Waktu
itu, ketika aku menengada sembari menutup mata berharap diberi sebuah
kesempatan yang digadang-gadang sebagai sebuah kebentungan. Karna Tuhan sangat
pemurah begitu berbaik hati kepadaku, aku dihadiahinya sosok yang didalam
senyumnya ada ribuan dunia fantasi yang seringkali membuatku tenggelam, tak
terselamatkan.
Ada
cermin yang menjadi penghubung dua paras yang tak saling tatap. Didalam cermin
bibirmu mengatup memilih diam. Akupun tersenyum menatapnya, seolah diamnya
adalah sandi yang hanya bisa dipecahkan oleh hati. Lalu iapun menatap kedalam
cermin melihat aku yang tersenyum, ia tersenyum hingga ginsulnya dan lesung
pipi sebelah kanannya menghiasi parasnya. Aku berkata, “ Bagaimana mungkin kau bisa menyetting
wajah semenarik itu”. Kitapun tertawa seolah memberi cuti kepada kesedihan
disore itu. Setelah ia, kau mencubit tanganku hingga mengundang kesal dari
wajahku. Kau malah menertawakan kekesalanku itu, lihatlah betapa kejamnya
dirimu itu. “Siapa yang akan menghakimi kekejamanku itu?”, katamu sambil
melirik ke dalam cermin. “Aku”, sambutku lantang. Sedangkan dalam hatiku
mendumel,”Tuan, cintaku tak pernah mengajariku untuk membenci kekejamanmu,
selebihnya cinta mengajariku untuk mencintai segala hal tentangmu”. Aku tertawa
dan membuatmu bertanya,”Ada apa? Lihatlah kedepan”. Dipenghujung sana, ada mentari
yang anggun menawarkan jingga kemerahan dengan sempurna, hingga cahayanya melukis senja yang
manja dan haus akan pujian. Hanya saja sebentar lagi sepertinya kegelapan akan
senang hati melumat tatanan keindahan itu sebelum kita menyapa.
............................................................................................................
Kau
tepat didepan, membelakangiku. Lihatlah betapa durhakanya lelakiku itu.
“Meski
tak terkejarkan, dan ternyata waktu berlari lebih cepat dari langkah kita. Lalu
ketika jemarimu menggenggam jemariku, maka tak ada yang boleh merebutnya, tak
juga waktu. Maka kecewa adalah omong kosong, & euforialah yang lebih tepat
menggema”, lirihku dan memelukmu erat dari belakang.
Lalu,
bagaimana dengan hatimu memaknai waktu saat itu, lelakiku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar