Minggu, 27 September 2015

Bukan untuk siapa-siapa.


Bahagiakan dia, meski ia tak sedang bersamaku. Walau kadang aku harus cemburu menunggu.
Bahagiakan dia, meski tak ku bahagiakan.
Walau panas sekali rasanya dadaku.

Bahagiakan dia, meski nestapa menghujatnya.
Walau sekalipun mendung di dadanya.
Bahagiakan dia, meski aku tak menghiburnya.
Walau terkadang aku rindu menghadiahkannya dekap.
Bahagiakan dia, meski ia tak memperdulikannya.
Walau sekalipun aku sudah mencoba membahagiakannya.

Temani dia, bahkan sekalipun ia tak merasa sepi.
Temani dia, dari pagi hingga malam, hingga paginya lagi.
Temani dia, hingga ia lupa bahwa arti kesendirian pernah ada dalam dirinya.
Temani dia, karena kehadiranku tak cukup menemaninya.

Lindungi dia, dari rasa nyeri karena kecewa.
Lindungi dia, dari racun yang mungkin tak menemukan penawarnya.
Lindungi dia, dari panas dinginnya semesta.
Lindungi dia, dari para penjahat dan dari aku yang pencemburu.

Tuhan, buat aku lupa bagaimana rasanya cemburu.
Buat aku lupa bagaimana rasanya di abaikan.
Buat aku lupa bagaimana rasanya tak dibutuhkan.
Sungguh Tuhan, kali ini saja.

Tuhan, surat kali ini masih tentang seseorang yang ku sayangi. Tentang seseorang yang ada  dalam semogaku, semoga yang ku layangkan ke langit agar sampai ke hadapanmu, dengan bertinta air mata lalu berkertaskan nafasku.
Namun Engkaulah pemilik rencana, rencana-rencana terbaik hanya kau yang ketahui. Termasuk rencana pertemuanku dengannya, kau memperkenalku dengan rentetan cerita manis di dalamnya. Atas segala rencanaMu, Tuhan. Aku meminta agar tak ada perpisahan didalamnya.

Aku mencintai seseorang yang kerdil di hadapanMu, jatuh cintakupun atas izinMu. Maka izinkan kami, menyatu. Seiramakan degub jantung kami, selipkan namaku tepat di dadanya. Aku meminta izinMu jika ia berkenan pula meminta aku dariMu.
Terimakasih, Tuhan. Aku mencintaimu.

Tidak ada komentar: