Sabtu, 26 Desember 2015

Mari kita berharap hal-hal baik

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*




Aku tak tahu kapan tepatnya kau jatuh cinta denganku. Yang ku tahu ialah tahun lalu.

Tahun lalu, jatuh cinta ialah hadiah terbesar yang telah merubah sebagian besar hidupku, telah datang seseorang yang meyelamatkanku dari rasa takut akan kesepian ketika sendiri. Seseorang yang selalu mengusahakan bagaimana aku bisa tertawa setiap harinya. Walaupun tak menutup kemungkinan ia pun pernah melukai, tapi ia selalu bergerak ke arah yang lebih baik, memperbaiki kesalahan hingga ia tak lagi terlihat.
Hanya saja, aku dan dia bukan lagi remaja kemarin sore yang hanya akan sibuk membicarakan cinta. Aku rasa, keseriusan memulai merubah isi kepala dan hati untuk berlaku lebih dari sebelumnya. Cinta akan selalu kita butuhkan hanya saja, kita tak perlu perjalanan jauh untuk mencari hal berkesan dari diri masing-masing. Ia bahkan tak sadar, kita tak lagi mengenakan baju yang sama disaat kita bertemu. Aku tak lagi harus menganti berkali-kali pakaian hanya untuk bertemu dengannya, aku tak perlu lagi makan dengan wajah merah merona, tak perlu lagi ada yang kurahasiakan darinya. Semua tak lagi sama, semua berubah seiring waktu, hanya saja debarku masih sama. Masih paling juara degupnya. Namun selain itu, hampir segalanya berubah menjadi lebih baik, dari cinta yang hanya seluas samudra, tapi  kini jumlahnya sesemesta. Karena pertambahan jumlah sebanyak itu, aku seringkali dihantui rasa takut, takut akan kehilangan seseorang yang menyenangkan sepertinya.   
Maka, ada harapan dari dalam diriku untuknya, aku ingin menjadi lebih baik baginya, lebih menyenangkan dan tak membuatnya marah berkali-kali karena sifatku yang baginya terlalu egois. Dengan beribu ingin aku bisa kelak memperlihatkan bahwa aku pantas mendampingi dirinya, menunjukkan pada ibunya bahwa aku perempuan yang akan menjaga anaknya walau tak sebaik beliau. Aku ingin menjadi perempuan yang bisa diandalkan, yang bisa meyakinkannya, bahwa masa depan kelak akan baik-baik saja jika ia denganku lalu menjadi yang layak untuk dibanggakan di hadapan semua orang. Selalu berkeinginan menjadi seseorang yang ajaibnya selalu mengusahakan ada untuknya, menyulap kerutan-kerutan didahinya menjadi lelucon,  yang menyibukkan diri pada keluarga dan dirinya bukan sosial media. Aku berharap banyak pada diriku sendiri, berharap tentang kebaikan agar satu-satunya yang kau tatap hanya aku bukan siapapun terlebih jika itu sebuah masa lalu.
Dengan keadaan yang biasaku sepertinya, aku berpikir betapa sulit baginya mencintai sekaligus membahagiakanku dalam waktu yang bersamaan. Untuknya, aku minta maaf jika aku bahkan belum mampu mengurangi beban di pundaknya. Aku berharap kesibukannya denganku tak menjadi kesibukan tanpa arah.

Mari berharap hal-hal baik untuk kita.




Dimanakah aku mendapatkan kunci dan perkakas lainnya, agar pintu ke masa lalumu ku tutup rapat-rapat, dan kau tak punya celah lagi untuk melihatnya lagi.


Kamis, 26 November 2015

My Crush

Hai, lelaki yang dalam keadaan apapun tetap tampan.
Selamat memperingati 27 yang ke 20.

Tuan?
Dalam keadaan sadar atau tak sadar sekalipun. Dalam keadaan mata terbuka atau tertutup. Dalam keadaan terbaik dan terburukku. Kau yang tak pernah kulupa, yang kuingat, kau adalah sebaik-baiknya lelaki yang memperjuangkan bahagiaku tanpa eluh setelah ayahku.
Entah mengapa, berada di dekatmu menjadi suatu candu  yang paling kusukai. Berada di dekatmu, aku tak harus kesal bila kau yang memotong pembicaraan. Karena kau selalu bersedia menjadi pendengar yang hebat, kau tak pernah mengabaikan tiap kata yang kulontarkan tanpa pikir, kau berusaha memahami apa yang sebenarnya yang tak masuk akal dari kepalaku. Kau tak pernah memintaku berhenti berbicara, mesti suaraku sudah seperti seng tertiup angin. Hanya saja, kau selalu mengingatkanku untuk mengecilkan volume suaraku yang semakin lama semakin mengeras dan melengking.
Walaupun sering  kujawab dengan kata,"Masa sih?". Dan kau hanya mengangguk dan tertawa ketika aku bertanya sambil berbisik di depan mukamu. Lalu akupun berbicara pelan-pelan lalu lama-lama mengeras lagi. Aku keras kepala mungkin seperti katamu. Tapi akupun tak benar-benar mengerti mengapa aku begitu antusias ketika bercerita denganmu tentang apa saja yang sedang kupikirkan. Aku mungkin sudah menemukan tempat penyimpan segala hal yang paling aman di dalam planet ini. Segala cerita dan khayal-khayalku, kau mampu menghafalnya dengan cepat. Dan hal yang menyenangkan pula setiap kali khayal-khayalku kau selalu mengaminkannya dengan wajah serius. Walaupun aku sedang bercanda denganmu.

Apakah kau tahu? Jika kau adalah lelaki yang pandai menilai sebaik-baiknya dan seburuk-buruknya diriku. Kau tak pernah mencela alih alih memakiku hingga menangis. Dan setelah lama aku sadari, kaupun adalah lelaki yang telah memahamiku keadaanku, apalagi seburuk-buruknya wajahku ketika menangis tapi kau masih bisa melihat kemolekan lain dari diriku. Bahkan saat siklus kewanitaanku datang, kau sudah menyiapkan hati yang begitu tabah untuk kumarahi.

Selain menjadi seseorang tabah, kaupun seseorang yang penuh dengan tekad. Apa yang kau inginkan, maka kau selalu berusaha mengubahnya jadi kenyataan. Lalu bagaimana mungkin aku bisa meragukanmu, jika dari sekarang kau begitu tangguh memperjuangkan sesuatu, melekaskan mimpi jadi hidup ketika terjaga. Aku percaya jika semesta terus merestui langkah kita, aku akan lebih bahagia dari hari ini dan hari esok bersamamu. Terimakasih Tuan selama ini kau telah memperlakukanku dengan manis.

Tuan? Kau ialah kekasih yang keistimewaannya tiada tara yang membuatku sendiri berdecak kagum ketika diam-diam memandangmu. Tetaplah seperti ini, menjadi lelaki yang tak punya kepulangan selain aku. Menjadi lelaki yang selalu kusyukuri kedatangannya.

Aku jatuh cinta tak sengaja kepada lelaki  yang tekadnya seperti baja, yang matanya serupa kejora lalu dadanya berisi senja.

Aku menyayangimu. Sayangi aku lagi lebih lama dari selamanya. :*

Selasa, 17 November 2015

Belum ada judul

Mesti ku tahu ketika hatimu tak mencintaiku tepat waktu. Aku hanya bisa berkata, "Tak apa, langit mendung yang lalu kau tutupi agar aku tak kehujanan".

Dua puluh tujuh maret dua ribu empat belas lalu. Kau beranikan diri, mengajakku melepas kesendirian, berdamai dengan sepi, lalu berteman dengan hiruk pikuk debar.

Kau datang tiba-tiba, tak pernah ku sapa. Kau duduk di hadapanku, bersila memintaku menjawab pertanyaanmu. Yang kutahu saat itu, aku tersipu malu karena aku telah dulu jatuh cinta sebelum hari aku duduk di hadapanmu. Aku tak  pernah berpikir atau bertanya sejauh mana kau jatuh dalam pesonaku sebelum hari itu. Hingga kau memintaku menjadi kekasihmu. Seharusnya aku bertanya, apa yang kau tentangku, jatuh cintakah kau padaku saat itu?

Iya, seharusnya aku bertanya lebih dulu adakah bayang masa lalumu yang mengantarmu kemari yang menyerupaiku? Aku bertanya agar aku tak menelan pahitnya sekarang, saat keseriusanku sudah memuncak hingga atas kepalamu.

Ku pikir hari itu, aku telah memenjarakanmu dalam kemutlakkan bahagiaku. Yang terpikir olehku tawamu adalah sesungguhnya lahir dari langit-langit kota yang semesta lukis oleh kata iya-ku.

Hari itu adalah hari dimana senyum tak henti-henti. Logikaku ambruk, kakiku melayang tak lagi bergravitisi, aku merasa seluruh penat kepalaku sudah meroket ke pluto.

Hingga kembali lagi menemukan landasannya, di kepalaku. Aku salah satu penyempurna harimu. Salah satu pemeran perempuan manis saat itu.
Kau bersamaku tapi tak bersamaku.

Langitku tunai menghapus mendung, tawaku lepas landas hingga langit tanpa terik hanya teduh.

Aku menyayangimu, lalu cintai aku sepenuhnya.

Jumat, 23 Oktober 2015

Kamu, lagi.

Untuk kekasih 27maret-ku.

Pernahkah kau menyangka jika aku seringkali mencuri pandang kearahmu ketika kau sedang sibuk memperhatikan apa yang ada yang dihadapanmu? Mungkin tidak atau mungkin saja iya, karena pernah sebelumnya aku mendengar jika sebenarnya setiap orang punya naluri untuk mengetahui atau merasakan keberadaan seseorang yang sedang memperhatikan kita tanpa kita melihatnya.
Tak apa jika memang kau menyadari bahwa kau sering kuperhatikan. Aku takkan akan mati-matian mengelak hanya untuk menjaga predikat bahwa perempuan itu harga dirinya tinggi. Untuk apa mengelak jika jelas-jelas rasanya aku tak begitu pandai berbohong walaupun hidungku tidak pesek. Aku justru akan mengakuinya dan kau bisa saja besar kepala karena mendengarkan alasannya. Entah mengapa aku selalu merasa gemas sekali setiap menatap wajahmu walau hanya dua detik atau tiga detik saja lalu kupalingkan lagi wajahku. Aku merekam tiap wajahmu yang begitu serius memperhatikan, bibirmu yang mengatup tipis memaksaku berpaling tak cukup sekali. Seandainya kau tahu betapa menyenangkannya menatap wajahmu yang pelan-pelan mulai terlihat ada raut kedewasaan yang terpancar. Ada kenyamanan yang tak perlu menghadirkan pelukan. Ada debar yang mendewakan sosokmu lalu menghambakan aku. Dan tiap ketidaksengajaan menatapmu diam diam dan berpapasan dengan kau menoleh kearahku lalu kau berkedip, seketika ada syukur yang memenuhi ruang lapang di dadaku. Ada rasa manisnya yang tak bisaku bagikan kepada yang lain dari sedetik tatap yang kau sunguhkan. Saat itupula, hatiku nyeletuk pelan. Aku perempuan yang beruntung, dikasihi begitu lembut.

Lepas dari sosokmu yang menjadi sorotan menarik bagi kedua bola mataku.
Aku ingin mengingatkanmu lagi, jika kau adalah lelaki yang kucintai hidupnya, cara berpikirnya, cara memperlakukanku, cara mengajariku, cara bagaimana memarahiku, cara memberiku kejutan, cara menenangkan amarahku, kesedihan baik kekhawatiranku, caramu membuatku percaya dan hal-hal baik yang kau tanamkan di kepala.
Lalu mengapa aku selalu menulis tentangmu? Karena kelak, atau kapanpun ketika begitu banyak jarak yang melelahkan untuk dilalui. Aku bisa saja melupakan betapa aku pernah dicintai dengan begitu hebat. Oleh karena itu, aku ingin selalu mengingatmu dalam sebaik-baiknya ingatan. Aku tak ingin lupa tentangmu, karena seburuk-buruknya kenangan ialah sebaik-baiknya bersamaku. Maka kuabadikan kau dalam sejujur-jujurnya dan setulus-tulusnya perkataan dalam tulisan ini. Bahwa cintaku benar adanya. Untukmu. Dan semoga kau tak lelah membaca tentangmu lagi.
Tetaplah cintai aku seperti ini, lebih lama dari kata orang yang menunggu, lebih ajaib dari para pesulap, lebih jujur dari pinokio dan lebih setia dari ayahku. Bisa?

Selasa, 20 Oktober 2015

Berterimakasihlah.

Berbanggalah kamu, kamu yang memiliki orang-orang yang begitu pandai menghibur.

Entah bagaimana menjabarkan kebahagiaan-kebahagian yang ditiupkan dari kepala hingga turun ke dalam dada. Tak cukup hanya dengan kata lega untuk sebuah beban yang gugur satu persatu ketika kita tertawa. Pernahkah kau berpikir, jika sesungguhnya kita selalu kebingungan untuk menglambangkan rasa bahagia yang menggebu-gebu?
Saya terutamanya, saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskan seperti apa rasanya. Jika hanya berkata isi kepala saya jauh lebih ringan, tak ada lagi migran, tak ada lagi denyut-denyut kesakitan, atau perihal dada yang jauh lebih lapang, tak ada luka atau dada ini seperti dihadiahi hati yang baru, ah bagi saya ini takkan pernah cukup untuk mengatakan saya sedang bahagia.

Dan jika ada kata yang lebih tinggi dari kata euforia, maka saya sedang berada ditahap itu. Ditahap dimana saya tidak ingin bergerak, berharap Bumi hanya bisa berputar mengulangi cerita-cerita manis seperti ini. Atau jika memang tidak bisa, saya berharap bisa melompati tiap ranjau yang dipasang waktu. Karena jika ada kesalahan menginjak, kita tahu seberapa terlukanya kita hingga menjerit-jerit sendiri. Seseorang sungguh pandai menunjukkan seberapa banyak lukanya, menuliskan betapa sadisnya oranglain terhadapnya, pandai mencaci maki siapapun, mulutnya ramai bercerita dukanya, bahkan sangat hebat mengagung-agungkan teriakan-teriakan seolah ia paling sensara. Dan setiap orang tak pernah kehabisan kata-kata, mengubah duka menjadi kalimat cantik yang tak berkesudahan.
Sedangkan..
Saya selalu kagum kepada penyair yang selalu bisa menuliskan keromantisan yang didalamnya dimuat bahagia-bahagia sederhana yang berhasil membuat dada berdebar tanpa aba-aba. Dari itu, sayapun belajar, bahwa menulis tentang kesakitan selalu lebih mudah daripada menulis tentang yang hal-hal menyenangkan. Padahal seharusnya, jika kita bisa berpikir setiap menulis kesedihan sesungguhnya kita sedang mengeluh. Sedangkan ketika suka cita mengusai diri kita, kita kehabisan kata-kata bagaimana mengubahnya menjadi kata terimakasih. Walau hanya dengan kata sederhana seperti itu jika kita mengucapkannya kepada seseorang dengan senang, saya pikir akan ada kepuasaan sendiri dalam diri seseorang yang telah membuatmu jungkir balik merasa tawa. Karena sesungguhnya tak mudah membuat oranglain bahagia atas apa yang kita lakukan. Dan tak semua orang berniat melihat dan mendengar kita tertawa. Orang-orang yang sanggup membuatmu  amnesia berhari-hari akan kesepian. Kau beruntung memilikinya. Entah saya yang terlambat memikirkannya atau memang saya tidak pernah sempat memikirkan hal seperti ini.
Sekali lagi perihal kebahagian. Kita berkali-kali merasakan bahagia bahkan teramat sering, tapi tak jarang kita melupakan segala hal-hal yang membuat kita berhujan tawa, hanya karna satu detik kita tak mampu menahan ego. Maka lenyaplah deretan kisah manis yang dibawa oleh pergantian musim kemarau. Merasa luka paling lama mendatanginya. Entah hubungannya dimana. Entah. Yang pasti, berbahagialah selagi kau mampu melompati masa tersulitmu. Menangislah jika memang kau terkena cipratan duka. Namun yang perlu kau ingat, atas apa yang kau rasakan abadikanlah kebahagiaanmu lebih banyak daripada rasa sedih. Dengan selalu bersyukur.
Dan sekali lagi saya ulangi tak semua orang berniat melihat dan mendengar kita tertawa. Karena orang orang yang selalu berbahagia ketika kau bahagia jumlahnya sedikit dari yang kita kira.  Maka berbangga dirilah memilikinya. Hadiahkan ia terimakasih dan selalu doakan agar mereka selalu seperti itu.

Ps: Untuk lelakiku, sebagai perempuan yang telah kau cintai dan perjuangkan bahagianya. Terimakasih atas bahagia yang tak bisa kujabarkan lebih dari ini. Terimakasih telah menjadi seseorang yang bahagia ketika aku bahagia. Terimakasih atas usaha untuk selalu menjauhkanku dari bom atom yang siap meledak karena luka atau cemburu.
Aku menyayangi lebih dari ketidaktahuanmu.

I'am so happy..

Minggu, 18 Oktober 2015

Stronomical Twilight

Stronomical Twilight

Waktuku tiba, apa ada yang mendatangiku selain azan?
Diambang gelap dan terang. Hanya dilambangi menyeruaknya cahaya putih. Apa cantiknya?
Sedangkan pagi sudah sombong dengan keramaian lalu lalang jalanan.
Siang? Begitu tangguh dengan teriknya. Menginjak-injak kepalamu, tak ada yang mampu mentandanginya.
Kau tahu sore. Yang selalu menghadiahkan senja, yang dibanggakan para perindu, yang diagung-agungkan sejagad pesonanya.
Malam lagi, ia selalu punya kerlap kerlip suci yang romantis, yang mengedip tiap saat. Tempat kepulangan mata-mata yang ingin pejam.
Tapi apa yang kupunya?
Aku hanya apa-apa yang disisakan malam.
Sebelum matahari tergelincir,
Dan aku terselip diwaktunya.

Tapi, para malaikat berkata ;
Kau tak usah cemas. Kami semua menyaksikanmu lahir.
Dan katanya..
Aku, dianugrahi dua sujud yang didalamnya lebih baik dari dunia dan seisinya.

Mataram, 19 Oktober 2015

Para Pencinta Kekasih Orang Dan Baper Sekalian.

Untuk Para Pencinta Kekasih Orang dan Para Baper Sekalian..

Saya minta maaf jika ada penulisan kata.

Saya beberapa kali membaca tulisan tentang seseorang yang berharap untuk memiliki sesuatu yang telah dimiliki orang lain. Awalnya biasa saja tapi lama kelamaan saya mulai berpikir, siapapun yang memiliki pasangan, kemungkinan besar akan ada yang menyukai pasangan kita tanpa kita sadari. Dan orang-orang yang menyukai pasangan kita ialah  orang yang kadang  katanya mendoakan kita diam diam. Sedangkan kita yang sedang menjalin hubungan sama sekali tak melihat apa yang mereka lakukan untuk kita, alih alih untuk mendengar apa yang mereka panjatkan untuk kita, kita sesungguhnya tak punya waktu karena kita sedang sibuk bahagia walau tak terpungkiri kita terkadang terluka. Tapi jangan khawatir, kita tak pernah saling membenci, apalagi untuk saling melepaskan. Lepas dari orang orang yang mendoakan kita, ingatlah bahwa kekasih kitapun mengharapkan kita, mendoakan kita lebih lama walaupun tak perlu dijadikan quote-quote andalan dimedsos, kekasih kita mencintai kita dan kitapun mencintainya. Bukankah itu cukup membuktikan bahwa kalian seharusnya berhenti berdoa agar kalian bisa memiliki kita. Maka itulah alasan kita, mengapa kita lupa, tidak peduli, bahkan tak melihat siapa yang menyukai kita selain kekasih kita sendiri. Jadi jangan salahkan kita, kita semata-mata tak bermaksud jahat, hanya saja kita tak punya waktu untuk meladeni hal seperti itu.
Maka yang saya sarankan, agar kalian berhentilah berharap pada kepada orang yang tak menginginkan kalian. Kalian hanya membuang waktu, mempersulit langkah kalian, dan patah hati sendiri sebab kewalahan melihat orang lain bahagia. Kalian hanya perlu berhenti menjadikan orang pelarian, karena sebaik-baiknya penawar luka ialah jatuh hati. Jatuh hatilah agar hati kalian tak kotor karena terlalu lama menyimpan benci karena melihat orang lain tak menghiraukan kalian.

Walaupun begitu, saya mewakili pasangan yang saling mencintai kami berterimakasih sebanyak-banyaknya, jika kalian para pencinta kekasih orang mendoakan kebaikan kami. Dan semoga kalian lekas bahagia, agar tahu bagaimana rasanya sibuk membahagiakan dan dibahagiakan. Sekian untuk kalian..

Dan untuk para baper sekalian.. Baper yang saya ingin ulas di sini bukanlah baper yang sedikit-dikit kesal karena dinasehatin, marah-marah karena dicuekin, pokoknya sejenis itulah bukan yang saya akan bahas. Disini bapernya tentang hubungan muda mudilah.
Jadi menurut saya, kalian  yang baper sesungguhnya adalah pelupa akut. Ini berdasarkan kisah-kisah yang terjadi disekitar ruang lingkup saya sendiri. Melihat berbagai kejadian, yang selalu mengatasnamakan baper. Entah ini sebuah kesalahan semata atau sesungguhnya yang kalian yang baper ini bukanlah kesalahan. Kalau diulas kembali, baper ini muncul dari kebiasaan bersama. Kebiasaan bersama yang mengembang biakkan perhatian-perhatian kecil yang membuat penerima perhatian menjadi ketergantungan sehingga perasaan yang seharusnya tidak pernah ada muncul seketika itu menjelma menjadi kata baper yang sering kalian sebutkan. Orang-orang terlalu meninggi-ninggikan perasaannya, lupa kalau logika sangat penting untuk melegakan sesak-sesak yang tak diduga-duga datangnya.

Seperti yang saya sebutkan tadi, kebiasaan-perhatian-ketergantuan-baper. Siklus yang yang sedang marak dirasakan oleh manusia-manusia abad kekinian. Pertama, ini mungkin bukanlah sebuah kesalahan jika baper ini dirasakan oleh pihak pihak yang seharusnya seperti kalian yang belum punya pasangan, baper dengan yang belum punya pasangan juga. Syah-syah saja kan? Karena tak ada yang harus tersakiti. Tapi lain halnya jika kedua anak manusia yang mulai merasa nyaman kepada yang bukan pasangannya karena terlalu sering bersama. Maka baper adalah sebuah kesalahan yang fatal! Sekali lagi saya kata FATAL! Mengapa? Haruskah kalian bertanya? Bukankah sudah kukatakan dari awal, bahwa kalian adalah pelupa akut? Lupa bahwa ada hati yang harusnya tidak terluka menjadi terluka. Apa kalian ingin mengatakan ini bukan kesengajaan? Ah bagaimana bisa, kalian membiasakan diri untuk diberi perhatian padahal seharusnya kalian bisa menghindarinya sebelum kalian katakan terlalu nyaman.
Maka berhentilah baper kepada siapapun yang bukan kekasih kalian jika kalian ingin kekasih kalianpun tidak melakukan hal seperti itu pula kepada yang lain. Mulai dari komunikasi dengan kekasih kalian sering-sering, mulai bergantung dengannya, karena jika tidak, ia akan merasa kau sedang tak membutuhkannya, manja-manjaanlah dengan pasanganmu, lalu hindari percakapan manis atau bualan bualan yang mencoba merasuk ke kalbu dari seseorang yang coba mendekati kalian.
Atau jika memang sudah terjebak dalam baper ini, kau sudah kebingungan antara yang mana kekasih atau yang bukan kekasih sebenarnya. Maka, cobalah merenung. Jika apa yang kau lakukan adalah kesalahan. Cobalah untuk mengambil air wudhu *eh maksudnya mengurangi kadar pembicaraan, atau takaran bercanda berdua, bangun komunikasi yang banyak dengan pasanganmu, dan banyak-banyak berdoa agar tidak tergoda lagi, ucapan-ucapan manis buatan. Lakukan hal-hal yang menyibukanmu, cobalah melakukan hal sendiri jika tak ada pasanganmu. Jangan meminta bantuan ke lawan jenismu itu. Tapi jika baper yang kamu rasakan itu benar adanya, maka tolonglah hentikan hubunganmu dengan pasanganmu. Diperhatikan oleh banyak orang memang menyenangkan tapi tidak untuk orang berharap kau cukup akan dirinya.

Bu'de makan durian
Oke, sekian kawan.

Rabu, 30 September 2015

Aku, Sekarat.

Kepadamu, lelaki(ku)..

Entah bagaimana ku awali percakapan kita di sini. Harus dari mana kemana aku masih memikirkannya, aku menulis, menulis dan menulis saja hingga aku lupa bahwa akhir akhir ini hariku sedang kacau kacaunya. Karena menulis salah satu cara melupakan ataupun mengingat apa yang inginkan. Lalu mengapa ini tulisan tertuju untukmu, hanya karena agar kau tahu bahwa aku sedang membutuhkanmu. Sangat.
Entah sudah berapa hari aku seringkali terbangun dari tidurku, bahkan jika sudah terbangun, aku sulit menemukan kantukku kembali. Aku kewalahan sendiri, hingga lelah datang bertubi tubi menyerang tubuhku. Dan ternyata kebiasaan buruk yang terjadi belakangan ini, mulai mengganggu selera makanku pula, aku enggan menyentuh makanan apapun sekalipun sedang lapar laparnya. Entah bagaimana aku memperlihatkan diriku diharapanmu. Mungkin begitu menyedihkan atau bahkan yang terlihat begitu menyebalkan karna tampak begitu angkuh dengan diam.
Seluruh tubuhku babak belur, lebam dimana mana, hingga bagian terdalam yang paling peka untuk merasakan sudah koyak lebih dulu.
Aku ingat hari itu, hari pertama kali kita bertemu setelah beberapa hari tak bertemu. Sebelum kita sempat bertemu , malamnya aku berpikir aku sedang tidak cantik cantiknya untuk menemuinya, hanya karena wajahku sedang di huni jerawat besar. Namun dibalik itu jantungku rasanya ingin keluar lalu berlari morat marit ke arahmu saking aku terlalu riang. Sungguh, dalam bayanganku pun hari itu, akan menjadi hari pembebasan bagi rindu rinduku. Ternyata tidak, jauh dari dugaan. Pertemuan yang merusak hari kita. Hingga ke hari hari lainnya, ini adalah masa terlama kita sama sama terdiam. Sungguh ini teramat lama untuk merasakan memikul rindu sendiri, sedangkan seluruh tubuhku sudah mengaduh letih tak ketulungan. Dan saat bertemu denganmu lagi, aku tersengal sengal menahan tangis dikeramaian, hingga berkali kali aku menggigit bibir ku sendiri. Ah kau tahu sendiri, aku begitu mudah menangis. Karena melihatmu hari itu, aku se-ma-kin rindu namun kau tak menginginkanku. Dadaku sakit luar biasa.
Iya. Aku. Sudah. Sendiri. Kesepian. Bahkan. Saat. Tidak. Sendiri.
Aku bahkan bertanya bagaimana rasanya tidak adanya aku. Takkah kau khawatir atau sebaliknya harimu baik baik saja tanpaku. Apa menyenangkan sekali rasanya?
Ah mengapa terlalu banyak tanya disini. Aku terlalu rumit untuk dimengerti orang lain, hingga bahkan kerumitanku sendiri, pelan pelan sedang menyayat dadamu. Aku menyakitimu, namun kau masih bisa mentolerir kejahatanku, kau terlalu baik bahkan terlalu tabah bagi seseorang lelaki. Lalu mungkin karena teramat sering aku melukai, kau akhirnya menampar pipiku dengan kata "aku menyerah" kau bilang. Luruhlah segenap keegoisan yang ku ancungkan tingginya hingga langit. Aku menyesal membuatmu menjadi kuli manjaku selama ini, menyulitkan langkahmu, menyita seluruh waktu yang kau punya untuk hal hal yang bisa membuatmu jauh bahagia sebenarnya.
Untuk itu, aku selalu sempatkan diri, mengirimkan doa baik  ketika sujud untukmu dan berharap dapat menebus beberapa lapis langit sebagai tempat pengharapan. Tentu, aku memintamu kepada Tuhan, walau dengan paksaan hingga merengek sendiri.
Iya begitulah aku, akhir akhir ini yang sedang (tak) baik baik saja.
Dan kini, aku sudah tak tahu lagi bagaimana berbuat sadis dengan sepi, mencekik atau membunuhnyapun aku sudah tak punya kuasa. Aku sudah dijatuhi hukuman dengan dibentangkannya jarak yang tak berkesudahan. Aku dipenjara hingga sekarat, sedangkan aku tak diberi waktu jenguk dan aku hanya diberi makan beberapa suap rindu. Walau hanya beberapa suap. Sungguh sudah mual rasanya karena kekenyangan. Aku benar benar sekarat.
Tak inginkah kau bebaskan aku dari sini? Sebelum sempat aku mati kedinginan, karena aku kehilangan genggam penghilang gigilku.

*Aku merasa lega setelah ini, walau tak pernah benar benar melegakan tanpa dihadiahi suara tawamu. Aku tetap rindu sampai kapanpun, hingga kau sudah cukup membentangkan jarak. Rinduku tak pernah usai, sampai kau tahu ia akan usai saat waktu tak sempat menjahati kita dengan perpisahan.

Menjelang subuh, saat rindu membangunkan lelapku dalam keadaan tidak baik baik saja.

Minggu, 27 September 2015

Bukan untuk siapa-siapa.


Bahagiakan dia, meski ia tak sedang bersamaku. Walau kadang aku harus cemburu menunggu.
Bahagiakan dia, meski tak ku bahagiakan.
Walau panas sekali rasanya dadaku.

Bahagiakan dia, meski nestapa menghujatnya.
Walau sekalipun mendung di dadanya.
Bahagiakan dia, meski aku tak menghiburnya.
Walau terkadang aku rindu menghadiahkannya dekap.
Bahagiakan dia, meski ia tak memperdulikannya.
Walau sekalipun aku sudah mencoba membahagiakannya.

Temani dia, bahkan sekalipun ia tak merasa sepi.
Temani dia, dari pagi hingga malam, hingga paginya lagi.
Temani dia, hingga ia lupa bahwa arti kesendirian pernah ada dalam dirinya.
Temani dia, karena kehadiranku tak cukup menemaninya.

Lindungi dia, dari rasa nyeri karena kecewa.
Lindungi dia, dari racun yang mungkin tak menemukan penawarnya.
Lindungi dia, dari panas dinginnya semesta.
Lindungi dia, dari para penjahat dan dari aku yang pencemburu.

Tuhan, buat aku lupa bagaimana rasanya cemburu.
Buat aku lupa bagaimana rasanya di abaikan.
Buat aku lupa bagaimana rasanya tak dibutuhkan.
Sungguh Tuhan, kali ini saja.

Tuhan, surat kali ini masih tentang seseorang yang ku sayangi. Tentang seseorang yang ada  dalam semogaku, semoga yang ku layangkan ke langit agar sampai ke hadapanmu, dengan bertinta air mata lalu berkertaskan nafasku.
Namun Engkaulah pemilik rencana, rencana-rencana terbaik hanya kau yang ketahui. Termasuk rencana pertemuanku dengannya, kau memperkenalku dengan rentetan cerita manis di dalamnya. Atas segala rencanaMu, Tuhan. Aku meminta agar tak ada perpisahan didalamnya.

Aku mencintai seseorang yang kerdil di hadapanMu, jatuh cintakupun atas izinMu. Maka izinkan kami, menyatu. Seiramakan degub jantung kami, selipkan namaku tepat di dadanya. Aku meminta izinMu jika ia berkenan pula meminta aku dariMu.
Terimakasih, Tuhan. Aku mencintaimu.

Minggu, 13 September 2015

Hi, Sayang

Kau boleh mengataiku seperti apapun atau menyebutku dengan apapun, sesuka hatimu.
Tentu boleh saja, sayang. Sungguh tak ada batasnya untukmu. Menyakiti atau membahagiakanku, itu pilihanmu.

Dan kini, ketika aku mulai menyapamu lagi disini. Ada banyak hal yang ingin ku katakan atau mungkin kutanyakan (tanpa) mengharapkan jawaban.
Sayang, seperti yang kau bilang dan nyatanya kulihat sendiri, kau bukan lelaki biasa. Kau termasuk ke jejeran orang yang terkenal walaupun kau sama sekali bukan jelmaan para artis. Hampir kemanapun kau pergi, kau temui seseorang yang mengenalmu. Dan tak heran kalau kau selalu menjadi sorotan. Apa yang kau ucapkan dalam media sosialmu, isinya selalu diperpincangkan. Ada satu kalimat yang kau ucapkan dan membuat mereka mengingatkanmu hingga kini yaitu,"Perempuanku yang Hilang". Akupun hingga saat ini, tak mengetahui filosopi dari kutipan tersebut. Hanya satu yang kutahu katamu, kata-kata itu lahir ketika kau masih dibangku sekolah menengah pertama. Selebihnya aku tak tahu.
Lalu saat ini, tiba-tiba pertanyaanku dengan pertanyaan mereka sama. Perempuan mana? Siapa? Akukah? Atau memang sama sekali belum ditemukan sehingga kau nyatakan ia hilang. Sekali lagi, aku (tak) perlu jawaban, penasaranku mungkin sampai sini, dan lagi lagi selebihnya aku (tak) mau tahu.
Sayang, ku dengar kesehatanmu kurang baik. Sekarang kepalamu sering sekali mengganggu, ketika kau hendak bangun dari duduk atau tidurmu. Entah kau sedang kelelahan, kekurangan cairan atau sebenarnya kau kekurangan darah. Entahlah itu gejala apa, aku tak tahu, karna aku gagal menjadi doktermu. Tapi setidaknya aku ingin merawatmu atau menuruti segala keinginanmu saat ini, sungguh. (Kukatakan sungguh, karena aku berharap kau tak sedang berpikir bahwa ini hanya harapan palsu yang kuucap). Maka beristirahatlah dengan baik, biar doa-doaku di sini berterbangan kesana, merawatmu dengan manja.
Sayang? Apakah kau masih di sana menjadi pembaca setiaku? Aku lupa bertanya bagaimana kabar hatimu sejak dulu. Aku lupa bertanya apakah aku tulang rusukmu yang hilang. Jika memang benar, sekarang seharusnya kau jauh lebih baik selama bersamaku. Sebab jika aku ini tulang rusukmu, kau akan bernafas jauh lebih lega, dari sebelum kau temukan aku, organ dalam tubuhmupun terjaga dengan baik dan kuat. Itu semua karena tulang rusukmu menjadi lengkap dan yang paling penting aku pas untuk melengkapi satu kerangka yang hilang itu. Karena kalau tidak, kau akan merasakan kesakitan yang luar biasa di dadamu, sebab kau atau aku sedang memaksakan hal yang tidak seharusnya disatukan. Dan aku berharap dadamu sekarang jauh lebih lapang dari yang dulu, karena kau telah temukan satu bagian tawamu yang sempat hilang.
Sayang? Kali ini pula aku meminta maaf padamu. Atas cinta yang belum bisa kuberikan sebanyak kau berikan. Saat aku yang masih berusaha membangun menara pasir untukmu, kau telah lebih dulu membangun istana dipuncak gunung sana. Dan saat aku masih sibuk membenarkan riasanku, kau telah lebih dulu menebarkan karpet merah untukku. Hal hal yang belum sempat ku minta padamu, kau sudah tahu dengan bertekuk lutut dihadapanku menawarkannya. Entah bagaimana aku selalu kalah dalam hal mencintai dari kamu. Berkali kali mencoba untuk menjadi lebih baik darimu, kau selalu teramat cerdik mendahuluiku.
Sayang? Maafkan perempuanmu. Perempuanmu ini sudah banyak merasakan sensasi bahagia, sedangkan yang kau dapatkan hanya separuh dari kau beri. Sungguh tidak setimpal bagimu, bukan? Maka dari itu, aku meminta maaf padamu. Walaupun maaf tak menambah banyak apa yang bisaku beri, tapi setidaknya aku tidak acuh pada semua yang kau lakukan untukku.
Sayang, aku tak memintamu untuk mengajariku bagaimana agar secerdik kamu, bagaimana agar semua seimbang, bagaimana cara mengistimewakanmu, aku tak meminta itu sayang. Aku hanya ingin kau lebih tabah, lebih kuat, dan tak makan hati bersamaku. Memang tak mudah apa yang ku minta dengan apa yang harus kau hadapi, perempuan yang masih kekanak-kanakan sepertiku. Tapi sayang, aku (bukan) perempuan penipu, yang memintamu bertahan namun tak ada yang bisa ku lakukan. Aku (bukan) penipu yang berbohong padamu berkali - kali. Kau bebas percaya atau tidak, itu pilihan.
Sayang? Maukah kau bersabar sebentar lagi? Menunggu namun tetap menemaniku memperbaiki diri hingga pantas bersanding denganmu? Hal hal buruk yang ada padakupun, berharap menjadi baik didekatmu, berkatmu.
Sayang, cubit pipiku saja bila aku tak melihat matamu saat kau bicara, silakan asal jangan bunuh aku dengan cintamu 😁.
Sayang? Masih banyak lagi yang harus ku katakan, hanya saja kali ini aku harus memotongnya sampai di sini. Pertama, karena kau harus istirahat membaca, kedua karena kau harus melakukan banyak hal. Ketiga karena kau harus banyak banyak banyak istirahat.
Dariku, perempuanmu..
Yang mencintaimu, selalu.

Jumat, 26 Juni 2015

Dua Dunia


Mungkin dunia sudah berbagi menjadi dua. Dunia mimpi dan dunia nyata. Aku berotasi dalam keduanya, namun ketika aku dalam dunia mimpi beberapa menit ternyata aku sudah menghabiskan waktu berjam jam di dunia nyata. Walaupun begitu dunia mimpi selalu menjadi tempat yang memiliki panorama menarik untuk dikunjungi, tempat yang tak ada disimpannya pribahasa "bagai pungguk merindukan bulan". Aku bisa kapanpun mengunjungi bulan, terlelap di sana saat sedang cantik-cantinya menyabit. Bermimpi, kau nikahi kesepianku dan segala kalut yang melelahkan serta menikahi segala lebih dan kurangku. Lalu membangun rumah di Saturnus, dengan halaman rumah yang luas, dengan rumput terbuat dari kapas. Dan atap rumah kita penuh dengan hujan bintang kecil. Kemudian tiap malam aku sembunyi dalam pelukmu sembari kau usap lembut pipiku dan paginya ku dapati wajah lelapmu yang lebih menawan dari kata menawan. Dan yang menariknya lagi kau tak perlu bekerja kecuali mencintaiku seumur hidup. Begitupun aku tak perlu bekerja, cukup memasak masakan kesukaanmu, lalu memberikanmu si kembar mungil untuk menggenapkan kebahagiaan kita. Aku bebas bermimpi bukan.
Dalam dunia ini, masa depan bukan lagi untuk diterka-terka. Tapi masa depan yang kita bangun adalah jawaban pasti.
......
Aku sering bermimpi perihal perasaan yang selalu mengadu sama; saling mencintai, saling mencukupkan, saling setia dan tak kehabisan cara untuk saling membahagiakan. Aku berharap bahwa kelak akan selalu seperti ini. Iya tetap seperti ini.
Siapapun tentu boleh saja bermimpi, membangun angan secantik mungkin, berkhayal hingga lupa jika itu terlalu tinggi untuk digapai sendiri.

