Kamis, 26 Juni 2014

Perihal Rindu

Mataram. 23:20

Tanpa menunggu lagi, aku mengirimkan seamplop surat berwarna merah. Bukalah semoga kau tak terkejut bahwa rinduku benar benar liar untuk kau baca dari tulisan tangan perempuanmu yang menunggu kabar baik dari bibirmu yang pesona.

Tentang malam-malam yang terlewatkan begitu saja tanpa ada seamplop pesan yang terdapat pada kotak pos yang berdiri tegak tepat dihalaman rumahku.
Ku sampaikan sedalam dalamnya, aku teramat rindu.
Aku rindu. Iya ini perihal rindu yang mengobral sepi yang kepanjangan.
Rindu yang tak terbayarkan. Rindu yang ku telan bagai obat pesakit tanpa minum. Berbagai macam pikiran jahat menggelitik pelan-pelan ketika rindu tak terbalas. "Apa aku ada dipikirannya?". "Apa aku ada dihatinya?". "Siapa saja yang ia tunggu balasan suratnya?". "Adakah selain aku?".

Aku rindu. Iya perihal rindu yang telah dipertemukan kepada pemiliknya. Telah mendengar sapa pujangganya, tersentuh jemarinya. Maka rinduku Lebih riang, lebih terang dari redupnya terdahulu. Tapi sepertinya pepatah memang selalu ada benarnya. Rindu terlalu riang. Tak tahu diri bahwa Tuhan penguasa membalik-balikkan rasa. Hingga rindu telah menyisakan sesak yang menawarkan tangis yang memilukan. Hanya saja, hati mampu menahan diri, namun tak selalu bisa menyembunyikannya. Tampaknya rinduku membeku seketika.

Aku rindu. Perihal hari hari yang banyak terlewatkan. Banyak yang ingin ditanyakan rindu kepada pemiliknya. Rinduku yang tak jarang menunggu disapa tiap paginya, menanti senyummu yang menggetarkan hati seorang perempuan.

Aku rindu. Sekali lagi aku rindu. Jika hanya untuk membiasakan. Aku akan terbiasa. Ketika rindu diberi kesempatan untuk berucap, namun tak untuk terdengar. Maka terucap saja cukuplah.
Teruntuk pemilik rindu, ketahuilah maafku ingin mengunjungimu. Berkata bahwa aku membiarkanmu sendiri tanpaku. Terbiasa tanpaku. Tanpa tawa bahkan canda yang pernah membuatmu candu.

Diujung 3 menit menuju jenjang waktu kita. Semoga kau menyambut baik maafku dalam surat yang akan ku letakkan tepat dalam keningmu. Agar aku adalah maaf bagi kenangmu.

Terimakasih telah datang begitu manis menawarkan terang dalam gelap yang paling sunyi.

I love you.

Rabu, 18 Juni 2014

Rip peduli

Rasa pekat menghambur di dadanya. Menabur tiap durja di tiap ruang tersebut hatinya. Kabur, buram pandangannya. Tak nampak kebenaran. Semburat kehitaman mengukung tubuhnya berpadu dengan tetes bening yang mengalir. Darah merahnya sepakat menggumpalkan damai. Mengalirlah sepi. Sepi yang sebenar benarnya sepi.  Diam? Ah tidak. Hati bergumam, menyumpah serapah sekelilingnya. Ia telah diperdayai kebencian. Diperbudak oleh amarah. Perlahan tak tertahan, pedih resmi menguasai dirinya. Ia sesekali memukul mukul dadanya, isaknya pun mulai pecah. Tak lagi ada pita kesabaran yang menghias jiwanya dari hitam putih yang membosankan. Tak ayal ia tenggelam tak mengenal dirinya.

Siapa yang akan hendak menjabat tangannya? Menyelamatkan sisa-sisa kelembutan perempuannya?  Tolonglah dia, lihatlah ke dalam matanya yang membengkak dengan lamat lamat. Ada sepi yang meluap luap. Ada luka yang menjadi jadi. Tatap dalam jiwanya, jiwa mengais ais perhatian. Malangnya.

