Aku tak tahu apa yang sedang aku inginkan, jika aku berdoa.
Entah apa aku benar-benar ingin pintaku terwujud atau tidak, hatiku tak
benar-benar mengingkan sesuatu. Namun jika aku harus dihadapkan pada pilihan
aku akan memilih dengan pertimbangan tentunya, mana yang lebih banyak membawa
baik bagiku. Namun jika ditanya apa yang paling kuinginkan mungkin yang pasti
adalah bersamamu sekarang sampai nanti, sampai Tuhan bilang; usiamu sampai di
sini. Selain itu, aku tak lagi bisa memaksa diri untuk melakukan ini itu untuk
kepuasan bukan tak ada waktu, tapi tak ada kesempatan untuk melakukannya lagi.
Karena ada yang harus ditaati dari sekedar mauku yang banyak. Mengalah, itu
adalah kata yang tepat untuk mengganti nama tengahku sekarang. Dari semua
keinginanku, hanya sisa beberapa yang masih ingin ku pertahankan ada, sebab
sisanya harus ku runtuhkan untuk menghidupakan keinginan oranglain. Dari
panjang doaku, hanya ada satu dua tentangku sisanya untuk mereka yang harus
kumenangkan bahagianya.
Jika boleh jujur, aku sendiri sedang kebingungan atas
keberadaanku saat ini. Aku tak banyak membawa keberuntungan, dan akupun tak
berbuat banyak untuk sekitarku. Hingga seringkali aku bertanya, untuk apa
kehadiranku. Untuk apa aku bersembunyi padahal yang mencariku pun tak ada. Tapi
aku harus kemana dengan kedua tangan kosongku. Seringkali aku bertanya pada
diriku lalu kepada Tuhanku, mengapa aku harus menjadi seorang perempuan.
Padahal jika aku laki-laki, mungkin kakiku akan membawaku jauh dari apa yang
bisa ku bayangkan. Mungkin dengan menjadi laki-laki, aku takkan cemas meninggalkan
rumah walau hanya dengan kaos tipis di tubuhku. Mimpiku mungkin tak hanya nyata
saat menjelang lelap. Mungkin,
Mengapa aku seorang perempuan, yang nyalinya hanya sebatas
berani bermimpi. Yang nyalinya digenggam oleh sindiran orang.
Mengapa.
Untuk apa.
Menjadi apa.
Aku bertanya pada diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar