Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*
Pernah rasa degupku menjadi lebih haru dari yang ku duga.
Pernah rasa degupku begitu riuh dari yang ku kira.
Dan pernah rasa degupku ini merangkai kagum dari yang kupikir.
Akhirnya aku pernah kelawahan menata degupku saat harus menciptakan percakapan kecil kita hingga ujung waktu aku menjadi gagu didekatmu.
Ketika lelakiku yang begitu ragu mengatakan hal menakjudkan. Seperti ini :
aku...
Y aku, dan ratusan org yg menantimu saat it..
saat penggantimu mulai memudar dan trlupakan, saat barat tak lg jd kiblat, saat merah mulai memanis menyambutmu datang...
aku..
Y aku, dan ratusan org saat it..
Tengah brsiap dgn sgala ap, sgenap daya, seikat asa,,
menantimu, Y kamu yg memikat mereka..
aku dan ratusan org saat it..
Menikmati indahmu, memanjakan diri, menelanjangimu sampai kami puas melihat sisi yg tak trlihat dgn cara kami masing"..
aku dan ratusan org saat it,
Brahsil Kau kuatkn ikatannya, kau kuatkan dayanya, kau adakn ap yg tak ada..
aku, Y hanya aku saat it..
Mash menikmatimu, melihat byang mu yg lain, yg membuat abadi setiap ap, menguatkn daya dan mewjudkan asa..
aku, Y tetap hanya aku...
"menaruh rindu padamu pagi it.."
....
Perempuanmu menyambut ragumu..
Iya akhirnya kamu, yang ganjil menutupi genap. Yang cela mengindahkan puji. Yang duka menawarkan suka. Iya akhirnya kamu, yang melengkapi apa yg tak sempurna. Merengkuh apa yang terlepas. Iya, sekali lagi tentu kamu, lelaki yang memanjakanku dengan rayu dalam setengah sadarmu. Dan.. aku perempuan yang telah kalah hingga jatuh telak terperangah akan pesonamu. Namun aku satu satunya perempuan yang akhirnya menjadi juara; beruntung memilikimu..
Saat ;
Tawamu adalah obat yang mujarab bagi kesedihan.
Lalu ;
Tawamu adalah sebongkah berlian yang selalu membuatku merasa mewah dan kaya tiap kali mendengar.
Ketika ;
Tawamu adalah penawar sejuk pada kemarau yang panjang.
Lantas ;
Tawamu adalah langit langit pagi yang biru melukis cerah ceria
Ketika ;
Tawamu adalah senja jingga yang terindukan.
Maka;
Tawamu adalah sebaris bahasa hias yang penuh euforia.
Namun;
Tawamu adalah selimut hangat dimusim dingin.
Dan akhirnya;
Tawamu adalah dongeng yang tak jenuh ku dengar.
Aku mencintaimu pemilik tawa, pemilik peluk yang menenangkan anak-anak rinduku.
Aku mencintaimu dari segala keluh kesah, duka lara, dan gelap gulita semesta.
Degupku tiada ketika kau tiada.
Degupku meredup ketika kau tak sua.
Degupku memilih memutih ketika kau acuhkan.
Degupku hanya lahir darimu, dari sela jemarimu, senyum simpulmu, dan dari mata sipitmu yang binar itu ~
Lelakiku, Maka tenanglah rinduku yang liar oleh senyummu. Dan siumanlah aku dari cemburu lewat pelukmu.
080714 00:54
180814
Tidak ada komentar:
Posting Komentar