Kamis, 30 Oktober 2014

Kata-Kata yang Tak Mampu diKatakan

Selamat tuan. Entah pagi, siang atau bahkan malam sedang menjelang. Bolehkah aku memelukmu saat aku menyapa sekarang ini? Sepertinya hari harimu terasa melelahkan sekali. Atau ini hanya sekedar perasaanku saja.
Takkan ada lagi kata yang sulit di tulisanku ini . Karena mungkin semakin lama tulisan ini menjenuhkan untuk dibaca. Bahkan tak ada lagi antusias dari wajahmu yang dulu tak sabar untuk membaca tiap tulisan yang ku posting. Jadi tulisan ini ditulis sesederhana mungkin, memudahkanmu untuk mengerti tiap ruas kata yang kau baca.
Tuan..
Kau tahu mengapa aku seringkali menulis walau ku tahu jarang sekali ada yang membaca? Dulu bahkan sampai detik ini, aku sulit sekali berkomunikasi dengan baik. Caraku berbicara berantakan sekali, tapi walaupun begitu banyak dari mereka mengangapku cerewet. Meski cerewet, aku tahu sekali apa yang aku ucap kebanyakan tak jelas. Padahal aku berharap sekali bisa berbicara lancar dan benar dengan berlatih berbicara, secerewet mungkin. Kadang berpikir, aku sebaiknya tak mengucapkan apapun, menjadi diam mungkin lebih baik, menanggapi seadanya pembicaraan. Tapi entah mengapa, akupun selalu gagal melakukannya. Aku selalu tertarik untuk berbicara. Bisa jadi karena aku tak pernah melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Aku memang payah, mudah sekali putus asa, dan malas mencoba lagi.

Memang benar tak ada yang bisa dibanggakan dari aku yang tak multitalenta. Membayangkan aku yang tak bisa apa-apa, aku seringkali menangis dalam hati, menghujat diri sendiri, mencaci maki kekurangan; sungguh apa yang aku lakukan itu sia sia saja. Bahkan hal yang paling sia-sia  adalah saat aku membandingku sendiri dengan perempuan lain, segitu tak bahagianya aku.
Beruntunglah aku suka menulis, menulis segala hal yang harus ku abadikan dan menulis apa yang harus dilupakan.  Itulah caraku mencintai diriku sendiri.
Tapi, sejak tanggal 27 maret 2014 . Kamis tepatnya, hatiku telah kau menangkan. Dihari itu, kau mengaku jika kau seringkali membaca tulisanku.  Kau tahu tuan? Sejak hari itu aku merasa sangat dicintai olehmu, menjadi orang yang sangat berharga di muka bumi ini; sungguh, aku sedang mengada-ada. Saat itu, ku rasa dicintaimu saja, cukup. Dan saat itu pula, aku terus menulis, berlatih agar tulisanku selalu tampak menyenangkan dibaca olehmu. Bahkan aku malu sekali bila menulis dengan kata kata sederhana, dan sangat menyesal bila tak mampu mempostingnya setiap bulan. Karena aku selalu menyukai antusiasmu. Antusiasmu menunggu, membaca atau bahkan mengkritik.
Sudah tujuh bulan tuan kita bersama. Aku tetap menulis, menulis dan hingga tak tahu pasti kapan sebenarnya aku menulis hal-hal yang membuatmu tak mengerti, tak membuatmu antusias lagi membacanya. 

Aku tak pernah sadar, kapan sebenarnya terjadi. Aku yang merasa kehilangan senyum, tawa dan bahagiamu, hingga berdampak buruk pada perilakuku di depanmu, yaitu menjadi perempuan bodoh yang seringkali tak tahu berbuat apa. Sungguh menyebalkan sekali menjadi aku. Bertingkah seolah tak pedulikanmu, padahal aku ingin sekali menghampirimu, menggodamu hingga membuatmu tertawa. Bertingkah seolah tak ingin berada didekatmu, padahal ingin sekali rasanya menggenggam jemarimu yang kosong lalu diam diam menggigitnya dan kau teriak kemudian kita duduk membicarakan kegaringan kita.
Beruntunglah aku masih bisa menulis, meluapkan apa yang tak bisa ku utarakan langsung kepadamu. Sungguh aku ingin menceritakan malam itu kepadamu, tapi berjanjilah kau tak perlu merasa bersalah setelah ini. Malam itu, 26 Oktober aku sengaja membuatmu begitu kesal, karena aku tengah sibuk membuat burung dari kertas origami yang telah ku pelajari beberapa hari dari sahabatku, didalam sana terdapat pertanyaan yang ku harap kau bisa jawab dihadapanku pada keesokkan harinya..... Aku sengaja membuat kesal, aku tengah membuat stop motion dadakan yang ku ubah dari konsep awalku.... Aku sengaja membuatmu kesal, karena esok pagi aku telah siap membahagiakanmu.... Dan tenyata benar, kesengajaanku berbuah buruk. Tepat, 27 Oktober lalu, aku terlalu berlebihan mengungkapkan bahagia memilikimu, hingga membuatmu jengah yang merasa ingin dicintai sesederhana mungkin. Maaf, aku terlalu antusias melihatmu bahagia.

Hingga penghujung malam itu, aku menyesal dalam diam, meredam suara isak sendiri dalam gelap sembari menunggu kabarmu hingga pagi dadaku masih menyimpan sesak.
Aku bahkan tak ingin menulis lagi rasanya setelah ini. Karena akhir-akhir ini aku tengah sibuk merasa  cemas akan kehilangan sosokmu.

Ps: Maaf atas berlebihan ini, aku merasa sangat tak berguna bila kau menceritakan kesedihanmu pada orang lain dan bukan padaku. Karena diammu, mendiamkanku. Takkah kau ingin mengatakan apa yang rasa saat ini? Perihal perasaanmu itu? Katakanlah sejujurnya, tanpa ada yang terlewatkan.

Tidak ada komentar: