Senin, 10 September 2018

Jalan Menujumu

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Aku hanya ingin berhenti bicara, bukan karena marah. Tapi karena sudah saatnya lelahku ini, ku dengarkan. Setelah sekian lama ku pikir langkahku akan segera sampai, ternyata takdir tak membawaku kemana-mana. Aku hanya berjalan memutari angan-anganku sendiri, angan-angan yang tak pernah menjadi anganmu. Akupun tak mengerti mengapa aku betah untuk berjalan seperti ini. Walaupun aku telah memastikan tujunya ialah kamu, tetap saja aku tak mengira kau takkan berdiri di sana untuk menyambut kedatanganku. Aku sudah berpikir betapa riangnya aku, jika dilangkah-langkah terakhirku yang gontai kau berlari menangkapku. Tapi kenyataannya tak semanis isi kepala. Alih-alih kau akan membopong lelahnya tubuhku, suara kaki yang ku harap akan menghampiri dengan berlari-lari itu hanyalah fana.
Selama perjalanan, banyak mata yang merasa iba atas keadaan dan keberadaanku. Tak sedikit pula yang mengulurkan tangannya. Entah mengapa aku tak suka dan menepisnya, menolak bantuan yang ku pikir aku yang tak membutuhkannya sama sekali. Aku bisa, kukatakan berkali-kali kepada mereka, aku tak lemah, aku tak menginginkan pertolongan apapun. Sekalipun dalam keadaan tak mampu, aku memilih untuk tak menerima apapun dari orang-orang yang mengasihaniku.
Semanis-manis  penawaran mereka untukku, aku dengan tegas menolaknya dengan kesal. Memang aku sudah terlihat seperti apa di mata mereka. Aku memang gelandangan tapi apa mereka tak melihat hartaku? Rindu yang menggembungkan tas ranselku, yang ku tabung sekian lamanya untuk ku hadiahkan kelak bila bertemu denganmu. Sampai pada saatnya, orang-orang yang mengasihaniku menjadi orang-orang yang mengabaikanku karena sikapku yang terlalu arogan. Tapi akupun tak peduli, ada atau tak adanya mereka, tak merubah apapun yang ada pada diriku. Ku berjalan, berjalan kemana saja, hingga ku temukan petunjuk mengarahkanku padamu. Sekian lama berjalan, seperti awal. Aku tak menemukan apa-apa, entah kabarmu ataupun batang tubuhmu. Tak keduanya. Aku berhenti sejenak, mengulurkan kedua kakiku, merebahkan tubuhku di atas tanah kering yang tak bertuan. Aku ingin terlelap, maka ku pejamkan mata. Namun tak kunjung kantuk sampai di mataku yang terkatup. Aku terus memikirkanmu, sampai khayalku tertuju pada wajahmu yang menyenangkan. Aku tersenyum tapi sesak tak terbantahkan, sesak yang membela diri menjadi sepi. Aku sendiri, tak ada yang perlu tahu betapa menyedihkannya semua ini; jatuh dan jatuh lagi rindu dari mataku yang terpejam. Ku punguti satu-persatu, ku simpan dalam tas ransel kumuh milikku, tak satupun kubiarkan tercecer begitu saja. Agar kau tahu sebanyak ada apa aku merindukan keberadaanmu.
Sepertinya aku sudah tak mampu berdiri, sudah tak kuasa melanjutkan langkah. Apa aku harus berhenti dimanapun ini, entah tempatku ini sudah tak jauh dari tempatmu atau masih separuh jalan menuju kediamanmu ataupun mungkin aku masih di tempat yang sama, tak kemana-mana.
Aku tak tahu dimana keberadaanku, aku tak mengenal tempat-tempat menyedikan ini. Ku pikir aku harus berhenti sudah, menemukanmu bukan lagi satu-satunya inginku. Harapku bersamamu saat ini sudah menitis seiring waktu. Aku lupa akan diriku yang berharga. Aku lupa jalan ini terlalu panjang untuk kutempuh dengan tubuhku yang ringkih. Terlebih dahulu, aku ingin merawat diriku, mengatasi insomniaku, menenangkan asam lambungku, meredakan migran yang mengusik hari-hariku. Aku tak ingat, sebelum menemukanmu aku harus dalam keadaan hebat. Mempersiapkan diri, bila pada akhirnya aku menemukanmu, kau tak lagi sendiri. Aku akan kuat pergi. Maka aku harus menyiapkan banyak hal untuk diriku, menghadiahkan ha-hal manis, secangkir coklat panas, roti bakar isi keju dan bantal empuk nan wangi untuk mendatang mimpi-mimpi indah.
 ..bersambung