Senin, 26 Mei 2014

Tak kenal waktu

Sebaik baik apapun cara kecewa bertamu takkan membuat tuan rumah merasa apik. Kecewa takkan pernah peduli kapan ia bertamu, entah disaat bahagia begitu erat memeluk mesra tuan rumah. Sekali lagi ia tak peduli. Kali ini ia datang mengejutkan tuan rumah, hingga bahagia yang sedari tadi memeluk merenggangkan lengannya perlahan. Tuan rumahpun menunduk dan menggeleng pelan, tak menahan lengan itu untuk tetap mendekapnya. "Menyedihkan" lirih hatinya.
Bahagia beranjak pergi seolah olah ia berpikir tak seharusnya berada disitu. Tanpa sepatah katapun diucapkan, bahagia meninggalkan tuan rumah itu sendiri. Oh tidak, dia tidak sendiri. Melainkan ada yang lain selain dirinya tadi, kecewa.

"Untuk apa kau datang?" Tuan rumah memecah hening
"Aku merindukanmu. Itu siapa yang memelukmu? Mengapa wajahmu bersemu merah dan matamu begitu tertarik ketika menatapnya, sedangkan ketika aku memelukmu, wajahmu begitu sembab dan tatapanmu sangat hampa", sambut kecewa.

"Aku tak pernah riang menyambutmu, oh bagaimana mungkin pula aku menyambutmu, aku tak pernah tau kau datang. Sekali aku berusaha menutup pintu, berpindah-pindah rumah. Namun kau selalu tau bagaimana cara menemuiku. Aku tak punya kuasa untuk menghentikanmu lagi. Kau terlalu tangguh untuk dilawan. Datanglah kapanpun engkau mau, aku takkan lagi kemana-mana. Terkecuali kau berulah kembali seperti dulu", kata tuan rumah sambil menggigit bibir menahan tangis.

Kecewa berbisik,"Mungkin aku takkan berlama-lama disini. Sudah ku bilang aku hanya merindukanmu. Aku tak tau sampai kapan aku akan bermalam disini. Percayalah aku tak berniat memporakporandakan tiap ruang dirumah ini seperti dulu. Mungkin lain kali, hahaha".

"PECUNDANG", tuan rumah mencicit sambil tersenyum getir.

Tidak ada komentar: