Ada rasa yang datang bertamu saat ia tak sama sekali ingin membuka pintu. Rasa yang mendobrak tameng ketabahannya. Hingga bangunan rata dengan kesal. Ia lari ketakutan agar tak pecah tangisnya dalam keramaian, maka ia lari mencari cari tempat persembunyian. Lalu tiba disebuah tempat yang dimana ia harus memilih dua pintu yang serupa bentuknya, pintu pertama bernama marah dan satunya lagi bernamakan diam. Sempat dirinya ingin menapakkan kaki pada pintu yang bertuliskan marah. Baru saja langkah pertama ingin ia rentangkan dan memegang gagang pintu itu. Ada yang menarik tangannya, lalu ia berbalik. Hanya saja seketika itu tak ada sosok siapapun. Tak ada. Begitu saja menghilang tertiup angin laiknya nafas pertama kali ia hirup dan ia hempas secepat mungkin. Lalu pergi tak terkenalkan dan lenyap tak meninggalkan bekas. Tak sadar tiba tiba saja, persendiannya melemah, lalu jatuh bersimpuh gemetar. Ia tertunduk, bibirnya yang merah terkatup sedari tadi kini merekah. "Apa Kau melihatku sekarang? Aku yakin sedang, Kau sedang memandangku tanpa ku tahu Kau berekspresi seperti apa. Ini sudah kesekian kalinya bukan?"
Lalu hening seketika, tak lama..
Nada suaranya meninggi disambut oleh tetes bening yang jatuh dari sudut matanya. "Kau tahu? Aku selalu benci seperti ini. Tak pernah sanggup menjadi tuan rumah yang ramah tamah kepada rasa itu. Rasanya yang berkunjung hanya bermaksud menagih kebahagian yang kau hadiahkan. Yang Kau hadiahkan lalu Kau kirim melalui senyumnya bukan?" ".
Suaranyapun mulai serak. Pipinya becek.
"Kau tahu pula aku tak sepaham dengan sendiri, dengan sunyi, begitu pula dengan sepi. Aku selalu bertentangan dengan mereka tapi Kau selalu mengajarkanku untuk selalu mengalah. KataMu "mengalah untuk menang. Menang dari ego yang keras kepala itu. Lalu kau lahir tidak untuk menjadi seorang pecundang". Aku selalu mengingat petuah itu. Tapi ini sudah kesekian kalinya bukan? Kesekian kalinya Kau mengharuskan aku masuk kepintu yang sama. Pintu bernamakan diam? Di dalam sana, seluruh darahku dipaksa mengalirkan racun. Pahit sekali rasanya sekujur tubuhku. Racun yang melumpuhkanku. Sedang aku ingin sekali mencoba pintu lain".
Ia masih menangis, nafasnya diburu sesak, kerongkongannya beranakkan duri.
"Baiklah aku kembali ke pintu itu", ia bangkit tertatih.
Belum sempurna tubuhnya berdiri, ada suara langkah kaki yang semakin dekat semakin pasti jika suara itu mengarah kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar