Minggu, 04 Februari 2018

Jangan Katakan Apapun

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*



Entah dengan alasan apapun, jika kau ingin pergi maka pergilah. Perpisahan tak membutuhkan alasan agar tak merasa luka. Pada kenyataannya seribu satu hal baik yang kau tawarkan, takkan membuatku tersenyum akan sebuah kepergian.
Pergilah, jika langkahmu memang menuju tanah yang lebih lapang pada akhirnya atau menemui langit yang lebih biru nantinya.
Pergilah, jangan katakan apapun jika langkahmu memilih mundur dari lingkar merah yang ku sebut kita. Jangan katakan apapun soal kepergianmu. Segala yang kau ucapkan itu akan meretakkan apa yang sudah menjadi serpihan. Kehancuran seperti apa lagi yang ingin kau ciptakan.
Ku pikir denganmu aku akan melangkah sekali lagi untuk menemukan nirwana. Ku pikir dengan meletakkan hatiku dengan hati-hati membuatku berhenti dan akan menjadikanku tinggal di hatimu. Kupikir kau akan menjadi rumahku, tempat segalanya pulang dengan damai.
Ku pikir aku sudah berhenti berkelana sendiri. Denganmu, waktu itu aku percaya, tak ada yang tak mungkin untuk kita coba, tak ada yang tak mungkin jika kita berdua. Dan saatnya tiba, segala yang ku coba yakini selama ini, hanya menjadi angan-anganku sendiri. Dari yang ku lakukan selama inipun, ternyata aku hanya menghayal tentang masa depan sendiri. Tak ku sangka, selama ini, aku hanya menghabiskan waktuku untuk tertidur. Aku bermimpi semauku, sampai pada akhirnya aku dibangunkan oleh kenyataan bahwa kau mencoba untuk pergi.
Tak terpikirkan sama sekali, aku akan tiba diakhir yang tak menyenangkan lagi. Bukan aku menolak semua ini, bukan juga aku menerimanya dengan mudah. Setidaknya aku memerlukan waktu untuk bersahabat dengan takdir yang kau bilang ini hanya masalah waktu. Tapi saat ini jangan katakan bahwa  aku akan mendapatkan lebih baik, tak perlu lagi menunggumu. Jangan katakan itu, pergilah tanpa suara tanpa meninggalkan kata-kata, walau sepata dua patah.
Aku mungkin akan menangis seperti biasanya, tak bersuara, seperti suaramu yang pelan, yang hampir tak terdengar meninggalkanku. Bila akhirnya, hari ini adalah hari merayakan kemerdekaanmu. Aku memilih untuk tak menghadirinya, bagaimana mungkin melihat wajahmu yang baik-baik saja penuh kelegaan sedang aku sesak kepayahan. Kepergianmu mungkin takkan terasa menyakitkan jika kau bukan bagian terpenting dari tubuhku. Dan apa yang menyakitkan, akan terasa dalam dadaku, tak bisa kau kendalikan untuk tak terasa nyeri. Kau tak bisa menghentikan nyerinya dengan mengucapkan hal-hal manis sebagai salam perpisahan.
Mungkin, kemarin hanya aku yang bahagia pernah bersama. Mungkin kemarin, saat ku kira kau bahagia bersamaku ternyata aku hanya mengarang cerita fiksi dengan berdelusi.
Terlambat ku baca bahasa tubuhmu yang tak ingin lagi menemani. Terlambatku ku sadari kepengecutanmu untuk membuka kata pisah dari bibirmu.
Ketika aku begitu banyak mendengar kisah-kisah kekandasan sebuah hubungan. Saat itu mencoba percaya, bahwa bersamamu, kita akan lebih mampu dari mereka, akan lebih mampu membuktikan bahwa kita bisa melalui segala hal. Dan tiba saat ini, aku tak sehebat yang kupikir. Tak setangguh petuah-petuahku yang terlontar untuk mereka.
Seingatku dalam khayal, aku selalu menunggu pukul 06.00 untuk menyambut sapa pagimu, dan pukul 13.00 meyapa waktu jedamu serta pukul 17.00 mendengar langkah kepulanganmu. Dan tak tentu pukul berapa, aku menerima merah jambu mimpi indah darimu.
Semoga dihadiahkan kebahagian yang tak sementara, dan tak diberi kesedihan yang tahan lama.
Kepada siapapun yang menolongmu dalam melupakan kisah kita, semoga ia senantiasa menjagamu dengan baik. Agar lebih mahir tak mengingatku. Dengan menyerahkan atau menggandakan kunci hatimu. Aku bukanlah pemilik satu-satunya sampai kita benar-benar usai.
Jika tiba pada suatu hari, ingatanmu melayang kesini; ketempatku, aku harap kau tak bertanya mengapa pada akhirnya aku menyerah. Bagaimana aku hidup di tengah pengasingan isi kepalamu. Ku coba berkali-kali mengakrabkan diri, kau malah berkali-kali merasa takut lalu melarikan hatimu. Kau berpura-pura tak mengenal puanmu.
Lalu ketika mereka kelak bertanya tentangku perihal kita. Apa yang akan kau katakan pada mereka? Apakah cerita tentang betapa bahagianya kita pernah bersama atau sebuah kepedihanku yang ditinggal tuannya? Dan kini kepengecutanmu tumbuh liar, hingga rimbun sekali rasanya, sampai tak memiliki nyali untuk mengatakan apapun selain menjaga jarak yang sudah begitu jauh. Untuk mengaku tak lagi menyayangiku, kau kunci rapat-rapat bibirmu sampai kusadari sendiri isyaratmu.
Lalu untuk menutup rasa bersalahmu, kau coba melontarkan kata-kata yang membuatku terus ingin menutup telinga. Kau berkata seolah-olah aku harus menemukan yang lebih baik dan yang tak membuatku menunggu terlalu lama. Jangan seperti itu, apakah harus melupakanmu, aku harus menyakiti hati orang lain dengan berpura-pura tak mengingatmu? Ingin sekali rasanya ku bertanya mengapa aku harus takut sebuah kehilangan sedangkan kau terlihat percaya diri di tempatmu berdiri sekarang? Apa Tuhan sengaja menegakkan kakimu agar aku percaya kau sedang baik-baik saja tanpaku? Apakah Tuhan sengaja, menjauhkanmu agar aku yang mendekat pada-Nya. Apakah Tuhan sengaja, membuatku terluka, agar aku bisa menyembuhkan diri sendiri? Apa Tuhan sengaja menuliskan kisah lain untukmu agar aku tak lagi nakal menggoda imanmu?
Pergilah, bersama yang lebih kau butuhkan, yang tak sekedar kau inginkan di sini. Jangan meminta aku untuk mengerti semua, pergilah biarkan aku semata memandang lukisan kenang yang terpajang disini. Karena kau yang merasa lebih mampu untuk melakukannya. Bukan aku yang harus melangkah mundur, mungkin bukan aku perempuannya yang harus menunggu di ujung jalan. Mungkin bukan aku, tempat segala musim terjadi. Mungkin kini berganti rembulan, tidaklah tentang mentari yang terlalu terik.
Dan semoga kau tak terluka, namun bukan berarti aku harus melihatmu bahagia.
Tak perlu kau tahu bagaimana pada akhirnya aku di sini, yang pasti tak mudah membiasakan diri lagi dan melaluinya begitu saja tanpa rasa kasihan pada luka luka yang sudah lama ada karena terlalu merindu. Aku harus bertarung sendiri dari jauh, menyingkirkan kesedihan karena tak terbiasa sendiri. Seperti yang kau ketahui dengan baik, jalan selalu menyediakan bagian tersulitnya. Dan bagian tersulitnya adalah menyembunyikan segala perasaan darimu yang bukan kebiasaanku selama ini. Tak mudah memang, tapi tak ada jalan lain lagi untuk menjadi lebih baik katamu, selain meminta Tuhan menggetarkan hatimu untuk mengingatku sesekali untuk saat ini. Tak usah esok, hari ini saja. Walau tak yakin hatimu akan tergerak, tapi setidaknya aku memintamu dengan khusyuk. Walaupun ku tahu, kaupun tak memintaku.
Aku hanya sedang mengira-ngira saat ini, mengira kakimu sudah tegak lagi. Pergilah, jangan katakan apapun.


 

Di sini.

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*



Bagaimana bisa rinduku hanya kau jadikan setumpuk buku yang kau baca begitu saja?
Bagaimana bisa rinduku hanya menjadi setumpuk baris tanpa makna?
Bagaimana kau bisa bertahan hidup melihat ribuan rinduku mati di hadapanmu dengan membawa namaku?
Bagaimana bisa kau teramat tegak dengan diammu setelah kau melihat rindu terserak di depan matamu?
Aku tak mengerti lagi, haruskah rinduku lahir lagi dan kembali gugur tanpa sebuah bekas hanya untuk kau tahu bahwa ia datang.
Aku tak lagi mengerti, bagaimana ini semua hanya terjadi padaku. Aku tak mengerti sebagaimana keras untuk ku mengerti.
Lalu kau tiba-tiba dating menanyakan apa kau boleh bersenda gurau denganku. Untuk apa senda gurau yang kau tawarkan itu? Untuk apa semua candaan yang tak akan berujung aku?
Kau berkali-kali hadir menanyakan kabarku, apa kau pikir aku akan baik-baik saja setelah itu? Setelah kau melepaskan apa yang pernah ada dalam genggammu dan memaksa yang ku genggam dengan mudah ku lepaskan juga?
Mungkin senda gurau yang kau tawarkan, hanya membuatku bingung untuk melangkah kemana.
Kau tawarkanku pada yang lain, sebegitu mudahnyakah aku untuk dimiliki, sebegitu mudahnyakah aku untuk kembali jatuh dan memulai semua tanpa terluka?
Kau pikir, dengan mudahnya aku menirumu untuk melupakanku?
Kau pikir, ketika aku membuka mata kau sudah lenyap begitu saja seperti kau melenyapkanku pada kesenanganmu yang lain?
Tapi sudahlah, aku berteriak menanyakanmu disini, tiadalah berguna. Aku hanya terluka sendiri, aku hanya menginjak pecahanku lagi. Aku takkan sembuh, takkan pulih dengan semua tanya yang tak memiliki jawab.
 Namun ini rasa sakitku, ini rindu dan semua harapku. Ini milikku, tak ingin lagi aku mengajakmu pada harapan yang kau anggap salah. Aku takkan lagi mengajak kesalahanku ini untuk menyalahankanmu. Ini rasaku, akulah yang bertanggung jawab untuk menunggunya tiadanya karena aku tak kuasa lagi menghidupinyanya sendiri.
Biar kelak setelah tiada, yang tersisanya hanyalah debu-debunya saja, biar ku sentuh debunya yang lembut lalu dalam pejam, aku mengingatmu sekali lagi. Biarlah ini menjadi perkara ingatanku, entah bagaimana ingatanku setelah itu, akupun bertanya. Namun belum bisa ku pastikankan, rinduku takkan lagi menjadi mimpi burukmu.
 

Lebih dulu merelakan.

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Ya bukan apa-apa, aku hanya tak pernah merasa mati, kecuali merasa kesemutan sekaki saja pernah. Aku masih bisa hidup, yang jelas aku masih bertahan hidup atas izin Tuhan tentunya. Aku mungkin selama ini pernah mencintai seseorang dengan gilanya. Tanpa sadar, aku kehilangan diriku, kehilangan warasku, kehilangan rasa cinta akan diriku sendiri. Seberapa jauh aku lupa bahwa yang kubutuhkan adalah diriku sendiri? Jauh sekali sampai ku lihat sendiri, kaki yang ku kira masih bisa berjalan dengan benar, tenyata yang tersisa hanya tangan yang mampu membantu kakiku yang terseok. Dan akhirnya aku berhenti melangkah, dengan apa yang tersisa aku mulai menulis tentang luka. Luka yang meninggalkan parah di kepala dan rasa aduh di dada. Itu semua karena aku terlalu memaksakan rasa inginku yang berlebih. Padahal Tuhan tak mengizinkanku melintas keluar dari garis merah larangannya. Hingga apa yang ku dapati? Luka. Lupa yang penuh sayatan. Apa yang terbuang? Waktu. Waktu yang panjang hanya untuk merasa dungu.
Yang terjadi mana mungkin bisa kita mengubah tiap kesalahanya, melainkan apa yang tersisa. Kita hanya berkesempatan menatanya, menyusunnya, lalu menjaganya dengan benar-benar melangkah. Tapi siapa yang akan mengira, kita akan selalu mampu menjaga diri, tak lagi lalai merawat isi hati, dan siapa juga yang akan berpikir mampu menghalangi tiap sayatan sepi yang melayang di kala sendiri. Nyaris tajamnya tak pernah meleset ke kanan atau ke kiri.
Hampir tak terhitung lagi berapa lembar karangan fiksiku, yang selalu menjadikannya ia tokoh utama dalam cerita. Semakin lama, tulisanku bernyali menghidupkannya seperti nyata. Ia seperti laki-laki biasa, punya ganjil tapi nyaris tak terlihat. Sayang, semua tak sesempurna cerita fiksi seperti biasa, Tuhan turut serta dalam menentukan apa yang ku butuhkan dalam cerita ini.

Entah terkabul atau tidak, aku tak hanya pernah berdoa mengusul namanya sebagai partner mencari restu tapi aku masih meminta dia kepadaNya. Masih, sampai hari ini. Bahkan ketika ku sadar, aku tertinggal sendiri. Jauh menuju surgaNya, aku hanya gelandangan yang butuh rumah, hangatnya peluk dan kenyang rasa tawa lalu ingin dibimbingnya.
Nyaris aku tak lagi mampu bertahan, sedikit lagi merasa kehilangan. Diantara napas paling sesak, hiruk pikuk paling sepi, aku tak lupa jika malam-malam aku selalu menahan diri dari rindu yang bernapaskan jarak. Seringkali aku menanyakan diri, sudah seberapa jauh, sudah seberapa kuat langkahnya, sudah setangguh apa ia, sudah semerona apa pipinya karena suka cita, hingga di ujung jalan pun ia sudah tak tertangkap mataku. Hanya yang tersisa gelak tawanya yang menggema di langit-langit kamar. Aku tak ingin ia bahagia tanpaku, tapi hatiku lebih kecut lagi jika senjanya tak semerona minggu pertama aku dengannya.
Aku tak tahu esok, terserah esok bagaimana. Aku sudah tiada dihatinya atau ia sudah tak lagi menggetarkan hatiku dengan tawanya. Entahlah tentang esok. Entah ia bahagia karena telah sadar, satu yang pernah menjadi bahagianya adalah seseorang yang tak berguna. Entah karena dia sudah lebih dulu merelakan.