Sebelum
kau benar-benar jauh dari tempatku terjatuh, sebelum jarak begitu panjang
memisahkan suaraku dari telingamu. Sebentar saja, jangan beranjak dulu. Diam di
tempatmu yang sekarang, tak usah berpaling atau sekedar menoleh. Berdirilah di
sana dengan membelakangiku, walau rasanya sudah sangat memuakkan untuk
didengar, dengarkanlah hingga suaraku lirih dan mencapai tiada.
Maafkan
aku yang masih saja penasaran tentangmu, meski sudah kau hadiahkan aku sebuah kepergian,
aku masih saja merasa memiliki. Aku seringkali bertanya dalam hati perihal adakah
tanya yang menyisak dadamu berulangkali? Sepertiku yang kehilangan cara dan
seringkali melarikan diri, menjadi pengecut atas pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh
di kepala mereka.
Tentu
aku hanya mampu menjawab dengan cekikikan lalu meninggalkan ruang obrolan
sebelum disusul pertanyaan-pertanyaan lainnya. Entah bagaimana caraku
menerangkan kepada mereka yang masih mengira kita baik-baik saja, bagaimana caranya
menjelaskan bahwa jalan kita sudah tak seirama kepada mereka yang kerapkali
mendoakan kita bersama?
Aku tak ingin menjawab segala tanya,
rasanya masih sanggup ku aamiinkan seribu satu doa-doa manis mereka. Aku masih
merasa senang ketika mereka tiba-tiba merapalkan doa-doa baik tanpa diminta.
Ada
saat ketika aku sedang tak memikirkanmu sama sekali, terkadang tak diduga
beberapa orang datang memberi pujian yang berakhir doa kepada hubungan yang
sebenarnya sudah tak ada. Hampir aku berhasil meloloskan diri dari semua
pertanyaan-pertanyaan tentang kita, namun terkadang masih ada saja yang
mengikuti seperti beberapa ingatan yang muncul seolah menjadi pertanda, kau
memang bukan untuk kulupakan.
Namun
kendati demikian, kau bukan pula seseorang yang terus menerus harus ku kenang,
karena hakikat cinta itu bukan sendirian. Maaf jika kau harus tertahan di sana
karena mendengarkan kebingunganku di sini. Aku sedang mengira kau mungkin
takkan risih jika ditanya mereka, kau mungkin lebih gambang dan apa adanya. Dan
itu salah satu perbedaan kita.
Mungkin
seiring waktu orang-orang sekitar kita akan mengerti tentang apa yang mereka
tanyakan. Hanya dengan membaca pesan-pesan kesendirianmu yang seringkali kau
dendangkan, mereka akan tahu bagaimana keadaan kita yang sekarang. Dan aku belum
mampu menerima kenyataannya, kau senang berkumandang disaat aku memilih untuk
diam.
Sebenarnya
jika menerangkan siapa yang salah disini tentang hubungan kita, tak ada. Hanya
saja, aku yang tak sengaja membuat lubang karena harapanku sendiri. Aku tak
sadar bahwa berharap hanya membuatku jatuh pada apa yang tak berdasar, pada apa
yang tak berniat kau tambal.
Biarlah
yang tumbuh liar di kepala menjadi lebat. Hingga yang ku sebut tuan, hilang di
dalamnya. Biarlah yang layu di dadaku mati. Hingga yang ku sebut tuan, tiada di
dalamnya. Namun biarlah, kepada detik yang tak karuan detaknya, aku hilang tak memberi aba-aba.