Selasa, 19 Agustus 2014

Takjub

Ada radar yang mendeteksi hal-hal tersirat :*

Izinkan aku mengenalkan rindu dipelukmu
Hingga ia tunduk pada senyummu
Dan manja didadamu..

Aku datang menawarkan kedua lenganku untuk kau sambut dengan kedua lenganmu.

Lalu merebahkan kepalaku didadamu hingga degupmu yang bertalu talu itu terdengar jelas ditelingaku.

Ketika itu, dari atas kepalaku jatuhlah sebuah kecupan lembut yang lahir dari bibirmu yang merona.

Setelahnya kubiarkan ia tumbuh sebagai kenang yang kian meradang diubun-ubunku.

Menatapmu yang lebih tinggi dariku membuatku yang ringgih merasa tenggelam dalam tenang dan redupnya binar korneamu.

Kini, kau mengecup tepat dikeningku;  Tempat aku menyimpan segala hal tentangmu. Seraya aku menutup mata, merasa dan merekam bagaimana cinta memberikan jeda pada rindu untuk bertemu.

Bulu kuduk berdiri membaur dengan degupku yang kian tak karuan seolah menghujam bertubi tubi dalam dadaku.

Suhu tubuhku turun namun tak kurasakan gigil. Ini hanya semilir angin debar yang tak sengaja ku hirup dan masuk atas tanpa izin.

Usainya, kau mengacak lembut rambutku dan aku tetap menatapmu dengan sempurna. Karena aku akan sungguh merasa malang ketika harus melewati senyummu.

Waktu, menyadarkan kita. Meringkuk temu yang tak ingin tersudahi. Temu menunduk seolah memang saat untuk mengalah dan pergi.

Temu untuk pergi, namun sesungguhnya temu adalah pulang. (?)

Aku kembali harus menghela nafas panjang ketika melihat pundakmu menghilang hingga tiada.

-draft puisi 19 Agustus 2014

Tidak ada komentar: