Kamis, 26 November 2015

My Crush

Hai, lelaki yang dalam keadaan apapun tetap tampan.
Selamat memperingati 27 yang ke 20.

Tuan?
Dalam keadaan sadar atau tak sadar sekalipun. Dalam keadaan mata terbuka atau tertutup. Dalam keadaan terbaik dan terburukku. Kau yang tak pernah kulupa, yang kuingat, kau adalah sebaik-baiknya lelaki yang memperjuangkan bahagiaku tanpa eluh setelah ayahku.
Entah mengapa, berada di dekatmu menjadi suatu candu  yang paling kusukai. Berada di dekatmu, aku tak harus kesal bila kau yang memotong pembicaraan. Karena kau selalu bersedia menjadi pendengar yang hebat, kau tak pernah mengabaikan tiap kata yang kulontarkan tanpa pikir, kau berusaha memahami apa yang sebenarnya yang tak masuk akal dari kepalaku. Kau tak pernah memintaku berhenti berbicara, mesti suaraku sudah seperti seng tertiup angin. Hanya saja, kau selalu mengingatkanku untuk mengecilkan volume suaraku yang semakin lama semakin mengeras dan melengking.
Walaupun sering  kujawab dengan kata,"Masa sih?". Dan kau hanya mengangguk dan tertawa ketika aku bertanya sambil berbisik di depan mukamu. Lalu akupun berbicara pelan-pelan lalu lama-lama mengeras lagi. Aku keras kepala mungkin seperti katamu. Tapi akupun tak benar-benar mengerti mengapa aku begitu antusias ketika bercerita denganmu tentang apa saja yang sedang kupikirkan. Aku mungkin sudah menemukan tempat penyimpan segala hal yang paling aman di dalam planet ini. Segala cerita dan khayal-khayalku, kau mampu menghafalnya dengan cepat. Dan hal yang menyenangkan pula setiap kali khayal-khayalku kau selalu mengaminkannya dengan wajah serius. Walaupun aku sedang bercanda denganmu.

Apakah kau tahu? Jika kau adalah lelaki yang pandai menilai sebaik-baiknya dan seburuk-buruknya diriku. Kau tak pernah mencela alih alih memakiku hingga menangis. Dan setelah lama aku sadari, kaupun adalah lelaki yang telah memahamiku keadaanku, apalagi seburuk-buruknya wajahku ketika menangis tapi kau masih bisa melihat kemolekan lain dari diriku. Bahkan saat siklus kewanitaanku datang, kau sudah menyiapkan hati yang begitu tabah untuk kumarahi.

Selain menjadi seseorang tabah, kaupun seseorang yang penuh dengan tekad. Apa yang kau inginkan, maka kau selalu berusaha mengubahnya jadi kenyataan. Lalu bagaimana mungkin aku bisa meragukanmu, jika dari sekarang kau begitu tangguh memperjuangkan sesuatu, melekaskan mimpi jadi hidup ketika terjaga. Aku percaya jika semesta terus merestui langkah kita, aku akan lebih bahagia dari hari ini dan hari esok bersamamu. Terimakasih Tuan selama ini kau telah memperlakukanku dengan manis.

Tuan? Kau ialah kekasih yang keistimewaannya tiada tara yang membuatku sendiri berdecak kagum ketika diam-diam memandangmu. Tetaplah seperti ini, menjadi lelaki yang tak punya kepulangan selain aku. Menjadi lelaki yang selalu kusyukuri kedatangannya.

Aku jatuh cinta tak sengaja kepada lelaki  yang tekadnya seperti baja, yang matanya serupa kejora lalu dadanya berisi senja.

Aku menyayangimu. Sayangi aku lagi lebih lama dari selamanya. :*

Selasa, 17 November 2015

Belum ada judul

Mesti ku tahu ketika hatimu tak mencintaiku tepat waktu. Aku hanya bisa berkata, "Tak apa, langit mendung yang lalu kau tutupi agar aku tak kehujanan".

Dua puluh tujuh maret dua ribu empat belas lalu. Kau beranikan diri, mengajakku melepas kesendirian, berdamai dengan sepi, lalu berteman dengan hiruk pikuk debar.

Kau datang tiba-tiba, tak pernah ku sapa. Kau duduk di hadapanku, bersila memintaku menjawab pertanyaanmu. Yang kutahu saat itu, aku tersipu malu karena aku telah dulu jatuh cinta sebelum hari aku duduk di hadapanmu. Aku tak  pernah berpikir atau bertanya sejauh mana kau jatuh dalam pesonaku sebelum hari itu. Hingga kau memintaku menjadi kekasihmu. Seharusnya aku bertanya, apa yang kau tentangku, jatuh cintakah kau padaku saat itu?

Iya, seharusnya aku bertanya lebih dulu adakah bayang masa lalumu yang mengantarmu kemari yang menyerupaiku? Aku bertanya agar aku tak menelan pahitnya sekarang, saat keseriusanku sudah memuncak hingga atas kepalamu.

Ku pikir hari itu, aku telah memenjarakanmu dalam kemutlakkan bahagiaku. Yang terpikir olehku tawamu adalah sesungguhnya lahir dari langit-langit kota yang semesta lukis oleh kata iya-ku.

Hari itu adalah hari dimana senyum tak henti-henti. Logikaku ambruk, kakiku melayang tak lagi bergravitisi, aku merasa seluruh penat kepalaku sudah meroket ke pluto.

Hingga kembali lagi menemukan landasannya, di kepalaku. Aku salah satu penyempurna harimu. Salah satu pemeran perempuan manis saat itu.
Kau bersamaku tapi tak bersamaku.

Langitku tunai menghapus mendung, tawaku lepas landas hingga langit tanpa terik hanya teduh.

Aku menyayangimu, lalu cintai aku sepenuhnya.