Rabu, 28 Januari 2015

Bisa Saja..

Aku bisa menjadi bisu atas apa yang ingin ku ucapkan perihal rindu sepihak yang bernamakan kamu.
Aku bisa menjadi tuli atas apa yang aku dengar dari cemburu yang kehilangan sadar.
Aku bisa menjadi buta atas apa yang aku liat bahwa acuh begitu gila menyerupaimu.
Aku bisa menjadi lumpuh atas apa yang akan ku gerakkan tengah merusak prasangka baik.
Aku bisa menjadi apatis atas apa yang aku rasa menjadi tak lagi ku rasakan.
Aku bisa menjadi pengemis atas apa yang aku cerna tak lagi cukup diberikan semesta.
Aku bisa menjadi kamu atas apa yang membuatku tak bisa menjadi diriku sendiri.

-draft 29 Januari 2015

Jadi gimana? Tua apa Muda?

Hari ini kepikiran buat nulis kebingungan sendiri. Tanya tanya mampir satu per satu ke kepala. Entah pertanyaan-pertanyaan itu mesti dijawab sendiri apa butuh jawaban orang lain. Atau mungkin pertanyaan yang mengundang kita untuk berpikir divergen (ah apasih). Ini tentang usia. Iya usia, saat kapan kita disebut tua atau saat kapan kita disebut muda. Jawab sendiri dulu.. Tiap nonton tv yang acaranya talkshow yang isinya anak muda (lebih muda dari saya) sukses. Duh rasanya nyesss sekali, umur segini (berasa tua) belum bisa ngelakuin apa-apa. Saat anak muda lain berkarya tiap hari, saya bangun subuh malah tidur lagi, mandi pas mau berangkat kuliah, kuliah pun cuma ikutin peraturan, menunggu apa yang diperintah, ngerjain apa yang disuruh, dan gak ngelakuin apa apa saat ada waktu luang. Entah bagaimana rasa sedih saya hinggap ketika melihat orang tahu apa yang mereka sukai, melakukan apa yang mereka senangi, melakukan hobinya, atau menggapai cita citanya dengan motivasi motivasi yang kuat. Miris memang, ketika sadar, kita sendiri gak tahu apa yang kita suka, boro-boro mau ngelakuin hal yang kita senangi. Kita sendiri saja gak mengenal diri dengan akrab. Punya bakat tapi kurang motivasi. Ya gimana saya gak bingung sendiri jadinya. Suka banyak hal tapi susah untuk fokus kepada satu hal. Iya saya tahu, susah bukan berarti gak bisa. Tahu sekali. Tapi berteori tak semudah mengusaha dan melakukan.. Kemauan? Pasti kita bicarakan itu.
Sebelum melebar kesana.

Saya masih mau menjabarkan kebingungan kebingungan yang mengakar di kepala. Iya masih tentang usia. Apakah masih muda atau cukup tua usia ini? Bagaimana tidak, kita dihadapkan oleh puluhan undangan pernikahan sahabat sendiri, teman sahabat, teman dari teman sahabat, teman dari teman teman sahabat (Ah begitu seterusnya sampai saturnus kehilangan cincin).
Lalu kenapa? Bukan kenapa kenapa sih tapi ini cukup membuat kita jungkir balik memikirkan hidup kita sendiri (lebai sih). Tapi serius, ini cukup menggangu pikiran saya, mereka yang telah menikah rasa rasanya hebat sekali. Yang berarti berani memulai, yang berarti lebih dari sekedar menyatukan satu hati melainkan menyatukan hati kedua keluarga. Yang berarti mampu mengalahkan ego demi mengedepankan damai. Yang berarti banyak hal baik dan buruk yang akan dilewati bersama.
Banyak lagi hal hebat lainnya. Nah bercermin dari semua itu, saya rasa saya masih pantas di bilang muda atau lebih pantas dibilang ababil. Hati saya sendiri, rasanya masih terbilang terlalu sensitif. Dikit dikit meledak ledak pas lihat pacarnya sibuk. Dikit dikit jadi pendiam pas pacarnya pergi gak ngabarin. Uda gitu, cengeng banget lagi. Dikit dikit nangis pas lagi gugup, dikit dikit nangis pas kangen, dikit dikit nangis pas nonton film. Banyak lagi dikit dikit nangisnya, padahal cuma dikit tuh. Kalau terlalu sensitif terus gimana mau pahami orang lain, yang ada mau dipahami melulu. Gimana mau ngertiin orang, ngertiin diri sendiri masih susah.  Mesti latih kesabaran dulu nih, mesti bisa kelola emosi yang berapi api jadi energi yang positif (ciyeee bisa banget ngomong gitu).
Jadi apa kalian masih muda apa cukup tua?
Tanyakan kebingungan kalian sendiri.

Senin, 26 Januari 2015

Apalah

Kekasihku yang baik hati. Kemari, duduk di sampingku. Aku akan membacakanmu sebuah cerita yang berawal darimu dan berakhir dariku. Jadi katakan, apakah hari ini kau masih mencintaiku?
Tadi pagi aku bangun kesiangan. Kaki di atas kepala di bawah. Entah bagaimana aku tidur semalam hingga aku bangun dengan posisi tak wajar.  Ah aku ingat semalam aku bermimpi.. Cerita mimpiku ini panjang. Ketika cerita mimpiku tak menarik kau boleh menghentikannya dengan cara apapun kamu mau.

..
Mimpiku semalam, aku tengah mencarimu diberbagai sudut yang memungkinkan kamu berada. Ke tempat pertama yang kudatangi yaitu tempat pertama kali aku jatuh telak oleh ucapanmu. Nirwana. Kau tau itu ? Iya, disana ku temui sekelompok wajah tak asing namun tak ada satupun yang menyerupaimu, aku bertanya dan katanya kau baru saja meninggalkan tempat ini, menceritakan banyak hal tentang bahagianya. Karna ku pikir kau baru sj disini. Aku berlari mncari jejakmu yg tersisa. Sedang hujan menyusul langkahku. Alhasil langkahmu terhapus tanpa sisa. Namun aku tak berhenti hingga akhirnya aku berhenti disuatu tempat. Aku kenal dengan baik tempat ini. Tempat dimana mata dimanja oleh tarian jingga gemulai membentuk senja. Aku tersungkur oleh keindahannya, jatuh hingga ada dua sosok yang menepuk pundakku. Aku sontak kaget, sekali lagi, aku mengenali sosok sosok ini. Mereka tersenyum ramah denganku. Mereka memelukku bergantian hingga isakku perlahan mereda.

Katanya kau baru saja kesini, meminta mutiara laut yang paling indah yang mereka miliki. Lalu kau pergi, sekali lagi karena kau baru saja disini, aku berlari lagi sekuat kuatnya meski kakiku sudah letih menopang. Aku tak peduli semasih langkahmu masih terlihat di tepi pantai. Lagi lagi langkahku terkejar oleh ombak. Iya lebih dulu menghempas jejakmu menjadi tiada. Aku tak lagi berlari . Aku brjalan tanpa arah. Hingga aku lelah dan beristirahat disebuah tempat. Aku pernah kesini, saat itu semesta sedang bahu membahu meletakkan bahagia dalam pelukmu. Lalu ada anak laki laki yang sedang berlari ke arahku.Tanpa sapa ia menarik tanganku membawa tubuhku ke suatu tempat. Hingga anak itu berhenti berlari dan aku tercengang tak percaya. Aku melihatmu tengah berdiri menunggu. Dengan setelan kemeja rapi. Kau mengulur tanganmu.

18 Januari 2015