Mesti ku tahu ketika hatimu tak mencintaiku tepat waktu. Aku hanya bisa berkata, "Tak apa, langit mendung yang lalu kau tutupi agar aku tak kehujanan".
Dua puluh tujuh maret dua ribu empat belas lalu. Kau beranikan diri, mengajakku melepas kesendirian, berdamai dengan sepi, lalu berteman dengan hiruk pikuk debar.
Kau datang tiba-tiba, tak pernah ku sapa. Kau duduk di hadapanku, bersila memintaku menjawab pertanyaanmu. Yang kutahu saat itu, aku tersipu malu karena aku telah dulu jatuh cinta sebelum hari aku duduk di hadapanmu. Aku tak pernah berpikir atau bertanya sejauh mana kau jatuh dalam pesonaku sebelum hari itu. Hingga kau memintaku menjadi kekasihmu. Seharusnya aku bertanya, apa yang kau tentangku, jatuh cintakah kau padaku saat itu?
Iya, seharusnya aku bertanya lebih dulu adakah bayang masa lalumu yang mengantarmu kemari yang menyerupaiku? Aku bertanya agar aku tak menelan pahitnya sekarang, saat keseriusanku sudah memuncak hingga atas kepalamu.
Ku pikir hari itu, aku telah memenjarakanmu dalam kemutlakkan bahagiaku. Yang terpikir olehku tawamu adalah sesungguhnya lahir dari langit-langit kota yang semesta lukis oleh kata iya-ku.
Hari itu adalah hari dimana senyum tak henti-henti. Logikaku ambruk, kakiku melayang tak lagi bergravitisi, aku merasa seluruh penat kepalaku sudah meroket ke pluto.
Hingga kembali lagi menemukan landasannya, di kepalaku. Aku salah satu penyempurna harimu. Salah satu pemeran perempuan manis saat itu.
Kau bersamaku tapi tak bersamaku.
Langitku tunai menghapus mendung, tawaku lepas landas hingga langit tanpa terik hanya teduh.
Aku menyayangimu, lalu cintai aku sepenuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar