Sabtu, 18 Mei 2024

Aku terlalu melangitkanmu~

Ini tulisan tahun 2018 bulan Februari tepatnya tanggal empat, ditulis dalam keadaan tak baik-baik saja. Seperti akhir-akhir ini.

Dengan ketinggian mimpimu, dengan rendahnya kemampuanku.
Tanpa melebih-lebihkan kau memang sudah jauh di atasku. Ku pikir kita ini adalah timbangan. 
Segalanya akan sama. Setara. Serupa. Tak lebih seons apalagi sekilo.

Nyatanya aku pun, bukan 1 puzzle yang hilang dari 1000. 
Aku hanya titik yang pudar dari lukisan itu, tapi sungguh tak ada akupun, tak merusak estetikanya.
Lukisan itu tetap berwarna, tak perlu warna putih karena canvasnya terbuat dari yang kertas netral. 
Tak ada peran penting untuk melengkapi yang tak kurang, hanya terlanjur ada; jadi aku disimpannya.

Suaraku sumbang, tubuhku tak hangat, gerakkanku lambat, otakku kuno, wajahku halai balai dan emosiku yang terlalu bergeni-geni.
Itulah pantulan dari tatap matanya yang berbeda dengan binarnya tatapku. Bagiku, hidupnya terlalu mangkus sedang aku hanya manusia yang masygul. 
Tak hanya pandanganku kepadanya seperti itu, syair-syair indah pun lahir dari penikmatnya.
Siapa sangka ia semenawan itu bagi banyak orang, dan dari mereka yang sebagian orang itu bilang, aku terlalu beruntung untuknya, sedang ia semalang itu berlabuh padaku. 
 
Ternyata semelelahkan itu bagiku, untuk berusaha menjadi pantas untuknya. 
Kenyataannya aku hanya matahari malam. Namaku hanya bayang, yang terdayuh menyaksikan bulan.
 

Krisis Percaya Diri

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :* 

Ini bukan tulisan ilmiah, ini hanya tentang seseorang. 

Maafkan diri kamu yang sering ragu akan kemampuanmu. 
Maafkan diri kamu yang sering takut mencoba hal yang biasa orang lain lakukan.

Maafkan aku yang tidak ambis dalam segala hal, seringkali mencoba tapi hentakkanku terlalu pelan. Kena, tapi tak berasa. Seperti punya pengalaman tapi tak berguna untuk dibanggakan. Ternyata bersama orang yang sejajar dan dibawah kemampuanku adalah hal yang menyenangkan; nyamanku tumbuh, perkataanku lepas, dan raguku hilang. Katanya aku tidak berguna di mata orang-orang yang tak setara denganku, tentu ucapan itu lahir dari mulut-mulut mereka yang bergelimang predikat luar biasa.
Sedang aku, begini-begini saja. Seorang tanpa motivasi yang jelas, tanpa pernah berlari, jalannya biasa, gelarnya tumbuh hanya kebutuhanku saja. 
Tak ada yang istimewa.
Orang-orang seperti seringkali dianggap tak ada. Karena terlalu sedang. Tak terlalu butuh untuk ditingkatkan, yang ada malah hampir menuju bawah.
 
Sepertinya aku terlalu jahat pada diri ini, kerapkali menahan diri untuk mencoba terlalu keras, terlampau sering menolak kesempatan, dan tak jarang mengurung diri dari keramaian.
Sehingga, terbentuklah aku yang sebenarnya mampu, tapi menjadi lemah karena padangan sinis orang terhadapku. Ketidakpercayaan orang pada keterampilan yang kumiliki, melahirkan kecemasan, kekacauan dan perasaan khawatir yang sulit dihentikan dan berujung pada rasa rendah diri.

Boleh berhenti tidak, untuk memengaruhiku agar tidak mencoba?





Selasa, 14 Mei 2024

Ternyata Tak Sekuat Itu.

Satu pertanyaan yang membuatku hening dan mengulang harapan. 
Jika dulu aku ditanya apa yang ingin ku lakukan ketika ada kesempatan kembali ke masa lalu. 
Aku dengan tenang menjawab, tidak ingin kemana-mana dan tidak ingin masa lalu. Namun, Desember menjadikanku orang baru dengan pola pikir yang berbeda. Pertanyaan yang sama akan ku jawab dengan tangis, aku ingin kembali ke umur 6-12 tahun, aku ingin lebih banyak memeluk ibu ku, lebih mendengar perintahnya, mengganti baju sekolah sebelum bermain, makan di saat waktunya makan, tidur siang sepulang sekolah, tidak menangis jika rambutku dikepang. 

Jujur, itu ada pengalaman manis yang tidak semua anak bisa dapatkan kisahnya. Tidak ada pengalaman dua kali untuk mengajarkan kehilangan. Kita tumbuh karena terpaksa, mau tidak mau harus melaluinya. Kita tidak sembuh hanya karena pekerjaan membuat kita sibuk. Kita tidak sembuh hanya karena orang yang mau menemani kesedihan itu. Ternyata, tidak akan ada akan ada obatnya, para pesakit ini. Orang-orang memaksaku kuat untuk orang lain, ada yang harus ku jaga, ada yang ku bahagiakan katanya. Padahal aku butuh tenaga untuk diriku sendiri. Untuk diriku agar tidak mudah menangis, tidak mudah merasa sepi, sanggup minum obat tanpa disuruh, menyiapkan diriku setiap harinya. Orang-orang menyuruhku berhenti menangis diwaktuku berduka.