Ada radar yang mendeteksi hal-hal yang tersirat :*
Hai, kamu. Bagaimana langit langit di sana sekarang? Akan hujankah? Atau sedang panas-panasnya? Eit, aku tak menyuruhmu untuk mengecek perkiraan cuaca di henponmu. Berdirilah, tengok keluar rumah atau mengintip sebentar melalui jendela kayumu. Sudah? Bagaimana? Simpan dan tahan dulu jawabannya sampai kita tak berjarak lagi nanti.
Sampai semesta menyetujui langkahmu menemuiku pada jarak 10km dari kediamanmu.
Aku tak tahu harus bermula dari mana isi surat ini, aku tak tahu harus menceritakan apa atau membahas apa. Tunggu sebentar, biarkan kepalaku memanas.
...
Ah ya, bagaimana jika aku menceritakan dan membahas potongan kejadian yang tak kau tahu pada malam malam sebelumnya hingga sekarang? Apa kau ingin tahu? Maka mengangguklah..
Apa kau tahu mengapa aku tiba tiba diam malam itu? Saat aku bilang, aku ingin sekali menangis. (Aku baru sadar hanya denganmu, aku berani berseru ingin menangis.) Percayalah hari itu, ketika kau mengajakku mengunjungi senja, aku senang berkali kali. Tapi sepulangan kita, tak kusangka malam itu aku akan bertamukan sesak. Sesak yang bersenjatakan duri, perihnya tak terlalu sakit namun terlalu sesak untuk menampung isak, aku ingin sekali menangis. Tapi katamu, aku tak boleh menangis.
Mungkin kau tak tahu mengapa atau kenapa sesak itu datang. Tapi aku tahu, tahu dan mengerti sekali tujuannya mendatangiku.
Aku mungkin perempuan yang tak benar benar peduli dan tak ingin tahu. Aku kadang ingin hidup dalam ketidakpedulian dan ketidaktahuan. Karna itulah, salah satu caraku agar aku berprasangka baik pada oranglain. Awalnya aku tak terlalu peduli tapi aku tak sengaja melihat apa yang tak ingin kulihat. Kacaulah kepalaku diacak prasangka jahat. Lalu yang bisa kuperbuat hanya mencari hangat lenganmu, genggam tanganmu, dan celoteh kecilmu. Dengan begitu aku tak menangis. Aku tak ingin bertanya, tak ingin pula menyambar langsung apa yang kau pegang. Aku sangat tak ingin. Aku tak ingin mendengar, tak ingin pula mengetahui.
Hingga saat waktu memaksamu pulang, kau ingin aku berjanji agar aku tak menangis, dan aku mengangguk.
Dan maaf, malam itu aku tak menepati janji. Namun tak terdengar isak, hanya beberapa tetes lalu terlelap. Aku kembali melupakan potongan malam itu pada paginya.
Malam selanjutnya, aku tak sengaja melihat apa yang tak ingin kulihat dan kuketahui. Dan kali ini kau tahu penyebab sesak yang datang. Kau tahu dari mana suara gemuruh itu, iya mungkin kau tahu persis seperti apa suara robohnya sebuah benteng.
Saat itu, aku tak ingin menangis. Aku hanya ingin tak tahu, aku hanya ingin tak peduli. Dan benar, hingga akan lelappun aku (ingin) tak peduli. Hingga pagi dan paginya lagi.
Keesokan harinya lagi, aku sengaja melihat apa yang ingin kulihat, dan saat itulah aku benar benar dipeluk tangis. Aku memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpestakan kesedihan. Aku ingin sekali tak peduli dan tak ingin tahu..
Aku tahu kau menyayangiku, bolehkah aku meminta sesuatu? Aku ingin kau menutup mataku dari warna-warna yang menyilaukan dan membiarkanku melihat phosphene saja.
Nb : ... kamu jangan khawatir, aku baik baik saja selama kau masih menyayangiku sebagai perempuanmu satu satunya yang menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar