Ketika aku meletakkan kedua tanganku di pipimu, maka
letakkan pula kedua tanganmu di wajahku. Ketika aku memelukmu, maka dekaplah
aku seerat diriku memberi hangat itu. Ketika aku melangkah selangkah, maka
jangan menambahnya menjadi dua langkah, agar kau tak ku anggap serakah. Ketika
aku berkaca-kaca dengan rindu, maka tadahlah derainya dengan temu. Ketika aku
malu-malu ingin menggapai jemarimu di keramaian, maka jangan acuh dengan
menganggapku seperti tak butuh. Ketika berdua kau manis bak madu, maka dalam ramai
janganlah berpura-pura menghormatiku jika yang terlihat hanya seperti teman
bermainku. Ketika segalanya tentangku maka selalu ku harap itu terkait
denganmu. Tak kau kurangi takarnya, tak kau tambahkan janjinya , tak kau hilangkan
manisnya.
Janganlah kau berjantung pisang. Adakah waktu selain pagi,
siang, sore, malam takku ingin adanya sapamu?. Sedangkan waktu petang dan subuh
tak henti mulutku melayangkan namamu, lalu jika kau pikir cintaku hanya
kumpulan mauku, sekelompok egoku, ribuan rengekanku, maka aku hanyalah gadis
kecil yang mencintai laki-laki dewasa sepertimu. Penuh ambisi, penuh mimpi.
Haruskah mendapatkanku seperti kau sedang berlomba dengan waktu? Haruskah
kedewasaan melepaskan rasa senangmu padaku? Haruskan kini aku merasa tiada agar
kau tenang memperjuangkan masa depan itu?
Kesedehanaan yang ada menjadi mewah, sebuah kemudahan yang
menjadi rumit dengan sebuah tanya tentang kabar, hadir yang terasa samar
diikuti oleh jarak yang yang menampar. Hingga akhirnya sebuah tawa mencapai
sedihnya di sebuah jarak yang belum usai, bersanding dengan waktu yang
pura-pura kita abaikan. Lalu aku adalah yang kau sisakan pada senggangmu, mengingatku
memang tak seharusnya menjadi salah satu aktivitas yang harus digentingkan. Segala
perdebatan kita tak diharuskan sampai pada meja diskusi untuk mencapai kata
damai.
Tak ada kebahagian yang kulewatkan tanpa melibatkanmu,
saat kau katakan setiap tujumu adalah aku. Ada harap yang menetas dari kata
itu, berharap tak ada yang keliru dari maknanya. Saat nantimu tak lagi bicara
tentangku, maka apa masih pantaskah aku bertanya tentang hari esokku denganmu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar