Pada apapun yang kau sukai, aku selalu berharap ada aku disana..
27 September 2014
Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*
Darrell Azhar..
Kepadamu. Ada satu rahasia yang ingin ku sampaikan kepadamu. Atau mungkin lebih.
Tapi entah ini sudah kau ketahui apa tidak sebelumnya. Anggap saja ini rahasia, andai saja aku bisa mengatakannya langsung tanpa basa basi lewat tulisan seperti ini. Mungkin akan lebih mudah, tanpa berlelah-lelah untuk membacanya.
Aku mencintaimu.. Sedalam dalamnya aku tulis dalam ketinggian..
Tak pernah aku merasa seistimewa ini ketika waktu itu, diam kita yang penuh dengan debar menggantung di udara dan suara sumbangmu mengatakan jadilah perempuanku.
Tak pernah seistimewa itu, didatangi olehmu setelah ku pikir takkan ada lagi yang menganggapku 'cantik'. Tentunya terima kasih, telah menjemputku dan menjadikan perempuan aneh sebagai sosok yang istimewa. Kisah klasik 12 jam bersamamu, walau tak mendunia bagai kisah layla dan qais atau kisah romeo dan juliet atau kisah kisah cinta lainnya. Aku tetaplah istimewa dari mereka yang belum tentu seberuntung aku mendapatkanmu.
Tak pernah aku merasa seberarti ini ketika waktu itu, kau lindungi aku dari candaan mereka yang usil kepadaku.
Sungguh tak pernah seberarti ini setelah hati yang kesal kau redam dengan kata kata yang membuatku terhenyuh begitu saja ketika mendengarnya. Kata kata sederhana yang membuat sabar lebih mewah dari segalanya.
Tak pernah aku merasa sebahagia ini ketika waktu itu, kau pergi dan membawa pulang sunset dan sunrise dikala itu. Lengkap dengan seikat bunga edleweis dan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya.
Benar, tak pernah sebahagia ini setelah kau pulang dari puncak kerinduan itu, kau hadiahi segala macam tawa yang tak terduga. Di hari bahagiaku kau tetaplah kau, lelaki pemilik pesona yang menakjubkan lengkap dengan segala kejutan didalamnya.
Tak pernah aku merasa seantusias ini ketika kita bertemu dan kau menjabat tanganku lalu kau tersenyum.
Tak pernah sepertinya aku merasa seantusias ini tiap kali kita harus bertemu dan selalu ada debar yang membuat letih letihku mati ketika menatap wajahmu yang menyenangkan itu.
Tak pernah aku merasa sekagum ini ketika kau melafalkan tiap kata menjadi kalimat begitu apik dan menjadi merdu untuk didengar.
Dan sungguh, tak pernah sepertinya aku sekagum ini menatap lelaki yang begitu cekatan menyampaikan idenya. Bahwa tak ada satupun yang sepertimu sebelumnya. Aku kagum dengan caramu menyampaikan segala hal yang beralasan. Berbeda denganku.
Pada bait ini aku tersadar bahwa suka dan duka tak pernah sukar dirasakan.
Pada detik kesekian aku merasa diam dalam cemburu namun pada detik selanjutnya aku lupa berkeluh kesah tentang sedih ketika dihadapkan oleh senyummu yang pesona dan lebih lebih pada gelak tawamu.
Jika ada rahasia lagi, pasti akan kusampaikan di sini; tempat untuk mengabadikan tentangmu.
Ku harap kau percaya, percaya pada rahasia rahasia ini yang mungkin sulit untuk aku katakan langsung.
Ini bukan sekedar putih tapi lebih kepada warna.
Ini bukan sekedar suka tapi lebih kepada candu.
Ini bukan sekedar sunyi tapi lebih kepada sepi.
Ini bukan sekedar kata tapi lebih kepada isi.
Ini bukan sekedar ingin tapi lebih kepada doa.
Ini bukan sekedar bumi tapi lebih kepada semesta.
Ini bukan sekedar senyum tapi lebih kepada tawa.
Ini bukan sekedar jari manis tapi lebih kepada jemari.
Ah ini bukan sekedar tapi lebih kepada. Entah apalah itu.
Ada rasa yang datang bertamu saat ia tak sama sekali ingin membuka pintu. Rasa yang mendobrak tameng ketabahannya. Hingga bangunan rata dengan kesal. Ia lari ketakutan agar tak pecah tangisnya dalam keramaian, maka ia lari mencari cari tempat persembunyian. Lalu tiba disebuah tempat yang dimana ia harus memilih dua pintu yang serupa bentuknya, pintu pertama bernama marah dan satunya lagi bernamakan diam. Sempat dirinya ingin menapakkan kaki pada pintu yang bertuliskan marah. Baru saja langkah pertama ingin ia rentangkan dan memegang gagang pintu itu. Ada yang menarik tangannya, lalu ia berbalik. Hanya saja seketika itu tak ada sosok siapapun. Tak ada. Begitu saja menghilang tertiup angin laiknya nafas pertama kali ia hirup dan ia hempas secepat mungkin. Lalu pergi tak terkenalkan dan lenyap tak meninggalkan bekas. Tak sadar tiba tiba saja, persendiannya melemah, lalu jatuh bersimpuh gemetar. Ia tertunduk, bibirnya yang merah terkatup sedari tadi kini merekah. "Apa Kau melihatku sekarang? Aku yakin sedang, Kau sedang memandangku tanpa ku tahu Kau berekspresi seperti apa. Ini sudah kesekian kalinya bukan?"
Lalu hening seketika, tak lama..
Nada suaranya meninggi disambut oleh tetes bening yang jatuh dari sudut matanya. "Kau tahu? Aku selalu benci seperti ini. Tak pernah sanggup menjadi tuan rumah yang ramah tamah kepada rasa itu. Rasanya yang berkunjung hanya bermaksud menagih kebahagian yang kau hadiahkan. Yang Kau hadiahkan lalu Kau kirim melalui senyumnya bukan?" ".
Suaranyapun mulai serak. Pipinya becek.
"Kau tahu pula aku tak sepaham dengan sendiri, dengan sunyi, begitu pula dengan sepi. Aku selalu bertentangan dengan mereka tapi Kau selalu mengajarkanku untuk selalu mengalah. KataMu "mengalah untuk menang. Menang dari ego yang keras kepala itu. Lalu kau lahir tidak untuk menjadi seorang pecundang". Aku selalu mengingat petuah itu. Tapi ini sudah kesekian kalinya bukan? Kesekian kalinya Kau mengharuskan aku masuk kepintu yang sama. Pintu bernamakan diam? Di dalam sana, seluruh darahku dipaksa mengalirkan racun. Pahit sekali rasanya sekujur tubuhku. Racun yang melumpuhkanku. Sedang aku ingin sekali mencoba pintu lain".
Ia masih menangis, nafasnya diburu sesak, kerongkongannya beranakkan duri.
"Baiklah aku kembali ke pintu itu", ia bangkit tertatih.
Belum sempurna tubuhnya berdiri, ada suara langkah kaki yang semakin dekat semakin pasti jika suara itu mengarah kepadanya.
Aku ingin bicara tentang waktu yang tak menjaga apapun. Menjaga tawa kita yang menggema diudara teruntuk bahagia yang tetap abadi.
Menjaga tenang laut dari amuk ombak ketika karang telah kendung menjadi ukiran.
Menjaga daun hijau yang muda tak menguning , lalu jatuh tanpa menyalahkan ranting yang tak lagi menginginkan.
Menjaga kulit untuk tetap lembut tak keriput, atau menjaga apapun itu.
Sekali lagi waktu tak menjaga apapun yang kau ingin kehendaki.
Karena waktu hanya perekam dan pembuat kenang.
Karena itu. Aku sama sekali tak ingin pergi, membiarkan diri untuk sendiri. Dan waktu hanya merekam sepi dan sunyi yang berbau duka dan pembuat duri.
Aku hanya ingin disini, menemanimu hingga rambutmu memutih hingga gurat wajahmu menjadi keriput. Karena aku tak ingin menepikan usia sendiri.
Aku ingin disini, tak berpindah pindah huni. Menetap di kursi ratu dihatimu.
Hingga kelak kita sama sama saling melindungi membiarkan waktu membuat kenang dan merekam kita dari kini. Sampai suatu hari, waktu akan melihat aku menyiapkan sarapan pagimu dan obat diruang kerja saat tubuhmu tak lagi muda. Lalu waktu menyaksikanku ketika aku dengan piawai menyelimutimu dengan peluk lembut semata mata untuk hangatkan sekujur tubuhmu yang renta. Dan kita sama sama tua. Meski wkt tak menjaga apapun tp aku percaya bahwa waktu sedang mengajari kita menjaga apa yang kita punya.
Lelakiku..
Pada paragraf ini , aku ingin mengangkat misteri senyummu. Mungkin kamu sudah teramat bosan membacanya. Tp entah mengapa aku tak pernah merasa jenuh menuliskannya. Bagaimana tidak, aku selalu menyukai senyuman terlebih lebih itu terbit dari bibirmu. Tiap kali aku memperhatikannya aku seolah menangkap pelangi disana. Warna warni semesta yang tak mengharuskan air jatuh dari sudut matamu dan cahaya karena tatapmu. Lalu dari mana datangnya pelangi selain dari air dan cahaya? Apa aku sedang mengamati cinta? Yang mengalirkan deru arus sungai sepanjang perantaran retina hingga cahaya pelan pelan masuk kedalam korneaku yang ku pikir berasal dari pesonamu.
Mungkinkah cinta adalah misteri yang tak perlu berlelah pikir untuk menemukan kenyataan? Hingga aku sadar bahwa dalam lembut senyum simpulmu yang aku saksikan, maka aku hanya perempuan pengidap kelainan ketika aku menganggap diriku sendiri tak berguna untuk hidup
Kini paragraf selanjutnya tentang mengapa kamu masih dicintai, disayangi, disukai atau apalah sejenisnya oleh mereka termasuk mantan kekasihmu dan banyak orang lainnya lagi yang tak terdeteksi dengan radarku. Aku akhirnya mengerti mengapa. Alasan-alasannya muncul dikepalaku ketika lambat laun lembar tiap lembar terlewati. Alasan-alasan logis yang berlandaskan fakta dan bernaung pada kenyataan. Apa kamu ingat ketika aku berkata kamu baik sekali? Pasti. Karena mungkin terlalu sering aku katakan. Mengapa itu alasannya? Begini, sadar atau tak sadar kamu takkan pernah membiarkan seseorang merasa kesepian, kamu takkan menolak ketika siapapun meminta bantuanmu terkecuali ketika kamu benar benar ada hal lain yang harus kamu utamakan. Kamu penyemangat handal bagi yang merasa segalanya tak lagi mungkin disaat detik detik terakhir tak ada lagi harapan untuk berdiri. Kamu terkenal sebagai sosok yang slow but sure, lelaki yang memegang tanggung hingga jawab dengan sungguh.
Lelaki yang melakukan dan memikirkan hal dengan segala pertimbangan. Bukan pesimis, tidak juga seorang optimis.
Terkadang disela sela waktu saat semua sedang begitu sibuk dengan kemelut hatinya, kau muncul dengan celetuk celetukan yang tak jarang membuat semua menggeleng tertawa. Maka kaulah sebenarnya keturunan abu nawas bukan seperti yang kau tuduhkan berkali kali padaku.
Dari pertanyaan yang aku ajukan kepadamu kemarin. Aku tahu jika kamu pun bukan seorang yang introver atau seorang ekstrover. Kamu seseorang yang akan merasa nyaman dimanapun kamu berada, sendiri atau bersama orang lain.
Tanpa tespun. Aku tahu kamu, mahluk yang tak terlalu menyukai keramaian begitupun sebaliknya.
Pada paragrap kesekian ini aku ingin mengumbar rasa yang ku asinkan untuk lelaki lain selain kamu. Perihal Cinta. Aku cinta pada perasaanmu, pada kekalahanmu, pada terserahmu, pada ketidaktahuanmu, pada argument argument yang kau tasbihkan tanpa ragu. Aku tak benar bisa mengembangkan beberapa alasan tentang mengapa dan mengapa. Aku pun tak tau pasti kapan aku benar benar jatuh pada hatimu. Hanya saja, beruntunglah, berkatmu aku berlayar meninggalkan pulau kesepian berpasirkan duri dan berlangitkan kelam. Setelah lama melawan kekecewaan, kau datang bagai tameng disaat tenaga terakhirku dibawah kelemahan.
Kau tahu? Ketika kau mengjenguk rindumu pada rinduku lalu disaat saat waktu adalah penunggang detik menit dan jam, hingga ia bergema 'sampai disini'. Entah mengapa aku ingin melompat ke detik menit dan jam selanjutnya. Karena aku ingin menolak akan perpisahan.
Karena pada waktu punggungmu melambai tiada. Aku lirih mengeja kalimat demi kalimat, "aku belum siap mendengarkan gaduh rindumu pada rinduku. Memangut lunglai dan menggantungmu pada lamun. Aku ingin kau disini. Meniadakan waktu pada temu tanpa pulang. Aku tak ingin mengenal kepergian. Aku menyayangimu, lelaki yang merampas kesedihanku. Aku menyayangimu seperti caramu menyayangiku".
Hingga ada bayangmu yang seolah sedang bercengkrama dengan senja sore itu. Ah. Bayang itu. Aku merindukanmu.
Dalam semesta yang menyenja kau biarkan aku rebah dibahumu sembari mengucap selamat tinggal jingga. Mentaripun beringsut tenggelam diujung laut sana.
Dan dalam semesta yang pekat, aku menggenggam jemarimu mengusir jauh jauh ketakutanku akan gelap. Kau menunjuk ke atas; kepada langit langit yg sepi. Ternyata disana ada bintang yang kejora, kerlap kerlip manja menyapa.
Aku tersenyum..
Lagi lagi kau menunjuk langit ke tmpt berbeda. Ada rembulan. Rembulan perawan yang anggun singgah dikorneaku.
Saat kakimu mulai rapuh melangkah, maka akan ada bahuku yang menopang persendianmu yang lunglai.
Saat matamu mulai tertatih membaca koran diruang kerjamu. Maka akan ada aku yang setia mengantar secangkir kopi kesukaanmu; menyegarkan ingatanmu.