Kamis, 26 Juni 2014

Perihal Rindu

Mataram. 23:20

Tanpa menunggu lagi, aku mengirimkan seamplop surat berwarna merah. Bukalah semoga kau tak terkejut bahwa rinduku benar benar liar untuk kau baca dari tulisan tangan perempuanmu yang menunggu kabar baik dari bibirmu yang pesona.

Tentang malam-malam yang terlewatkan begitu saja tanpa ada seamplop pesan yang terdapat pada kotak pos yang berdiri tegak tepat dihalaman rumahku.
Ku sampaikan sedalam dalamnya, aku teramat rindu.
Aku rindu. Iya ini perihal rindu yang mengobral sepi yang kepanjangan.
Rindu yang tak terbayarkan. Rindu yang ku telan bagai obat pesakit tanpa minum. Berbagai macam pikiran jahat menggelitik pelan-pelan ketika rindu tak terbalas. "Apa aku ada dipikirannya?". "Apa aku ada dihatinya?". "Siapa saja yang ia tunggu balasan suratnya?". "Adakah selain aku?".

Aku rindu. Iya perihal rindu yang telah dipertemukan kepada pemiliknya. Telah mendengar sapa pujangganya, tersentuh jemarinya. Maka rinduku Lebih riang, lebih terang dari redupnya terdahulu. Tapi sepertinya pepatah memang selalu ada benarnya. Rindu terlalu riang. Tak tahu diri bahwa Tuhan penguasa membalik-balikkan rasa. Hingga rindu telah menyisakan sesak yang menawarkan tangis yang memilukan. Hanya saja, hati mampu menahan diri, namun tak selalu bisa menyembunyikannya. Tampaknya rinduku membeku seketika.

Aku rindu. Perihal hari hari yang banyak terlewatkan. Banyak yang ingin ditanyakan rindu kepada pemiliknya. Rinduku yang tak jarang menunggu disapa tiap paginya, menanti senyummu yang menggetarkan hati seorang perempuan.

Aku rindu. Sekali lagi aku rindu. Jika hanya untuk membiasakan. Aku akan terbiasa. Ketika rindu diberi kesempatan untuk berucap, namun tak untuk terdengar. Maka terucap saja cukuplah.
Teruntuk pemilik rindu, ketahuilah maafku ingin mengunjungimu. Berkata bahwa aku membiarkanmu sendiri tanpaku. Terbiasa tanpaku. Tanpa tawa bahkan canda yang pernah membuatmu candu.

Diujung 3 menit menuju jenjang waktu kita. Semoga kau menyambut baik maafku dalam surat yang akan ku letakkan tepat dalam keningmu. Agar aku adalah maaf bagi kenangmu.

Terimakasih telah datang begitu manis menawarkan terang dalam gelap yang paling sunyi.

I love you.

Tidak ada komentar: