Minggu, 24 Juli 2016

Berpura-pura

Kali ini letih dari sebelumnya, memaksakan diri untuk tak cemburu, tak terjadi apa-apa, tak marah ketika kau tinggalkan.

Ternyata berpura-pura melelahkan.
Ternyata menjadi sesuatu yang bukan diri kita menyakitkan.

Bagaimana kabar kamu selama ini? Mencintaiku tapi kau hanya berpura-pura menyukai caraku.

Padahal kau rindu masa mudamu yang penuh cerita cerita mereka. Curhatan mereka. Pertemuan dengan mereka.
Tapi aku lenyapkan bagai api yang melahap kertas. Ku bakar aset berharga bagimu.
Aku menyeretmu kedalam lingkaran yang ku buat sendiri.
Aku terlambat untuk tahu. Kau tak menyukai lingkarannya.
Kau berusaha keluar pada hari itu, dengan serakahnya aku mengikatmu.

Aku tertawa ternyata kau mengerang sakit.
Aku menangis aku tak tahu kau bagaimana.

Ini cinta.

Jika cintaku hanya kau sebatas ketenaran. Maka jangan dekati aku. Karena bukan ketenaran tapi kedekatan.

Jika cintaku hanya kau pikir gegayaan.
Maka tinggalkan aku. Karena bukan gaya tapi persembahan.

Jika cintaku hanya terkesan paksaan.
Maka pergilah. Karena bukan paksaan tapi kebersamaan..

Jika cintaku hanya terlihat aku si penguasa serakah.
Maka lihat lagi bagaimana aku selama ini. Kali ini tak ada karena apapun.

Sabtu, 23 Juli 2016

Maaf katamu.

Kepalaku penuh dengan api yang tak pernah tahu bagaimana untuk kau padamkan.
Dadaku penuh dengan luka tapi kau lupa bagaimana mengobatinya
Pipiku sudah basah, kau kalang kabut tak jelas ingin bagaimana.
Diamku sudah bicara, kau kikuk setengah mati seolah sudah tak ada nyawa yang ingin kau ajak bicara.
Aku lanjutkan diamku, kau semakin mati kutu kubuat.
Maaf katamu, maaf lagi darimu..

Angin.

Kau bangun lebih pagi.
Aku lupa mengingatkanmu jika sepanjang jalan ku pagari kawat berduri.
Tahu-tahu kau pulang berdarah-darah.

Hangatku..
Sudah ku cabut pagar-pagar itu.
Kau bebas, kau angin.
Yang mencari mata angin.

Aku siapa saja. Apa saja.
Yang berharap kau riang atas siapa aku dan apa aku.

Aku bisa saja kini jadi langit.
Kau terbangkan. Mengantarku ke atas gunung.
Aku bisa jadi sebuah daun.
Kau jatuhkan di musim gugur.

Untung saja kau bukan nafasku.
Kau sudah dalam ruang balon-balon yang banyak.
Menahanmu di dalamnya, selamanya.
Sementara kau berusaha mencari celah kecil untuk keluar.

Jumat, 22 Juli 2016

Gugur.

Segala harap gugur sudah.
Kita yang mendambakan mekar setiap harinya.
Mengira semilir angin akan mengantarkan kita lelap sambil mendekap.

Ternyata tidak.
Angin berbicara lain.
Yang berucap,
Gugur berarti perubahan.
Dauh jatuh, pohon akan kembali dengan hijaunya.
Daun baru takkan pernah sama dengan daun yang dulu pernah hinggap.

Namun daun tetaplah daun.