Apakah aku adalah seseorang yang benar benar mencintaimu? Entah. Tapi aku ingin meminjam kata katamu dan menambahkannya sedikit. "Setahuku aku menyayangimu. Iya, aku mungkin terlalu jatuh sayang".
Dan kau tahu, memiliki pengalaman bersama orang lain lebih banyak darimu tak membuat aku lebih baik dalam hal memahami. Malam ini air mataku pecah, membaca kata katamu yang serupa membelai namun perlahan mencekik leherku. Membacanya membuatku lupa menarik nafas. Aku sedang bingung apa yang terjadi, aku serasa tercekik tapi akulah yang seperti pembunuh. Aku merasa diriku korban tapi akulah sebenarnya tersangka.
Karna aku, kau terpaksa menjadi penjahat menggantikanku.
Sedangkan aku malah asik menuduh tanpa ampun, tanpa jeda dan tanpa memberikan waktu pembelaan. Aku menjadi tak karuan hanya karena rindu yang tak sanggup lagi aku peluk sendirian. Sedangkan kau berbeda di sana, begitu tabah merawat rindu yang nakal ketika tidak dipertemukan semesta. Iya, kau berbeda. Selalu.
Lelakiku, semoga aku tak sedang merangkak posesif kepadamu karena ketidakpercayaanku. Iya, mungkin benar katamu, aku mungkin tidak percaya sepenuhnya. Hingga aku tak mampu menjadi penikmat prasangka baik atas segala gelagat baik yang kau berikan. Maafkan aku. Aku tengah berada dipuncak rasa sayang, puncak keegoisan dan bahkan keduanya.
Surat dariku, perempuan yang selalu kekurangan jika tak kau genapkan. Perempuan yang selalu dipeluk cemburu. Perempuan yang akan berusaha memahami tiap belah kepalamu.
Maafkan perempuan yang masih senang melompat lompat daripada memilih duduk tenang. Maaf.
Perempuan selalu benar karena lelaki kadang mengalah dengan menyalahkan dirinya.
Nb : Aku tak pernah benar benar mendiamkanmu karena sebenarnya akulah paling bising mengabadikanmu.. Tak ada yang setabah kamu menungguku, tak ada yang sesabarkan menghadapiku, tak ada yang selembut kamu menasehatiku. Aku tentu beruntung. Bagaimana denganmu?
Semoga suratku belum terlambat untuk kau baca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar