Jumat, 23 Oktober 2015

Kamu, lagi.

Untuk kekasih 27maret-ku.

Pernahkah kau menyangka jika aku seringkali mencuri pandang kearahmu ketika kau sedang sibuk memperhatikan apa yang ada yang dihadapanmu? Mungkin tidak atau mungkin saja iya, karena pernah sebelumnya aku mendengar jika sebenarnya setiap orang punya naluri untuk mengetahui atau merasakan keberadaan seseorang yang sedang memperhatikan kita tanpa kita melihatnya.
Tak apa jika memang kau menyadari bahwa kau sering kuperhatikan. Aku takkan akan mati-matian mengelak hanya untuk menjaga predikat bahwa perempuan itu harga dirinya tinggi. Untuk apa mengelak jika jelas-jelas rasanya aku tak begitu pandai berbohong walaupun hidungku tidak pesek. Aku justru akan mengakuinya dan kau bisa saja besar kepala karena mendengarkan alasannya. Entah mengapa aku selalu merasa gemas sekali setiap menatap wajahmu walau hanya dua detik atau tiga detik saja lalu kupalingkan lagi wajahku. Aku merekam tiap wajahmu yang begitu serius memperhatikan, bibirmu yang mengatup tipis memaksaku berpaling tak cukup sekali. Seandainya kau tahu betapa menyenangkannya menatap wajahmu yang pelan-pelan mulai terlihat ada raut kedewasaan yang terpancar. Ada kenyamanan yang tak perlu menghadirkan pelukan. Ada debar yang mendewakan sosokmu lalu menghambakan aku. Dan tiap ketidaksengajaan menatapmu diam diam dan berpapasan dengan kau menoleh kearahku lalu kau berkedip, seketika ada syukur yang memenuhi ruang lapang di dadaku. Ada rasa manisnya yang tak bisaku bagikan kepada yang lain dari sedetik tatap yang kau sunguhkan. Saat itupula, hatiku nyeletuk pelan. Aku perempuan yang beruntung, dikasihi begitu lembut.

Lepas dari sosokmu yang menjadi sorotan menarik bagi kedua bola mataku.
Aku ingin mengingatkanmu lagi, jika kau adalah lelaki yang kucintai hidupnya, cara berpikirnya, cara memperlakukanku, cara mengajariku, cara bagaimana memarahiku, cara memberiku kejutan, cara menenangkan amarahku, kesedihan baik kekhawatiranku, caramu membuatku percaya dan hal-hal baik yang kau tanamkan di kepala.
Lalu mengapa aku selalu menulis tentangmu? Karena kelak, atau kapanpun ketika begitu banyak jarak yang melelahkan untuk dilalui. Aku bisa saja melupakan betapa aku pernah dicintai dengan begitu hebat. Oleh karena itu, aku ingin selalu mengingatmu dalam sebaik-baiknya ingatan. Aku tak ingin lupa tentangmu, karena seburuk-buruknya kenangan ialah sebaik-baiknya bersamaku. Maka kuabadikan kau dalam sejujur-jujurnya dan setulus-tulusnya perkataan dalam tulisan ini. Bahwa cintaku benar adanya. Untukmu. Dan semoga kau tak lelah membaca tentangmu lagi.
Tetaplah cintai aku seperti ini, lebih lama dari kata orang yang menunggu, lebih ajaib dari para pesulap, lebih jujur dari pinokio dan lebih setia dari ayahku. Bisa?

Selasa, 20 Oktober 2015

Berterimakasihlah.

Berbanggalah kamu, kamu yang memiliki orang-orang yang begitu pandai menghibur.

Entah bagaimana menjabarkan kebahagiaan-kebahagian yang ditiupkan dari kepala hingga turun ke dalam dada. Tak cukup hanya dengan kata lega untuk sebuah beban yang gugur satu persatu ketika kita tertawa. Pernahkah kau berpikir, jika sesungguhnya kita selalu kebingungan untuk menglambangkan rasa bahagia yang menggebu-gebu?
Saya terutamanya, saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskan seperti apa rasanya. Jika hanya berkata isi kepala saya jauh lebih ringan, tak ada lagi migran, tak ada lagi denyut-denyut kesakitan, atau perihal dada yang jauh lebih lapang, tak ada luka atau dada ini seperti dihadiahi hati yang baru, ah bagi saya ini takkan pernah cukup untuk mengatakan saya sedang bahagia.

Dan jika ada kata yang lebih tinggi dari kata euforia, maka saya sedang berada ditahap itu. Ditahap dimana saya tidak ingin bergerak, berharap Bumi hanya bisa berputar mengulangi cerita-cerita manis seperti ini. Atau jika memang tidak bisa, saya berharap bisa melompati tiap ranjau yang dipasang waktu. Karena jika ada kesalahan menginjak, kita tahu seberapa terlukanya kita hingga menjerit-jerit sendiri. Seseorang sungguh pandai menunjukkan seberapa banyak lukanya, menuliskan betapa sadisnya oranglain terhadapnya, pandai mencaci maki siapapun, mulutnya ramai bercerita dukanya, bahkan sangat hebat mengagung-agungkan teriakan-teriakan seolah ia paling sensara. Dan setiap orang tak pernah kehabisan kata-kata, mengubah duka menjadi kalimat cantik yang tak berkesudahan.
Sedangkan..
Saya selalu kagum kepada penyair yang selalu bisa menuliskan keromantisan yang didalamnya dimuat bahagia-bahagia sederhana yang berhasil membuat dada berdebar tanpa aba-aba. Dari itu, sayapun belajar, bahwa menulis tentang kesakitan selalu lebih mudah daripada menulis tentang yang hal-hal menyenangkan. Padahal seharusnya, jika kita bisa berpikir setiap menulis kesedihan sesungguhnya kita sedang mengeluh. Sedangkan ketika suka cita mengusai diri kita, kita kehabisan kata-kata bagaimana mengubahnya menjadi kata terimakasih. Walau hanya dengan kata sederhana seperti itu jika kita mengucapkannya kepada seseorang dengan senang, saya pikir akan ada kepuasaan sendiri dalam diri seseorang yang telah membuatmu jungkir balik merasa tawa. Karena sesungguhnya tak mudah membuat oranglain bahagia atas apa yang kita lakukan. Dan tak semua orang berniat melihat dan mendengar kita tertawa. Orang-orang yang sanggup membuatmu  amnesia berhari-hari akan kesepian. Kau beruntung memilikinya. Entah saya yang terlambat memikirkannya atau memang saya tidak pernah sempat memikirkan hal seperti ini.
Sekali lagi perihal kebahagian. Kita berkali-kali merasakan bahagia bahkan teramat sering, tapi tak jarang kita melupakan segala hal-hal yang membuat kita berhujan tawa, hanya karna satu detik kita tak mampu menahan ego. Maka lenyaplah deretan kisah manis yang dibawa oleh pergantian musim kemarau. Merasa luka paling lama mendatanginya. Entah hubungannya dimana. Entah. Yang pasti, berbahagialah selagi kau mampu melompati masa tersulitmu. Menangislah jika memang kau terkena cipratan duka. Namun yang perlu kau ingat, atas apa yang kau rasakan abadikanlah kebahagiaanmu lebih banyak daripada rasa sedih. Dengan selalu bersyukur.
Dan sekali lagi saya ulangi tak semua orang berniat melihat dan mendengar kita tertawa. Karena orang orang yang selalu berbahagia ketika kau bahagia jumlahnya sedikit dari yang kita kira.  Maka berbangga dirilah memilikinya. Hadiahkan ia terimakasih dan selalu doakan agar mereka selalu seperti itu.

Ps: Untuk lelakiku, sebagai perempuan yang telah kau cintai dan perjuangkan bahagianya. Terimakasih atas bahagia yang tak bisa kujabarkan lebih dari ini. Terimakasih telah menjadi seseorang yang bahagia ketika aku bahagia. Terimakasih atas usaha untuk selalu menjauhkanku dari bom atom yang siap meledak karena luka atau cemburu.
Aku menyayangi lebih dari ketidaktahuanmu.

I'am so happy..

Minggu, 18 Oktober 2015

Stronomical Twilight

Stronomical Twilight

Waktuku tiba, apa ada yang mendatangiku selain azan?
Diambang gelap dan terang. Hanya dilambangi menyeruaknya cahaya putih. Apa cantiknya?
Sedangkan pagi sudah sombong dengan keramaian lalu lalang jalanan.
Siang? Begitu tangguh dengan teriknya. Menginjak-injak kepalamu, tak ada yang mampu mentandanginya.
Kau tahu sore. Yang selalu menghadiahkan senja, yang dibanggakan para perindu, yang diagung-agungkan sejagad pesonanya.
Malam lagi, ia selalu punya kerlap kerlip suci yang romantis, yang mengedip tiap saat. Tempat kepulangan mata-mata yang ingin pejam.
Tapi apa yang kupunya?
Aku hanya apa-apa yang disisakan malam.
Sebelum matahari tergelincir,
Dan aku terselip diwaktunya.

Tapi, para malaikat berkata ;
Kau tak usah cemas. Kami semua menyaksikanmu lahir.
Dan katanya..
Aku, dianugrahi dua sujud yang didalamnya lebih baik dari dunia dan seisinya.

Mataram, 19 Oktober 2015

Para Pencinta Kekasih Orang Dan Baper Sekalian.

Untuk Para Pencinta Kekasih Orang dan Para Baper Sekalian..

Saya minta maaf jika ada penulisan kata.

Saya beberapa kali membaca tulisan tentang seseorang yang berharap untuk memiliki sesuatu yang telah dimiliki orang lain. Awalnya biasa saja tapi lama kelamaan saya mulai berpikir, siapapun yang memiliki pasangan, kemungkinan besar akan ada yang menyukai pasangan kita tanpa kita sadari. Dan orang-orang yang menyukai pasangan kita ialah  orang yang kadang  katanya mendoakan kita diam diam. Sedangkan kita yang sedang menjalin hubungan sama sekali tak melihat apa yang mereka lakukan untuk kita, alih alih untuk mendengar apa yang mereka panjatkan untuk kita, kita sesungguhnya tak punya waktu karena kita sedang sibuk bahagia walau tak terpungkiri kita terkadang terluka. Tapi jangan khawatir, kita tak pernah saling membenci, apalagi untuk saling melepaskan. Lepas dari orang orang yang mendoakan kita, ingatlah bahwa kekasih kitapun mengharapkan kita, mendoakan kita lebih lama walaupun tak perlu dijadikan quote-quote andalan dimedsos, kekasih kita mencintai kita dan kitapun mencintainya. Bukankah itu cukup membuktikan bahwa kalian seharusnya berhenti berdoa agar kalian bisa memiliki kita. Maka itulah alasan kita, mengapa kita lupa, tidak peduli, bahkan tak melihat siapa yang menyukai kita selain kekasih kita sendiri. Jadi jangan salahkan kita, kita semata-mata tak bermaksud jahat, hanya saja kita tak punya waktu untuk meladeni hal seperti itu.
Maka yang saya sarankan, agar kalian berhentilah berharap pada kepada orang yang tak menginginkan kalian. Kalian hanya membuang waktu, mempersulit langkah kalian, dan patah hati sendiri sebab kewalahan melihat orang lain bahagia. Kalian hanya perlu berhenti menjadikan orang pelarian, karena sebaik-baiknya penawar luka ialah jatuh hati. Jatuh hatilah agar hati kalian tak kotor karena terlalu lama menyimpan benci karena melihat orang lain tak menghiraukan kalian.

Walaupun begitu, saya mewakili pasangan yang saling mencintai kami berterimakasih sebanyak-banyaknya, jika kalian para pencinta kekasih orang mendoakan kebaikan kami. Dan semoga kalian lekas bahagia, agar tahu bagaimana rasanya sibuk membahagiakan dan dibahagiakan. Sekian untuk kalian..

Dan untuk para baper sekalian.. Baper yang saya ingin ulas di sini bukanlah baper yang sedikit-dikit kesal karena dinasehatin, marah-marah karena dicuekin, pokoknya sejenis itulah bukan yang saya akan bahas. Disini bapernya tentang hubungan muda mudilah.
Jadi menurut saya, kalian  yang baper sesungguhnya adalah pelupa akut. Ini berdasarkan kisah-kisah yang terjadi disekitar ruang lingkup saya sendiri. Melihat berbagai kejadian, yang selalu mengatasnamakan baper. Entah ini sebuah kesalahan semata atau sesungguhnya yang kalian yang baper ini bukanlah kesalahan. Kalau diulas kembali, baper ini muncul dari kebiasaan bersama. Kebiasaan bersama yang mengembang biakkan perhatian-perhatian kecil yang membuat penerima perhatian menjadi ketergantungan sehingga perasaan yang seharusnya tidak pernah ada muncul seketika itu menjelma menjadi kata baper yang sering kalian sebutkan. Orang-orang terlalu meninggi-ninggikan perasaannya, lupa kalau logika sangat penting untuk melegakan sesak-sesak yang tak diduga-duga datangnya.

Seperti yang saya sebutkan tadi, kebiasaan-perhatian-ketergantuan-baper. Siklus yang yang sedang marak dirasakan oleh manusia-manusia abad kekinian. Pertama, ini mungkin bukanlah sebuah kesalahan jika baper ini dirasakan oleh pihak pihak yang seharusnya seperti kalian yang belum punya pasangan, baper dengan yang belum punya pasangan juga. Syah-syah saja kan? Karena tak ada yang harus tersakiti. Tapi lain halnya jika kedua anak manusia yang mulai merasa nyaman kepada yang bukan pasangannya karena terlalu sering bersama. Maka baper adalah sebuah kesalahan yang fatal! Sekali lagi saya kata FATAL! Mengapa? Haruskah kalian bertanya? Bukankah sudah kukatakan dari awal, bahwa kalian adalah pelupa akut? Lupa bahwa ada hati yang harusnya tidak terluka menjadi terluka. Apa kalian ingin mengatakan ini bukan kesengajaan? Ah bagaimana bisa, kalian membiasakan diri untuk diberi perhatian padahal seharusnya kalian bisa menghindarinya sebelum kalian katakan terlalu nyaman.
Maka berhentilah baper kepada siapapun yang bukan kekasih kalian jika kalian ingin kekasih kalianpun tidak melakukan hal seperti itu pula kepada yang lain. Mulai dari komunikasi dengan kekasih kalian sering-sering, mulai bergantung dengannya, karena jika tidak, ia akan merasa kau sedang tak membutuhkannya, manja-manjaanlah dengan pasanganmu, lalu hindari percakapan manis atau bualan bualan yang mencoba merasuk ke kalbu dari seseorang yang coba mendekati kalian.
Atau jika memang sudah terjebak dalam baper ini, kau sudah kebingungan antara yang mana kekasih atau yang bukan kekasih sebenarnya. Maka, cobalah merenung. Jika apa yang kau lakukan adalah kesalahan. Cobalah untuk mengambil air wudhu *eh maksudnya mengurangi kadar pembicaraan, atau takaran bercanda berdua, bangun komunikasi yang banyak dengan pasanganmu, dan banyak-banyak berdoa agar tidak tergoda lagi, ucapan-ucapan manis buatan. Lakukan hal-hal yang menyibukanmu, cobalah melakukan hal sendiri jika tak ada pasanganmu. Jangan meminta bantuan ke lawan jenismu itu. Tapi jika baper yang kamu rasakan itu benar adanya, maka tolonglah hentikan hubunganmu dengan pasanganmu. Diperhatikan oleh banyak orang memang menyenangkan tapi tidak untuk orang berharap kau cukup akan dirinya.

Bu'de makan durian
Oke, sekian kawan.