Jangan
marah dulu sayang, ada yang perlu kita bicarakan baik-baik sebelum amarahmu
meledak karena api yang kau hidupkan sendiri. Jadi kita sepakati dulu, bahwa
kau akan mendengarkanku tanpa memotong sepatah, dua patah yang akan ku
sampaikan padamu, malam ini.
Ku
harap apa yang akan ku katakan tak membuat matamu menahan mendung, jatuhlah
bila tak lagi mampu menahan kedip. Yang ku katakan ini mungkin akan menyesakkan
dadamu. Kemarilah, biar ku peluk kau, agar air matamu nanti basah di dadaku.
Sayang..
Beberapa
percakapan kita mungkin tak pernah berujung lega di napasmu, selalu berhenti
karena kantuk yang sangat usil menggodaku, maaf kalau kantukku terlihat sebagai
hal yang buruk untuk kau maklumi berkali-kali. Atau karena aku harus mengisi
waktu luangku bersama-sama teman-teman seperjuanganku di luar kota. Ah payah
sekali aku mengerti keadaanmu. Entah kali ini, aku baru sadar, itu sangat
menyebalkan bagimu. Kesabaranmu mungkin tak sepanjang kasih ibu, sudah pasti,
aku seringkali menghadiahkanmu kekecewaan yang tak ada manis-manis untuk kau
teguk berkali-kali. Entah bagaimana mungkin kau menelannya sendiri.
Sayang,
jangan merenggang, biar ku peluk kau dengan tenang.
Aku
mungkin melakukan banyak sekali hal, aku seringkali bertanya. Untuk siapa?
Untuk keluargaku, dengan mudahnya ku katakan. Tanpa ku sertai namamu di
dalamnya. Aku terlampau mengkhawatirkan banyak hal. Bahkan belum sempat aku
bertarung dengan kenyataan. Karena aku ingin lebih siap dari keadaan. Aku ingin
lebih dini dari pada pagi, lebih pekat dari malam. Agar aku tak merasa asing di
sini, sendiri tanpa keberadaanmu yang sangat menakutkan bila aku menjadi
berbeda dari mereka.
Sayang,
apakah kau tahu seberapa pilunya hatiku tiap kali ku mendengar isakmu
diseberang sana, kau meraung sendiri, dan kadang tanpa sepengetahuanku matamu
membengkak. Sungguh rasanya bangsat sekali diriku. Padahal ku tahu rindu selalu
menyakitkan untuk kau risaukan sendiri. Namun, aku selalu menutupi segala ingatanku
tentang bagaimana kau tertawa dan betapa renyahnya tawamu. Aku berkali-kali
menolak rindu, ku tolak mentah-mentah dengan ribuan pekerjaan yang harus ku
lakukan. Aku tak mampu menjadi sepertimu, menangis kapanpun ku mau. Aku
laki-laki sayang. Namun rindu sama saja biadabnya. Merusak suasana riang
dihatiku tiapkali mengintip fotomu di ponselku, betapa melelahkan untuk ku
bernapas dengan baik setelahnya; aku rindu kepadamu sedang kepayahanku tak
kuasa menghadiahkan temu.
Merindukanmu,
membuat detik berdetak seperti semenit. Lamban sekali, setelah sekian waktu aku
mencoba mengusir kenang tentangmu di keningku dengan perlahan; dengan harap
waktu berjalan secepat kilat. Aku kira telah berhasil sampai ke jenjang dimana
keberadaanmu tak lagi merisaukanku.
Jangan
memandangku seperti itu sayang, biarkan aku berbicara dulu. Jangan menolak ya,
sekarang aku akan mengusap kepalamu, agar segala kekhawatiranmu tak terlalu
melayang.
Sayang,
jauh sebelum kusadari keberadaanmu akan sangat menyenangkan. Aku bertekad untuk
melayang, mengambil satu bintang untuk ku hadiahkan pada seseorang. Namun
sebuah bintang menolak lebih dekat, lalu terbang tinggi dari yang ku
perkirakan. Pada akhirnya aku menyerah untuk memberikan pemberian yang tak ternilai harganya itu pada seseorang
yang tak berakhir denganku. Entah pada suatu hari kapan apa tak ingat, hatiku
dengan berani menerima kehadiranmu sebagai seseorang yang tak hanya sangat
menyenangkan dan sangat kubutuhkan hangat lengannya. Yang kupercaya, lelahku untuknya
takkan merasa sia-sia.
Saat
itu, semakin erat kupeluk tubuhnya, tangisnya tak bersuara. Namun deras sekali
jatuhnya, dadaku basah, sebasah-basahnya.
Kuseka
air matanya, ku katakan kepadanya;
Tak
apa sayang, menangislah. Ada aku, yang brensgsek ini. Yang tak pernah
mengatakan apapun padamu. Aku tahu bahwa kau pun perempuan seutuhnya, yang tak
ingin melewatkan apapun. Beberapa hal kecil tak lagi kusuguhkan untukmu, kecil
yang tak perlu kupikir adalah yang sebenarnya harus ada. Aku salah disini, tak
memberikanmu hal kecil-kecil untuk kubagikan kisahnya, kata-kata manis yang
terlampau jarang untuk membelai gundahmu, semakin membawamu ke titik tidak
kubutuhkan. Dan aku yang tak merasa ini, akhirnya terhentak ketika kau bilang,
kau lelah. Lancang sekali dirimu dan hingga nyalang rasanya ketidakpedulianku
ku pikir. Entah aku harus bagaimana.
Entah
aku harus tertawa karena aku mampu tanpa gelak tawamu, atau menangis sejadinya
karena tak tahu menenangkanmu.