Berbanggalah kamu, kamu yang memiliki orang-orang yang begitu pandai menghibur.
Entah bagaimana menjabarkan kebahagiaan-kebahagian yang ditiupkan dari kepala hingga turun ke dalam dada. Tak cukup hanya dengan kata lega untuk sebuah beban yang gugur satu persatu ketika kita tertawa. Pernahkah kau berpikir, jika sesungguhnya kita selalu kebingungan untuk menglambangkan rasa bahagia yang menggebu-gebu?
Saya terutamanya, saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskan seperti apa rasanya. Jika hanya berkata isi kepala saya jauh lebih ringan, tak ada lagi migran, tak ada lagi denyut-denyut kesakitan, atau perihal dada yang jauh lebih lapang, tak ada luka atau dada ini seperti dihadiahi hati yang baru, ah bagi saya ini takkan pernah cukup untuk mengatakan saya sedang bahagia.
Dan jika ada kata yang lebih tinggi dari kata euforia, maka saya sedang berada ditahap itu. Ditahap dimana saya tidak ingin bergerak, berharap Bumi hanya bisa berputar mengulangi cerita-cerita manis seperti ini. Atau jika memang tidak bisa, saya berharap bisa melompati tiap ranjau yang dipasang waktu. Karena jika ada kesalahan menginjak, kita tahu seberapa terlukanya kita hingga menjerit-jerit sendiri. Seseorang sungguh pandai menunjukkan seberapa banyak lukanya, menuliskan betapa sadisnya oranglain terhadapnya, pandai mencaci maki siapapun, mulutnya ramai bercerita dukanya, bahkan sangat hebat mengagung-agungkan teriakan-teriakan seolah ia paling sensara. Dan setiap orang tak pernah kehabisan kata-kata, mengubah duka menjadi kalimat cantik yang tak berkesudahan.
Sedangkan..
Saya selalu kagum kepada penyair yang selalu bisa menuliskan keromantisan yang didalamnya dimuat bahagia-bahagia sederhana yang berhasil membuat dada berdebar tanpa aba-aba. Dari itu, sayapun belajar, bahwa menulis tentang kesakitan selalu lebih mudah daripada menulis tentang yang hal-hal menyenangkan. Padahal seharusnya, jika kita bisa berpikir setiap menulis kesedihan sesungguhnya kita sedang mengeluh. Sedangkan ketika suka cita mengusai diri kita, kita kehabisan kata-kata bagaimana mengubahnya menjadi kata terimakasih. Walau hanya dengan kata sederhana seperti itu jika kita mengucapkannya kepada seseorang dengan senang, saya pikir akan ada kepuasaan sendiri dalam diri seseorang yang telah membuatmu jungkir balik merasa tawa. Karena sesungguhnya tak mudah membuat oranglain bahagia atas apa yang kita lakukan. Dan tak semua orang berniat melihat dan mendengar kita tertawa. Orang-orang yang sanggup membuatmu amnesia berhari-hari akan kesepian. Kau beruntung memilikinya. Entah saya yang terlambat memikirkannya atau memang saya tidak pernah sempat memikirkan hal seperti ini.
Sekali lagi perihal kebahagian. Kita berkali-kali merasakan bahagia bahkan teramat sering, tapi tak jarang kita melupakan segala hal-hal yang membuat kita berhujan tawa, hanya karna satu detik kita tak mampu menahan ego. Maka lenyaplah deretan kisah manis yang dibawa oleh pergantian musim kemarau. Merasa luka paling lama mendatanginya. Entah hubungannya dimana. Entah. Yang pasti, berbahagialah selagi kau mampu melompati masa tersulitmu. Menangislah jika memang kau terkena cipratan duka. Namun yang perlu kau ingat, atas apa yang kau rasakan abadikanlah kebahagiaanmu lebih banyak daripada rasa sedih. Dengan selalu bersyukur.
Dan sekali lagi saya ulangi tak semua orang berniat melihat dan mendengar kita tertawa. Karena orang orang yang selalu berbahagia ketika kau bahagia jumlahnya sedikit dari yang kita kira. Maka berbangga dirilah memilikinya. Hadiahkan ia terimakasih dan selalu doakan agar mereka selalu seperti itu.
Ps: Untuk lelakiku, sebagai perempuan yang telah kau cintai dan perjuangkan bahagianya. Terimakasih atas bahagia yang tak bisa kujabarkan lebih dari ini. Terimakasih telah menjadi seseorang yang bahagia ketika aku bahagia. Terimakasih atas usaha untuk selalu menjauhkanku dari bom atom yang siap meledak karena luka atau cemburu.
Aku menyayangi lebih dari ketidaktahuanmu.
I'am so happy..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar