Tuan..
Duduklah dengan bersila saat kau mulai membaca coretan kisah hari ini.
O,ya hari ini hari kamis. Takdir memilih hari kamis sebagai hari kelahiranku. Percaya tidak percaya, seringkali aku merasa beruntung di hari yang dinamai kamis, termasuk saat ini. Aku selalu menyukai hari ini, sangat menyukai.
Hari ini kutemui lelaki muda disebuah rumah yang bersinarkan suci. Aku menghampirimu yang tergulai lemah di sana. Ku tanya kau sedang apa sambil memukul pelan dikakinya. Iya menjerit kesakitan, tenyata dikakinya terdapat luka gores yang bila diukur berkisar 3 cm. "Oh maaf, mengapa bisa terluka? kau tak kenapa-napa kan? Maafkan aku"
Yang ku lihat jelas saat itu wajah lelaki yang mengemaskan sedang menggerutu kesal. Sungguh dia lebih terlihat lucu bak anak bayi yang merajuk meminta sesuatu. Haha manis sekali.
Aku dan lelaki itu saling mengenal ..
Lelaki itu bangit dari tidurnya, mengajakku berjalan menuju ke suatu tempat. Jalan setapak yang kita lalui tidak begitu mulus, begitu banyak tanaman liar yang semakin meninggi. Perjalanan kitapun semakin lama semakin menanjak, untuk menuju ke tujuan aku berpegangan pada sebuah tali yang terbuat dari akar pepohonan. Tentu saja karna disekitaranku saat itu banyak pohon yang rindang juga. Setelah beberapa belas menit perjalanan, akhirnya tiba pada tempat yang kesekian mahal keindahannya. Tempat yang membuat hidupmu merasa lebih mudah dari kesulitan yang kamu bayangkan. Tempat dimana kau hanya perlu terdiam. Tempat dimana sayap burung tak lebih baik darimu. Sekali lagi kau hanya perlu terdiam, tanpa tersadar kita akan tergoda untuk tersenyum. Duduk dan tersungkur jatuh dalam pesonanya.
Mentari saat itu beringsut ke ufuk barat, tertanda langit akan menyuakkan warna jingga dicakrawala. Sedang lelaki itu tersenyum disampingku, -senyum yang berkalikali ku katakan sebagai tempat tinggalnya kebahagian- tentu aku membalas senyum itu dengan debar debar tak karuan pula.
Lelaki itu tiba-tiba bertanya,"Apa kau menyayangiku?"
"Ha?", menyakinkan diri bahwa aku mendengar sesuatu dari bibirnya.
"Tak ada", ucapnya sambil tersenyum menatap mentari yang melambai pergi.
"Sangat. I love you more than you know".
Ada senja disana yang berbisik,"Rebahlah dibahunya dan rengkuhlah kosong jemarinya".
Akupun rebah dibahunya dan menggengam tangan pemilik wajah menyenangkan itu.
Sering kali aku merindukannya walau sebenarnya jarak begitu dekat berbicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar