Ayah Ibu, ini anakmu. Buah hati yang katamu paling dinanti, seperti terjemaahan dari sebuah nama yang kau namakan padaku.
Baiklah ibu..
Ini aku yang tak jarang membuatmu bersusah hati karena terus mengkhawatirkanku.
Ini aku ibu, yang seringkali terperangkap dalam ruang kelalaian yang akhirnya banyak menghilangkan.
Ini aku yg tak jarang meluluh lantahkan harapan dan akhirnya membuatmu bermuram durja.
Ini aku , seseorang anak yang tak bisa merapikan waktu untuk mengusir sepimu.
Ini aku, salah satu anakmu yg terlampau sering kau selipkan rindu dalam suara.
Ini aku, anak tak sempat membalas perhatianmu.
Kali ini ayah..
Ini anakmu yang berkali kali kau lepas.
Anak yang tak lagi menaiki sepeda seperti dulu ketika kau memegangi tempat dudukku hingga perlahan lahan kau lepas aku mengayuh sendiri. Tersadar kau lepaskan, akupun mengayuh ketakutan. Kau berteriak ketika aku jauh dari pandanganmu. "Jangan takut. Terus nak terus. Ayah disini". Sejak itu, aku bisa. Aku tak takut mengayuh.
Sayang kini aku belajar mengemudi. Tak sama sekali tergenggam olehmu, ayah. Tapi suaramu terdengar disampingku, menyemangati ketika aku mulai putus asa ketika aku berkali kali akan menabrak.
Ibu, maaf..
Dr anak yg ingin sesekali memeluk surgamu dan anak yang ingin mengenyahkan jarak untukmu.
Dengarlah tiupan terompet emas keberuntungan itu, kelak. Atau bahkan sebentar lagi, ayah ibu.
Terimakasihku atas wejangan lemah lembut itu. Sungguh anak perempuan kalian sangat merindukan dekapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar