Sabtu, 11 Oktober 2014

Masa Depan

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Disuatu sore, seorang laki-laki termanggu di sebuah balkon apartemen menatap mentari yang beringsut melambai hilang.. Lakil-aki itu sendiri, namun sesekali ia berbicara pada dirinya. "Aku tak seharusnya seperti ini", ucap sambil menyandarkan badannya ke kursi.
Ia menatap kedepan, memasang kedua bola matanya menangkap goresan jingga diufuk barat sana.Tak ada jawaban disana, ia hanya sedang menenangkan perasaan yang mengusiknya.  Sementara ia sibuk bertanya-tanya. Ponselnya berdering namun ia tak peduli hanya saja deringnya makin lama makin melengking ditelingga. Ia merabaraba diatas meja kecil, setelah ia mendapatkan ponselnya. Diponselnya tertulis Aliza memanggil. Tanpa pikir panjang ia menjawab telpon itu. Sebelum ia berkata halo, diujung sana mencegatnya dan berkata "kamu dimana? Aku sendirian, aku takut".
"Kau dimana sekarang? Aku kesana, jangan kemana-mana".
Pemuda itu lalu berangkat tergesa gesa sambil meraih jaket diatas sofa miliknya. Mengunci pintu dan menuruni tangga karena seminggu lalu lift apartemen yang ia sewa rusak. Pemuda itu menarik gas motor, dan melesat cepat mencari-cari seseorang yang menelponnya.
...
Pemuda itu turun dari motor besarnya menghampiri perempuan yang menunduk dikursi taman kota. Pemuda itupun duduk disampingnya.
"Ada apa?"
"Dia meninggalkan aku demi perempuan jalang itu", adu perempuan pada pemuda sambil terisak isak.
Pemuda itupun meraih tubuh perempuan yang tersedu-sedu meratap kesedihannya, -Mendekap tanpa ada lagi jarak yang diberi waktu untuk bernafas. 
"Dia tak pernah menjelaskan dimana letak kesalahanku, ia hanya bilang jika ia masih mencintai kineta, mantan kekasihnya". Laki-laki itu diam, mendengarkan dengan seksama, sesekali ia mengelus lembut pundak perempuan itu.
"Mengapa ia begitu tega mengatakannya, berkali-kali membandingkan aku dengan perempuan itu, dan menganggap aku tak lebih baik.", lanjut Aliza. "Aku ingin membenci, tapi hatiku memilih mencintainya dengan keukeuh walaupun berkali-kali dihianati, aku tetap akan menunggunya lagi".
"Kau tahu, Aliza? Apa yang paling menakutkan dalam sebuah hubungan?", sambut lelaki itu.
"Kehilangan?", jawabnya. "Seringkali orang menganggap bahwa ketakutan itu adalah kehilangan. Tapi bagiku, hal yang menakutkan adalah masa depan, kau tahu mengapa?". Aliza menggeleng lemah.
"Masa depan adalah misteri, menakutkan sekali bila kau membayangkan masa depanmu, kau justru melewatinya bersama orang yang masih ingin tinggal di masa lalu"."Ia sebisa mungkin bertahan denganmu, tapi hatinya begitu dingin bila kau sentuh. Bayang-bayang menakutkan di masa depan." Lelaki itu menghela nafas panjang, lalu melepas pelukannya. Ia menatap lamat-lamat Aliza yang masih tersedu-sedu.
"Bahkan kini, aku  mencintaimu, Za. Namun ketakutkanku memilih untuk diam sekarang. Tak membawamu ke masa depanku. Menunggumu mengatakan bahwa kau tak lagi ingin tinggal disana, tempat yang seharusnya jauh untuk ditinggalkan. Hingga ketika kau benar-benar datang membawa janji masa depan, kau tak lagi menatapku dengan tatapan kosong lagi. Menunggu debar-debarmu datang berlarian menghampiriku, menunggumu gelisah setiap malam memikirkanku. Menunggu, iya menunggu hingga kau benar-benar jatuh cinta dan bukan sebuah pelarian masalalu."

Tidak ada komentar: