Aku ingin bicara tentang waktu yang tak menjaga apapun. Menjaga tawa kita yang menggema diudara teruntuk bahagia yang tetap abadi.
Menjaga tenang laut dari amuk ombak ketika karang telah kendung menjadi ukiran.
Menjaga daun hijau yang muda tak menguning , lalu jatuh tanpa menyalahkan ranting yang tak lagi menginginkan.
Menjaga kulit untuk tetap lembut tak keriput, atau menjaga apapun itu.
Sekali lagi waktu tak menjaga apapun yang kau ingin kehendaki.
Karena waktu hanya perekam dan pembuat kenang.
Karena itu. Aku sama sekali tak ingin pergi, membiarkan diri untuk sendiri. Dan waktu hanya merekam sepi dan sunyi yang berbau duka dan pembuat duri.
Aku hanya ingin disini, menemanimu hingga rambutmu memutih hingga gurat wajahmu menjadi keriput. Karena aku tak ingin menepikan usia sendiri.
Aku ingin disini, tak berpindah pindah huni. Menetap di kursi ratu dihatimu.
Hingga kelak kita sama sama saling melindungi membiarkan waktu membuat kenang dan merekam kita dari kini. Sampai suatu hari, waktu akan melihat aku menyiapkan sarapan pagimu dan obat diruang kerja saat tubuhmu tak lagi muda. Lalu waktu menyaksikanku ketika aku dengan piawai menyelimutimu dengan peluk lembut semata mata untuk hangatkan sekujur tubuhmu yang renta. Dan kita sama sama tua. Meski wkt tak menjaga apapun tp aku percaya bahwa waktu sedang mengajari kita menjaga apa yang kita punya.
Lelakiku..
Pada paragraf ini , aku ingin mengangkat misteri senyummu. Mungkin kamu sudah teramat bosan membacanya. Tp entah mengapa aku tak pernah merasa jenuh menuliskannya. Bagaimana tidak, aku selalu menyukai senyuman terlebih lebih itu terbit dari bibirmu. Tiap kali aku memperhatikannya aku seolah menangkap pelangi disana. Warna warni semesta yang tak mengharuskan air jatuh dari sudut matamu dan cahaya karena tatapmu. Lalu dari mana datangnya pelangi selain dari air dan cahaya? Apa aku sedang mengamati cinta? Yang mengalirkan deru arus sungai sepanjang perantaran retina hingga cahaya pelan pelan masuk kedalam korneaku yang ku pikir berasal dari pesonamu.
Mungkinkah cinta adalah misteri yang tak perlu berlelah pikir untuk menemukan kenyataan? Hingga aku sadar bahwa dalam lembut senyum simpulmu yang aku saksikan, maka aku hanya perempuan pengidap kelainan ketika aku menganggap diriku sendiri tak berguna untuk hidup
Kini paragraf selanjutnya tentang mengapa kamu masih dicintai, disayangi, disukai atau apalah sejenisnya oleh mereka termasuk mantan kekasihmu dan banyak orang lainnya lagi yang tak terdeteksi dengan radarku. Aku akhirnya mengerti mengapa. Alasan-alasannya muncul dikepalaku ketika lambat laun lembar tiap lembar terlewati. Alasan-alasan logis yang berlandaskan fakta dan bernaung pada kenyataan. Apa kamu ingat ketika aku berkata kamu baik sekali? Pasti. Karena mungkin terlalu sering aku katakan. Mengapa itu alasannya? Begini, sadar atau tak sadar kamu takkan pernah membiarkan seseorang merasa kesepian, kamu takkan menolak ketika siapapun meminta bantuanmu terkecuali ketika kamu benar benar ada hal lain yang harus kamu utamakan. Kamu penyemangat handal bagi yang merasa segalanya tak lagi mungkin disaat detik detik terakhir tak ada lagi harapan untuk berdiri. Kamu terkenal sebagai sosok yang slow but sure, lelaki yang memegang tanggung hingga jawab dengan sungguh.
Lelaki yang melakukan dan memikirkan hal dengan segala pertimbangan. Bukan pesimis, tidak juga seorang optimis.
Terkadang disela sela waktu saat semua sedang begitu sibuk dengan kemelut hatinya, kau muncul dengan celetuk celetukan yang tak jarang membuat semua menggeleng tertawa. Maka kaulah sebenarnya keturunan abu nawas bukan seperti yang kau tuduhkan berkali kali padaku.
Dari pertanyaan yang aku ajukan kepadamu kemarin. Aku tahu jika kamu pun bukan seorang yang introver atau seorang ekstrover. Kamu seseorang yang akan merasa nyaman dimanapun kamu berada, sendiri atau bersama orang lain.
Tanpa tespun. Aku tahu kamu, mahluk yang tak terlalu menyukai keramaian begitupun sebaliknya.
Pada paragrap kesekian ini aku ingin mengumbar rasa yang ku asinkan untuk lelaki lain selain kamu. Perihal Cinta. Aku cinta pada perasaanmu, pada kekalahanmu, pada terserahmu, pada ketidaktahuanmu, pada argument argument yang kau tasbihkan tanpa ragu. Aku tak benar bisa mengembangkan beberapa alasan tentang mengapa dan mengapa. Aku pun tak tau pasti kapan aku benar benar jatuh pada hatimu. Hanya saja, beruntunglah, berkatmu aku berlayar meninggalkan pulau kesepian berpasirkan duri dan berlangitkan kelam. Setelah lama melawan kekecewaan, kau datang bagai tameng disaat tenaga terakhirku dibawah kelemahan.
Kau tahu? Ketika kau mengjenguk rindumu pada rinduku lalu disaat saat waktu adalah penunggang detik menit dan jam, hingga ia bergema 'sampai disini'. Entah mengapa aku ingin melompat ke detik menit dan jam selanjutnya. Karena aku ingin menolak akan perpisahan.
Karena pada waktu punggungmu melambai tiada. Aku lirih mengeja kalimat demi kalimat, "aku belum siap mendengarkan gaduh rindumu pada rinduku. Memangut lunglai dan menggantungmu pada lamun. Aku ingin kau disini. Meniadakan waktu pada temu tanpa pulang. Aku tak ingin mengenal kepergian. Aku menyayangimu, lelaki yang merampas kesedihanku. Aku menyayangimu seperti caramu menyayangiku".
Hingga ada bayangmu yang seolah sedang bercengkrama dengan senja sore itu. Ah. Bayang itu. Aku merindukanmu.
Dalam semesta yang menyenja kau biarkan aku rebah dibahumu sembari mengucap selamat tinggal jingga. Mentaripun beringsut tenggelam diujung laut sana.
Dan dalam semesta yang pekat, aku menggenggam jemarimu mengusir jauh jauh ketakutanku akan gelap. Kau menunjuk ke atas; kepada langit langit yg sepi. Ternyata disana ada bintang yang kejora, kerlap kerlip manja menyapa.
Aku tersenyum..
Lagi lagi kau menunjuk langit ke tmpt berbeda. Ada rembulan. Rembulan perawan yang anggun singgah dikorneaku.
Saat kakimu mulai rapuh melangkah, maka akan ada bahuku yang menopang persendianmu yang lunglai.
Saat matamu mulai tertatih membaca koran diruang kerjamu. Maka akan ada aku yang setia mengantar secangkir kopi kesukaanmu; menyegarkan ingatanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar