Selasa, 04 Juli 2017

Janganlah Berjantung Pisang

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Ketika aku meletakkan kedua tanganku di pipimu, maka letakkan pula kedua tanganmu di wajahku. Ketika aku memelukmu, maka dekaplah aku seerat diriku memberi hangat itu. Ketika aku melangkah selangkah, maka jangan menambahnya menjadi dua langkah, agar kau tak ku anggap serakah. Ketika aku berkaca-kaca dengan rindu, maka tadahlah derainya dengan temu. Ketika aku malu-malu ingin menggapai jemarimu di keramaian, maka jangan acuh dengan menganggapku seperti tak butuh. Ketika berdua kau manis bak madu, maka dalam ramai janganlah berpura-pura menghormatiku jika yang terlihat hanya seperti teman bermainku. Ketika segalanya tentangku maka selalu ku harap itu terkait denganmu. Tak kau kurangi takarnya, tak kau tambahkan janjinya , tak kau hilangkan manisnya.
Janganlah kau berjantung pisang. Adakah waktu selain pagi, siang, sore, malam takku ingin adanya sapamu?. Sedangkan waktu petang dan subuh tak henti mulutku melayangkan namamu, lalu jika kau pikir cintaku hanya kumpulan mauku, sekelompok egoku, ribuan rengekanku, maka aku hanyalah gadis kecil yang mencintai laki-laki dewasa sepertimu. Penuh ambisi, penuh mimpi. Haruskah mendapatkanku seperti kau sedang berlomba dengan waktu? Haruskah kedewasaan melepaskan rasa senangmu padaku? Haruskan kini aku merasa tiada agar kau tenang memperjuangkan masa depan itu?
Kesedehanaan yang ada menjadi mewah, sebuah kemudahan yang menjadi rumit dengan sebuah tanya tentang kabar, hadir yang terasa samar diikuti oleh jarak yang yang menampar. Hingga akhirnya sebuah tawa mencapai sedihnya di sebuah jarak yang belum usai, bersanding dengan waktu yang pura-pura kita abaikan. Lalu aku adalah yang kau sisakan pada senggangmu, mengingatku memang tak seharusnya menjadi salah satu aktivitas yang harus digentingkan. Segala perdebatan kita tak diharuskan sampai pada meja diskusi untuk mencapai kata damai.


Tak ada kebahagian yang kulewatkan tanpa melibatkanmu, saat kau katakan setiap tujumu adalah aku. Ada harap yang menetas dari kata itu, berharap tak ada yang keliru dari maknanya. Saat nantimu tak lagi bicara tentangku, maka apa masih pantaskah aku bertanya tentang hari esokku denganmu?

Tidak ada komentar: