ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*
Mataram, 27 Mei 2014 01:13
Kepadamu lelakiku, di dalam mata dan dadamu, aku tenggelam..
Aku tak lupa pada letupan yang bertalu talu bernama debar itu, karena senyummu adalah pengingat.
Terimakasih ..
Mataram, 27 mei 2014 9.30
"Selamat pagi ^- ", sapaannya yang tak kulewatkan walau hanya sehari. Kebiasaan kecil yang selalu ku wanti-wanti hadirnya. Bahwa akan lebih menyenangkan lagi bila mampu melihat wajahnya di saat mentari bangun dari singgasana.
Hari itu ketika subuh, aku berharap bahwa hari ini membuka kotak misteri yang berisikan banyak keberuntungan. Karena tepat tanggal 27 aku pernah diculik olehnya ke tempat yang bernama nirwana. Tempat yang banyak di ceritakan di negeri dongeng. Tempat dimana seseorang mengutarakan perasaannya. Aku selalu tersenyum mengingat tempat itu. Tempat bersejarah tentunya.
....
Hari itu, aku sedang asik membaca novel di sebuah tempat yang paling kusukai. Sedangkan lelakiku sedang bergulat dengan dunia kesayangannya, tentu saja bermain futsal layaknya lelaki lain. Akupun menunggu hingga ia usai dari berlelah-lelah menyenangkan itu. Hanya saja aku lupa untuk mengingatkan ia untuk memanjakan perutnya terlebih dahulu, aku hanya tau menunggu. Aku memang payah dalam hal seperti ini. Lalu usai lelakiku bermain, ia berpindah tempat ke rumah temannya. Sesampai disana, perutnya meronta ronta. Aku pikir itu penyakit maagnya kembali bertamu. Lalu aku mengusulkannya untuk menyegerakan diri untuk sarapan. Setelah itu lelakiku berkata ia mendapatkan sarapan dari seorang perempuan. Seorang perempuan yang baik hati kepadanya.
Hati tertegun, tak tau apa yang sebaiknya aku ucap untuk membalas yang baru saja ia katakan. Bertingkah seperti apa lagi, hati sudah begitu hebat mengendalikan. "Kemanakah logika disaat seperti itu?" Aku memilih tak mengatakan apa-apa, aku memilih diam dan hanyut terbawa gelisah. Gelisah yang membawaku pada muara tanya.
Entah kenapa tiba-tiba saja aku tak peduli pada katakatanya, tidakpula pada perih perutnya.
Akupun bersikap acuh tak acuh, ku kira aku tak perlu memikirkannya. Toh sudah ada yang memperhatikanya jauh lebih dariku. Jauh lebih hebat dari "ingat sarapan". "Sudahlah" pikirku.
Aku memutuskan percakapan dan menghela nafas panjang, dugaan-dugaan tak becus itu memulai tempur hingga sesak lebih cepat bergegas mengantarkan duri ke kekerongan menuju ke sela-sela bola mata. Apa yang terjadi? Entah. Aku terlalu kekanakan-kanak dalam hal ini. Maka disaat seperti itu, mandi salah satu cara menghilangkan resah, membuang ganjil dalam hati. Usai itu aku kembali diam, pikirankulah yang nelangsa. Pikiran yang dipenuhi prasangka-prasangka tak beralasan.
Sekian lama terdiam,"aku harus membuang resah dalam tulisan, harus". Akupun menulis, dua tulisan terlewatkan. Seketika itu..
Alarmku berdering dan suaranya begitu melingking di telinga. Waktu untuk pergi rapat.
....
Aku membuang pandangan ku keseluruh ruangan, mencari sosok lelakiku. Tak ada ku temukan, tak terlihat sama sekali oleh retinaku. "Mungkin dia tidak datang, mungkin dia sedang sibuk jadi ia tak sempatkan diri untuk hadir, iya mungkin saja", benakku.
Entah mengapa merasa sepi diantara keramaian seperti ini. Ada banyak yang mengajakku berbicara, namun aku hanya mengangguk, menggeleng, atau berbicara hanya sepatah dua patah. Aku sedang tak bersemangat.
Usai semua itu, aku mengirim pesan untuk lelakiku. Bertanya sedang dimana. Tak lama ia menjawabnya dan bertanya kembali padaku sedang dimana. Akupun memberitahu dan ia berkata akan datang ke tempatku sedang menunggunya. Tak lama kemudian ia datang. Entah mengapa ketika melihat, aku seringkali aku tak mampu menahan debar. Kekesalanku menjadi salah tingkah. Membuatku malu sendiri. Lalu aku berkata,"Tunggu ya sholat dulu". "Sholat di rumah aja. Kita juga mau beli buku", sambutnya.
Kamipun pulang, dalam perjalanan ia berkata,"sebenarnya kita diajak buat pergi renang sekarang".
