Teruntuk
dia yang memiliki wajah yang menyenangkan pada setiap senyum simpulnya yang
setia melukis hari ..
Pada
waktu lalu, aku pernah bertanya-tanya pada semesta tentang kamu yang terselip
dibagian dunia mana, dimana kamu tersembunyi hingga kasat oleh retinaku; Bertanya
tentang jalan menujumu. Setiap waktu ku habiskan untuk bertanya tentang sosok
itu, bertanya-tanya dengan siluetku sendiri. Setelah berjalan menitih tiap depa
langkah kaki yang ku jaga. Hingga tiba saatnya kau menyentuh lembut tangganku
saat aku terlelap dalam jalan menemukanmu, saat itu aku benar-benar dipayungi
sepi terbias kelam, bila ada aksara yang lebih dari sepi, maka itulah yang tergambar
sepenuhnya. Sembari tangganmu membangunkanku dari lelap, dengan air muka tak
percaya disekujur organ-organ tubuhku yang terluka telah terbalut rapi kain asa.
“Kamu?”,
Pertanyaan yang menguasai bibirku untuk meyadarkan diri dari ragu. Kamu tak
berucap apa-apa selain tersenyum lembut semetara nafasmu yang terengah-engah. Aku
membenarkan kornea sembari mencari-cari cahaya untuk memastikan kejernihan penglihatanku.
Apa aku tak salah menterjemah sosok yang begitu apik menatapku. Dia; satu nama pemuda;
sekujur paras yang tak asing. “Bagaimana kau menemukanku?”, satu tanya lagi
yang hanya kau sambut dengan senyum. Kau merengkuh tubuhku dan mengusir kelam
diwaktu itu, seketika itu ilalang menari disekitaran kita. Kamu membawaku pergi
dengan kedua lenganmu itu. Tak ku temui lagi tangga yang berlandas kaca, kini yang
terpampang labirin tujuh lapisan warna menanti langkah. Aku kembali mengusiknya
dengan tanya, “Apakah kau pemuda itu? Pemujaku yang terlampau sering kuimpikan?”.
“Mengapa nafasmu terengah-engah ketika menemuiku?” Dia sama sekali tak
menyambut pertanyaanku. Aku geram.
Sebelum
depa langkahmu mendekati labirin ketujuh warna itu, kau menurunkanku dari
lenganmu. Disamping itu ada kursi panjang dan kau membiarkanku duduk karna kau
melihat seraut wajah kesal yang kupentaskan, lalu kau membungkukkan badan menatap
lekat wajahku, sekali lagi kau tersenyum dan mengacak-acak lembut barisan helai
rambutku. Namun tak ada sepotong kata yang keluar dari dua belah bibirmu. Kau
menghamburkan langkah disekitaranku mencari-cari sesuatu, sedangkan aku hanya
diam dengan muara tanya. Tak lama
menuntaskan hal yang tak ku mengerti akan tingkahmu, kau kembali dihadapanku
menyematkan mahkota cantik sederhana berhias bunga.
Penguasa membingkis
kamu dalam kotak misteri, sayang...
Ps: Tunggu Kelanjutannya
:D