Setelah bermimpi, harusnya ada yang mengingatkan kita lagi untuk bangun, bahwa mimpi tak terwujud dari uap uap tidur kita buat. Bahwa kenyataan lebih berpengaruh dan lebih lama dihadapi dari sekedar menghabiskan waktu di tempat tidur.
Yang tak kusukai dari dunia nyata, ialah ketidaktahuan. Tentang aku tak tahu siapa yang akan mengimami rakaatku, yang akan ku temui wajahnya di waktu subuh, yang akan memeluk cemasku nanti. Aku tak tahu. Tapi aku selalu bermimpi kamu, berharappun tentang kamu. Dunia nyata terlalu rumit untuk digantungi mimpi. Entah tercegah oleh takdir atau terhambat oleh waktu. Tuhan adalah pemegang penuh atas segalanya. Aku? Bukan siapa-siapa, hanya pelaksana dari kata "jalani saja".

Jalani saja, begitulah kata kata yang sedang marak didendangkan ketika jalanan dipenuhi pertanyaan. Dunia ini teramat banyak tanya, namun jawabannya hanya ada segelintir saja. Namun apa yang sebenarnya harus dipertanyakan? Padahal menjalani hanya butuh memperhatikan aturan jalan yg harusnya kita perhatikan, belok kanan, kiri atau jalan lurus. Tak ada yg tahu jalan didepan seperti apa. Apakah ada jalan buntu, perbaikan jalan atau ada acara keagamaan yang harus membuatku berbalik arah, aku takkan pernah tahu atau kau tak pernah tahu. Kita sama sama tak pernah tahu.
Menjalani saja bukan semata-mata terjebak tanpa arah, tapi aku punya tujuan, bertujuankan kamu. Menemukan kamu di masa depan. Masa yang ku impikan. Dan kini aku terhambat oleh waktu, dijalanan ku temui ketakutanku sendiri atas pertanyaan yang belum bisa ku jawab.. "Apakah aku bisa mengimbangimu, Apakah aku bisa berjalan dengan ketakutanku yang dicerca masa lalumu. Apakah aku akan sepantas denganmu, apa aku bisa memilikimu seutuhnya, akankah perjalanan ini akan berujung kamu? Apakah kau pun berjalan ke arahku?" Lalu..
Aku terhenti, hingga puisimu datang menampar wajahku untuk berjalan.
Akankah kedua duniaku menyatu menyerupai kamu?  Entah.. namun aku berharap.

Dengan peluk yang belum sampai,

Perempuanmu yang manis dari kejauhan :*

Selamat 27 ke 15 semet.

Rabu, 27 Mei 2015

Ily..

Pagi ini pagi yang kesekiannya mendapatkan selamat pagi darinya, lelaki yang mengaku mencintaiku lebih dari cinta yang kumiliki.  Sudah setahun lebih, beratus-ratus hari ia masih lelaki yang sama, pemilik senyum yang ku gilai, tempatnya rinduku pulang disaat sendiri. Pemilik kunci brankas yang berisi berkas rahasia-rahasiaku. Dari dulu ia masih lelaki yang menyenangkan untuk diajak berbicara sedangkan aku adalah pengemar isi ceritanya. Apa yang ia ceritakan tak sampai membuatku jungkir balik untuk memahami isi cerita yang ia katakan tanpa membuatku pusing 7 hingga 8 keliling. Jika pun aku tak mengerti atau terlambat mendengar, ia selalu rela mengulang penjelasannya sekalipun ia sudah gemas melihatku tak mengerti. Dan hal yang hebat dari dia ketika sedang LDR, ia bisa membuat aku tertawa terpingkal-pingkal atau cengengesan sendiri dengan isi chatnya yang penuh guyonan. Adapun hal yang menyenangkan darinya, ketika ia sudah gemas sekali padaku ketika aku seringkali berkata jika begini, jika nanti, bagaimana kalau nanti, ataupun hal hal yang mungkin tak pernah terpikir sama sekali olehnya. Atau sama hal jika aku mempermasalahkam yang belum terjadi, ia hanya menggeleng tersenyum dan mengusap lembut kepalaku, lalu ia berkata, "tak perlu terlalu banyak mengkhawatirkan atau mencemaskan yang belum terjadi". Ya Tuhan, dia menyenangkan bahkan teramat menyenangkan. Dan aku semoga saja aku tak kehabisan kata-kata untuk menyukuri kehadirannya.

Jika saja waktu itu kita tak jatuh cinta, tak diizinkan semesta bersama. Mungkin semua sudah lain ceritanya. Aku mungkin takkan pernah tahu rasanya bagaimana isi kepalaku dipenuhi alien seperti kamu. Setahuku, alien selalu berwajah aneh. Tenyata hipotesaku salah ketika akhirnya mengenalmu. Kamu malah seperti jenis manusia tampan kebocah-bocahan (agak males sih bilang bocah). Karena entah menyebalkan sekali tiap kali menyadarimu mukamu seperti bocah, sedangkan aku? Ah sudah nanti kau besar kepala. Hanya saja aku tertawan bukan semata-mata karena kau berwajah menawan, melainkan aku jatuh cinta dengan isi kepalamu, apalah fisik jika kau akan membungkuk memegang tongkat, beruban dan tak ada tersisa lagi gigi-gigimu kelak. Tapi isi kepalamu tetaplah kamu, entah sepikun apapun nanti takkan mengubah caramu berpikir. Hanya saja kelambanan itu urusan yang tak perlu kita bahas. Asal kau selalu sedia untuk kuingatkan, untuk hal-hal yang mungkin terlewat. Aku bersedia menyediakan apa yang kau ingin aku sediakan. Namun untuk hal sekecil apapun yang sekarang masih jauh di bawah kurang tentangku, tenanglah. Denganmu aku ingin mencoba, denganmu aku ingin lalui dan memperbaiki diri.

Terima kasih, hingga hari ini, tak pernah kau buat kesepianku menjadi-jadi. Tak pernah ku bawa pulang rindu dengan kecewa.  Tak pernah lelah menghadapi tingkahku yang kekanak-kanakan.
Terimakasih sudah bersedia menghiburku hingga duka selalu kehilangan arah, terimakasih karena tak berajak pergi.
Terimakasih untuk tidak membuatku kekurangan perhatian dan tetaplah seperti ini.
....
Hai sayang, aku lupa menyapamu sejak tadi.. Selamat tanggal 27 ke 14. Mungkin, ada hal-hal yang tak pandai kau ucapkan. Perihal kau teramat khawatir jika aku dilanda cemburu dan aku mulai tak percaya padamu, atau kau teramat was-was jika ada lelaki yang tengah mendekatiku. Tapi keahlianmu ialah berdamai dengan hati. Dan kau ajari aku itu, hingga aku tahu berdamai dengan hati selalu menenangkan yang sedang hingar bingar di kepala ataupun hati.
Semoga kita tetap ditenangkan hatinya dari curiga atau cemburu yang tak kita bisa prediksikan kapan ia muncul.

Untung saja, aku tak terlambat lagi jatuh cinta, jika sudah terlambat aku mungkin tak tahu bagaimana menyenangkannya dihadiahi kamu.

Minggu, 26 April 2015

Baper.

Aku mah apa atuh, uda seneng kalo kamu senyumin apalagi dijadiin ibu rumah tangga di masa depan kamu~ eaa~
hae, apa kabar kamu? Hastagah! Uda sekian lama kita tak jumpa. Sekitar 28 jam lalu. Kamu uda kangen gak? Kalo aku sih dikit. Dikit berlebihan maksudnya.
Okay, aku mau nanya dong, kamu lagi apa di sana? Kalo aku sih lagi nganggur aja, nungguin ada yang ngajakin jalan. Jalan ke pelaminan. *eh enggggg.
Okay fokus.
Tadi pagi tuh tiba tiba terperanjat kaget dari tempat tidur. Gimana gak, hati ini ngira tanggal 27 uda berlalu gitu aja, eh ternyata masih satu hati, eh satu hari lagi setelah ngecek kalender. Perasaan yang salah. Kesalahan perasaan. Baper mulu sih. Dasar perempuan cih!
Logikanya di belakangin.
Btw, bicara tentang baper. Orang yang baper kadang kegeeran banget loh, baru aja disiulin sama burung uda salting sampe salto. Uda gitu orangnya jadi sensitif, contohnya yang baru pacaran terus LDR. Chat gak dibalas 3detik, temboknya uda berlubang abis dicakar-cakar. Dan hal yang paling parah dari orang suka baper itu kadang ngerasa diri paling bener dan yang lain itu keliru. Widih..... Kenapa gitu? Pernah ada yang denger orang yang bilang gini gak, "Perasaan aku tuh kayak gini tauk bukan kayak gitu!" Atau "Perasaan aku kamu salah deh" atau "Kamu gak pernah ngertiin perasaan aku". Atau "Dia tuh orangnya gitu, suka ngomongin orang lain" (padahal dia lagi ngomongin orang). Banyak lagi deh yang baper gitu. Coba list apa lagi kalimat orang yang suka baper. Itu PR buat kamu. Aku juga punya PR mau aku kerjain sekarang. Mau tahu ya? Klunya itu; Mudah tapi kadang sulit dan gak selse selse.

