Rabu, 18 Juni 2014

Rip peduli

Rasa pekat menghambur di dadanya. Menabur tiap durja di tiap ruang tersebut hatinya. Kabur, buram pandangannya. Tak nampak kebenaran. Semburat kehitaman mengukung tubuhnya berpadu dengan tetes bening yang mengalir. Darah merahnya sepakat menggumpalkan damai. Mengalirlah sepi. Sepi yang sebenar benarnya sepi.  Diam? Ah tidak. Hati bergumam, menyumpah serapah sekelilingnya. Ia telah diperdayai kebencian. Diperbudak oleh amarah. Perlahan tak tertahan, pedih resmi menguasai dirinya. Ia sesekali memukul mukul dadanya, isaknya pun mulai pecah. Tak lagi ada pita kesabaran yang menghias jiwanya dari hitam putih yang membosankan. Tak ayal ia tenggelam tak mengenal dirinya.

Siapa yang akan hendak menjabat tangannya? Menyelamatkan sisa-sisa kelembutan perempuannya?  Tolonglah dia, lihatlah ke dalam matanya yang membengkak dengan lamat lamat. Ada sepi yang meluap luap. Ada luka yang menjadi jadi. Tatap dalam jiwanya, jiwa mengais ais perhatian. Malangnya.

Kemana mereka yang berteriak akan ada? Yang menggemakan pengorbangan? Kemana mereka yang takkan meninggalkan? Dimana? Apa diseberang sana, berpura pura menjerit khawatir. Sedangkan tangannya sama sekali tak terulur. Berpura pura menyemangati. Padahal sesungguhnya mereka enggan.

Rip pada peduli yang benar benar peduli. Ah peduli. I miss you so badly

Tidak ada komentar: