Kamis, 01 Mei 2014

Cerita Pertama ( Sentuhan Magis)

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*




Lalu senjata kepedihan mana yang mampu menembus euforia ini, tak ada..


Nirwana; tempat suci untuk singgah dan bertamu. Kini kita berjarak puluhan kilo meter dan walau jarak tak bisa lebih dekat namun akan ada ingatan yang begitu lekat..

Seperti kapal yang terdampar didermaga, merindukan lautan, ombak dan angin. Begitupun kita, melanjutkan perjalanan, kali ini perjalanan baru, tak dimulai dengan kesendirian, namun berdua menuai jejak-jejak terbaik untuk dikenang pada kening kita kelak. Selangkah dan senada melipat jarak menemukan sekeping asa bersama; memulai, memulai dan memulai tanpa ingin ditemukan oleh akhir. Mengingat waktu beringsut mengantar mentari dipundak gunung sana.
Aku dan kamu, atau sebut saja kita berjalan menyusuri jalan setapak demi setapak. Beberapa langkah, aku berbisik ditelinga kirimu, “Semoga kau tak akan pernah jatuh cinta lagi pada yang lain, yang lain selain aku”. Lalu langkahmu berhenti dan jari manis kau ancungkan di depan wajahku, akupun membalasnya dengan mengangkat jari manisku dan mengikatnya dengan jari manismu. Kaupun meraih jemariku dan mengisinya dengan kekosongan dijemarimu, kau menggenggam erat segala ketakutanku, ketakutan yang akan terjadi sewaktu-waktu.
.................................

“Setelah berjalan begitu lama, dan nirwana pun tak lagi menampakan diri. Berkenankah nona berdiam sebentar di gubuk kecil itu menghilangkan dahaga”, tanyamu. “Tentu, dengan senang hati”, balasku. Kami pun, masuk ke gubuk itu, tak ada satu orangpun. Kita mencari-cari apa saja agar tenggorokan tak terasa kering. Hingga mata kita terpusat pada meja kayu yang mulai lapuk, kita menemukan dua gelas yang terbuat dari kayu jati. Kitapun menuju ke meja itu dan meminum yang ada digelas itu. Tak lama kemudian, perutmu sepertinya menjerit perih. Akupun terdiam cemas, tak tahu harus berbuat seperti apa. Lalu kau mengangkat tangan, seolah-olah mengisyaratkan bahwa “Aku baik-baik saja”. “Bagaimana mungkin baik-baik saja, sedangkan matamu mengatakan begitu sakit. Lebih baik kita berjalan lagi menemukan tempat untuk mengobati rasa sakitmu itu”, kataku.  Kemudian ku raih tanganmu meletakkannya dipundakku dan tangan kiriku melingkar di pinggangmu, menopang tubuhmu yang melemah seketika..
Entah mengapa disaat ia begitu merasakan sakit, ia masih bisa mengembangkan senyum lembut. “Magis”, lirih hati. Hingga tiba pada suatu tempat, tempat yang ku pikir bisa mengobati sakitmu itu.
...........................................
Kau kembali membaik, meski tak sebenar-benarnya pulih. Namun kau tak ingin berlama-lama disana, kita kemudian beranjak dari tempat itu dan memulai perjalanan lagi. Tak banyak percakapan setelah itu, hanya saja debar tetap begitu tangguh mempertahankan diri. Untuk membunuh keheningan, sesekali diperjalanan kau bernyanyi. “Berhentilah bernyanyi, bila tak bernyanyi untukku”, potongku yang menghentikan nyanyiannya. “Kau ingin mendengarkannya?”, sambutmu. “Tentu, ingin dan sangat”, jawabku bersemangat. “ Baiklah, aku akan mengajakmu kau ke negeri selanjutnya”, balasmu. Kaupun tersenyum dan menunjuk langit, “Disana ada megah-megah yang lamban, dibaliknya ada senja yang menawan, jingga yang akan menghilang dipelipis cakrawala, kita akan merindukan perjalanan ini”, ucapmu. Akupun terdiam menatap wajah yang dianugerahi lesung pipi itu.
....................................
Sesampai di sebuah negeri, kau bertemu dan menyapa seseorang serta ada percakapan kecil yang tercipta disana. Seseorang yang kau kenal baik tentunya. Negeri yang kita kunjungi tak sesunyi nirwana, jadi di negeri ini seolah dibangun untuk mengetahui kau sama sekali tak sendiri dalam hidup. Sesuai kau bebincang, lalu kau menuju kearahku dan mengajakku menemukan tempat yang tepat untuk singgah. “Berhenti nona, kita telah sampai pada tempat yang ku janjikan, disini tempatnya. Aku akan menyanyikan sebuah nada sederhana untukmu, kau duduk manislah disampingku”, bisikmu. Lalu kau duduk tepat disamping kananku.

Kemudian, kau mulai bernyanyi lagu pertama dan lagu kedua dan seterusnya. Untuk pertama kali kau bernyanyi untukku, dihadapanku, menatapku begitu hangat dan tersenyum begitu menawan. Sungguh saat itu, aku tercengang oleh suaranya hingga membuat rindu begitu manja. Suaranya seolah diiringi oleh petikan semesta yang alami, tak dibuat-buat agar terdengar merdu. Suara yang membuat seluruh semestaku luluh, tersungkur jatuh kedalam lubang yang bercahayakan ketenangan. Sungguh suaramu membuatku membungkam jauh-jauh kecemasan. Meski negeri ini, tak berbintang, namun dalam tatapmu begitu banyak cahaya yang memeluk kegelapan. Sementara kau bernyanyi, aku menuliskan sesuatu dinegeri itu, agar meninggalkan kenang yang akan kita rindui.
Setelah kau bernyanyi, kau mengajakku berjalan hingga puncak, kau bilang; kau ingin mencoba keberuntunganku hari ini. Aku tak mengerti, namun aku tak banyak tanya. Karna aku yakin tak ada tempat yang tak menyenangkan selama bersamamu. Aku berjalan sementara kau dibelakang memegang pundakku mengarahkan langkah. Tak butuh waktu lama, kita tiba disuatu tempat seperti taman bermain. Lalu kau berkata dengan senyum hangat yang menggantung,”Kau memiliki 10 kesempatan untuk mencoba keberuntunganmu”.
.................................
“Beruntungkah aku? Tidak tanpa kamu”.
“Perempuanku, aku menemukanmu terluka parah, kelelahan dan kesepian di anak tangga yang lantainya terbuat dari kaca, untung lantai itu tak begitu banyak retak hingga tak harus membuatmu jatuh ke dalamnya, membuatmu terkirim ke dimensi lain. Sungguh aku dirundung penyesalan karena begitu lama menemukanmu. Terima kasih telah menerima dengan baik kedatanganku, bersedia untuk berkenala mencari nirwana dan sebuah negeri tak bernama. Kelak akan ada detik yang menjadikan menit, jam, hari, bulan atau tahun, maka akan ada dari diriku yang mencelakai hatimu, sebaliknya kaupun akan mencelakai hatiku, akan ada keadaan yang menghunus kita dengan sebilah pisau tajam dalam perjalanan kita nanti. Tak ada yang mampu mengelaknya. Maka ketika aku, kau atau kita tak mampu mengelaknya, tetaplah setia disampingku, ingatkan aku untuk selalu menggenggam dan tak melepasmu, tegur aku agar aku tak lupa untuk selalu menatap dan tak berpaling darimu”.  Ucapnya sambil menatap lekat ke dalam mataku, sedangkan jemarinya merapikan barisan helai rambut yang menutupi wajahku.
Aku menatap sosoknya dengan begitu rinci, tak ada aksara yang terlontar dari bibirku, hanya saja setelah ia berkata seperti itu aku memeluknya dan berbisik,”Terima kasih, aku tak yakin bisa tertidur malam ini, rindu telah lebih dulu bertamu”
Hari bahagia, hari spesial, hari dimana senyum tak pudar-pudar.
Detik-detik bersamamu adalah WAKTU yang menjelmahku menjadi putri sesungguhnya..

Aku beruntung memilikimu.

 

Tidak ada komentar: