Senin, 27 Januari 2014

Tentang aku, yang sedang merindukanmu ~

ada radar yang mendeteksi tiap-tiap hal-hal yang tersirat :*

Jujur saja kukatakan, aku tak benar-benar menyerah pada hubungan yang pernah ku jalani. Senyatanya aku ini takut mencintai yang bukan milikku seutuhnya dan tak mampu menyenangkan lagi dan aku ini pencemburu. Bukankah cemburu itu wajar? Iya wajar jika itu cukup dan tak melebihkan. Aku terlalu cemburu, aku takut jika ada hari yang seharusnya begitu indah jadi hari yang penuh makian dariku. Tapi aku selama ini cukup hebat untuk mengemasnya jadi tawa. Kamu benar, aku memang tak pernah bisa mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Dan kamu juga benar, bahwa aku tak bisa menghargai diri sendiri.
Dari pernyataanmu, aku terlihat begitu menyedihkan, aku tak bisa menunjukkan siapa sejatinya aku, memperlihatkan apa yang sebenarnya aku inginkan, dan aku terlalu takut untuk memperjuangkan.
Faktanya memang begitu, aku sama sekali tidak ingin menyanggahya. Tapi akan ku perjelas singkatnya aku nanti.
Sebelum itu, aku ingin membahas tentang tulisan di blogmu. Tentang sebuah mimpi, antara keberanian dan ketakutan untuk bermimpi. Bermimpi yang kamu maksud itu adalah sebuah hal kita inginkan –
Disini, saya ingin mengatakan sesuatu bahwa kita sebenaranya tidak takut bermimpi, kita hanya takut ketika bermimpi kita akan berharap, berharap hingga kita takut tidak mampu melakukan apa-apa, tetapi meskipun kita berusaha menjadikan nyata tapi kita akan takut pada keputus asaan. Mungkin ketika kegagalan itu terjadi sekali, itu tidak begitu mengerikan, tapi ketika apa yang kita lakukan dan gagal berkali-kali dan kita telah menghabiskan waktu untuk mencoba mimpi yang tidak Tuhan ciptakan, ya jawab sendirilah -.

Kaitannya dengan mimpi, aku orang tidak takut untuk bermimpi, aku hanya takut menyia-yiakan waktu dengan berdiam diri dalam waktu yang lama. Aku sekarang mencoba mengisi geming kehampaan tanpa seseorang dengan menulis-merenung-berpergian dengan teman-entahlah aku hanya berusaha mencari kesibukan, ya kesendirian memang tidak terlalu menyedihkan tapi yang menyedihkan ketika disela-sela waktu terkadang kesepian membekam disaat itu pula kau sama sekali tak berbeda dengan seseorang tak bernyawa. Tak jarang pada akhir kegiataku aku benar-benar merasa hampa dalam ruang kesendirianku. Tak peduli, terdengar sayup kepedihan didalamnya, aku ‘masih’bisa tegar. Aku takkan ingin menjerit seolah-olah aku yang paling terluka. Aku berdiri meski aku tak memiliki tumpangan untuk menopang. Aku akan mengais-ais kebahagian dengan berbagai cara tadi untuk mencukupi tingkat normal hidupku. Sederhana namun tak selalu sederhana. Lelah kadang juga tak selalu melelahkan. Berusaha tapi tak jarang asa begitu saja terputus. Aku sebenarnya tak ingin membelit nafasku tiap masalah  menggoda, namun aku sering kali menghela nafas begitu berat sebagai tanda.
Seandainya saja nyata selalu semudah bermimpi, segampang ucap, dan tak sesulit mengedipkan mata..
Maka aku akan mengelak keberuntungan.. Tapi Tuhan yang memiliki cara.
Tentang aku yang pernah mengatakan apa yang aku rasakan, begini ..
Apa orang sepertiku pantaskah untuk berduka, menjerit sejeritnya? Apakah dari kesedihanku akan datang iba atau peduli yang benar benar peduli?  Apakah kesedihanku akan mengundang rasa tertarik atau sebaliknya; pengabaian? Karna aku merasa, aku ini orang yang didefinisikan orang garing. Ngucap saja terlampau garing apalagi diam mungkin garing kubik. Yeaaaah. Aku tak pernah merasa lebih baik ketika harus membagi duka yang mungkin juga hatinya lelah. Membaginya dengan yang sedang bahagia? Aku tak mungkin merusak moodnya yang sedang membaik, lagi pula orang yang sedang bahagia cendrung gimana gitu -. Dan yang lebih baik ku lakukan adalah mendengar walaupun jarang untuk merespon.

