Lalu?
Tanganmu
menggengam lembut jari-jariku yang mungil; sembari memandu langkah, semakin
banyak langkah yang terarah semakin terasa sekali bagaimana semesta meniupkan
sejuk disekujur tubuh. Hingga saat langkahmu terhenti dan tanganmupun melepaskan
jari-jariku, aku berhenti melangkah. Tiba-tiba kau kejutkan aku dari belakang
dengan kedua tanganmu berada di pundakku. Dan kaupun berbisik tepat ditelinga
kananku, “Tetaplah seperti itu, nona. Biarkan matamu terkatup sebentar saja.
Rasakan bagaimana semesta membisikkan keanggunannya untukmu yang indah”.
Aku terdiam dan tak banyak tanya.
Entah
dari mana alunan merdu ini, simfoni yang begitu lantang menggetarkan jiwa, dan
dari mana semerbak aroma manis ini datang, lirih hatiku. Rasa penasaran yang hebat
menguasai diri. “Apakah sekarang aku boleh membuka mata?”. “Tentu”, sambutmu.
Dan
akupun membuka mata, karna terlalu lama mata tertutup, korneaku belum cukup
menerima cahaya, sehingga yang terlihat masih samar-samar. Setelah itu, aku
melihat sosokmu menebar senyum, senyum yang kugilai itu. Kemudian aku berjalan
melihat sekitaranku, seketika itu mulutku disumpal oleh takjub dan kagum yang
meraja. Sehingga yang terlihat disekeliling telah meruntuhkan keangkuhan diriku.
Sungguh, Penguasa adalah seniman yang tak tertandangi. Tak ada aksara yang
tepat menggambarkan apa yang tertangkap oleh kedua bola mataku. Aku bertanya-tanya
tempat ini sedang bermusim apa. Tapi bertanya pada siapa? Sosok yang berdiri
disanakah?. Kau yang sedari tadi memperhatikanku diam berdecak kagum, berinisiatif
mengajakku menuju ujung dari negeri entah. Diujung negeri entah itu, kau dan
aku berdiri menikmati suguhan pesona
yang suci, tak terjamah.
Tepat
disampingku, sosok lelaki yang begitu tenang dalam bawaannya, begitu damai
tatapannya, dan begitu lembut senyumnya. Sosok yang menghadirkan letupan-letupan
ajaib di dada dan seringkali menjelma tingkah menjadi tak wajar, gelagat yang dinamai gugup. Setelah
itu, kau merengkuh tanganku, mengajakku pergi dari sana.
....
Lalu
kau menyapaku dan berkata,”Inilah negeri entah yang dinamai nirwana, kemari
duduk bersamaku disinggasana, karna semesta telah berbaik hati menjamu kita”.
“Baiklah
tuan. Seperti yang ku janjikan, aku akan menjawab tanya yang kau bingkis manis
nan pesona saat kita berada dalam
labirin 7 warna itu”.
Aku
menghela nafas, mengusung keberanian dan menyingkirkan jauh-jauh gugup yang
menyelimuti, dan berkata.
“Terima
kasih telah datang, membalut luka, menyematkan mahkota cantik, memperlihatkan
aku labirin 7 warna, dan kini nirwana dengan sejuta pesonanya. Namun bukan beralasankan
itu. Tapi sesungguhnya kesabaranmulah yang menumpahkan angkuhnya hatiku. Tuan, tapi
entah bagaimana lagi, maaf”.
“Jadi,
tidak inginkah dirimu menua bersamaku?”, sambutmu.
“
Iya, tidak. Tidak mungkin lagi aku melangkah jauh darimu. Aku ingin mengisi
celah-celah kosong jemarimu, merebahkan lelah didadamu, menjalin langkah yang
senada, melukis kisah-kisah fiktif menjadi nyata dan tidak hanya tentang itu.
Masih banyak yang ingin ku ketemui bersamamu, negeri kepedihan dan negeri
lainnya hingga menua”, jawabku yang kuiringi dengan senyum.
“TERIMA
KASIH”, sambutmu sambil mencubit pipiku.
Sungguh
Penguasa begitu Maha dengan rencana-rencana indahnya.
Lalu
senjata kepedihan mana yang mampu menembus euforia ini, tak ada..
Ps : Penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca setia. 1 Hal lagi, setelah membaca ini, tolong langsung mengirim pesan untuk penulis tentang perasaan yang dirasa.
Ps : Penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca setia. 1 Hal lagi, setelah membaca ini, tolong langsung mengirim pesan untuk penulis tentang perasaan yang dirasa.