Kemana mereka yang berteriak akan ada? Yang menggemakan pengorbangan? Kemana mereka yang takkan meninggalkan? Dimana? Apa diseberang sana, berpura pura menjerit khawatir. Sedangkan tangannya sama sekali tak terulur. Berpura pura menyemangati. Padahal sesungguhnya mereka enggan.

Rip pada peduli yang benar benar peduli. Ah peduli. I miss you so badly

Rabu, 11 Juni 2014

Ini aku (/▽\)

Ayah Ibu, ini anakmu. Buah hati yang katamu paling dinanti, seperti terjemaahan dari sebuah nama yang kau namakan padaku.

Baiklah ibu..

Ini aku yang tak jarang membuatmu bersusah hati karena terus mengkhawatirkanku.

Ini aku ibu, yang seringkali terperangkap dalam ruang  kelalaian yang akhirnya banyak menghilangkan.

Ini aku yg tak jarang meluluh lantahkan harapan dan akhirnya membuatmu bermuram durja.

Ini aku , seseorang anak yang tak bisa merapikan waktu untuk mengusir sepimu.

Ini aku, salah satu anakmu yg terlampau sering kau selipkan rindu dalam suara.

Ini aku, anak tak sempat membalas perhatianmu.

Kali ini ayah..
Ini anakmu yang berkali kali kau lepas.
Anak yang tak lagi menaiki sepeda seperti dulu ketika kau memegangi tempat dudukku hingga perlahan lahan kau lepas aku mengayuh sendiri. Tersadar kau lepaskan, akupun mengayuh ketakutan. Kau berteriak ketika aku jauh dari pandanganmu. "Jangan takut. Terus nak terus. Ayah disini". Sejak itu, aku bisa. Aku tak takut mengayuh.
Sayang kini aku belajar mengemudi. Tak sama sekali tergenggam olehmu, ayah. Tapi suaramu terdengar disampingku, menyemangati ketika aku mulai putus asa ketika aku berkali kali akan menabrak.

Ibu, maaf..

Dr anak yg ingin sesekali memeluk surgamu dan anak yang ingin mengenyahkan jarak untukmu. 

Dengarlah tiupan terompet emas keberuntungan itu, kelak. Atau bahkan sebentar lagi, ayah ibu.
Terimakasihku atas wejangan lemah lembut itu. Sungguh anak perempuan kalian sangat merindukan dekapan.

Sedikit saja tentang mereka

Ah mereka.
Dua perempuan dengan sejuta keunikan didalamnya. Dua perempuan yang dianugrahi sekotak rasa penyayang didalam darahnya.
Sama sama dianugrahi itu, namun sesungguhnya dua perempuan itu berbeda. Sungguh berbeda.

Satu perempuan..
Mungkin bila anda tak mengenalnya, ia tampak seperti orang pendiam bersuara emas. Saat itulah tebakan anda salah. Suara yang melengking, alis tipis bermata sipit walaupun tak ada keturunan chinese sebenarnya. Jika tersenyum maka nampaklah gigi kecilnya yang jarang.  Dari bentuk mukanya di anugrahi bentuk muka kotak. Pun bentuk tubuhnya mungkil disertai keringkihannya. Hanya saja ketika siapapun melihatnya, ada keistimewaan yang terpancar dari kesederhanaannya. Maka tak jarang yang jatuh hati padanya setiap kali bertemu pandang. Hanya saja, ia perempuan dengan kesetiaan dalam genggamannya. Satu lelakinya, maka cukuplah baginya. Keunikannya? Lamban- mengIkat rambutnya tinggitinggi seperti lilin. Cara bicaranya yang terlalu imut dan caranya yang lucu. Saya tidak bisa mendeskripsikannya seperti apa.

Satu perempuan yang lain.
Perempuan dengan paras berbentuk bulat yang memiliki lesung bibir dan memiliki ginsul serta berkulit putih. Suaranya maksimalis, maksudnya cukup merdu. Dari penjabaran yang sedikit itu, bukankah sudah tampak menarik? Tentu. Hanya saja bentuk tubuh bagian pinggang disana akan tampak sedikit tumpukan lemak. Tidak, dia tidak gemuk, proporsi badannya pas. Hanya dia kurang sedikit tinggi. Walaupun seperti itu, telah banyak lelaki jatuh telak dihadapannya. Cantik sih. Jauh daripada itu dulu ketika musim berganti maka yang bersamanyapun berbeda. Silih berganti dan biasa tak berganti hanya bertambah. Tapi percayalah itu dulu. Sekarang ia benar-benar ingin setia. Sangat ingin. Keunikanya itu tergesa-gesa, memikirkan hal hal yang kecil secara lebih.
Sekian tentang dua perempuan. Dari perbedaan itu. Sekalilagi mereka sama sama penyayang.
Oh mereka juga sama sama mancung ke dalam dan mereka sesungguhnya cantik jelita.

Ketahuilah ketika bersama mereka, kau takkan bisa berlama lama bermuram durja.

Selasa, 03 Juni 2014

Dua tujuh ..

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Mataram, 27 Mei 2014 01:13

Kepadamu lelakiku, di dalam mata dan dadamu, aku tenggelam..

Aku tak lupa pada letupan yang bertalu talu bernama debar itu, karena senyummu adalah pengingat.
Terimakasih ..

Mataram, 27 mei 2014 9.30

"Selamat pagi ^- ", sapaannya yang tak kulewatkan walau hanya sehari. Kebiasaan kecil yang selalu ku wanti-wanti hadirnya. Bahwa akan lebih menyenangkan lagi bila mampu melihat wajahnya di saat mentari bangun dari singgasana.
Hari itu ketika subuh, aku berharap bahwa hari ini membuka kotak misteri yang berisikan banyak keberuntungan. Karena tepat tanggal 27 aku pernah diculik olehnya ke tempat yang bernama nirwana. Tempat yang banyak di ceritakan di negeri dongeng. Tempat dimana seseorang mengutarakan perasaannya. Aku selalu tersenyum mengingat tempat itu. Tempat bersejarah tentunya.
....
Hari itu, aku sedang asik membaca novel di sebuah tempat yang paling kusukai. Sedangkan lelakiku sedang bergulat dengan dunia kesayangannya, tentu saja bermain futsal layaknya lelaki lain. Akupun menunggu hingga ia usai dari berlelah-lelah menyenangkan itu. Hanya saja aku lupa untuk mengingatkan ia untuk memanjakan perutnya terlebih dahulu, aku hanya tau menunggu. Aku memang payah dalam hal seperti ini. Lalu usai lelakiku bermain, ia berpindah tempat ke rumah temannya. Sesampai disana, perutnya meronta ronta. Aku pikir itu penyakit maagnya kembali bertamu. Lalu aku mengusulkannya untuk menyegerakan diri untuk sarapan. Setelah itu lelakiku berkata ia mendapatkan sarapan dari seorang perempuan. Seorang perempuan yang baik hati kepadanya.
Hati tertegun, tak tau apa yang sebaiknya aku ucap untuk membalas yang baru saja ia katakan. Bertingkah seperti apa lagi, hati sudah begitu hebat mengendalikan.  "Kemanakah logika disaat seperti itu?" Aku memilih tak mengatakan apa-apa, aku memilih diam dan hanyut terbawa gelisah. Gelisah yang membawaku pada muara tanya.
Entah kenapa tiba-tiba saja aku tak peduli pada katakatanya, tidakpula pada perih perutnya.
Akupun bersikap acuh tak acuh, ku kira aku tak perlu memikirkannya. Toh sudah ada yang memperhatikanya jauh lebih dariku. Jauh lebih hebat dari "ingat sarapan". "Sudahlah" pikirku.
Aku memutuskan percakapan dan menghela nafas panjang, dugaan-dugaan tak becus itu memulai tempur hingga sesak lebih cepat bergegas mengantarkan duri ke kekerongan menuju ke sela-sela bola mata. Apa yang terjadi? Entah. Aku terlalu kekanakan-kanak dalam hal ini. Maka disaat seperti itu, mandi salah satu cara menghilangkan resah, membuang ganjil dalam hati. Usai itu aku kembali diam, pikirankulah yang nelangsa. Pikiran yang dipenuhi prasangka-prasangka tak beralasan.
Sekian lama terdiam,"aku harus membuang resah dalam tulisan, harus". Akupun menulis, dua tulisan terlewatkan. Seketika itu..
Alarmku berdering dan suaranya begitu melingking di telinga. Waktu untuk pergi rapat.
....
Aku membuang pandangan ku keseluruh ruangan, mencari sosok lelakiku. Tak ada ku temukan, tak terlihat sama sekali oleh retinaku. "Mungkin dia tidak datang, mungkin dia sedang sibuk jadi ia tak sempatkan diri untuk hadir, iya mungkin saja", benakku.
Entah mengapa merasa sepi diantara keramaian seperti ini. Ada banyak yang mengajakku berbicara, namun aku hanya mengangguk, menggeleng, atau berbicara hanya sepatah dua patah. Aku sedang tak bersemangat.
Usai semua itu, aku mengirim pesan untuk lelakiku. Bertanya sedang dimana. Tak lama ia menjawabnya dan bertanya kembali padaku sedang dimana. Akupun memberitahu dan ia berkata akan datang ke tempatku sedang menunggunya. Tak lama kemudian ia datang. Entah mengapa ketika melihat, aku seringkali aku tak mampu menahan debar. Kekesalanku menjadi salah tingkah. Membuatku malu sendiri. Lalu aku berkata,"Tunggu ya sholat dulu". "Sholat di rumah aja. Kita juga mau beli buku", sambutnya.

