Minggu, 26 April 2015

Baper.

Aku mah apa atuh, uda seneng kalo kamu senyumin apalagi dijadiin ibu rumah tangga di masa depan kamu~ eaa~
hae, apa kabar kamu? Hastagah! Uda sekian lama kita tak jumpa. Sekitar 28 jam lalu. Kamu uda kangen gak? Kalo aku sih dikit. Dikit berlebihan maksudnya.
Okay, aku mau nanya dong, kamu lagi apa di sana? Kalo aku sih lagi nganggur aja, nungguin ada yang ngajakin jalan. Jalan ke pelaminan. *eh enggggg.
Okay fokus.
Tadi pagi tuh tiba tiba terperanjat kaget dari tempat tidur. Gimana gak, hati ini ngira tanggal 27 uda berlalu gitu aja, eh ternyata masih satu hati, eh satu hari lagi setelah ngecek kalender. Perasaan yang salah. Kesalahan perasaan. Baper mulu sih. Dasar perempuan cih!
Logikanya di belakangin.
Btw, bicara tentang baper. Orang yang baper kadang kegeeran banget loh, baru aja disiulin sama burung uda salting sampe salto. Uda gitu orangnya jadi sensitif, contohnya yang baru pacaran terus LDR. Chat gak dibalas 3detik, temboknya uda berlubang abis dicakar-cakar. Dan hal yang paling parah dari orang suka baper itu kadang ngerasa diri paling bener dan yang lain itu keliru. Widih..... Kenapa gitu? Pernah ada yang denger orang yang bilang gini gak, "Perasaan aku tuh kayak gini tauk bukan kayak gitu!" Atau "Perasaan aku kamu salah deh" atau "Kamu gak pernah ngertiin perasaan aku". Atau "Dia tuh orangnya gitu, suka ngomongin orang lain" (padahal dia lagi ngomongin orang). Banyak lagi deh yang baper gitu. Coba list apa lagi kalimat orang yang suka baper. Itu PR buat kamu. Aku juga punya PR mau aku kerjain sekarang. Mau tahu ya? Klunya itu; Mudah tapi kadang sulit dan gak selse selse.

Ps : ... banyakin garing haha

Ia.

Untuk lelaki yang keromantisannya tertutupi oleh topeng keacuhannya.
Sederhana tapi ia bagai cahaya rembulan yang diam-diam mendamaikan.
Pernah ketika aku kalah dengan dengan egoku, memukuli diri hingga lebam, mencaci maki dan mengumpat kesalahanku : ia diam diam tersenyum melihat tingkahku, memperbaiki letak rambutku, lalu mengusap lembut pipiku. Ia tak banyak bicara tapi tatapnya berkata, "Tak apa, esok pasti lebih baik".
Sederhana tapi ia serupa tongkat yang tak pernah rapuh menguatkan.
Pernah ketika aku tak percaya diri dengan keadaanku, mungurung diri dari keramaian. Lagi lagi ia tersenyum berbisik, "Kau sudah indah, lantas apa yang kau ingin lebihkan? Mereka saja cemburu".
Sederhana namun seperti bocah kecil yang takut kehilangan sesuatu yang ia sukai.
Pernah ketika aku ingin melangkah sendiri dengan kedua kakiku yang bernanah, ia berlari menyusulku dengan kotak berpita cantik berisi maaf. Ia mengusap kepalaku dan memelukku hingga terisak, "Ku mohon, jangan pernah beranjak lagi".
Sederhana tapi sungguh ia serigala yang siap menerkam.
Pernah ketika aku dihantui penasaran tentangnya, lalu aku menjelajah segala hal yang terkait perihal ia, hingga membuat aku lelah sendiri. Melihatku keletihan ia tak lagi tersenyum, ia tak lagi mengusap kedua pipi dan rambutku, atau alih alih ia akan memelukku. Ia justru memarahiku, "Kau tahu seperti apa aku, aku memang terbiasa seperti itu. Oleh karena itu, aku tak ingin kau mengetahuinya karena aku tahu kau akan menangis hingga Kelelahan. Dari dulu, aku tak ingin ada satupun orang yang mengetahuinya. Siapapun termasuk kau, setiap lelaki memiliki privasinya sendiri".
Sederhana tapi ia adalah kapak yang mematahkan kokohnya keingintahuanku.
Pernah ketika itu, aku tertegun. Sebisa mungkin tersenyum, menelan pahit ucapannya. Dan aku sadar, segala yang manis tak selalu baik untuk kesembuhan. Ia tak berkata apapun.
Sederhana tapi ia laiknya senja yang menawan.
Pernah ketika aku melihatnya tersenyum lalu dalam senyum ia selipkan, "Aku mencintaimu, percayalah".
... ...
Aku menghadapi banyak hal yang tak terduga bersama dia. Aku merasa lebih dari setelah ini dan aku tahu apa yang harus aku lakukan ketika mengingatnya. Walaupun mereka tak jarang mengira-ngira tentang kita. Seperti apa kita ataupun bagaimana kita atau bagaimana ia atau seperti apa aku.
Kita ada sepasang yang berbeda, yang ingin menyatukan kelima indra dalam dua kepala hanya dengan cinta.

Jumat, 17 April 2015

Mimpi

Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*

Untuk lelaki yang ku kagumi hingga kini...
Entah apa yang membuatku menulis lagi di sini setelah sekian lama ku buat berdebu tak berpenghuni. Tapi bukan berarti aku tak sempat menulis tentangmu lagi, tapi memang sengaja ku lakukan untuk membuat kau rindu. Bila aku ingin menulis tentangmu kadang aku menulisnya di suatu tempat, yang mungkin kau tak tahu atau mungkin sudah tahu dimana.
Ku dengar, akhir akhir ini kau sering didatangi mimpi buruk tentangku ya? Apa mungkin kau lupa berdoa sebelum tidur atau bagaimanalah. Sayangnya saat kau seperti itu, aku tak bisa mendatangimu sekedar menyudahi khawatir yang timbul karna mimpi buruk itu. Tapi maukah kau percaya pada hal hal baik dari mimpi itu? Bila tidak ada hal baik, maka bermimpilah lagi sampai kau temukan hal hal yang baiknya. Bicara tentang mimpi. Katamu mimpi buruk ialah cara otak melepas segala pikiran buruk terhadap sesuatu. Mungkin ada benarnya, kau bermimpi buruk mungkin kau karena kau terlalu banyak cemburu yang kau resap sendiri. Kau enggan bercerita tentang cemburu, entah mengapa kau tak ingin berbagi kepadaku. Kau pandai menyembunyikannya dalam dalam, seolah tak ada raut kesedihan di wajahmu yang selalu tampak menyenangkan. Ah tuan, akupun ingin menjadi sahabatmu; tempat keluh kesah yang menggetarkan hatimu, segala duka yang berlarian di kepalamu, ataupun perihal air yang takku lihat menetas dari matamu, katakanlah.
Aku hanya ingin yang pertama mengetahuinya, aku tak egoiskan, ber-asakan seperti ini?

Semoga saja tidak.
Lagi lagi, aku minta maaf tentang mimpi buruk itu, bermimpi tentangku bukanlah sebuah kesengajaan bukan, karena kita tak punya kuasa untuk mengatur seperti apa kita ingin bermimpi. Jika mungkin bisa, itu hanya ada dalam film Inception.
Tempat yang paling ku syukuri ialah kamu yang tak pernah menjadi menyebalkan karna sebuah mimpi, maksudku tak mendiamkanku karena uring uringan memikirkan yang tidak-tidak walaupun kau sebenarnya sedih tak ketulungan. Kamu pandai berpura-pura hanya untuk membuatku baik baik saja. Tapi hal yang menakjubkan, saat kau sedia bercerita tentang segalanya -bila saja aku sedang beruntung mendengarnya-. Dan saat waktunya tiba, aku bahagia sekali mendengar segala hal yang indah darimu, tentangmu yang mungkin saja terlewatkan.
Kapanpun kau ingin bercerita, aku akan sedia duduk manis dihadapanmu bila perlu aku tak usah berkedip. :))))
Salam Olahraga eh salam hangat dari rinduku.
Dari aku, perempuan yang bahagia dicintai oleh lelaki sepertimu.