Pagi ini pagi yang kesekiannya mendapatkan selamat pagi darinya, lelaki yang mengaku mencintaiku lebih dari cinta yang kumiliki. Sudah setahun lebih, beratus-ratus hari ia masih lelaki yang sama, pemilik senyum yang ku gilai, tempatnya rinduku pulang disaat sendiri. Pemilik kunci brankas yang berisi berkas rahasia-rahasiaku. Dari dulu ia masih lelaki yang menyenangkan untuk diajak berbicara sedangkan aku adalah pengemar isi ceritanya. Apa yang ia ceritakan tak sampai membuatku jungkir balik untuk memahami isi cerita yang ia katakan tanpa membuatku pusing 7 hingga 8 keliling. Jika pun aku tak mengerti atau terlambat mendengar, ia selalu rela mengulang penjelasannya sekalipun ia sudah gemas melihatku tak mengerti. Dan hal yang hebat dari dia ketika sedang LDR, ia bisa membuat aku tertawa terpingkal-pingkal atau cengengesan sendiri dengan isi chatnya yang penuh guyonan. Adapun hal yang menyenangkan darinya, ketika ia sudah gemas sekali padaku ketika aku seringkali berkata jika begini, jika nanti, bagaimana kalau nanti, ataupun hal hal yang mungkin tak pernah terpikir sama sekali olehnya. Atau sama hal jika aku mempermasalahkam yang belum terjadi, ia hanya menggeleng tersenyum dan mengusap lembut kepalaku, lalu ia berkata, "tak perlu terlalu banyak mengkhawatirkan atau mencemaskan yang belum terjadi". Ya Tuhan, dia menyenangkan bahkan teramat menyenangkan. Dan aku semoga saja aku tak kehabisan kata-kata untuk menyukuri kehadirannya.
Jika saja waktu itu kita tak jatuh cinta, tak diizinkan semesta bersama. Mungkin semua sudah lain ceritanya. Aku mungkin takkan pernah tahu rasanya bagaimana isi kepalaku dipenuhi alien seperti kamu. Setahuku, alien selalu berwajah aneh. Tenyata hipotesaku salah ketika akhirnya mengenalmu. Kamu malah seperti jenis manusia tampan kebocah-bocahan (agak males sih bilang bocah). Karena entah menyebalkan sekali tiap kali menyadarimu mukamu seperti bocah, sedangkan aku? Ah sudah nanti kau besar kepala. Hanya saja aku tertawan bukan semata-mata karena kau berwajah menawan, melainkan aku jatuh cinta dengan isi kepalamu, apalah fisik jika kau akan membungkuk memegang tongkat, beruban dan tak ada tersisa lagi gigi-gigimu kelak. Tapi isi kepalamu tetaplah kamu, entah sepikun apapun nanti takkan mengubah caramu berpikir. Hanya saja kelambanan itu urusan yang tak perlu kita bahas. Asal kau selalu sedia untuk kuingatkan, untuk hal-hal yang mungkin terlewat. Aku bersedia menyediakan apa yang kau ingin aku sediakan. Namun untuk hal sekecil apapun yang sekarang masih jauh di bawah kurang tentangku, tenanglah. Denganmu aku ingin mencoba, denganmu aku ingin lalui dan memperbaiki diri.
Terima kasih, hingga hari ini, tak pernah kau buat kesepianku menjadi-jadi. Tak pernah ku bawa pulang rindu dengan kecewa. Tak pernah lelah menghadapi tingkahku yang kekanak-kanakan.
Terimakasih sudah bersedia menghiburku hingga duka selalu kehilangan arah, terimakasih karena tak berajak pergi.
Terimakasih untuk tidak membuatku kekurangan perhatian dan tetaplah seperti ini.
....
Hai sayang, aku lupa menyapamu sejak tadi.. Selamat tanggal 27 ke 14. Mungkin, ada hal-hal yang tak pandai kau ucapkan. Perihal kau teramat khawatir jika aku dilanda cemburu dan aku mulai tak percaya padamu, atau kau teramat was-was jika ada lelaki yang tengah mendekatiku. Tapi keahlianmu ialah berdamai dengan hati. Dan kau ajari aku itu, hingga aku tahu berdamai dengan hati selalu menenangkan yang sedang hingar bingar di kepala ataupun hati.
Semoga kita tetap ditenangkan hatinya dari curiga atau cemburu yang tak kita bisa prediksikan kapan ia muncul.
Untung saja, aku tak terlambat lagi jatuh cinta, jika sudah terlambat aku mungkin tak tahu bagaimana menyenangkannya dihadiahi kamu.