Kamipun pulang, dalam perjalanan ia berkata,"sebenarnya kita diajak buat pergi renang sekarang".

"Sama siapa?"
"Sama cewek"
<°Д°>
"Kenapa gak pergi?" (•˘˛˘•)
"Haha becanda, sama guru kita, tapikan kita uda janji sama yang murung tadi".
╰(◣﹏◢)╯
"Siapa?"
"Pacar kitakan. Kita gak ditanya-tanya nih?"
"Apa?"
"Tanya tentang perempuan yang anter makan buat kita".
"Gak, lupain. Gak mau denger, gak mau bahas lagi" ◀-- perempuan banget. (┌','┐)
"Bener nih gak mau? Yaudah".
"Iya gak" *(╥﹏╥).
Sesampai dirumah, lelakikupun pulang. Dia bahkan tak mengucapkan kata maaf sedari tadi. Sambil melihat pundaknya menghilang dari pandanganku, aku melangkah masuk. .....
Lalu beberapa jam kemudian, aku menunggu pesan darinya masuk. Tak ada tanda-tanda sedikitpun ponselku akan berbunyi. Jadi kupikir, akulah yang akan memulai bertanya jadi atau tidak kita akan pergi ke toko buku. Iapun membalasnya, tentu ucapnya.
...
19.00

Sesampai di toko buku, matanya langsung menangkap novel yang buru, ia sangat hebat. Kamipun terpisah, gelap mata diperdayai oleh novel-novel yang ada disana. Aku berkeliling menjamah satu persatu yang ku pikir menarik dari sisi covernya. Singkat cerita kami memborong 1 buku dan 3 novel. Walaupun sekian banyak yang kita beli. Kita tidak mendapat apapun dari toko buku itu. Kekesalan mungkin mempengaruhi keberuntungan kita.
.....
Usai itu, aku mengajaknya berpindah ke sebuah tempat makan. Di dalam perjalananpun kite berbicara.
"Bener nih gak mau tau? Jangan mikir terlalu jauh".
"Udalah lupain, sesuatu yang menyebalkan seharusnya dilupain".
"Maaf uda buat kesel, kita jelasin tapi kita dilarang".
"Lagi senyum ya?".
"Iya, tapi kita lagi gak bener-bener seneng".
"*speechless*
Entah, saat itu aku tak ingat pasti  apa yang ku katakan untuk memaksanya bercerita tentang kejadian pagi itu. Yang pasti ia bercerita kejadian sebenarnya. Dan apa yang sebenarnya terjadi?  Siapa perempuan itu? Perempuan itu adalah penjual nasi. Mendengar kata itu, sontak aku terkejut malu. Aku tak tau harus seperti apa, yang ku ingat saat itu, aku hampir saja menangis. Namun aku juga bernafas lega. Aku bahkan tak kunjung berakhir memikirkannya, sesekali aku tersenyum, berkata lirih :aku tertipu". Rasanya aku ingin terus menggelitinya karena berani sekali menggoda kesabaranku dengan candaan seperti itu. Dengan candaan seperti itu, ia membuatku lupa memberi gigitan di jempol kirinya. Namun ia mengingatkanku, mungkin karna ia merasa bersalah berbuat seperti itu. Maka dengan senang hati aku membalasnya dengan gigitan, pelan sih. Bagaimana mungkin aku tega menyakitinya terlalu dalam. Takkan pernah aku lakukan
(っ˘з(˘.˘ )♥.
Dan usai makan aku dan lelakiku pulang dengan membawa segenggam pena dan kertas yang tertuai cerita hari itu.

Lelakiku, setulus hati maaf untuk cemburu yang seringkali menenggelamkan peduli. Cemburu yang membuat bahasa tubuhku menjadi kekanak-kanakan. Cemburu yang tak jarang menutupi kebenaran.

-Aku terlambat menemukan logika dipadang pasir itu, melihatmu dikejauhan bahwa ada yang menyuapimu minum ketika tubuhmu membutuhkan dahaga. Mendengar dari kejauhan bahwa ada yang menguatkan senyum ketika lelah menguasai pikiranmu.  Aku berlari sejauh jauh mungkin mengibaskan debu agar tak lagi melihat dan mendengar. Ketika aku telah jauh, nafasku tersengal dan terjatuh menangis. Aku tersungkur, melumat suka cita yang tersisa. Aku menutup keras-keras telinga, agar tak lagi mendengar angin yang membawa tawamu. Aku menutup mata agar tak lagi melihat kejadian yang terseret oleh fatamorgana.

Aku menutup diri dari kebenaran. Membiarkan gelap membumbui perasaan dan pikiran. Tapi kini aku tau, aku tersadar teramat lama bahwa aku memang tak seharusnya cemburu kepada mereka yang lebih baik mengenalmu bahkan kepada mereka yang membuatmu tersenyum. Bukankah senyummu adalah hal yang hal paling kugilai? Maka aku takkan tega melihat itu menghilang.

Minggu, 01 Juni 2014

Draf

Aku merebahkan diri bukan pada kasur kesayangan melainkan diatas selapis tipis kain spaduk , sedang diatasku bukan juga plafon putih yang biasa menyaksikan aku terlelap perlahan tapi sekarang beratap kerlap kerlip bintang, iya aku tidak sedang dikamar pastinya. Aku di sebuah lembah kecil.
Bermalam...
Langit malam yang seringkali ku anggap pekat, ternyata begitu berbeda. Beda dari dugaan awalku. Bagaimana tidak langit pada malam ini -

End-catatan yang menjadi draf yang ku tulis ketika Diam diam aku mencuri suara tawanya yang terbawa angin dari sebatas tenda malam itu. Aku tak berniat untuk berbicara kepada siapapun malam itu. Walaupun sesekali menyahut seadaanya hanya untuk memastikan bahwa aku ada di sana. Perasaan saja yang tak karuan. Nelangsa sejak mendengar yang tak seharusnya terdengar. Meski hanya sekedar gurauan. Mungkin tak lucu bagiku kesensitifanku.

Hingga malam itu, aku memilih diam, mendengar apa saja yang terbawa ke kuping. Bising? Tidak. Karena tawanya begitu pas untuk dijadikan nyanyian malam. Tapi tidak untuk malam itu, kesal mengelapkannya. Mengubah nyanyian lembut itu menjadi nyanyian menyayat hati. Tenggelamlah dalam pedih, dalam gelap. Cahaya bintang takkan cukup menampakkan wajahku yang menyedihkan waktu itu. Takkan jadi masalah jika aku seperti ini, pikirku. Aku memilih diam. Sungguh perasaan keperempuanku menyebalkan saat itu.

Hingga dipertengahan petang.
Ada lelaki yang ku curi tawanya berkata," dimanakah seseorang berhargaku".
Lagi lagi aku mengutus diri untuk diam.
Lelaki itupun melanjutkan permainan dengan teman lainnya malam itu.
Hingga ia meletakkan kartu, ia pun mulai berkata lagi, " sudah cukup, aku ingin menghampiri perempuanku yang sedang bermurung diri".
Aku dikala itu, tersenyum. Hanya dengan sayup kata seperti itu, kesalku tak lagi meresahkan, kesalku mati seketika dengan nada bicaranya. Lelaki itupun datang duduk disampingku, aku menyambutnya dengan senyum manja (〃 ̄︶ ̄)┘└( ̄︶ ̄〃) kemudian *tos. :D
Lalu lelaki itupun tersenyum. Senyum yang pesona itu mengantarku rebah dipangkuannya. Dalam pangkuannya, jemarinya membelai lembut mengirimku ke dalam damainya malam itu. Lalu kesal mana yang betah berlama-lama ketika seperti ini? Tak ada.
Itu semua karena lelaki itu. Lelaki yang selalu menutup dirinya dari pandangan. Namun begitu menarik perhatian. Lihatlah, Menakjubkannya lelaki itu.

Hangatnya perlakuanmu, kesalku tak ingin memperumit. Bolehkah aku lelap kembali dalam damai itu?

Welcome june !

〜(^∇^〜)(〜^∇^)〜 juni ! juni ! juni !

Oke, hari ini adalah hari minggu, hari pertama dalam bulan juni. Sekarang sudah memasuki pertengahan tahun 2014. Jadi ada apa? (¬,¬")

