Aku merebahkan diri bukan pada kasur kesayangan melainkan diatas selapis tipis kain spaduk , sedang diatasku bukan juga plafon putih yang biasa menyaksikan aku terlelap perlahan tapi sekarang beratap kerlap kerlip bintang, iya aku tidak sedang dikamar pastinya. Aku di sebuah lembah kecil.
Bermalam...
Langit malam yang seringkali ku anggap pekat, ternyata begitu berbeda. Beda dari dugaan awalku. Bagaimana tidak langit pada malam ini -
End-catatan yang menjadi draf yang ku tulis ketika Diam diam aku mencuri suara tawanya yang terbawa angin dari sebatas tenda malam itu. Aku tak berniat untuk berbicara kepada siapapun malam itu. Walaupun sesekali menyahut seadaanya hanya untuk memastikan bahwa aku ada di sana. Perasaan saja yang tak karuan. Nelangsa sejak mendengar yang tak seharusnya terdengar. Meski hanya sekedar gurauan. Mungkin tak lucu bagiku kesensitifanku.
Hingga malam itu, aku memilih diam, mendengar apa saja yang terbawa ke kuping. Bising? Tidak. Karena tawanya begitu pas untuk dijadikan nyanyian malam. Tapi tidak untuk malam itu, kesal mengelapkannya. Mengubah nyanyian lembut itu menjadi nyanyian menyayat hati. Tenggelamlah dalam pedih, dalam gelap. Cahaya bintang takkan cukup menampakkan wajahku yang menyedihkan waktu itu. Takkan jadi masalah jika aku seperti ini, pikirku. Aku memilih diam. Sungguh perasaan keperempuanku menyebalkan saat itu.
Hingga dipertengahan petang.
Ada lelaki yang ku curi tawanya berkata," dimanakah seseorang berhargaku".
Lagi lagi aku mengutus diri untuk diam.
Lelaki itupun melanjutkan permainan dengan teman lainnya malam itu.
Hingga ia meletakkan kartu, ia pun mulai berkata lagi, " sudah cukup, aku ingin menghampiri perempuanku yang sedang bermurung diri".
Aku dikala itu, tersenyum. Hanya dengan sayup kata seperti itu, kesalku tak lagi meresahkan, kesalku mati seketika dengan nada bicaranya. Lelaki itupun datang duduk disampingku, aku menyambutnya dengan senyum manja (〃 ̄︶ ̄)┘└( ̄︶ ̄〃) kemudian *tos. :D
Lalu lelaki itupun tersenyum. Senyum yang pesona itu mengantarku rebah dipangkuannya. Dalam pangkuannya, jemarinya membelai lembut mengirimku ke dalam damainya malam itu. Lalu kesal mana yang betah berlama-lama ketika seperti ini? Tak ada.
Itu semua karena lelaki itu. Lelaki yang selalu menutup dirinya dari pandangan. Namun begitu menarik perhatian. Lihatlah, Menakjubkannya lelaki itu.
Hangatnya perlakuanmu, kesalku tak ingin memperumit. Bolehkah aku lelap kembali dalam damai itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar