi cerita ke siapapun. Tapi Tuhan memberikan kertas dan pena. Semoga diapun bisa meluapkan kesedihannya ke siapa saja atau ke apa saja..

Naik lift bawa hiu,
I love you..

Rabu, 25 Februari 2015

Surat yang Kesekian.

Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*

Hai, kamu. Bagaimana langit langit di sana sekarang? Akan hujankah? Atau sedang panas-panasnya? Eit, aku tak menyuruhmu untuk mengecek perkiraan cuaca di henponmu. Berdirilah, tengok keluar rumah atau mengintip sebentar melalui jendela kayumu. Sudah? Bagaimana? Simpan dan tahan dulu jawabannya sampai kita tak berjarak lagi nanti.
Sampai semesta menyetujui langkahmu menemuiku pada jarak 10km dari kediamanmu.
Aku tak tahu harus bermula dari mana isi surat ini, aku tak tahu harus menceritakan apa atau membahas apa. Tunggu sebentar, biarkan kepalaku memanas.
...
Ah ya, bagaimana jika aku menceritakan dan membahas potongan kejadian yang tak kau tahu pada malam malam sebelumnya hingga sekarang? Apa kau ingin tahu? Maka mengangguklah..
Apa kau tahu mengapa aku tiba tiba diam malam itu? Saat aku bilang, aku ingin sekali menangis. (Aku baru sadar hanya denganmu, aku berani berseru ingin menangis.) Percayalah hari itu, ketika kau mengajakku mengunjungi senja, aku senang berkali kali. Tapi sepulangan kita, tak kusangka malam itu aku akan bertamukan sesak. Sesak yang bersenjatakan duri, perihnya tak terlalu sakit namun terlalu sesak untuk menampung isak, aku ingin sekali menangis. Tapi katamu, aku tak boleh menangis.
Mungkin kau tak tahu mengapa atau kenapa sesak itu datang. Tapi aku tahu, tahu dan mengerti sekali tujuannya mendatangiku.
Aku mungkin perempuan yang tak benar benar peduli dan tak ingin tahu. Aku kadang ingin hidup dalam ketidakpedulian dan ketidaktahuan. Karna itulah, salah satu caraku agar aku berprasangka baik pada oranglain. Awalnya aku tak terlalu peduli tapi aku tak sengaja melihat apa yang tak ingin kulihat. Kacaulah kepalaku diacak prasangka jahat. Lalu yang bisa kuperbuat hanya mencari hangat lenganmu, genggam tanganmu, dan celoteh kecilmu. Dengan begitu aku tak menangis. Aku tak ingin bertanya, tak ingin pula menyambar langsung apa yang kau pegang. Aku sangat tak ingin. Aku tak ingin mendengar, tak ingin pula mengetahui.
Hingga saat waktu memaksamu pulang, kau ingin aku berjanji agar aku tak menangis, dan aku mengangguk.
Dan maaf, malam itu aku tak menepati janji. Namun tak terdengar isak, hanya beberapa tetes lalu terlelap. Aku kembali melupakan potongan malam itu pada paginya.
Malam selanjutnya, aku tak sengaja melihat apa yang tak ingin kulihat dan kuketahui. Dan kali ini kau tahu penyebab sesak yang datang. Kau tahu dari mana suara gemuruh itu, iya mungkin kau tahu persis seperti apa suara robohnya sebuah benteng.
Saat itu, aku tak ingin menangis. Aku hanya ingin tak tahu, aku hanya ingin tak peduli. Dan benar, hingga akan lelappun aku (ingin) tak peduli. Hingga pagi dan paginya lagi.
Keesokan harinya lagi, aku sengaja melihat apa yang ingin kulihat, dan saat itulah aku benar benar dipeluk tangis. Aku memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpestakan kesedihan. Aku ingin sekali tak peduli dan tak ingin tahu..

Aku tahu kau menyayangiku, bolehkah aku meminta sesuatu? Aku ingin kau menutup mataku dari warna-warna yang menyilaukan dan membiarkanku melihat phosphene saja.

Nb : ... kamu jangan khawatir, aku baik baik saja selama kau masih menyayangiku sebagai perempuanmu satu satunya yang menyayangimu.

Surat (tak) Penting

Ada hal yang paling penting sebelum kamu membaca surat ini, sebuah perintah yang harus dilaksanakan, jadi kamu harus membaca surat ini pagi hari. Kenapa? Iya saat pagi hari oksigen lagi banyak banyaknya dikeluarkan tumbuhan. Jadi kalau kamu bacanya malam-malam. Urungkan niatmu. Aku khawatir kamu kehabisan nafas di tengah-tengah perjalanan membaca. Oke mungkin ini berlebihan dan benar aku sedang becanda menulis pembuka surat dengan seperti ini.

Hai kamu. Semoga kamu tidak kejang-kejang membaca suratku kali ini. Jadi ada hal yang ingin aku katakan, perihal kita. Kau tahu tidak? Mencintai orang yang mencintai kita itu adalah kesempatan, kesempatan itu adalah waktu, sedangkan waktu adalah saat saat yang berharga, dan hal yang berharga ialah yang kita cintai. Kau paham maksudnya? Kupikir kau belum memahaminya, makanya mukamu tampan seperti itu. Sudahlah akupun bingung dengan apa yang aku katakan. Hahaha. Dan tak ada hal yang terlalu penting yang ingin aku tulis sebenarnya, suratku ini datang semata mata hanya ingin menyapa hingga kata kata ini dapat merayap pelan di bibirmu dan sampai menggema di kepalamu. Agar kau tak lupa bahwa aku ada dan tak pernah melangkah pergi. Aku masih berada dalam satu garis lingkaran bersamamu, masih menggenggam erat jemarimu, masih tegar dan siap untuk bertempur.

Oh ya, isi surat yang ini fokus sama kata kata yang ini aja ya. Teruntuk kamu yang mengajariku cara terjatuh paling elegan. Cara kecewa paling gaya. Memanupulasi rasa dan tulisan jadi mudah. Ah terima kasih. Terima kasih banyak padamu..

Nb : Kamu, jangan lalai. Jaga kesehatanmu, karena mungkin aku bukan perempuan yang selalu peka dan sering lengah memberikan perhatian.

Dari aku,
Perempuan yang selalu kekurangan..

Selasa, 17 Februari 2015

Surat Abal Abal..

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Hai maz, saya bawa kabar gembira untuk kita semua, tapi ini bukan iklan.
Jadi......
Gilaaaaaa!!! Benar benar gila maz, saat saya tahu diri saya itu seperti apa. Tau jati diri saya setelah sekian lama mencari, mengais, menggali, mengupil, ((eh typo, sorry gaeees)). Iya akhirnya saya sadar, saya romantis!!! (tepuk tangannya mana?) Setiap saya membaca ulang catatan kecil, email, sms dan postingan blog saya. Oh my God. Saya masuk kategori perempuan romantis masa kini, pemirsaaaaaa!!! ((Katakan wawawi wowww!!!)) Saya sendiri tak berhenti berdecak kagum, apalagi kamu ya?
Kamu jangan angkat alis sebelah gitu dong. Heran sih heran, tapi gak mesti tampan juga kan? Iya tahu kok, kamu pasti lagi mau nanya saya kenapa. Kenapa saya romantis? Oh bukan itu ya pertanyaannya?
Kenapa saya nulis surat beginian? Iya kemungkinan besar ini yang kamu mau tanyakan. Oh maz, saya jawab ini dari hati saya paling luar sampai yang paling dalam..
Jadi, saya nulis gini karena saya sedang mengalami masa sulit dalam hidup. ((siapin tisu di sana ya, kali aja kamu bakal sedih bacanya)). Masa masa yang saya  harus lewati sendiri di kala tak ada siapapun yang menemani. Tak ada matahari yang menyinari, tak ada langit yang biru ceria. Iya karena sebenarnya saya nulis pas malam-malam sih. Tapi yang paling menyedihkan, pada saat tak ada kamu disiniku, aku merana bukan becanda. (iya tau kok tau, kita belum serumah)
Nah jadi alasannya aku nulisin surat begini gak ada alasan yang jelas sebenarnya. Sekedar basa basi yang kreatif buat nyapa kamu, biar surat surat yang saya kirim jadi numpuk di meja makanmu (saya gak salah nulis kan? Gaklah, soalnya perempuan selalu benar)
Uda ya, ntar kalo kebanyakan nulis jadi bukan surat malah jadi cerpen. Cukup sekian.. Saya punya banyak kerjaan nih, dikejar deadline.
Bye (melambai kayak miss world)

Minggu, 15 Februari 2015

Surat Diam

Apakah aku adalah seseorang yang benar benar mencintaimu? Entah. Tapi aku ingin meminjam kata katamu dan menambahkannya sedikit. "Setahuku aku menyayangimu. Iya, aku mungkin terlalu jatuh sayang".
Dan kau tahu, memiliki pengalaman bersama orang lain lebih banyak darimu tak membuat aku lebih baik dalam hal memahami. Malam ini air mataku pecah, membaca kata katamu yang serupa membelai namun perlahan mencekik leherku. Membacanya membuatku lupa menarik nafas. Aku sedang bingung apa yang terjadi, aku serasa tercekik tapi akulah yang seperti pembunuh. Aku merasa diriku korban tapi akulah sebenarnya tersangka.
Karna aku, kau terpaksa menjadi penjahat menggantikanku.
Sedangkan aku malah asik menuduh tanpa ampun, tanpa jeda dan tanpa memberikan waktu pembelaan. Aku menjadi tak karuan hanya karena rindu yang tak sanggup lagi aku peluk sendirian. Sedangkan kau berbeda di sana, begitu tabah merawat rindu yang nakal ketika tidak dipertemukan semesta. Iya, kau berbeda. Selalu.
Lelakiku, semoga aku tak sedang merangkak posesif kepadamu karena ketidakpercayaanku. Iya, mungkin benar katamu, aku mungkin tidak percaya sepenuhnya. Hingga aku tak mampu menjadi penikmat prasangka baik atas segala gelagat baik yang kau berikan. Maafkan aku. Aku tengah berada dipuncak rasa sayang, puncak keegoisan dan bahkan keduanya.

Surat dariku, perempuan yang selalu kekurangan jika tak kau genapkan. Perempuan yang selalu dipeluk cemburu. Perempuan yang akan berusaha memahami tiap belah kepalamu.

Maafkan perempuan yang masih senang melompat lompat daripada memilih duduk tenang. Maaf.
Perempuan selalu benar karena lelaki kadang mengalah dengan menyalahkan dirinya.

Nb : Aku tak pernah benar benar mendiamkanmu karena sebenarnya akulah paling bising mengabadikanmu.. Tak ada yang setabah kamu menungguku, tak ada yang sesabarkan menghadapiku, tak ada yang selembut kamu menasehatiku. Aku tentu beruntung. Bagaimana denganmu?

Semoga suratku belum terlambat untuk kau baca.