Rabu, 07 Mei 2014

Mengejar Senja

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*
Waktu itu, ketika aku menengada sembari menutup mata berharap diberi sebuah kesempatan yang digadang-gadang sebagai sebuah kebentungan. Karna Tuhan sangat pemurah begitu berbaik hati kepadaku, aku dihadiahinya sosok yang didalam senyumnya ada ribuan dunia fantasi yang seringkali membuatku tenggelam, tak terselamatkan.
Ada cermin yang menjadi penghubung dua paras yang tak saling tatap. Didalam cermin bibirmu mengatup memilih diam. Akupun tersenyum menatapnya, seolah diamnya adalah sandi yang hanya bisa dipecahkan oleh hati. Lalu iapun menatap kedalam cermin melihat aku yang tersenyum, ia tersenyum hingga ginsulnya dan lesung pipi sebelah kanannya menghiasi parasnya. Aku berkata, “ Bagaimana mungkin kau bisa menyetting wajah semenarik itu”. Kitapun tertawa seolah memberi cuti kepada kesedihan disore itu. Setelah ia, kau mencubit tanganku hingga mengundang kesal dari wajahku. Kau malah menertawakan kekesalanku itu, lihatlah betapa kejamnya dirimu itu. “Siapa yang akan menghakimi kekejamanku itu?”, katamu sambil melirik ke dalam cermin. “Aku”, sambutku lantang. Sedangkan dalam hatiku mendumel,”Tuan, cintaku tak pernah mengajariku untuk membenci kekejamanmu, selebihnya cinta mengajariku untuk mencintai segala hal tentangmu”. Aku tertawa dan membuatmu bertanya,”Ada apa? Lihatlah kedepan”. Dipenghujung sana, ada mentari yang anggun menawarkan jingga kemerahan dengan sempurna, hingga cahayanya melukis senja yang manja dan haus akan pujian. Hanya saja sebentar lagi sepertinya kegelapan akan senang hati melumat tatanan keindahan itu sebelum kita menyapa.
............................................................................................................
Kau tepat didepan, membelakangiku. Lihatlah betapa durhakanya lelakiku itu.
“Meski tak terkejarkan, dan ternyata waktu berlari lebih cepat dari langkah kita. Lalu ketika jemarimu menggenggam jemariku, maka tak ada yang boleh merebutnya, tak juga waktu. Maka kecewa adalah omong kosong, & euforialah yang lebih tepat menggema”, lirihku dan memelukmu erat dari belakang.

Lalu, bagaimana dengan hatimu memaknai waktu saat itu, lelakiku?

Tidak ada komentar: