Lalu senjata kepedihan mana yang mampu menembus euforia ini, tak ada..
Nirwana; tempat suci untuk singgah dan bertamu. Kini kita berjarak
puluhan kilo meter dan walau jarak tak bisa lebih dekat namun akan ada ingatan
yang begitu lekat..
Seperti kapal yang terdampar didermaga, merindukan lautan, ombak dan
angin. Begitupun kita, melanjutkan perjalanan, kali ini perjalanan baru, tak
dimulai dengan kesendirian, namun berdua menuai jejak-jejak terbaik untuk
dikenang pada kening kita kelak. Selangkah dan senada melipat jarak menemukan
sekeping asa bersama; memulai, memulai dan memulai tanpa ingin ditemukan oleh
akhir. Mengingat waktu beringsut mengantar mentari dipundak gunung sana.
Aku dan kamu, atau sebut saja kita berjalan menyusuri jalan setapak demi
setapak. Beberapa langkah, aku berbisik ditelinga kirimu, “Semoga kau tak akan
pernah jatuh cinta lagi pada yang lain, yang lain selain aku”. Lalu langkahmu
berhenti dan jari manis kau ancungkan di depan wajahku, akupun membalasnya
dengan mengangkat jari manisku dan mengikatnya dengan jari manismu. Kaupun
meraih jemariku dan mengisinya dengan kekosongan dijemarimu, kau menggenggam
erat segala ketakutanku, ketakutan yang akan terjadi sewaktu-waktu.
.................................
“Setelah berjalan begitu lama, dan nirwana pun tak lagi menampakan diri.
Berkenankah nona berdiam sebentar di gubuk kecil itu menghilangkan dahaga”,
tanyamu. “Tentu, dengan senang hati”, balasku. Kami pun, masuk ke gubuk itu,
tak ada satu orangpun. Kita mencari-cari apa saja agar tenggorokan tak terasa
kering. Hingga mata kita terpusat pada meja kayu yang mulai lapuk, kita
menemukan dua gelas yang terbuat dari kayu jati. Kitapun menuju ke meja itu dan
meminum yang ada digelas itu. Tak lama kemudian, perutmu sepertinya menjerit
perih. Akupun terdiam cemas, tak tahu harus berbuat seperti apa. Lalu kau
mengangkat tangan, seolah-olah mengisyaratkan bahwa “Aku baik-baik saja”.
“Bagaimana mungkin baik-baik saja, sedangkan matamu mengatakan begitu sakit.
Lebih baik kita berjalan lagi menemukan tempat untuk mengobati rasa sakitmu
itu”, kataku. Kemudian ku raih tanganmu
meletakkannya dipundakku dan tangan kiriku melingkar di pinggangmu, menopang tubuhmu
yang melemah seketika..
Entah mengapa disaat ia begitu merasakan sakit, ia masih bisa mengembangkan
senyum lembut. “Magis”, lirih hati. Hingga tiba pada suatu tempat, tempat yang
ku pikir bisa mengobati sakitmu itu.
...........................................
Kau kembali membaik, meski tak sebenar-benarnya pulih. Namun kau tak
ingin berlama-lama disana, kita kemudian beranjak dari tempat itu dan memulai
perjalanan lagi. Tak banyak percakapan setelah itu, hanya saja debar tetap
begitu tangguh mempertahankan diri. Untuk membunuh keheningan, sesekali diperjalanan
kau bernyanyi. “Berhentilah bernyanyi, bila tak bernyanyi untukku”, potongku
yang menghentikan nyanyiannya. “Kau ingin mendengarkannya?”, sambutmu. “Tentu,
ingin dan sangat”, jawabku bersemangat. “ Baiklah, aku akan mengajakmu kau ke
negeri selanjutnya”, balasmu. Kaupun tersenyum dan menunjuk langit, “Disana
ada megah-megah yang lamban, dibaliknya ada senja yang menawan, jingga yang
akan menghilang dipelipis cakrawala, kita akan merindukan perjalanan ini”,
ucapmu. Akupun terdiam menatap wajah yang dianugerahi lesung pipi itu.
....................................
