Kepadamu, lelaki(ku)..
Entah bagaimana ku awali percakapan kita di sini. Harus dari mana kemana aku masih memikirkannya, aku menulis, menulis dan menulis saja hingga aku lupa bahwa akhir akhir ini hariku sedang kacau kacaunya. Karena menulis salah satu cara melupakan ataupun mengingat apa yang inginkan. Lalu mengapa ini tulisan tertuju untukmu, hanya karena agar kau tahu bahwa aku sedang membutuhkanmu. Sangat.
Entah sudah berapa hari aku seringkali terbangun dari tidurku, bahkan jika sudah terbangun, aku sulit menemukan kantukku kembali. Aku kewalahan sendiri, hingga lelah datang bertubi tubi menyerang tubuhku. Dan ternyata kebiasaan buruk yang terjadi belakangan ini, mulai mengganggu selera makanku pula, aku enggan menyentuh makanan apapun sekalipun sedang lapar laparnya. Entah bagaimana aku memperlihatkan diriku diharapanmu. Mungkin begitu menyedihkan atau bahkan yang terlihat begitu menyebalkan karna tampak begitu angkuh dengan diam.
Seluruh tubuhku babak belur, lebam dimana mana, hingga bagian terdalam yang paling peka untuk merasakan sudah koyak lebih dulu.
Aku ingat hari itu, hari pertama kali kita bertemu setelah beberapa hari tak bertemu. Sebelum kita sempat bertemu , malamnya aku berpikir aku sedang tidak cantik cantiknya untuk menemuinya, hanya karena wajahku sedang di huni jerawat besar. Namun dibalik itu jantungku rasanya ingin keluar lalu berlari morat marit ke arahmu saking aku terlalu riang. Sungguh, dalam bayanganku pun hari itu, akan menjadi hari pembebasan bagi rindu rinduku. Ternyata tidak, jauh dari dugaan. Pertemuan yang merusak hari kita. Hingga ke hari hari lainnya, ini adalah masa terlama kita sama sama terdiam. Sungguh ini teramat lama untuk merasakan memikul rindu sendiri, sedangkan seluruh tubuhku sudah mengaduh letih tak ketulungan. Dan saat bertemu denganmu lagi, aku tersengal sengal menahan tangis dikeramaian, hingga berkali kali aku menggigit bibir ku sendiri. Ah kau tahu sendiri, aku begitu mudah menangis. Karena melihatmu hari itu, aku se-ma-kin rindu namun kau tak menginginkanku. Dadaku sakit luar biasa.
Iya. Aku. Sudah. Sendiri. Kesepian. Bahkan. Saat. Tidak. Sendiri.
Aku bahkan bertanya bagaimana rasanya tidak adanya aku. Takkah kau khawatir atau sebaliknya harimu baik baik saja tanpaku. Apa menyenangkan sekali rasanya?
Ah mengapa terlalu banyak tanya disini. Aku terlalu rumit untuk dimengerti orang lain, hingga bahkan kerumitanku sendiri, pelan pelan sedang menyayat dadamu. Aku menyakitimu, namun kau masih bisa mentolerir kejahatanku, kau terlalu baik bahkan terlalu tabah bagi seseorang lelaki. Lalu mungkin karena teramat sering aku melukai, kau akhirnya menampar pipiku dengan kata "aku menyerah" kau bilang. Luruhlah segenap keegoisan yang ku ancungkan tingginya hingga langit. Aku menyesal membuatmu menjadi kuli manjaku selama ini, menyulitkan langkahmu, menyita seluruh waktu yang kau punya untuk hal hal yang bisa membuatmu jauh bahagia sebenarnya.
Untuk itu, aku selalu sempatkan diri, mengirimkan doa baik ketika sujud untukmu dan berharap dapat menebus beberapa lapis langit sebagai tempat pengharapan. Tentu, aku memintamu kepada Tuhan, walau dengan paksaan hingga merengek sendiri.
Iya begitulah aku, akhir akhir ini yang sedang (tak) baik baik saja.
Dan kini, aku sudah tak tahu lagi bagaimana berbuat sadis dengan sepi, mencekik atau membunuhnyapun aku sudah tak punya kuasa. Aku sudah dijatuhi hukuman dengan dibentangkannya jarak yang tak berkesudahan. Aku dipenjara hingga sekarat, sedangkan aku tak diberi waktu jenguk dan aku hanya diberi makan beberapa suap rindu. Walau hanya beberapa suap. Sungguh sudah mual rasanya karena kekenyangan. Aku benar benar sekarat.
Tak inginkah kau bebaskan aku dari sini? Sebelum sempat aku mati kedinginan, karena aku kehilangan genggam penghilang gigilku.
*Aku merasa lega setelah ini, walau tak pernah benar benar melegakan tanpa dihadiahi suara tawamu. Aku tetap rindu sampai kapanpun, hingga kau sudah cukup membentangkan jarak. Rinduku tak pernah usai, sampai kau tahu ia akan usai saat waktu tak sempat menjahati kita dengan perpisahan.
Menjelang subuh, saat rindu membangunkan lelapku dalam keadaan tidak baik baik saja.