Minggu, 23 Juli 2023

Skala Prioritas

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


"Ah kamu enak sih, belum punya anak gak capek" "Dia mah enak, belum punya anak jadi ga perlu repot beli ini itu" “Yah, dia kan belum nikah enak uangnya buat diri sendiri" "Kamu enak pulang kerja langsung tidur, gak ngurus anak dan suami". Sering dengar gitu ga sih, buat yang masih belum dikaruniai keturunan atau yang masih lajang tapi sudah bekerja? 


Itu adalah kata-kata yang pakai ibu-ibu untuk menjadi senjata kepada perempuan yang terlihat bahagia dihidupnya.


Semua pernyatan-pernyatan yang terlontar kadang berangkat dari lelahnya menjadi seorang ibu. Letihnya sendiri mengurus rumah, menggosok leher baju yang bernoda, mencuci piring yang selalu saja ada, melipat pakaian yang menggunung, memasak lauk yang berbeda setiap harinya, belum lagi harus mencukup-cukupkan uang bulanan dengan berbagai kebutuhan rumah dengan minimnya nafkah yang diberikan oleh suami. Dan banyak sekali kemungkinan yang membuat ibu itu lelah oleh dirinya sendiri.


Namun apakah menjadi wajar ketika seseorang membandingkan nasibnya dengan perempuan-perempuan belum beruntung tentang anak dan jodoh?

Padahal perempuan-perempuan itu pun merasakan yang kamu rasakan. Perempuan-perempuan itu bertarung dengan aktivitas sehari-harinya, perempuan itu punya ayah dan ibu yang berharap padanya, kakak dan adik yang menaruh asa padanya, belum lagi token listrik yang harus dihentikan bunyinya serta banyaknya pertanyaan bagai duri menusuk daging. Apa jadi ikan saja? Percayalah, tak ada satu orang pun yang mudah melalui hidupnya, seperti kata Ust.  Adi Hidayat, dunia adalah tempatnya capek kok. Perempuan itu pun membereskan tempat tidur, membiayai keluarganya, menuntaskan pekerjaannya yang dikejar waktu, belum lagi kalau harus menerima tekanan-tekanan di tempat kerja..


Bagiku, semua pernyataan itu tidak apple to apple untuk di cari kelemahan dan kelebihannya, karena kita semua ada skala prioritasnya. Menjadi istri pun itu pilihan. Kamu memilih menjadi istri artinya kamu siap dengan segala ketaatan kepada suami. Kamu yang memilih laki-laki tersebut menjadi seorang suami, atau kamu sekarang sedang menyesalinya? Pernah ku baca bahwa seorang anak tak bisa memilih ayahnya, tapi seorang perempuan bisa memilihkan ayah yang baik untuk anaknya terlebih untuk dirinya.



Untuk aku, perempuan yang masih menunggu anugerah terindah. 

Menanti itu adalah sebuah kelelahan. Tak hanya itu, kami bekerja di luar rumah mengumpulkan hasil untuk mencoba segala keberuntungan yang berharap di jawab langsung oleh Allah. Proses yang tak terlihat bukan berarti tak melakukan apa-apa, sehingga isi dompet kami masih utuh? Kamu salah, pernyataan itu keliru. Tak sedikit, orang bilang kami payah, lemah, dan lebih parah lagi sampai berkata mand*l.

Semua yang kalian nyatakan itu membuat kami lebih hening, mengeluh adalah hal buruk bagi kami. Menjadi ibu adalah harapanku, lantas mengapa masih membandingkan? Rejeki kita berbeda-beda, semuanya ditakar cukup oleh Nya, tergantung besar rasa syukur dan skala prioritas kita. Jadi cobalah merangkai kata-kata bijak dalam menyampaikan lelah. Atau setidaknya jangan membandingkan nilaimu dengan nilai orang lain. Seratusku tak sama dengan sempurnamu. Luaskan lagi hati dalam menerima, kita sama-sama di fase tak baik-baik saja.