Jumat, 30 Mei 2014

Panas

14.14
Gumesa, 31 mei 2014..

Maaf ..
Pertama, untuk sapa pagi. Yang nampak menyebalkan.
Kedua, untuk peduli . Yang terlihat acuh.
Ketiga, untuk menunggu. Yang ada meninggalkan.
Keempat untuk melihat. Yang terasa tak tertuju.
Kelima, untuk tanya. Yang terlampau lambat.
Keenam, ...
Ketujuh, ...
Kedelapan, ...
Ke sembilan, ...
Ke sepuluh, ...
Ke sebelas, ...
Ke duabelas, ...
Ke tigabelas, ...
Ke empatbelas, ... untuk tingkah yang paling menyebalkan.

Maaf tertuju kepada lelaki pemilik hati yang menakjubkan.

Ttd
(*^ヮ^*)
Perempuan kerdil yang menyebalkan

Kamis, 29 Mei 2014

Senja kesekian kita

Tuan..
Duduklah dengan bersila saat kau mulai membaca coretan kisah hari ini.
O,ya hari ini hari kamis. Takdir memilih hari kamis sebagai hari kelahiranku. Percaya tidak percaya, seringkali aku merasa beruntung di hari yang dinamai kamis, termasuk saat ini. Aku selalu menyukai hari ini, sangat menyukai.

Hari ini kutemui lelaki muda disebuah rumah yang bersinarkan suci. Aku menghampirimu yang tergulai lemah di sana. Ku tanya kau sedang apa sambil memukul pelan dikakinya. Iya menjerit kesakitan, tenyata dikakinya terdapat luka gores yang bila diukur berkisar 3 cm. "Oh maaf, mengapa bisa terluka? kau tak kenapa-napa kan? Maafkan aku"

Yang ku lihat jelas saat itu wajah lelaki yang mengemaskan sedang menggerutu  kesal. Sungguh dia lebih terlihat lucu bak anak bayi yang merajuk meminta sesuatu. Haha manis sekali. 

Aku dan lelaki itu saling mengenal ..

Lelaki itu bangit dari tidurnya, mengajakku berjalan menuju ke suatu tempat. Jalan setapak yang kita lalui tidak begitu mulus, begitu banyak tanaman liar yang semakin meninggi. Perjalanan kitapun semakin lama semakin menanjak, untuk menuju ke tujuan aku berpegangan pada sebuah tali yang terbuat dari akar pepohonan. Tentu saja karna disekitaranku saat itu banyak pohon yang rindang juga. Setelah beberapa belas menit perjalanan, akhirnya tiba pada tempat yang kesekian mahal keindahannya. Tempat yang membuat hidupmu merasa lebih mudah dari kesulitan yang kamu bayangkan. Tempat dimana kau hanya perlu terdiam. Tempat dimana sayap burung tak lebih baik darimu. Sekali lagi kau hanya perlu terdiam, tanpa tersadar kita akan tergoda untuk tersenyum. Duduk dan tersungkur jatuh dalam pesonanya.

Mentari saat itu beringsut ke ufuk barat, tertanda langit akan menyuakkan warna jingga dicakrawala. Sedang lelaki itu tersenyum disampingku, -senyum yang berkalikali ku katakan sebagai tempat tinggalnya kebahagian- tentu aku membalas senyum itu dengan debar debar tak karuan pula.

Lelaki itu tiba-tiba bertanya,"Apa kau menyayangiku?"

"Ha?", menyakinkan diri bahwa aku mendengar sesuatu dari bibirnya.

"Tak ada", ucapnya sambil tersenyum menatap mentari yang melambai pergi. 

"Sangat. I love you more than you know". 

Ada senja disana yang berbisik,"Rebahlah dibahunya dan rengkuhlah kosong jemarinya".  

Akupun rebah dibahunya dan menggengam tangan pemilik wajah menyenangkan itu.

Sering kali aku merindukannya walau sebenarnya jarak begitu dekat berbicara.

Senin, 26 Mei 2014

Pertama

Disuatu sore, seorang laki-laki termanggu di sebuah balkon apartemen menatap mentari yang beringsut melambai hilang.. Lakilaki itu sendiri, namun sesekali ia berbicara pada dirinya. "Aku tak seharusnya seperti ini", ucap sambil menyandarkan badannya ke kursi.
Ia menatap kedepan, memasang kedua bola matanya menangkap goresan jingga diufuk barat sana.Tak ada jawaban disana, ia hanya sedang menenangkan perasaan yang mengusiknya.  Sementara ia sibuk bertanya-tanya. Ponselnya berdering namun ia tak peduli hanya saja deringnya makin lama makin melengking ditelingga. Ia merabaraba diatas meja kecil, setelah ia mendapatkan ponselnya. Diponselnya tertulis Rani memanggil. Tanpa pikir panjang ia menjawab telpon itu. Sebelum ia berkata halo, diujung sana mencegatnya dan berkata "kamu dimana? Aku sendirian, aku takut".
"Kau dimana sekarang?
Aku kesana, jangan kemana-mana". Pemuda itu lalu berangkat tergesa gesa sambil meraih jaket diatas sofa miliknya. Mengunci pintu dan menuruni tangga karena seminggu lalu lift apartemen yang ia sewa rusak. Pemuda itu menarik gas motor, dan melesat cepat mencari-cari seseorang yang menelponnya.
...
Pemuda itu turun dari motor besarnya menghampiri perempuan yang menunduk dikursi taman kota. Pemuda itupun duduk disampingnya.
"Ada apa?"
"Dia meninggalkan aku demi perempuan jalang itu", adu perempuan pada pemuda sambil terisak isak.

Tak kenal waktu

Sebaik baik apapun cara kecewa bertamu takkan membuat tuan rumah merasa apik. Kecewa takkan pernah peduli kapan ia bertamu, entah disaat bahagia begitu erat memeluk mesra tuan rumah. Sekali lagi ia tak peduli. Kali ini ia datang mengejutkan tuan rumah, hingga bahagia yang sedari tadi memeluk merenggangkan lengannya perlahan. Tuan rumahpun menunduk dan menggeleng pelan, tak menahan lengan itu untuk tetap mendekapnya. "Menyedihkan" lirih hatinya.
Bahagia beranjak pergi seolah olah ia berpikir tak seharusnya berada disitu. Tanpa sepatah katapun diucapkan, bahagia meninggalkan tuan rumah itu sendiri. Oh tidak, dia tidak sendiri. Melainkan ada yang lain selain dirinya tadi, kecewa.

"Untuk apa kau datang?" Tuan rumah memecah hening
"Aku merindukanmu. Itu siapa yang memelukmu? Mengapa wajahmu bersemu merah dan matamu begitu tertarik ketika menatapnya, sedangkan ketika aku memelukmu, wajahmu begitu sembab dan tatapanmu sangat hampa", sambut kecewa.

"Aku tak pernah riang menyambutmu, oh bagaimana mungkin pula aku menyambutmu, aku tak pernah tau kau datang. Sekali aku berusaha menutup pintu, berpindah-pindah rumah. Namun kau selalu tau bagaimana cara menemuiku. Aku tak punya kuasa untuk menghentikanmu lagi. Kau terlalu tangguh untuk dilawan. Datanglah kapanpun engkau mau, aku takkan lagi kemana-mana. Terkecuali kau berulah kembali seperti dulu", kata tuan rumah sambil menggigit bibir menahan tangis.

Kecewa berbisik,"Mungkin aku takkan berlama-lama disini. Sudah ku bilang aku hanya merindukanmu. Aku tak tau sampai kapan aku akan bermalam disini. Percayalah aku tak berniat memporakporandakan tiap ruang dirumah ini seperti dulu. Mungkin lain kali, hahaha".

"PECUNDANG", tuan rumah mencicit sambil tersenyum getir.

Rabu, 07 Mei 2014

Mengejar Senja

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*
Waktu itu, ketika aku menengada sembari menutup mata berharap diberi sebuah kesempatan yang digadang-gadang sebagai sebuah kebentungan. Karna Tuhan sangat pemurah begitu berbaik hati kepadaku, aku dihadiahinya sosok yang didalam senyumnya ada ribuan dunia fantasi yang seringkali membuatku tenggelam, tak terselamatkan.
Ada cermin yang menjadi penghubung dua paras yang tak saling tatap. Didalam cermin bibirmu mengatup memilih diam. Akupun tersenyum menatapnya, seolah diamnya adalah sandi yang hanya bisa dipecahkan oleh hati. Lalu iapun menatap kedalam cermin melihat aku yang tersenyum, ia tersenyum hingga ginsulnya dan lesung pipi sebelah kanannya menghiasi parasnya. Aku berkata, “ Bagaimana mungkin kau bisa menyetting wajah semenarik itu”. Kitapun tertawa seolah memberi cuti kepada kesedihan disore itu. Setelah ia, kau mencubit tanganku hingga mengundang kesal dari wajahku. Kau malah menertawakan kekesalanku itu, lihatlah betapa kejamnya dirimu itu. “Siapa yang akan menghakimi kekejamanku itu?”, katamu sambil melirik ke dalam cermin. “Aku”, sambutku lantang. Sedangkan dalam hatiku mendumel,”Tuan, cintaku tak pernah mengajariku untuk membenci kekejamanmu, selebihnya cinta mengajariku untuk mencintai segala hal tentangmu”. Aku tertawa dan membuatmu bertanya,”Ada apa? Lihatlah kedepan”. Dipenghujung sana, ada mentari yang anggun menawarkan jingga kemerahan dengan sempurna, hingga cahayanya melukis senja yang manja dan haus akan pujian. Hanya saja sebentar lagi sepertinya kegelapan akan senang hati melumat tatanan keindahan itu sebelum kita menyapa.
............................................................................................................
Kau tepat didepan, membelakangiku. Lihatlah betapa durhakanya lelakiku itu.
“Meski tak terkejarkan, dan ternyata waktu berlari lebih cepat dari langkah kita. Lalu ketika jemarimu menggenggam jemariku, maka tak ada yang boleh merebutnya, tak juga waktu. Maka kecewa adalah omong kosong, & euforialah yang lebih tepat menggema”, lirihku dan memelukmu erat dari belakang.