Ps : ... banyakin garing haha

Ia.

Untuk lelaki yang keromantisannya tertutupi oleh topeng keacuhannya.
Sederhana tapi ia bagai cahaya rembulan yang diam-diam mendamaikan.
Pernah ketika aku kalah dengan dengan egoku, memukuli diri hingga lebam, mencaci maki dan mengumpat kesalahanku : ia diam diam tersenyum melihat tingkahku, memperbaiki letak rambutku, lalu mengusap lembut pipiku. Ia tak banyak bicara tapi tatapnya berkata, "Tak apa, esok pasti lebih baik".
Sederhana tapi ia serupa tongkat yang tak pernah rapuh menguatkan.
Pernah ketika aku tak percaya diri dengan keadaanku, mungurung diri dari keramaian. Lagi lagi ia tersenyum berbisik, "Kau sudah indah, lantas apa yang kau ingin lebihkan? Mereka saja cemburu".
Sederhana namun seperti bocah kecil yang takut kehilangan sesuatu yang ia sukai.
Pernah ketika aku ingin melangkah sendiri dengan kedua kakiku yang bernanah, ia berlari menyusulku dengan kotak berpita cantik berisi maaf. Ia mengusap kepalaku dan memelukku hingga terisak, "Ku mohon, jangan pernah beranjak lagi".
Sederhana tapi sungguh ia serigala yang siap menerkam.
Pernah ketika aku dihantui penasaran tentangnya, lalu aku menjelajah segala hal yang terkait perihal ia, hingga membuat aku lelah sendiri. Melihatku keletihan ia tak lagi tersenyum, ia tak lagi mengusap kedua pipi dan rambutku, atau alih alih ia akan memelukku. Ia justru memarahiku, "Kau tahu seperti apa aku, aku memang terbiasa seperti itu. Oleh karena itu, aku tak ingin kau mengetahuinya karena aku tahu kau akan menangis hingga Kelelahan. Dari dulu, aku tak ingin ada satupun orang yang mengetahuinya. Siapapun termasuk kau, setiap lelaki memiliki privasinya sendiri".
Sederhana tapi ia adalah kapak yang mematahkan kokohnya keingintahuanku.
Pernah ketika itu, aku tertegun. Sebisa mungkin tersenyum, menelan pahit ucapannya. Dan aku sadar, segala yang manis tak selalu baik untuk kesembuhan. Ia tak berkata apapun.
Sederhana tapi ia laiknya senja yang menawan.
Pernah ketika aku melihatnya tersenyum lalu dalam senyum ia selipkan, "Aku mencintaimu, percayalah".
... ...
Aku menghadapi banyak hal yang tak terduga bersama dia. Aku merasa lebih dari setelah ini dan aku tahu apa yang harus aku lakukan ketika mengingatnya. Walaupun mereka tak jarang mengira-ngira tentang kita. Seperti apa kita ataupun bagaimana kita atau bagaimana ia atau seperti apa aku.
Kita ada sepasang yang berbeda, yang ingin menyatukan kelima indra dalam dua kepala hanya dengan cinta.

Jumat, 17 April 2015

Mimpi

Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*

Untuk lelaki yang ku kagumi hingga kini...
Entah apa yang membuatku menulis lagi di sini setelah sekian lama ku buat berdebu tak berpenghuni. Tapi bukan berarti aku tak sempat menulis tentangmu lagi, tapi memang sengaja ku lakukan untuk membuat kau rindu. Bila aku ingin menulis tentangmu kadang aku menulisnya di suatu tempat, yang mungkin kau tak tahu atau mungkin sudah tahu dimana.
Ku dengar, akhir akhir ini kau sering didatangi mimpi buruk tentangku ya? Apa mungkin kau lupa berdoa sebelum tidur atau bagaimanalah. Sayangnya saat kau seperti itu, aku tak bisa mendatangimu sekedar menyudahi khawatir yang timbul karna mimpi buruk itu. Tapi maukah kau percaya pada hal hal baik dari mimpi itu? Bila tidak ada hal baik, maka bermimpilah lagi sampai kau temukan hal hal yang baiknya. Bicara tentang mimpi. Katamu mimpi buruk ialah cara otak melepas segala pikiran buruk terhadap sesuatu. Mungkin ada benarnya, kau bermimpi buruk mungkin kau karena kau terlalu banyak cemburu yang kau resap sendiri. Kau enggan bercerita tentang cemburu, entah mengapa kau tak ingin berbagi kepadaku. Kau pandai menyembunyikannya dalam dalam, seolah tak ada raut kesedihan di wajahmu yang selalu tampak menyenangkan. Ah tuan, akupun ingin menjadi sahabatmu; tempat keluh kesah yang menggetarkan hatimu, segala duka yang berlarian di kepalamu, ataupun perihal air yang takku lihat menetas dari matamu, katakanlah.
Aku hanya ingin yang pertama mengetahuinya, aku tak egoiskan, ber-asakan seperti ini?

Semoga saja tidak.
Lagi lagi, aku minta maaf tentang mimpi buruk itu, bermimpi tentangku bukanlah sebuah kesengajaan bukan, karena kita tak punya kuasa untuk mengatur seperti apa kita ingin bermimpi. Jika mungkin bisa, itu hanya ada dalam film Inception.
Tempat yang paling ku syukuri ialah kamu yang tak pernah menjadi menyebalkan karna sebuah mimpi, maksudku tak mendiamkanku karena uring uringan memikirkan yang tidak-tidak walaupun kau sebenarnya sedih tak ketulungan. Kamu pandai berpura-pura hanya untuk membuatku baik baik saja. Tapi hal yang menakjubkan, saat kau sedia bercerita tentang segalanya -bila saja aku sedang beruntung mendengarnya-. Dan saat waktunya tiba, aku bahagia sekali mendengar segala hal yang indah darimu, tentangmu yang mungkin saja terlewatkan.
Kapanpun kau ingin bercerita, aku akan sedia duduk manis dihadapanmu bila perlu aku tak usah berkedip. :))))
Salam Olahraga eh salam hangat dari rinduku.
Dari aku, perempuan yang bahagia dicintai oleh lelaki sepertimu.

Minggu, 08 Maret 2015

LILI PUTIH


Apakah sore ini kau masih duduk dibelakang rumahmu sambil menatap kosong, seikat lili putih dengan sebuah vas di atas meja kecil disamping kursi malas yang sering kau duduki?
Sudah berapa lama? Berapa lama kau akan seperti itu?
Kau hanya menatap lili sedangkan kau biarkan senja berlalu begitu saja. Senja mengadu padaku bahwa kau tak menoleh sedikitpun kearahnya, perhatianmu telak dimenangkan lili putih itu. Kau tahu apa yang ku katakan pada senja? "Senja, lili putih itu sudah menjadi kekasihnya. Ialah bunga yang tak pernah membuatnya jenuh pecintanya. Putihnya sempurna menyimpan arti suci.  Kesederhanaan yang lahir dari lentik kelopaknya, semerbak wanginya memercik ketenangan, mungkin langit sudah menumpah wewangian surga kepadanya. Ialah lili putih dari kerajaan Plantae dengan nama Lilium Regale.  Nama yang cantik bukan? Lili adalah putri raja dan permaisuri dihatinya. Di tempat paling berkuasa dari dirinya telah lama diduduki oleh lili putih. Semempesona apapun kamu dalam benakmu, kau tak bisa tinggal membujuk rayu mendekapmu. Kau hanya datang beberapa saat lalu pulang tanpa tahu cara menetap. Duhai senja, jangan terlalu banyak berharap. Cintai saja pengagummu yang lain, yang mendoakan jinggamu selalu merona. Berbahagialah." Itulah yang kukatakan malam tadi, saat ku dengar isak tangis senja dibalik pekatnya langit. Dan kali ini, ia mengangguk memelukku, meresap tiap lisan yang ku ucapkan.
O, iya apa kau akan membaca suratku kali ini?

Setahuku, kotak posmu selalu kosong. Tentu ada yang memindahkannya bukan? Aku tahu, itu pasti nenekmu kan? Nenekmu yang meletakkan surat surat itu diatas meja disamping lili putih kesayanganmu. Bagaimana aku tahu? Akulah yang menelpon tiap malam ke rumahmu setelah kau terlelap. Dan nenekmulah yang selalu bercerita apa yang kau lakukan tiap waktu. Aku tahu hingga aku bisa menyebutnya tanpa perlu mengingat ingat apa yang terlupa dari bagiannya. Siapa aku? Aku pengagummu, yang mengirimimu surat tiap harinya walaupun kau tak pernah menyentuh sekalipun apalagi untuk mengejanya.
Jadi hari ini kau masih seperti biasa dengan coklat hangat ditemani lili putih yang seringkali kau ajak berbincang, sedangkan lili putih dengan anggun mendiamkanmu. Ah, aku tak cemburu seperti senja. Karena aku yakin, cintamu akan jatuh dipelukku perlahan. Sebab aku tak pernah pergi, tak pula beranjak. Aku akan tinggal di heningnya kepalamu, dan aku sudah siap meramaikannya dengan hiruk pikuknya bahagia.

Ps : Hari ini seperti biasa akupun mengirimi bunga, bunga tulip berwarna orange! Lihatlah nanti setelah kau beranjak dari kursi malasmu.

Dariku, pengagummu.

Jumat, 27 Februari 2015

Akar Sembilan dikali Sembilan yang ke Dua puluh Dua dibagi dua.

Kekakuan malam ini bercampur dengan keringat dingin yang memilukan.
Seandainya terdengar, aku menyayangimu..

Lindes Aja

Hari ini panjang sekali rasanya uda kayak sungai nil. Haha.
Tapi walaupun gitu, saya lagi seneng banget sama hari ini. Hari ini tanggal 27 yang ke 11. Sudah banyak hari hari yang menakjubkan yang pernah saya lewati. Saya mungkin perempuan biasa saja yang mesti bersyukur bisa ke sampai ke waktu ini. Apalagi sampai ke tahap selanjutnya, mungkin saya akan terjun payung dari pohon rambutan depan rumah. Siapa sih yang gak bersyukur punya wajah pas pasan tapi dapat lelaki bak malaikat? Saya sungguh beruntung bertemu dengannya. Sampai kadang berpikir apa saya ini pantas untuk seseorang seperti dia? Sepertinya belum pantas atau memang belum memantaskan diri. Sedangkan yang saya punya cuma kesetiaan. Dari kepedulian maupun perhatian saya masih dibawah kurang. Sungguh tragis punya kekasih seperti saya. Disitu kadang saya merasa sedih, saat saya sadar saya selalu meminta banyak hal. Saat saya hanya bisa marah, mengeluh, manja atau cemburu. Hal yang paling menyedihkan ketika saya cuma sadar tapi tidak bisa berubah. Coba lindes aja pake cobek saya ini ya. Kan mumpung kecil gitu, imut. Hahaha. Tuhan itu adil ya? Tuhan tahu saya kurang bisa berbagi cerita ke siapapun. Tapi Tuhan memberikan kertas dan pena. Semoga diapun bisa meluapkan kesedihannya ke siapa saja atau ke apa saja..

Naik lift bawa hiu,
I love you..

Rabu, 25 Februari 2015

Surat yang Kesekian.

Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*

Hai, kamu. Bagaimana langit langit di sana sekarang? Akan hujankah? Atau sedang panas-panasnya? Eit, aku tak menyuruhmu untuk mengecek perkiraan cuaca di henponmu. Berdirilah, tengok keluar rumah atau mengintip sebentar melalui jendela kayumu. Sudah? Bagaimana? Simpan dan tahan dulu jawabannya sampai kita tak berjarak lagi nanti.
Sampai semesta menyetujui langkahmu menemuiku pada jarak 10km dari kediamanmu.
Aku tak tahu harus bermula dari mana isi surat ini, aku tak tahu harus menceritakan apa atau membahas apa. Tunggu sebentar, biarkan kepalaku memanas.
...
Ah ya, bagaimana jika aku menceritakan dan membahas potongan kejadian yang tak kau tahu pada malam malam sebelumnya hingga sekarang? Apa kau ingin tahu? Maka mengangguklah..
Apa kau tahu mengapa aku tiba tiba diam malam itu? Saat aku bilang, aku ingin sekali menangis. (Aku baru sadar hanya denganmu, aku berani berseru ingin menangis.) Percayalah hari itu, ketika kau mengajakku mengunjungi senja, aku senang berkali kali. Tapi sepulangan kita, tak kusangka malam itu aku akan bertamukan sesak. Sesak yang bersenjatakan duri, perihnya tak terlalu sakit namun terlalu sesak untuk menampung isak, aku ingin sekali menangis. Tapi katamu, aku tak boleh menangis.
Mungkin kau tak tahu mengapa atau kenapa sesak itu datang. Tapi aku tahu, tahu dan mengerti sekali tujuannya mendatangiku.
Aku mungkin perempuan yang tak benar benar peduli dan tak ingin tahu. Aku kadang ingin hidup dalam ketidakpedulian dan ketidaktahuan. Karna itulah, salah satu caraku agar aku berprasangka baik pada oranglain. Awalnya aku tak terlalu peduli tapi aku tak sengaja melihat apa yang tak ingin kulihat. Kacaulah kepalaku diacak prasangka jahat. Lalu yang bisa kuperbuat hanya mencari hangat lenganmu, genggam tanganmu, dan celoteh kecilmu. Dengan begitu aku tak menangis. Aku tak ingin bertanya, tak ingin pula menyambar langsung apa yang kau pegang. Aku sangat tak ingin. Aku tak ingin mendengar, tak ingin pula mengetahui.
Hingga saat waktu memaksamu pulang, kau ingin aku berjanji agar aku tak menangis, dan aku mengangguk.
Dan maaf, malam itu aku tak menepati janji. Namun tak terdengar isak, hanya beberapa tetes lalu terlelap. Aku kembali melupakan potongan malam itu pada paginya.
Malam selanjutnya, aku tak sengaja melihat apa yang tak ingin kulihat dan kuketahui. Dan kali ini kau tahu penyebab sesak yang datang. Kau tahu dari mana suara gemuruh itu, iya mungkin kau tahu persis seperti apa suara robohnya sebuah benteng.
Saat itu, aku tak ingin menangis. Aku hanya ingin tak tahu, aku hanya ingin tak peduli. Dan benar, hingga akan lelappun aku (ingin) tak peduli. Hingga pagi dan paginya lagi.
Keesokan harinya lagi, aku sengaja melihat apa yang ingin kulihat, dan saat itulah aku benar benar dipeluk tangis. Aku memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpestakan kesedihan. Aku ingin sekali tak peduli dan tak ingin tahu..

Aku tahu kau menyayangiku, bolehkah aku meminta sesuatu? Aku ingin kau menutup mataku dari warna-warna yang menyilaukan dan membiarkanku melihat phosphene saja.

Nb : ... kamu jangan khawatir, aku baik baik saja selama kau masih menyayangiku sebagai perempuanmu satu satunya yang menyayangimu.

Surat (tak) Penting

Ada hal yang paling penting sebelum kamu membaca surat ini, sebuah perintah yang harus dilaksanakan, jadi kamu harus membaca surat ini pagi hari. Kenapa? Iya saat pagi hari oksigen lagi banyak banyaknya dikeluarkan tumbuhan. Jadi kalau kamu bacanya malam-malam. Urungkan niatmu. Aku khawatir kamu kehabisan nafas di tengah-tengah perjalanan membaca. Oke mungkin ini berlebihan dan benar aku sedang becanda menulis pembuka surat dengan seperti ini.

Hai kamu. Semoga kamu tidak kejang-kejang membaca suratku kali ini. Jadi ada hal yang ingin aku katakan, perihal kita. Kau tahu tidak? Mencintai orang yang mencintai kita itu adalah kesempatan, kesempatan itu adalah waktu, sedangkan waktu adalah saat saat yang berharga, dan hal yang berharga ialah yang kita cintai. Kau paham maksudnya? Kupikir kau belum memahaminya, makanya mukamu tampan seperti itu. Sudahlah akupun bingung dengan apa yang aku katakan. Hahaha. Dan tak ada hal yang terlalu penting yang ingin aku tulis sebenarnya, suratku ini datang semata mata hanya ingin menyapa hingga kata kata ini dapat merayap pelan di bibirmu dan sampai menggema di kepalamu. Agar kau tak lupa bahwa aku ada dan tak pernah melangkah pergi. Aku masih berada dalam satu garis lingkaran bersamamu, masih menggenggam erat jemarimu, masih tegar dan siap untuk bertempur.

Oh ya, isi surat yang ini fokus sama kata kata yang ini aja ya. Teruntuk kamu yang mengajariku cara terjatuh paling elegan. Cara kecewa paling gaya. Memanupulasi rasa dan tulisan jadi mudah. Ah terima kasih. Terima kasih banyak padamu..

Nb : Kamu, jangan lalai. Jaga kesehatanmu, karena mungkin aku bukan perempuan yang selalu peka dan sering lengah memberikan perhatian.

Dari aku,
Perempuan yang selalu kekurangan..

Selasa, 17 Februari 2015

Surat Abal Abal..

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Hai maz, saya bawa kabar gembira untuk kita semua, tapi ini bukan iklan.
Jadi......
Gilaaaaaa!!! Benar benar gila maz, saat saya tahu diri saya itu seperti apa. Tau jati diri saya setelah sekian lama mencari, mengais, menggali, mengupil, ((eh typo, sorry gaeees)). Iya akhirnya saya sadar, saya romantis!!! (tepuk tangannya mana?) Setiap saya membaca ulang catatan kecil, email, sms dan postingan blog saya. Oh my God. Saya masuk kategori perempuan romantis masa kini, pemirsaaaaaa!!! ((Katakan wawawi wowww!!!)) Saya sendiri tak berhenti berdecak kagum, apalagi kamu ya?
Kamu jangan angkat alis sebelah gitu dong. Heran sih heran, tapi gak mesti tampan juga kan? Iya tahu kok, kamu pasti lagi mau nanya saya kenapa. Kenapa saya romantis? Oh bukan itu ya pertanyaannya?
Kenapa saya nulis surat beginian? Iya kemungkinan besar ini yang kamu mau tanyakan. Oh maz, saya jawab ini dari hati saya paling luar sampai yang paling dalam..
Jadi, saya nulis gini karena saya sedang mengalami masa sulit dalam hidup. ((siapin tisu di sana ya, kali aja kamu bakal sedih bacanya)). Masa masa yang saya  harus lewati sendiri di kala tak ada siapapun yang menemani. Tak ada matahari yang menyinari, tak ada langit yang biru ceria. Iya karena sebenarnya saya nulis pas malam-malam sih. Tapi yang paling menyedihkan, pada saat tak ada kamu disiniku, aku merana bukan becanda. (iya tau kok tau, kita belum serumah)
Nah jadi alasannya aku nulisin surat begini gak ada alasan yang jelas sebenarnya. Sekedar basa basi yang kreatif buat nyapa kamu, biar surat surat yang saya kirim jadi numpuk di meja makanmu (saya gak salah nulis kan? Gaklah, soalnya perempuan selalu benar)
Uda ya, ntar kalo kebanyakan nulis jadi bukan surat malah jadi cerpen. Cukup sekian.. Saya punya banyak kerjaan nih, dikejar deadline.
Bye (melambai kayak miss world)

Minggu, 15 Februari 2015

Surat Diam

Apakah aku adalah seseorang yang benar benar mencintaimu? Entah. Tapi aku ingin meminjam kata katamu dan menambahkannya sedikit. "Setahuku aku menyayangimu. Iya, aku mungkin terlalu jatuh sayang".
Dan kau tahu, memiliki pengalaman bersama orang lain lebih banyak darimu tak membuat aku lebih baik dalam hal memahami. Malam ini air mataku pecah, membaca kata katamu yang serupa membelai namun perlahan mencekik leherku. Membacanya membuatku lupa menarik nafas. Aku sedang bingung apa yang terjadi, aku serasa tercekik tapi akulah yang seperti pembunuh. Aku merasa diriku korban tapi akulah sebenarnya tersangka.
Karna aku, kau terpaksa menjadi penjahat menggantikanku.
Sedangkan aku malah asik menuduh tanpa ampun, tanpa jeda dan tanpa memberikan waktu pembelaan. Aku menjadi tak karuan hanya karena rindu yang tak sanggup lagi aku peluk sendirian. Sedangkan kau berbeda di sana, begitu tabah merawat rindu yang nakal ketika tidak dipertemukan semesta. Iya, kau berbeda. Selalu.
Lelakiku, semoga aku tak sedang merangkak posesif kepadamu karena ketidakpercayaanku. Iya, mungkin benar katamu, aku mungkin tidak percaya sepenuhnya. Hingga aku tak mampu menjadi penikmat prasangka baik atas segala gelagat baik yang kau berikan. Maafkan aku. Aku tengah berada dipuncak rasa sayang, puncak keegoisan dan bahkan keduanya.

Surat dariku, perempuan yang selalu kekurangan jika tak kau genapkan. Perempuan yang selalu dipeluk cemburu. Perempuan yang akan berusaha memahami tiap belah kepalamu.

Maafkan perempuan yang masih senang melompat lompat daripada memilih duduk tenang. Maaf.
Perempuan selalu benar karena lelaki kadang mengalah dengan menyalahkan dirinya.

Nb : Aku tak pernah benar benar mendiamkanmu karena sebenarnya akulah paling bising mengabadikanmu.. Tak ada yang setabah kamu menungguku, tak ada yang sesabarkan menghadapiku, tak ada yang selembut kamu menasehatiku. Aku tentu beruntung. Bagaimana denganmu?

Semoga suratku belum terlambat untuk kau baca.

Rabu, 28 Januari 2015

Bisa Saja..

Aku bisa menjadi bisu atas apa yang ingin ku ucapkan perihal rindu sepihak yang bernamakan kamu.
Aku bisa menjadi tuli atas apa yang aku dengar dari cemburu yang kehilangan sadar.
Aku bisa menjadi buta atas apa yang aku liat bahwa acuh begitu gila menyerupaimu.
Aku bisa menjadi lumpuh atas apa yang akan ku gerakkan tengah merusak prasangka baik.
Aku bisa menjadi apatis atas apa yang aku rasa menjadi tak lagi ku rasakan.
Aku bisa menjadi pengemis atas apa yang aku cerna tak lagi cukup diberikan semesta.
Aku bisa menjadi kamu atas apa yang membuatku tak bisa menjadi diriku sendiri.

-draft 29 Januari 2015

Jadi gimana? Tua apa Muda?

Hari ini kepikiran buat nulis kebingungan sendiri. Tanya tanya mampir satu per satu ke kepala. Entah pertanyaan-pertanyaan itu mesti dijawab sendiri apa butuh jawaban orang lain. Atau mungkin pertanyaan yang mengundang kita untuk berpikir divergen (ah apasih). Ini tentang usia. Iya usia, saat kapan kita disebut tua atau saat kapan kita disebut muda. Jawab sendiri dulu.. Tiap nonton tv yang acaranya talkshow yang isinya anak muda (lebih muda dari saya) sukses. Duh rasanya nyesss sekali, umur segini (berasa tua) belum bisa ngelakuin apa-apa. Saat anak muda lain berkarya tiap hari, saya bangun subuh malah tidur lagi, mandi pas mau berangkat kuliah, kuliah pun cuma ikutin peraturan, menunggu apa yang diperintah, ngerjain apa yang disuruh, dan gak ngelakuin apa apa saat ada waktu luang. Entah bagaimana rasa sedih saya hinggap ketika melihat orang tahu apa yang mereka sukai, melakukan apa yang mereka senangi, melakukan hobinya, atau menggapai cita citanya dengan motivasi motivasi yang kuat. Miris memang, ketika sadar, kita sendiri gak tahu apa yang kita suka, boro-boro mau ngelakuin hal yang kita senangi. Kita sendiri saja gak mengenal diri dengan akrab. Punya bakat tapi kurang motivasi. Ya gimana saya gak bingung sendiri jadinya. Suka banyak hal tapi susah untuk fokus kepada satu hal. Iya saya tahu, susah bukan berarti gak bisa. Tahu sekali. Tapi berteori tak semudah mengusaha dan melakukan.. Kemauan? Pasti kita bicarakan itu.
Sebelum melebar kesana.

Saya masih mau menjabarkan kebingungan kebingungan yang mengakar di kepala. Iya masih tentang usia. Apakah masih muda atau cukup tua usia ini? Bagaimana tidak, kita dihadapkan oleh puluhan undangan pernikahan sahabat sendiri, teman sahabat, teman dari teman sahabat, teman dari teman teman sahabat (Ah begitu seterusnya sampai saturnus kehilangan cincin).
Lalu kenapa? Bukan kenapa kenapa sih tapi ini cukup membuat kita jungkir balik memikirkan hidup kita sendiri (lebai sih). Tapi serius, ini cukup menggangu pikiran saya, mereka yang telah menikah rasa rasanya hebat sekali. Yang berarti berani memulai, yang berarti lebih dari sekedar menyatukan satu hati melainkan menyatukan hati kedua keluarga. Yang berarti mampu mengalahkan ego demi mengedepankan damai. Yang berarti banyak hal baik dan buruk yang akan dilewati bersama.
Banyak lagi hal hebat lainnya. Nah bercermin dari semua itu, saya rasa saya masih pantas di bilang muda atau lebih pantas dibilang ababil. Hati saya sendiri, rasanya masih terbilang terlalu sensitif. Dikit dikit meledak ledak pas lihat pacarnya sibuk. Dikit dikit jadi pendiam pas pacarnya pergi gak ngabarin. Uda gitu, cengeng banget lagi. Dikit dikit nangis pas lagi gugup, dikit dikit nangis pas kangen, dikit dikit nangis pas nonton film. Banyak lagi dikit dikit nangisnya, padahal cuma dikit tuh. Kalau terlalu sensitif terus gimana mau pahami orang lain, yang ada mau dipahami melulu. Gimana mau ngertiin orang, ngertiin diri sendiri masih susah.  Mesti latih kesabaran dulu nih, mesti bisa kelola emosi yang berapi api jadi energi yang positif (ciyeee bisa banget ngomong gitu).
Jadi apa kalian masih muda apa cukup tua?
Tanyakan kebingungan kalian sendiri.

Senin, 26 Januari 2015

Apalah

Kekasihku yang baik hati. Kemari, duduk di sampingku. Aku akan membacakanmu sebuah cerita yang berawal darimu dan berakhir dariku. Jadi katakan, apakah hari ini kau masih mencintaiku?
Tadi pagi aku bangun kesiangan. Kaki di atas kepala di bawah. Entah bagaimana aku tidur semalam hingga aku bangun dengan posisi tak wajar.  Ah aku ingat semalam aku bermimpi.. Cerita mimpiku ini panjang. Ketika cerita mimpiku tak menarik kau boleh menghentikannya dengan cara apapun kamu mau.

..
Mimpiku semalam, aku tengah mencarimu diberbagai sudut yang memungkinkan kamu berada. Ke tempat pertama yang kudatangi yaitu tempat pertama kali aku jatuh telak oleh ucapanmu. Nirwana. Kau tau itu ? Iya, disana ku temui sekelompok wajah tak asing namun tak ada satupun yang menyerupaimu, aku bertanya dan katanya kau baru saja meninggalkan tempat ini, menceritakan banyak hal tentang bahagianya. Karna ku pikir kau baru sj disini. Aku berlari mncari jejakmu yg tersisa. Sedang hujan menyusul langkahku. Alhasil langkahmu terhapus tanpa sisa. Namun aku tak berhenti hingga akhirnya aku berhenti disuatu tempat. Aku kenal dengan baik tempat ini. Tempat dimana mata dimanja oleh tarian jingga gemulai membentuk senja. Aku tersungkur oleh keindahannya, jatuh hingga ada dua sosok yang menepuk pundakku. Aku sontak kaget, sekali lagi, aku mengenali sosok sosok ini. Mereka tersenyum ramah denganku. Mereka memelukku bergantian hingga isakku perlahan mereda.

Katanya kau baru saja kesini, meminta mutiara laut yang paling indah yang mereka miliki. Lalu kau pergi, sekali lagi karena kau baru saja disini, aku berlari lagi sekuat kuatnya meski kakiku sudah letih menopang. Aku tak peduli semasih langkahmu masih terlihat di tepi pantai. Lagi lagi langkahku terkejar oleh ombak. Iya lebih dulu menghempas jejakmu menjadi tiada. Aku tak lagi berlari . Aku brjalan tanpa arah. Hingga aku lelah dan beristirahat disebuah tempat. Aku pernah kesini, saat itu semesta sedang bahu membahu meletakkan bahagia dalam pelukmu. Lalu ada anak laki laki yang sedang berlari ke arahku.Tanpa sapa ia menarik tanganku membawa tubuhku ke suatu tempat. Hingga anak itu berhenti berlari dan aku tercengang tak percaya. Aku melihatmu tengah berdiri menunggu. Dengan setelan kemeja rapi. Kau mengulur tanganmu.

18 Januari 2015