"Sama siapa?"
"Sama cewek"
<°Д°>
"Kenapa gak pergi?" (•˘˛˘•)
"Haha becanda, sama guru kita, tapikan kita uda janji sama yang murung tadi".
╰(◣﹏◢)╯
"Siapa?"
"Pacar kitakan. Kita gak ditanya-tanya nih?"
"Apa?"
"Tanya tentang perempuan yang anter makan buat kita".
"Gak, lupain. Gak mau denger, gak mau bahas lagi" ◀-- perempuan banget. (┌','┐)
"Bener nih gak mau? Yaudah".
"Iya gak" *(╥﹏╥).
Sesampai dirumah, lelakikupun pulang. Dia bahkan tak mengucapkan kata maaf sedari tadi. Sambil melihat pundaknya menghilang dari pandanganku, aku melangkah masuk. .....
Lalu beberapa jam kemudian, aku menunggu pesan darinya masuk. Tak ada tanda-tanda sedikitpun ponselku akan berbunyi. Jadi kupikir, akulah yang akan memulai bertanya jadi atau tidak kita akan pergi ke toko buku. Iapun membalasnya, tentu ucapnya.
...
19.00
Sesampai di toko buku, matanya langsung menangkap novel yang buru, ia sangat hebat. Kamipun terpisah, gelap mata diperdayai oleh novel-novel yang ada disana. Aku berkeliling menjamah satu persatu yang ku pikir menarik dari sisi covernya. Singkat cerita kami memborong 1 buku dan 3 novel. Walaupun sekian banyak yang kita beli. Kita tidak mendapat apapun dari toko buku itu. Kekesalan mungkin mempengaruhi keberuntungan kita.
.....
Usai itu, aku mengajaknya berpindah ke sebuah tempat makan. Di dalam perjalananpun kite berbicara.
"Bener nih gak mau tau? Jangan mikir terlalu jauh".
"Udalah lupain, sesuatu yang menyebalkan seharusnya dilupain".
"Maaf uda buat kesel, kita jelasin tapi kita dilarang".
"Lagi senyum ya?".
"Iya, tapi kita lagi gak bener-bener seneng".
"*speechless*
Entah, saat itu aku tak ingat pasti apa yang ku katakan untuk memaksanya bercerita tentang kejadian pagi itu. Yang pasti ia bercerita kejadian sebenarnya. Dan apa yang sebenarnya terjadi? Siapa perempuan itu? Perempuan itu adalah penjual nasi. Mendengar kata itu, sontak aku terkejut malu. Aku tak tau harus seperti apa, yang ku ingat saat itu, aku hampir saja menangis. Namun aku juga bernafas lega. Aku bahkan tak kunjung berakhir memikirkannya, sesekali aku tersenyum, berkata lirih :aku tertipu". Rasanya aku ingin terus menggelitinya karena berani sekali menggoda kesabaranku dengan candaan seperti itu. Dengan candaan seperti itu, ia membuatku lupa memberi gigitan di jempol kirinya. Namun ia mengingatkanku, mungkin karna ia merasa bersalah berbuat seperti itu. Maka dengan senang hati aku membalasnya dengan gigitan, pelan sih. Bagaimana mungkin aku tega menyakitinya terlalu dalam. Takkan pernah aku lakukan
(っ˘з(˘.˘ )♥.
Dan usai makan aku dan lelakiku pulang dengan membawa segenggam pena dan kertas yang tertuai cerita hari itu.
Lelakiku, setulus hati maaf untuk cemburu yang seringkali menenggelamkan peduli. Cemburu yang membuat bahasa tubuhku menjadi kekanak-kanakan. Cemburu yang tak jarang menutupi kebenaran.
-Aku terlambat menemukan logika dipadang pasir itu, melihatmu dikejauhan bahwa ada yang menyuapimu minum ketika tubuhmu membutuhkan dahaga. Mendengar dari kejauhan bahwa ada yang menguatkan senyum ketika lelah menguasai pikiranmu. Aku berlari sejauh jauh mungkin mengibaskan debu agar tak lagi melihat dan mendengar. Ketika aku telah jauh, nafasku tersengal dan terjatuh menangis. Aku tersungkur, melumat suka cita yang tersisa. Aku menutup keras-keras telinga, agar tak lagi mendengar angin yang membawa tawamu. Aku menutup mata agar tak lagi melihat kejadian yang terseret oleh fatamorgana.
Aku menutup diri dari kebenaran. Membiarkan gelap membumbui perasaan dan pikiran. Tapi kini aku tau, aku tersadar teramat lama bahwa aku memang tak seharusnya cemburu kepada mereka yang lebih baik mengenalmu bahkan kepada mereka yang membuatmu tersenyum. Bukankah senyummu adalah hal yang hal paling kugilai? Maka aku takkan tega melihat itu menghilang.