Minggu, 13 September 2015

Hi, Sayang

Kau boleh mengataiku seperti apapun atau menyebutku dengan apapun, sesuka hatimu.
Tentu boleh saja, sayang. Sungguh tak ada batasnya untukmu. Menyakiti atau membahagiakanku, itu pilihanmu.

Dan kini, ketika aku mulai menyapamu lagi disini. Ada banyak hal yang ingin ku katakan atau mungkin kutanyakan (tanpa) mengharapkan jawaban.
Sayang, seperti yang kau bilang dan nyatanya kulihat sendiri, kau bukan lelaki biasa. Kau termasuk ke jejeran orang yang terkenal walaupun kau sama sekali bukan jelmaan para artis. Hampir kemanapun kau pergi, kau temui seseorang yang mengenalmu. Dan tak heran kalau kau selalu menjadi sorotan. Apa yang kau ucapkan dalam media sosialmu, isinya selalu diperpincangkan. Ada satu kalimat yang kau ucapkan dan membuat mereka mengingatkanmu hingga kini yaitu,"Perempuanku yang Hilang". Akupun hingga saat ini, tak mengetahui filosopi dari kutipan tersebut. Hanya satu yang kutahu katamu, kata-kata itu lahir ketika kau masih dibangku sekolah menengah pertama. Selebihnya aku tak tahu.
Lalu saat ini, tiba-tiba pertanyaanku dengan pertanyaan mereka sama. Perempuan mana? Siapa? Akukah? Atau memang sama sekali belum ditemukan sehingga kau nyatakan ia hilang. Sekali lagi, aku (tak) perlu jawaban, penasaranku mungkin sampai sini, dan lagi lagi selebihnya aku (tak) mau tahu.
Sayang, ku dengar kesehatanmu kurang baik. Sekarang kepalamu sering sekali mengganggu, ketika kau hendak bangun dari duduk atau tidurmu. Entah kau sedang kelelahan, kekurangan cairan atau sebenarnya kau kekurangan darah. Entahlah itu gejala apa, aku tak tahu, karna aku gagal menjadi doktermu. Tapi setidaknya aku ingin merawatmu atau menuruti segala keinginanmu saat ini, sungguh. (Kukatakan sungguh, karena aku berharap kau tak sedang berpikir bahwa ini hanya harapan palsu yang kuucap). Maka beristirahatlah dengan baik, biar doa-doaku di sini berterbangan kesana, merawatmu dengan manja.
Sayang? Apakah kau masih di sana menjadi pembaca setiaku? Aku lupa bertanya bagaimana kabar hatimu sejak dulu. Aku lupa bertanya apakah aku tulang rusukmu yang hilang. Jika memang benar, sekarang seharusnya kau jauh lebih baik selama bersamaku. Sebab jika aku ini tulang rusukmu, kau akan bernafas jauh lebih lega, dari sebelum kau temukan aku, organ dalam tubuhmupun terjaga dengan baik dan kuat. Itu semua karena tulang rusukmu menjadi lengkap dan yang paling penting aku pas untuk melengkapi satu kerangka yang hilang itu. Karena kalau tidak, kau akan merasakan kesakitan yang luar biasa di dadamu, sebab kau atau aku sedang memaksakan hal yang tidak seharusnya disatukan. Dan aku berharap dadamu sekarang jauh lebih lapang dari yang dulu, karena kau telah temukan satu bagian tawamu yang sempat hilang.
Sayang? Kali ini pula aku meminta maaf padamu. Atas cinta yang belum bisa kuberikan sebanyak kau berikan. Saat aku yang masih berusaha membangun menara pasir untukmu, kau telah lebih dulu membangun istana dipuncak gunung sana. Dan saat aku masih sibuk membenarkan riasanku, kau telah lebih dulu menebarkan karpet merah untukku. Hal hal yang belum sempat ku minta padamu, kau sudah tahu dengan bertekuk lutut dihadapanku menawarkannya. Entah bagaimana aku selalu kalah dalam hal mencintai dari kamu. Berkali kali mencoba untuk menjadi lebih baik darimu, kau selalu teramat cerdik mendahuluiku.
Sayang? Maafkan perempuanmu. Perempuanmu ini sudah banyak merasakan sensasi bahagia, sedangkan yang kau dapatkan hanya separuh dari kau beri. Sungguh tidak setimpal bagimu, bukan? Maka dari itu, aku meminta maaf padamu. Walaupun maaf tak menambah banyak apa yang bisaku beri, tapi setidaknya aku tidak acuh pada semua yang kau lakukan untukku.
Sayang, aku tak memintamu untuk mengajariku bagaimana agar secerdik kamu, bagaimana agar semua seimbang, bagaimana cara mengistimewakanmu, aku tak meminta itu sayang. Aku hanya ingin kau lebih tabah, lebih kuat, dan tak makan hati bersamaku. Memang tak mudah apa yang ku minta dengan apa yang harus kau hadapi, perempuan yang masih kekanak-kanakan sepertiku. Tapi sayang, aku (bukan) perempuan penipu, yang memintamu bertahan namun tak ada yang bisa ku lakukan. Aku (bukan) penipu yang berbohong padamu berkali - kali. Kau bebas percaya atau tidak, itu pilihan.
Sayang? Maukah kau bersabar sebentar lagi? Menunggu namun tetap menemaniku memperbaiki diri hingga pantas bersanding denganmu? Hal hal buruk yang ada padakupun, berharap menjadi baik didekatmu, berkatmu.
Sayang, cubit pipiku saja bila aku tak melihat matamu saat kau bicara, silakan asal jangan bunuh aku dengan cintamu 😁.
Sayang? Masih banyak lagi yang harus ku katakan, hanya saja kali ini aku harus memotongnya sampai di sini. Pertama, karena kau harus istirahat membaca, kedua karena kau harus melakukan banyak hal. Ketiga karena kau harus banyak banyak banyak istirahat.
Dariku, perempuanmu..
Yang mencintaimu, selalu.

Tidak ada komentar: