Senin, 17 November 2014

Senja


Pagi itu langit langit mendung membungkus kota. Namun pagi tetaplah pagi yang menyegerahkan seisi kota sibuk memulai hari. Tak peduli gerimis, hujan bahkan petir sekalipun tak menghambat langkah mereka yang dikejar deadline. Sementara aku, masih rindu dibelai selimut pemberian perempuanku yang berwajah menyenangkan itu.
Perempuan itu bernama senja. Aku pernah bertanya padanya sejak awal pendekatan, mengapa harus senja, mengapa bukan embun atau mentari, atau bahkan rembulan. Tapi ia hanya menjawab "RAHASIA". Demi apapun ia selalu menjawabnya seperti itu, dan aku selalu mencubit pipinya sebagai balasan rasa kesalku. Dan ia hanya tertawa lalu menggelitikiku, agar kesalku mati dihadapannya. Ia selalu punya cara, Perempuanku selalu hebat.
Drrrrrt ~~ "ponselku pagi itu bergetar panjang, aku hafal getaran itu miliknya.
Aku yang masih manja di dalam selimut, meraba meja meraih ponsel.
Senja : "Selamat pagi, kamu yang gantengnya cuma buat aku."
Alhasil ia tak pernah gagal mendapat senyumku tiap pagi.
Belum sempat aku membalasnya, getar kembali menguasai ponselku.
Senja : "Selamat 7 ke 7, sayang. Bawel, lucu, konyol, semua semuanya pokonya aku hak patenin milik aku aja ya. Boleh kan?"
Aku : "Selamat pagi, senja yang datangnya kepagian. :D , eh tanggal tujuh ya? Aku pikir tanggal 8, abis dimimpi tadi, aku pergi tanggal 7 bareng kamu liat senja, eh mendung. Untung ada senja kamu. Dimimpi itu juga kamu senyumnya manis banget. Sayang banget mimpinya bentar."

Aku : "Gak boleh. Kamu boleh patenin kalo uda ngasi tau kenapa nama kamu senja. :v"
Senja : "Emang kapan senyum aku gak manis?"
Senja : "Deal! Senja hari ini. Semoga mendung cepet cepet kamu bawa ke laut. Kamu mandi ih. Aku tunggu! "
Aku : "Haha, senyummu dimimpi lebih manis dari manis janji-janji kehidupan. Siap Jendral!".
....
Aku berangkat, mendung sepertinya telah dibawa angin ke gunung. Senja salah bila harus membawanya ke laut. Karena mungkin senja takkan nampak. Aku menjemputnya senja, ia tak pernah membuatku menunggu lama di depan gerbang rumahnya. Tapi hari ini berbeda, ia membuatku menunggu 5 menit lamanya. Suara kakinya mendekat, senja muncul dengan baju jingga, celana jeans, dan sepatu cats. Selalu tampak cerah menyenangkan.
"Selamat pagi, nona jingga yang manis", godaku.
Ia hanya menepuk pundakku dan tertawa mengacak rambutku. Itulah kebiasaannya, tiap kali aku memujinya ia kadang menginjak kakiku, mencubit, bahkan terparah ia menggigit. Tapi entah mengapa, aku selalu jatuh cinta berkali kali akan tingkahnya. Menurutku senja lucu, tak anggun tapi wajahnya penyayang. Aku satu kampus dengannya. Aku sudah lama menyukainya tapi baru tujuh bulan yang lalu aku mampu merebut hatinya. Tepat disaat senja sore itu di bangku taman kampus, keberuntungan yang kebetulan semesta mempertemukan. Aku duduk menatap senja dan senja menatap senja. Mata senja yang tanpa kedip membuat bulu matanya yang lentik terlihat jelas. Bibirnya yang ranum, sungguh membuat dadaku riuh berpesta debar.

Entah keberanian dari mana, langkahku tergerak mendekatinya.
"Hai, aku Byakta. Sendiri?" Tanganku gemetar terulur.
Senja menoleh, dan tertawa melihatku yang gugup. Iya itu pertama kalinya aku menegurnya dan mendengar tawanya langsung. Sungguh semestaku riang bereuforia. Saat itu aku menyukai sekali tawanya, tawa senja sore itu. Jika ada kata satu tingkat diatas kagum. Aku ingin katakan langsung padanya hari itu. Itulah awal mulanya aku dan senja saling mengenal. Senja, perempuan yang sulit ku definisikan.
.......
Sesampai di kampus, kebetulan kampus kita sama hanya beda jurusan. Senja jurusan psikologi sedang aku arsitek dan kebetulan jam kuliah kita pagi ini sama. Setelah kegiatan perkuliahanku hari ini, aku meraih ponsel dan mengirimkan senja pesan.
Aku : "Senja, lagi bentar mataharinya ditenggelam di laut nih, kamu gak mau nolongin? O, ya senja juga nunggu nih alasan namanya dipinjam sama perempuan manis seperti kamu."
Senja : "Haha. Kamu tunggu aja aku di tepi pantai itu, pesan aja dulu kopi biar gak kesepian. Tunggu 7 menit lagi, aku lagi dijalan nih mau nyebrang."
....
*Lampu kuning**traaaak*
Tangan kanan senja mengalir darah membasahi sebagian amplop putih yang ia genggam.
...
Untuk Byakta. Lelaki yang ku tertawai 7 bulan lalu. Aku jatuh cinta padamu, lewat jemarimu yang gemetar.
Untuk menepati janjiku, dan menagih janjimu mematenkan segala hal tentangmu hanya milikku. Berkali kali kau bertanya mengapa namaku senja. Kenapa bukan embun? Kata ayah, aku tak suka bangun pagi, jadi mana sempat aku melihat embun.

Aku selalu bangun ketika embun telah kembali menjadi mega. Lalu mengapa bukan mentari? Kata Ayah aku ini berbeda dengan mentari. Sejak kelahiranku, semua menatapku haru bahagia. Dan lagi lagi katanya wajahku menyenangkan. Sedangkan mentari tak ada yang mampu menatapnya lama lama. Haha apa kau setuju dengan ayah?. Sekarang kenapa bukan rembulan? Ah kamu tahukan? Rembulan terlihat sangat anggun. Apa aku seperti itu? Sekali lagi, ayah menjawabnya tidak. Dan kamu tahu itu, Byakta. O, ya aku menuliskan ini agar senja tak mendengar alasan mengapa namaku senja sepertinya. Ku biarkan ia selamanya penasaran.
Ini janjiku. Maukah kau menepati janjimu? Bisikan sekarang ditelingaku sebelum senja benar benar pergi hari ini..
....
Sebulan lalu, aku tak pernah berani membuka amplop ini, senja.
Dan hari ini, 7 ke 8 . Kau datang lagi ke mimpiku. Kau sungguh cantik tak lagi manis, kau berbeda kau tampak anggun. Tak sempat membisikkanmu , aku terbangun oleh bunyi ponselku..
Aku merindukanmu, begitupun senja yang penasaran padamu senja, perempuanku yang berwajah menyenangkan.

Minggu, 09 November 2014

Random

Entah mengapa apa kenapa.
Yang jelas pernahkah kau rasakan sepi hingga nadi nadimu berdenyut saja enggan?
Bagaimana rasanya. Rasa sepi seperti itu? Ah peduli sekali akan hal seperti itu.
Mati sajalah kau, aku tak peduli sepi.
Hurufku tetap hidup!
Tapi bagaimana tentang jiwa yang pergi sedang raga jemu sendiri.
Entah kemana pergi, tanpa petunjuk, setapak jejakpun tak ada atau sebenarnya hilang.
Yang tersisa raga, raga yang membosankan ditatap.
Lantas percumalah ragamu itu berparas menawan!
Jikalau jiwanya saja sukar menerima itu raganya sendiri.
"Pulang!", raga menggertak.
Namun jiwa tak tahu bahasa malah melenggang pergi kegirangan.

Sepuncuk surat tergeletak dalam gengamnya raga. "Carilah jiwa baru, yang mampu kau cintai sepenuh hati".

Kadang hati dan pikiran berselisih paham. Tak tahu menginginkan apa dan memenangkan apa.