Lalu, bagaimana dengan hatimu memaknai waktu saat itu, lelakiku?

Kamis, 01 Mei 2014

Cerita Pertama ( Sentuhan Magis)

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*




Lalu senjata kepedihan mana yang mampu menembus euforia ini, tak ada..


Nirwana; tempat suci untuk singgah dan bertamu. Kini kita berjarak puluhan kilo meter dan walau jarak tak bisa lebih dekat namun akan ada ingatan yang begitu lekat..

Seperti kapal yang terdampar didermaga, merindukan lautan, ombak dan angin. Begitupun kita, melanjutkan perjalanan, kali ini perjalanan baru, tak dimulai dengan kesendirian, namun berdua menuai jejak-jejak terbaik untuk dikenang pada kening kita kelak. Selangkah dan senada melipat jarak menemukan sekeping asa bersama; memulai, memulai dan memulai tanpa ingin ditemukan oleh akhir. Mengingat waktu beringsut mengantar mentari dipundak gunung sana.
Aku dan kamu, atau sebut saja kita berjalan menyusuri jalan setapak demi setapak. Beberapa langkah, aku berbisik ditelinga kirimu, “Semoga kau tak akan pernah jatuh cinta lagi pada yang lain, yang lain selain aku”. Lalu langkahmu berhenti dan jari manis kau ancungkan di depan wajahku, akupun membalasnya dengan mengangkat jari manisku dan mengikatnya dengan jari manismu. Kaupun meraih jemariku dan mengisinya dengan kekosongan dijemarimu, kau menggenggam erat segala ketakutanku, ketakutan yang akan terjadi sewaktu-waktu.
.................................

“Setelah berjalan begitu lama, dan nirwana pun tak lagi menampakan diri. Berkenankah nona berdiam sebentar di gubuk kecil itu menghilangkan dahaga”, tanyamu. “Tentu, dengan senang hati”, balasku. Kami pun, masuk ke gubuk itu, tak ada satu orangpun. Kita mencari-cari apa saja agar tenggorokan tak terasa kering. Hingga mata kita terpusat pada meja kayu yang mulai lapuk, kita menemukan dua gelas yang terbuat dari kayu jati. Kitapun menuju ke meja itu dan meminum yang ada digelas itu. Tak lama kemudian, perutmu sepertinya menjerit perih. Akupun terdiam cemas, tak tahu harus berbuat seperti apa. Lalu kau mengangkat tangan, seolah-olah mengisyaratkan bahwa “Aku baik-baik saja”. “Bagaimana mungkin baik-baik saja, sedangkan matamu mengatakan begitu sakit. Lebih baik kita berjalan lagi menemukan tempat untuk mengobati rasa sakitmu itu”, kataku.  Kemudian ku raih tanganmu meletakkannya dipundakku dan tangan kiriku melingkar di pinggangmu, menopang tubuhmu yang melemah seketika..
Entah mengapa disaat ia begitu merasakan sakit, ia masih bisa mengembangkan senyum lembut. “Magis”, lirih hati. Hingga tiba pada suatu tempat, tempat yang ku pikir bisa mengobati sakitmu itu.
...........................................
Kau kembali membaik, meski tak sebenar-benarnya pulih. Namun kau tak ingin berlama-lama disana, kita kemudian beranjak dari tempat itu dan memulai perjalanan lagi. Tak banyak percakapan setelah itu, hanya saja debar tetap begitu tangguh mempertahankan diri. Untuk membunuh keheningan, sesekali diperjalanan kau bernyanyi. “Berhentilah bernyanyi, bila tak bernyanyi untukku”, potongku yang menghentikan nyanyiannya. “Kau ingin mendengarkannya?”, sambutmu. “Tentu, ingin dan sangat”, jawabku bersemangat. “ Baiklah, aku akan mengajakmu kau ke negeri selanjutnya”, balasmu. Kaupun tersenyum dan menunjuk langit, “Disana ada megah-megah yang lamban, dibaliknya ada senja yang menawan, jingga yang akan menghilang dipelipis cakrawala, kita akan merindukan perjalanan ini”, ucapmu. Akupun terdiam menatap wajah yang dianugerahi lesung pipi itu.
....................................
Sesampai di sebuah negeri, kau bertemu dan menyapa seseorang serta ada percakapan kecil yang tercipta disana. Seseorang yang kau kenal baik tentunya. Negeri yang kita kunjungi tak sesunyi nirwana, jadi di negeri ini seolah dibangun untuk mengetahui kau sama sekali tak sendiri dalam hidup. Sesuai kau bebincang, lalu kau menuju kearahku dan mengajakku menemukan tempat yang tepat untuk singgah. “Berhenti nona, kita telah sampai pada tempat yang ku janjikan, disini tempatnya. Aku akan menyanyikan sebuah nada sederhana untukmu, kau duduk manislah disampingku”, bisikmu. Lalu kau duduk tepat disamping kananku.

Kemudian, kau mulai bernyanyi lagu pertama dan lagu kedua dan seterusnya. Untuk pertama kali kau bernyanyi untukku, dihadapanku, menatapku begitu hangat dan tersenyum begitu menawan. Sungguh saat itu, aku tercengang oleh suaranya hingga membuat rindu begitu manja. Suaranya seolah diiringi oleh petikan semesta yang alami, tak dibuat-buat agar terdengar merdu. Suara yang membuat seluruh semestaku luluh, tersungkur jatuh kedalam lubang yang bercahayakan ketenangan. Sungguh suaramu membuatku membungkam jauh-jauh kecemasan. Meski negeri ini, tak berbintang, namun dalam tatapmu begitu banyak cahaya yang memeluk kegelapan. Sementara kau bernyanyi, aku menuliskan sesuatu dinegeri itu, agar meninggalkan kenang yang akan kita rindui.
Setelah kau bernyanyi, kau mengajakku berjalan hingga puncak, kau bilang; kau ingin mencoba keberuntunganku hari ini. Aku tak mengerti, namun aku tak banyak tanya. Karna aku yakin tak ada tempat yang tak menyenangkan selama bersamamu. Aku berjalan sementara kau dibelakang memegang pundakku mengarahkan langkah. Tak butuh waktu lama, kita tiba disuatu tempat seperti taman bermain. Lalu kau berkata dengan senyum hangat yang menggantung,”Kau memiliki 10 kesempatan untuk mencoba keberuntunganmu”.
.................................
“Beruntungkah aku? Tidak tanpa kamu”.
“Perempuanku, aku menemukanmu terluka parah, kelelahan dan kesepian di anak tangga yang lantainya terbuat dari kaca, untung lantai itu tak begitu banyak retak hingga tak harus membuatmu jatuh ke dalamnya, membuatmu terkirim ke dimensi lain. Sungguh aku dirundung penyesalan karena begitu lama menemukanmu. Terima kasih telah menerima dengan baik kedatanganku, bersedia untuk berkenala mencari nirwana dan sebuah negeri tak bernama. Kelak akan ada detik yang menjadikan menit, jam, hari, bulan atau tahun, maka akan ada dari diriku yang mencelakai hatimu, sebaliknya kaupun akan mencelakai hatiku, akan ada keadaan yang menghunus kita dengan sebilah pisau tajam dalam perjalanan kita nanti. Tak ada yang mampu mengelaknya. Maka ketika aku, kau atau kita tak mampu mengelaknya, tetaplah setia disampingku, ingatkan aku untuk selalu menggenggam dan tak melepasmu, tegur aku agar aku tak lupa untuk selalu menatap dan tak berpaling darimu”.  Ucapnya sambil menatap lekat ke dalam mataku, sedangkan jemarinya merapikan barisan helai rambut yang menutupi wajahku.
Aku menatap sosoknya dengan begitu rinci, tak ada aksara yang terlontar dari bibirku, hanya saja setelah ia berkata seperti itu aku memeluknya dan berbisik,”Terima kasih, aku tak yakin bisa tertidur malam ini, rindu telah lebih dulu bertamu”
Hari bahagia, hari spesial, hari dimana senyum tak pudar-pudar.
Detik-detik bersamamu adalah WAKTU yang menjelmahku menjadi putri sesungguhnya..

Aku beruntung memilikimu.