Akan ada banyak kotak misteri didalamnya. Tiap hari saya menerima dan harus membuka satu persatu kotak di waktu subuh, laiknya bulan lalu.
Saya masih ingat beberapa kotak misteri yang paling menyenangkan sampai mengejutkan dibulan lalu. Seperti :
1. Tanggal 6, hari itu hari selasa hari kelahiran lelaki saya (hanya hari). Hari sebenarnya saya kuliah pagi penelitian pendidikan, bahasa indonesia dan sorenya matematika. Berhubung dosen-dosen pagi pada hari itu berhalangan hadir untuk mengajar. Akhirnya kami mengutus diri pulang, walau sesungguhnya kami tidak pulang melainkan bertamu ke rumah teman saya bernama marina. Di sana kami menghadirkan percakapan-percakapan kecil persahabatan. Lalu ketika sore tiba, saya dan teman-teman lain berangkat kuliah dari rumah marina. Di dalam perjalanan, hp saya bergetar, ada 2 pesan masuk yang berisi bahwa dosen matematika juga tidak dapat hadir. Entah saya harus berekspresi seperti apa saat itu ┒(—˛—)┎. Antara pengen jingkrak-jingkrak atau jatuh terkapar tak berdaya. Sekali lagi entah ya. Tapi walaupun tidak ada dosen , kami tetap lanjutkan perjalanan ke kampus karna berniat mengambil surat pengantar untuk observasi. Sesampai di kampus, kampus terasa mistis tak berpenghuni. Tak ada penampakan ketua tingkat yang menjanjikan kaki surat pengantar (PHP).
(ノ `Д´)ノ~┻━┻
Akhir kata, terimakasih dosen dan ketua tingkat saya yang terhormat.
Akhirnya sayapun pulang ke rumah dengan langkah lemah gemulai. Tapi itu bukan akhir cerita hari itu, akan tetapi sesampainya saya di rumah. Saya berserah diri pada yang kuasa  (sholat )dan tak lupa mandi. Setelah itu saya berdiam diri, setelah bosan saya akhirnya guling-guling. Lalu saat hati gundah gulana tibatiba Hp saya bergetar -dahsyat- dan saya tau itu pasti sms dari lelaki saya karena getarannya yang luasa biasa <( ̄︶ ̄)>. Lelaki saya memang hebat, penenang segala gundah yang handal. Jadinya sejak sms itu masuk, saya berhenti guling-guling dan akhirnya menunggu lelaki saya datang. Dan benar beberapa menit lelaki saya sudah tersenyum di depan rumah. Sayapun bergegas keluar, dan duduk diatas rio (vario). Dan itulah akhir hari selasa, saya dan lelaki saya mengejar senja (post) ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~
2. Tanggal 14 hari rabu itu bertepatan dengan ulangan hari dan tanggal kelahiran sahabat saya bernama muazatul wardi. Sebelumnya, pagipagi saya dan teman kelompok melakukan observasi di sebuah SD di mataram untuk mata kuliah media dan abp. Usai observasi, kami menyusun hasil observasi di rumah dan sorenya kami berangkat kuliah. Sebelum sampai kampus, saya menyempatkan diri mampir disebuah toko dekat kampus untuk membeli 2 lilin dan korek untuk sahabat saya yang berulang hari dan bulan tadi. Lalu sesampai dikampus, ternyata terjadi miss komunikasi antara dosen dan sebagian mahasiswa; yang dimana permintaan dosen yang baik hatinya itu adalah hasil observasi harus dikumpulkan sedangkan sebagian mahasiswa menangkap sinyal bahwa hasil observasi tidak perlu dikumpulkan. Lalu bagaimana kami semua yang tidak mengumpulkan, mencoba berbicara dengan dosen di jam pulang. Akan tetapi hasilnya percuma dan siasia saja. Kami tetap disalahkan. Dengan terburu buru kami bergegas ngeprint dan mengumpulkannya di meja walaupun kami tidak tahu diperiksa atau tidak, dinilai atau tidak, di anggap atau tidak. Kami tidak tahu pasti. Hanya berdoa semoga semua baik baik saja diakhir kuliah. Oke, fix. Dengan langkah gontai sayapun pulang dan memberi kejutan kecil ke sahabat saya. Hanya kejutan kecil dan mungkin tak layak disebut kejutan. Seusai itu, saya pulang bersama sahabat perempuan saya yang berulang tahun itu karena lelaki saya tidak bisa pulang bersama berhubung rio sedang bermasalah. Tapi setidaknya saat itu, seresah apapun kepada miss komunikasi. Wajah lelaki saya sudah mencukupkan bahagia hari itu. ^v^
3. Tanggal 16, yang pasti jumat adalah hari itu. Hari itu matakuliah psikologi kepribadian dan seni rupa. Saya tidak membahas perkuliahan hari itu, melainkan kisah pertama saya memasuki perpustakaan unram. Hari itu, lelaki saya mengajak saya terlebih dahulu untuk sarapan sebentar lalu lelaki saya iseng bertanya. Apakah saya mau ikut ke perpustakaan. Tentu, dengan senang saya mengangguk iya. Lalu seusai sarapan kami berangkat, sesampai disana ternyata banyak sekali mahasiswa yang duduk berjejer di depan perpustakaan, <°Д°> entah ngapain disana, kurang kerjaan banget haha. Atau saya yang kurang kerjaan perhatiin orang duduk :D.
Dengan langkah tak peduli, kami memasuki perpustakaan, menaiki tangga dan menyusuri lorong. Akhirnya tiba dipenitipan tas. Usai itu kami menaiki tangga lagi,
Lelaki saya lalu mengembalikan buku dan membayar denda(kebiasaan sering telat). ( ̄__ ̄>-(^▽^). Setelah mengembalikan buku, lalu lelaki saya mengajak untuk melihatblihat buku, lalu sayapun gelap mata mencari cari. Banyak buku yang judul-judulnya keren disana. Lalu lelaki saya, mentoyol toyol pundak saya, untuk mengajak saya duduk. Saya tidak mengerti apa yang akan dia lakukan. Maklum dia terlalu ajaib untuk diterka terka. Lelaki saya mengajukan 70an soal untuk saya jawab dengan iya atau tidak. Eh setelah begitu banyak pertanyaan yang telah terjawab, dia salah tehnis. Dia bingung, sayapun ikut bingung. Pasangan kompak. Akhirnya dia mengatakan maksud dia bertanya. Ternyata lelaki saya ingin mengetes seberapa kelembutan hati saya, pemirsa ((((*。_。). Lelaki saya memang hebat :D
4. Tanggal 17, hari itu hari sabtu. Lelaki saya sibuk membangunkan saya dengan katakata sindiran yang tajam "kalo gak disindir, gak bangun-bangun". Itu kata yang membuat saya sontak terkejut dan loncat dari kasur kasur tercinta. Kalimat magis. Lalu saya bangun dan dia pergi ke acara wisuda temannya. Saya ditinggalkan setelah dibangunkan. --) sekian waktu berlalu, saya beranjak pergi dari rumah yang sepi untuk rapat acara kbm dikampus. Lelaki sayapun ikut rapat walaupun saya rasa dia sangat lelah sekali. Selesai rapat lelaki saya menarik saya keluar dan pergi. Awalnya mau melihat senja di pantai ampenan untuk memastikan tanggal. Tapi karena tidak terkejar, kita ke memutuskan untuk karokean. Selama menatap dia, saya merasa beruntung memilikinya. Lelaki saya selalu pandai membuat suasana menyenangkan o(*////▽////*). Dan saat itu Pertama kalinya kami menyanyikan lagu dangdut (〃 ̄︶ ̄)┘└( ̄︶ ̄〃). Setelah itu, kami makan es krim.
5. Tanggal 28, kamis (hari kesukaan). Hari itu hari kbm dan gts. Lelaki saya dan 3 teman lain berangkat ke lokasi lebih awal dari saya dan yang lain untuk memasang tenda. Lalu siangpun sekitar jam 2 kami berangkat menyusul mereka. Sesampai disana lelaki saya tergulai lemah disebuah mussollah, tidak hanya terlihat lelah ternyata kakinya terluka (post). Berhubung teman kelas saya dan saya kuliah besok pagi, kamipun pulang sorenya setelah menatap senja yang ditemani wajah lelaki saya yang menyenangkan itu. Sebelum pulang, kami menyempat diri solat di kediaman lelaki. Kami yang kerumah lelaki di jamu begitu lembut. o(*////▽////*). Usai itu kami berniat main ke bundaran gerung. Lalu usai itu, kami mengutus diri kembali pulang. Dalam perjalanan pulang, lelaki saya bertanya (post). Hari itu saya adalah perempuan yang paling beruntung.
6. (Kegiatan KBM dan GTS) keren, lucu, menyenangkan, menyebalkan, memalukan (cerita yang ini panjang, mungkin post selanjutnya akan diceritakan).
Oke itu sekilas cerita yang muncul setelah membuka kotak misteri diwaktu subuh.
Sekarang, di awal bulan ini saya berharap mendapatkan lebih banyak keberuntungan lagi didalam kotak. Dan setengah bulan lagi tahun 2015. Semakin menua bukan berati muka saya ikut menua juga. Percaya tidak percaya tiap detik muka saya tidak berubah sama sekali. Jangan tanya saya pake apaan. Tapi ini fakta. ʕ( ͡° ͜ʖ ͡°)ʔ

Oke sekian post ini. Silakan kembali lagi untuk membaca.