Jumat, 26 Juni 2015

Dua Dunia


Mungkin dunia sudah berbagi menjadi dua. Dunia mimpi dan dunia nyata. Aku berotasi dalam keduanya, namun ketika aku dalam dunia mimpi beberapa menit ternyata aku sudah menghabiskan waktu berjam jam di dunia nyata. Walaupun begitu dunia mimpi selalu menjadi tempat yang memiliki panorama menarik untuk dikunjungi, tempat yang tak ada disimpannya pribahasa "bagai pungguk merindukan bulan". Aku bisa kapanpun mengunjungi bulan, terlelap di sana saat sedang cantik-cantinya menyabit. Bermimpi, kau nikahi kesepianku dan segala kalut yang melelahkan serta menikahi segala lebih dan kurangku. Lalu membangun rumah di Saturnus, dengan halaman rumah yang luas, dengan rumput terbuat dari kapas. Dan atap rumah kita penuh dengan hujan bintang kecil. Kemudian tiap malam aku sembunyi dalam pelukmu sembari kau usap lembut pipiku dan paginya ku dapati wajah lelapmu yang lebih menawan dari kata menawan. Dan yang menariknya lagi kau tak perlu bekerja kecuali mencintaiku seumur hidup. Begitupun aku tak perlu bekerja, cukup memasak masakan kesukaanmu, lalu memberikanmu si kembar mungil untuk menggenapkan kebahagiaan kita. Aku bebas bermimpi bukan.
Dalam dunia ini, masa depan bukan lagi untuk diterka-terka. Tapi masa depan yang kita bangun adalah jawaban pasti.
......
Aku sering bermimpi perihal perasaan yang selalu mengadu sama; saling mencintai, saling mencukupkan, saling setia dan tak kehabisan cara untuk saling membahagiakan. Aku berharap bahwa kelak akan selalu seperti ini. Iya tetap seperti ini.
Siapapun tentu boleh saja bermimpi, membangun angan secantik mungkin, berkhayal hingga lupa jika itu terlalu tinggi untuk digapai sendiri.

Setelah bermimpi, harusnya ada yang mengingatkan kita lagi untuk bangun, bahwa mimpi tak terwujud dari uap uap tidur kita buat. Bahwa kenyataan lebih berpengaruh dan lebih lama dihadapi dari sekedar menghabiskan waktu di tempat tidur.
Yang tak kusukai dari dunia nyata, ialah ketidaktahuan. Tentang aku tak tahu siapa yang akan mengimami rakaatku, yang akan ku temui wajahnya di waktu subuh, yang akan memeluk cemasku nanti. Aku tak tahu. Tapi aku selalu bermimpi kamu, berharappun tentang kamu. Dunia nyata terlalu rumit untuk digantungi mimpi. Entah tercegah oleh takdir atau terhambat oleh waktu. Tuhan adalah pemegang penuh atas segalanya. Aku? Bukan siapa-siapa, hanya pelaksana dari kata "jalani saja".

Jalani saja, begitulah kata kata yang sedang marak didendangkan ketika jalanan dipenuhi pertanyaan. Dunia ini teramat banyak tanya, namun jawabannya hanya ada segelintir saja. Namun apa yang sebenarnya harus dipertanyakan? Padahal menjalani hanya butuh memperhatikan aturan jalan yg harusnya kita perhatikan, belok kanan, kiri atau jalan lurus. Tak ada yg tahu jalan didepan seperti apa. Apakah ada jalan buntu, perbaikan jalan atau ada acara keagamaan yang harus membuatku berbalik arah, aku takkan pernah tahu atau kau tak pernah tahu. Kita sama sama tak pernah tahu.
Menjalani saja bukan semata-mata terjebak tanpa arah, tapi aku punya tujuan, bertujuankan kamu. Menemukan kamu di masa depan. Masa yang ku impikan. Dan kini aku terhambat oleh waktu, dijalanan ku temui ketakutanku sendiri atas pertanyaan yang belum bisa ku jawab.. "Apakah aku bisa mengimbangimu, Apakah aku bisa berjalan dengan ketakutanku yang dicerca masa lalumu. Apakah aku akan sepantas denganmu, apa aku bisa memilikimu seutuhnya, akankah perjalanan ini akan berujung kamu? Apakah kau pun berjalan ke arahku?" Lalu..
Aku terhenti, hingga puisimu datang menampar wajahku untuk berjalan.
Akankah kedua duniaku menyatu menyerupai kamu?  Entah.. namun aku berharap.

Dengan peluk yang belum sampai,

Perempuanmu yang manis dari kejauhan :*

Selamat 27 ke 15 semet.