O ya, tentang aku si pencemburu, aku takut kelak aku menjadi monster yang memenjarakanmu. Karna kau bukanlah orang yang pantas untuk diabaikan meskipun kau melakukan hal yang banyak tak menghubungkan aku denganmu. Sebaliknya akupun begitu, aku tak ingin diabaikan, diacuhkan, bahkan tak dianggap.
Setulusnya, aku perempuan yang ingin menjadi satu-satu yang dimiliki olehmu, satu-satunya perempuan yang kau bunuh kesepiannya, hanya satu-satunya perempuan yang kau lihat dengan tersenyum ketika ia memakimu, perempuan yang satu-satunya kau jadikan pangkuannya untuk tertidur sambil memainkan anak rambutmu hingga terlelap, satu-satunya perempuan yang mendapat ucapan selamat pagi darimu,  satu-satunya perempuan yang menjadi tempat melepaskan kekecewaan, kesedihan, kesenangan, dan berbagai emosi lainnya, dan satu-satunya perempuan yang akan berdiri dibelakang ketika ‘kita’ bersujud menghadapNya. Tapi ini sudah terlambat, aku telah dulu menyerah J
Semua telah kukatakan, lalu apa yang ingin kamu katakan tentang ketidak tegasan dan ketakutan dalam dirimu? Aku ingin selalu bertanya..


Dari seseorang yang merindukanmu,
 Aku yang pernah menjadi perempuanmu.





Senin, 13 Januari 2014

Mungkin aku takkan terlalu mengkhawatirkan RINDU

ada radar yang mendeteksi tiap-tiap hal-hal yang tersirat :*


Seandainya saja, aku selalu bisa menikmati lengkuk wajah kekesalan itu, dan aku tak benar-benar ingin kehilangan..



Pukul 06.45 , petang yang telah berpulang, dan disambut oleh kabut pagi di tempat biasa 'kita', aku melihat sosokmu. Walaupun aku tau kau berdiam disana lebih awal tapi aku memperlambat kakiku untuk menggayuh sepeda, hanya untuk mendengar cacimu nanti . Haha. Aku masih menyukai caramu, menggerutu karena keterlambatanku, kau tampak lebih menarik ketika kau seperti itu. Aku menyita ponsel dari kantongku, seperti dugaanku, itu pesan darimu.


R : Mana?
N : Uda di UD ini :D
R : Mananya? Saya ditempat biasa nih.
N : Mana ayoq ?

Di ujung jalan sana, aku melihatmu menggandeng mesra sepeda fixie putih roda berwarna pink, berjalan dengan raut wajah kesal, haha. Aku tak benarbenar ingin kehilangan, aku masih ingin menikmatinya.

....
Waktu tak yang  menunjukkan bahwa kita sedang dipeluk gelisah.... Gelisah yang berkecamuk, memendam rasa hingga mengharu biru.

Setelah berjalan memutari rute yang sudah ada, 'kita' duduk sembari menyapa lelah walaupun sebenarnya tak benar-benar lelah. Kau menawariku susu kedelai, yang telah lama membuat ecap penasaran mengeliat dalam benakmu . Aku sekali lagi menolak, karena memang aku tak minum susu pagi-pagi. Kau beranjak dari sampingku untuk membunuh rasa penasaranmu. Kau kembali duduk disampingku.. Kau minum susu, dan tiba-tiba kau tertawa sendiri karna kekonyolanmu. Tawa itu membuat aku jatuh cinta (lagi). Tak banyak dan tak ada percakapan begitu penting saat itu, seolah-olah tak ada yang perlu dibicangkan oleh hati 'kita'.

Kita kembali memutari jalan, berjalan diatas bebatuan, disana ada 3 anak yang sedang menikmati hari libur. Aku berbicara dengan mereka, dan kau telah memikat perhatian mereka dengan kharismamu haha.
Hello, i am Nia - Hai Nia, iam Rama-dan.
Hujan.. Menahan 'kita', menemukkan raga 'kita' namun tak menawarkan apa-apa selain rindu; kau disampingku.


Seandainya saja, kau masih dalam dekapku, mungkin aku takkan terlalu mengkhawatirkan RINDU ...


Meredanya hujan, mengakhiri temu hari ini. Aku dengan sepedaku dan kau dengan sepedamu mengantar 'kita' pada pesimpangan jalan akhir temu.

"Hati-hati, Nia", katamu. Dan kau tersenyum, membuat semesta cemburu dikala perhatianku terenggut seolah  tak ingin merasa usai menatap. Seandainya saja, aku pemilik senyum itu.

Melihat pundakmu perlahan menghilang. Menyadarkanku, bahwa aku lupa mengemas 'rindu' untuk kau bawa pulang.
Seharusnya rindu tahu kemana ia berpulang, kemana ia tertuju dan kemana ia melebur ~
Tak banyak aksara terucap tetapi kau memberikan kesempatan kepada milyaran rindu untuk mengusik pejam dan jagaku . TAPI Jika kau milikku, aku takkan sekhawatir ini mendekap rindu, karna di setiap kekhawatiranku, pasti mengharap temu (lagi). 

Sabtu, 11 Januari 2014

Untuk Pengelana Lelahku

ada radar yang mendeteksi tiap-tiap hal-hal yang tersirat :*



Bagaimana hari ini? Telah cukupkah keberanianmu menebus khawatiranmu?

Bahagiakah? Sedihkah?

Jangan tanyakan suatu hal yang tak bisa aku kalkulasi dengan jelas. Jika kau bertanya aku sedih? iya, namun tak begitu mengoyak hati hingga bernanah. Lalu bahagiakah? Iya bahagia, namun tak  ku mendapati kupu-kupu menari diperutku. Aku mendekap dua rasa itu sekaligus. 
Bahwa bahagia dan sedih bukanlah hal yang stagnan. Bisa saja orang yang membahagiakanmu sekarang belum tentu tak membuatmu sedih esok, sebaliknya orang yang membuatmu sedih, bisa saja membahagiakan. Kita hanya bermain disitu itu. Memilih dan dipilih , terbuang dan dibuang, singkirkan dan disingkirkan, dkk. 
Hah .. Kehidupan terasa membosankan, penglihatan terasa abu-abu, jika memang harus terjebak di salah satunya, mungkin akan lebih mudah untuk dirangkai kisahnya, namun bila keduanya tumbuh secara bersamaan, membangun menara entah , jangan bicara tentang waktu, untuk sepatah kata kita panggul kau takkan menemukan aksara yang tepat. Aku tak menemukan cara untuk berdamai dengan hatiku, menggali samudara yang tak terlihat dasarnya. 
Aku tak sedang tertawa dan tak sedang terisak. 
Yang ku tahu pasti adalah suatu perihal ;

Perihal yang tak mungkin ku lakukan adalah menjadi lemah dihadapan siapapun, tapi aku mengecewakan seorang pengelana yang lelah. Untukmu ;
Lelaki pengelana , berjalanlah menemukan tempat peristirahatan sesungguhnya .