Sesampai
di sebuah negeri, kau bertemu dan menyapa seseorang serta ada percakapan
kecil yang tercipta disana. Seseorang yang kau kenal baik tentunya. Negeri yang kita kunjungi tak sesunyi nirwana, jadi di negeri ini seolah dibangun untuk
mengetahui kau sama sekali tak sendiri dalam hidup. Sesuai kau bebincang, lalu
kau menuju kearahku dan mengajakku menemukan tempat yang tepat untuk singgah.
“Berhenti nona, kita telah sampai pada tempat yang ku janjikan, disini
tempatnya. Aku akan menyanyikan sebuah nada sederhana untukmu, kau duduk manislah disampingku”, bisikmu. Lalu kau duduk tepat disamping kananku.
Kemudian, kau mulai
bernyanyi lagu pertama dan lagu kedua dan seterusnya. Untuk pertama
kali kau bernyanyi untukku, dihadapanku, menatapku begitu hangat dan tersenyum begitu
menawan. Sungguh saat itu, aku tercengang oleh suaranya hingga membuat rindu begitu manja. Suaranya seolah diiringi oleh petikan semesta yang alami, tak
dibuat-buat agar terdengar merdu. Suara yang membuat seluruh semestaku luluh,
tersungkur jatuh kedalam lubang yang bercahayakan ketenangan. Sungguh suaramu
membuatku membungkam jauh-jauh kecemasan. Meski negeri ini, tak berbintang,
namun dalam tatapmu begitu banyak cahaya yang memeluk kegelapan. Sementara kau
bernyanyi, aku menuliskan sesuatu dinegeri itu, agar meninggalkan kenang yang akan
kita rindui.
Setelah kau bernyanyi, kau
mengajakku berjalan hingga puncak, kau bilang; kau ingin
mencoba keberuntunganku hari ini. Aku tak mengerti, namun aku tak banyak tanya.
Karna aku yakin tak ada tempat yang tak menyenangkan selama bersamamu. Aku
berjalan sementara kau dibelakang memegang pundakku mengarahkan langkah. Tak
butuh waktu lama, kita tiba disuatu tempat seperti taman bermain. Lalu kau
berkata dengan senyum hangat yang menggantung,”Kau memiliki 10 kesempatan untuk
mencoba keberuntunganmu”.
.................................
“Beruntungkah
aku? Tidak tanpa kamu”.
“Perempuanku, aku menemukanmu
terluka parah, kelelahan dan kesepian di anak tangga yang lantainya terbuat
dari kaca, untung lantai itu tak begitu banyak retak hingga tak harus membuatmu
jatuh ke dalamnya, membuatmu terkirim ke dimensi lain. Sungguh aku dirundung
penyesalan karena begitu lama menemukanmu. Terima kasih telah menerima dengan
baik kedatanganku, bersedia untuk berkenala mencari nirwana dan sebuah negeri tak
bernama. Kelak akan ada detik yang menjadikan menit, jam, hari, bulan atau
tahun, maka akan ada dari diriku yang mencelakai hatimu, sebaliknya kaupun akan
mencelakai hatiku, akan ada keadaan yang menghunus kita dengan sebilah pisau tajam
dalam perjalanan kita nanti. Tak ada yang mampu mengelaknya. Maka ketika aku,
kau atau kita tak mampu mengelaknya, tetaplah setia disampingku, ingatkan aku
untuk selalu menggenggam dan tak melepasmu, tegur aku agar aku tak lupa untuk
selalu menatap dan tak berpaling darimu”.
Ucapnya sambil menatap lekat ke dalam mataku, sedangkan jemarinya
merapikan barisan helai rambut yang menutupi wajahku.
Aku
menatap sosoknya dengan begitu rinci, tak ada aksara yang terlontar dari
bibirku, hanya saja setelah ia berkata seperti itu aku memeluknya dan
berbisik,”Terima kasih, aku tak yakin bisa tertidur malam ini, rindu telah
lebih dulu bertamu”
Hari
bahagia, hari spesial, hari dimana senyum tak pudar-pudar.
Detik-detik bersamamu adalah WAKTU yang menjelmahku menjadi putri sesungguhnya..
Aku beruntung memilikimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar