Aku
tak tahu kapan tepatnya kau jatuh cinta denganku. Yang ku tahu ialah tahun
lalu.
Tahun
lalu, jatuh cinta ialah hadiah terbesar yang telah merubah sebagian besar
hidupku, telah datang seseorang yang meyelamatkanku dari rasa takut akan kesepian
ketika sendiri. Seseorang yang selalu mengusahakan bagaimana aku bisa tertawa
setiap harinya. Walaupun tak menutup kemungkinan ia pun pernah melukai, tapi ia
selalu bergerak ke arah yang lebih baik, memperbaiki kesalahan hingga ia tak
lagi terlihat.
Hanya
saja, aku dan dia bukan lagi remaja kemarin sore yang hanya akan sibuk
membicarakan cinta. Aku rasa, keseriusan memulai merubah isi kepala dan hati
untuk berlaku lebih dari sebelumnya. Cinta akan selalu kita butuhkan hanya
saja, kita tak perlu perjalanan jauh untuk mencari hal berkesan dari diri
masing-masing. Ia bahkan tak sadar, kita tak lagi mengenakan baju yang sama
disaat kita bertemu. Aku tak lagi harus menganti berkali-kali pakaian hanya
untuk bertemu dengannya, aku tak perlu lagi makan dengan wajah merah merona,
tak perlu lagi ada yang kurahasiakan darinya. Semua tak lagi sama, semua
berubah seiring waktu, hanya saja debarku masih sama. Masih paling juara
degupnya. Namun selain itu, hampir segalanya berubah menjadi lebih baik, dari
cinta yang hanya seluas samudra, tapi
kini jumlahnya sesemesta. Karena pertambahan jumlah sebanyak itu, aku
seringkali dihantui rasa takut, takut akan kehilangan seseorang yang
menyenangkan sepertinya.
Maka,
ada harapan dari dalam diriku untuknya, aku ingin menjadi lebih baik baginya,
lebih menyenangkan dan tak membuatnya marah berkali-kali karena sifatku yang
baginya terlalu egois. Dengan beribu ingin aku bisa kelak memperlihatkan bahwa
aku pantas mendampingi dirinya, menunjukkan pada ibunya bahwa aku perempuan
yang akan menjaga anaknya walau tak sebaik beliau. Aku ingin menjadi perempuan
yang bisa diandalkan, yang bisa meyakinkannya, bahwa masa depan kelak akan baik-baik
saja jika ia denganku lalu menjadi yang layak untuk dibanggakan di hadapan
semua orang. Selalu berkeinginan menjadi seseorang yang ajaibnya selalu
mengusahakan ada untuknya, menyulap kerutan-kerutan didahinya menjadi lelucon, yang menyibukkan diri pada keluarga dan
dirinya bukan sosial media. Aku berharap banyak pada diriku sendiri, berharap
tentang kebaikan agar satu-satunya yang kau tatap hanya aku bukan siapapun
terlebih jika itu sebuah masa lalu.
Dengan
keadaan yang biasaku sepertinya, aku berpikir betapa sulit baginya mencintai
sekaligus membahagiakanku dalam waktu yang bersamaan. Untuknya, aku minta maaf
jika aku bahkan belum mampu mengurangi beban di pundaknya. Aku berharap
kesibukannya denganku tak menjadi kesibukan tanpa arah.
Mari
berharap hal-hal baik untuk kita.
Dimanakah
aku mendapatkan kunci dan perkakas lainnya, agar pintu ke masa lalumu ku tutup
rapat-rapat, dan kau tak punya celah lagi untuk melihatnya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar