Minggu, 08 Maret 2015

LILI PUTIH


Apakah sore ini kau masih duduk dibelakang rumahmu sambil menatap kosong, seikat lili putih dengan sebuah vas di atas meja kecil disamping kursi malas yang sering kau duduki?
Sudah berapa lama? Berapa lama kau akan seperti itu?
Kau hanya menatap lili sedangkan kau biarkan senja berlalu begitu saja. Senja mengadu padaku bahwa kau tak menoleh sedikitpun kearahnya, perhatianmu telak dimenangkan lili putih itu. Kau tahu apa yang ku katakan pada senja? "Senja, lili putih itu sudah menjadi kekasihnya. Ialah bunga yang tak pernah membuatnya jenuh pecintanya. Putihnya sempurna menyimpan arti suci.  Kesederhanaan yang lahir dari lentik kelopaknya, semerbak wanginya memercik ketenangan, mungkin langit sudah menumpah wewangian surga kepadanya. Ialah lili putih dari kerajaan Plantae dengan nama Lilium Regale.  Nama yang cantik bukan? Lili adalah putri raja dan permaisuri dihatinya. Di tempat paling berkuasa dari dirinya telah lama diduduki oleh lili putih. Semempesona apapun kamu dalam benakmu, kau tak bisa tinggal membujuk rayu mendekapmu. Kau hanya datang beberapa saat lalu pulang tanpa tahu cara menetap. Duhai senja, jangan terlalu banyak berharap. Cintai saja pengagummu yang lain, yang mendoakan jinggamu selalu merona. Berbahagialah." Itulah yang kukatakan malam tadi, saat ku dengar isak tangis senja dibalik pekatnya langit. Dan kali ini, ia mengangguk memelukku, meresap tiap lisan yang ku ucapkan.
O, iya apa kau akan membaca suratku kali ini?

Setahuku, kotak posmu selalu kosong. Tentu ada yang memindahkannya bukan? Aku tahu, itu pasti nenekmu kan? Nenekmu yang meletakkan surat surat itu diatas meja disamping lili putih kesayanganmu. Bagaimana aku tahu? Akulah yang menelpon tiap malam ke rumahmu setelah kau terlelap. Dan nenekmulah yang selalu bercerita apa yang kau lakukan tiap waktu. Aku tahu hingga aku bisa menyebutnya tanpa perlu mengingat ingat apa yang terlupa dari bagiannya. Siapa aku? Aku pengagummu, yang mengirimimu surat tiap harinya walaupun kau tak pernah menyentuh sekalipun apalagi untuk mengejanya.
Jadi hari ini kau masih seperti biasa dengan coklat hangat ditemani lili putih yang seringkali kau ajak berbincang, sedangkan lili putih dengan anggun mendiamkanmu. Ah, aku tak cemburu seperti senja. Karena aku yakin, cintamu akan jatuh dipelukku perlahan. Sebab aku tak pernah pergi, tak pula beranjak. Aku akan tinggal di heningnya kepalamu, dan aku sudah siap meramaikannya dengan hiruk pikuknya bahagia.

Ps : Hari ini seperti biasa akupun mengirimi bunga, bunga tulip berwarna orange! Lihatlah nanti setelah kau beranjak dari kursi malasmu.

Dariku, pengagummu.

Tidak ada komentar: