Entah
dengan alasan apapun, jika kau ingin pergi maka pergilah. Perpisahan tak
membutuhkan alasan agar tak merasa luka. Pada kenyataannya seribu satu hal baik
yang kau tawarkan, takkan membuatku tersenyum akan sebuah kepergian.
Pergilah, jika langkahmu memang menuju tanah
yang lebih lapang pada akhirnya atau menemui langit yang lebih biru nantinya.
Pergilah,
jangan katakan apapun jika langkahmu memilih mundur dari lingkar merah yang ku
sebut kita. Jangan katakan apapun soal kepergianmu. Segala yang kau ucapkan itu
akan meretakkan apa yang sudah menjadi serpihan. Kehancuran seperti apa lagi
yang ingin kau ciptakan.
Ku
pikir denganmu aku akan melangkah sekali lagi untuk menemukan nirwana. Ku pikir
dengan meletakkan hatiku dengan hati-hati membuatku berhenti dan akan
menjadikanku tinggal di hatimu. Kupikir kau akan menjadi rumahku, tempat
segalanya pulang dengan damai.
Ku
pikir aku sudah berhenti berkelana sendiri. Denganmu, waktu itu aku percaya, tak
ada yang tak mungkin untuk kita coba, tak ada yang tak mungkin jika kita
berdua. Dan saatnya tiba, segala yang ku coba yakini selama ini, hanya menjadi
angan-anganku sendiri. Dari yang ku lakukan selama inipun, ternyata aku hanya
menghayal tentang masa depan sendiri. Tak ku sangka, selama ini, aku hanya
menghabiskan waktuku untuk tertidur. Aku bermimpi semauku, sampai pada akhirnya
aku dibangunkan oleh kenyataan bahwa kau mencoba untuk pergi.
Tak
terpikirkan sama sekali, aku akan tiba diakhir yang tak menyenangkan lagi. Bukan
aku menolak semua ini, bukan juga aku menerimanya dengan mudah. Setidaknya aku
memerlukan waktu untuk bersahabat dengan takdir yang kau bilang ini hanya
masalah waktu. Tapi saat ini jangan katakan bahwa aku akan mendapatkan lebih baik, tak perlu lagi
menunggumu. Jangan katakan itu, pergilah tanpa suara tanpa meninggalkan
kata-kata, walau sepata dua patah.
Aku
mungkin akan menangis seperti biasanya, tak bersuara, seperti suaramu yang
pelan, yang hampir tak terdengar meninggalkanku. Bila akhirnya, hari ini adalah
hari merayakan kemerdekaanmu. Aku memilih untuk tak menghadirinya, bagaimana
mungkin melihat wajahmu yang baik-baik saja penuh kelegaan sedang aku sesak
kepayahan. Kepergianmu mungkin takkan terasa menyakitkan jika kau bukan bagian
terpenting dari tubuhku. Dan apa yang menyakitkan, akan terasa dalam dadaku,
tak bisa kau kendalikan untuk tak terasa nyeri. Kau tak bisa menghentikan nyerinya
dengan mengucapkan hal-hal manis sebagai salam perpisahan.
Mungkin,
kemarin hanya aku yang bahagia pernah bersama. Mungkin kemarin, saat ku kira
kau bahagia bersamaku ternyata aku hanya mengarang cerita fiksi dengan
berdelusi.
Terlambat
ku baca bahasa tubuhmu yang tak ingin lagi menemani. Terlambatku ku sadari
kepengecutanmu untuk membuka kata pisah dari bibirmu.
Ketika
aku begitu banyak mendengar kisah-kisah kekandasan sebuah hubungan. Saat itu
mencoba percaya, bahwa bersamamu, kita akan lebih mampu dari mereka, akan lebih
mampu membuktikan bahwa kita bisa melalui segala hal. Dan tiba saat ini, aku
tak sehebat yang kupikir. Tak setangguh petuah-petuahku yang terlontar untuk
mereka.
Seingatku
dalam khayal, aku selalu menunggu pukul 06.00 untuk menyambut sapa pagimu, dan
pukul 13.00 meyapa waktu jedamu serta pukul 17.00 mendengar langkah kepulanganmu.
Dan tak tentu pukul berapa, aku menerima merah jambu mimpi indah darimu.
Semoga dihadiahkan kebahagian yang tak
sementara, dan tak diberi kesedihan yang tahan lama.
Kepada
siapapun yang menolongmu dalam melupakan kisah kita, semoga ia senantiasa
menjagamu dengan baik. Agar lebih mahir tak mengingatku. Dengan menyerahkan
atau menggandakan kunci hatimu. Aku bukanlah pemilik satu-satunya sampai kita
benar-benar usai.
Jika
tiba pada suatu hari, ingatanmu melayang kesini; ketempatku, aku harap kau tak
bertanya mengapa pada akhirnya aku menyerah. Bagaimana aku hidup di tengah
pengasingan isi kepalamu. Ku coba berkali-kali mengakrabkan diri, kau malah
berkali-kali merasa takut lalu melarikan hatimu. Kau berpura-pura tak mengenal
puanmu.
Lalu ketika
mereka kelak bertanya tentangku perihal kita. Apa yang akan kau katakan pada
mereka? Apakah cerita tentang betapa bahagianya kita pernah bersama atau sebuah
kepedihanku yang ditinggal tuannya? Dan kini kepengecutanmu tumbuh liar, hingga
rimbun sekali rasanya, sampai tak memiliki nyali untuk mengatakan apapun selain
menjaga jarak yang sudah begitu jauh. Untuk mengaku tak lagi menyayangiku, kau
kunci rapat-rapat bibirmu sampai kusadari sendiri isyaratmu.
Lalu
untuk menutup rasa bersalahmu, kau coba melontarkan kata-kata yang membuatku
terus ingin menutup telinga. Kau berkata seolah-olah aku harus menemukan yang
lebih baik dan yang tak membuatku menunggu terlalu lama. Jangan seperti itu,
apakah harus melupakanmu, aku harus menyakiti hati orang lain dengan
berpura-pura tak mengingatmu? Ingin sekali rasanya ku bertanya mengapa aku
harus takut sebuah kehilangan sedangkan kau terlihat percaya diri di tempatmu
berdiri sekarang? Apa Tuhan sengaja menegakkan kakimu agar aku percaya kau
sedang baik-baik saja tanpaku? Apakah Tuhan sengaja, menjauhkanmu agar aku yang
mendekat pada-Nya. Apakah Tuhan sengaja, membuatku terluka, agar aku bisa
menyembuhkan diri sendiri? Apa Tuhan sengaja menuliskan kisah lain untukmu agar
aku tak lagi nakal menggoda imanmu?
Pergilah,
bersama yang lebih kau butuhkan, yang tak sekedar kau inginkan di sini. Jangan
meminta aku untuk mengerti semua, pergilah biarkan aku semata memandang lukisan
kenang yang terpajang disini. Karena kau yang merasa lebih mampu untuk
melakukannya. Bukan aku yang harus melangkah mundur, mungkin bukan aku perempuannya
yang harus menunggu di ujung jalan. Mungkin bukan aku, tempat segala musim
terjadi. Mungkin kini berganti rembulan, tidaklah tentang mentari yang terlalu
terik.
Dan semoga kau tak terluka, namun bukan
berarti aku harus melihatmu bahagia.
Tak
perlu kau tahu bagaimana pada akhirnya aku di sini, yang pasti tak mudah membiasakan
diri lagi dan melaluinya begitu saja tanpa rasa kasihan pada luka luka yang
sudah lama ada karena terlalu merindu. Aku harus bertarung sendiri dari jauh,
menyingkirkan kesedihan karena tak terbiasa sendiri. Seperti yang kau ketahui
dengan baik, jalan selalu menyediakan bagian tersulitnya. Dan bagian
tersulitnya adalah menyembunyikan segala perasaan darimu yang bukan kebiasaanku
selama ini. Tak mudah memang, tapi tak ada jalan lain lagi untuk menjadi lebih
baik katamu, selain meminta Tuhan menggetarkan hatimu untuk mengingatku
sesekali untuk saat ini. Tak usah esok, hari ini saja. Walau tak yakin hatimu
akan tergerak, tapi setidaknya aku memintamu dengan khusyuk. Walaupun ku tahu,
kaupun tak memintaku.
Aku
hanya sedang mengira-ngira saat ini, mengira kakimu sudah tegak lagi. Pergilah,
jangan katakan apapun.