Rabu, 12 Juli 2017

Mengapa aku seorang Perempuan (PART I)

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Aku tak tahu apa yang sedang aku inginkan, jika aku berdoa. Entah apa aku benar-benar ingin pintaku terwujud atau tidak, hatiku tak benar-benar mengingkan sesuatu. Namun jika aku harus dihadapkan pada pilihan aku akan memilih dengan pertimbangan tentunya, mana yang lebih banyak membawa baik bagiku. Namun jika ditanya apa yang paling kuinginkan mungkin yang pasti adalah bersamamu sekarang sampai nanti, sampai Tuhan bilang; usiamu sampai di sini. Selain itu, aku tak lagi bisa memaksa diri untuk melakukan ini itu untuk kepuasan bukan tak ada waktu, tapi tak ada kesempatan untuk melakukannya lagi. Karena ada yang harus ditaati dari sekedar mauku yang banyak. Mengalah, itu adalah kata yang tepat untuk mengganti nama tengahku sekarang. Dari semua keinginanku, hanya sisa beberapa yang masih ingin ku pertahankan ada, sebab sisanya harus ku runtuhkan untuk menghidupakan keinginan oranglain. Dari panjang doaku, hanya ada satu dua tentangku sisanya untuk mereka yang harus kumenangkan bahagianya.
Jika boleh jujur, aku sendiri sedang kebingungan atas keberadaanku saat ini. Aku tak banyak membawa keberuntungan, dan akupun tak berbuat banyak untuk sekitarku. Hingga seringkali aku bertanya, untuk apa kehadiranku. Untuk apa aku bersembunyi padahal yang mencariku pun tak ada. Tapi aku harus kemana dengan kedua tangan kosongku. Seringkali aku bertanya pada diriku lalu kepada Tuhanku, mengapa aku harus menjadi seorang perempuan. Padahal jika aku laki-laki, mungkin kakiku akan membawaku jauh dari apa yang bisa ku bayangkan. Mungkin dengan menjadi laki-laki, aku takkan cemas meninggalkan rumah walau hanya dengan kaos tipis di tubuhku. Mimpiku mungkin tak hanya nyata saat menjelang lelap. Mungkin,
Mengapa aku seorang perempuan, yang nyalinya hanya sebatas berani bermimpi. Yang nyalinya digenggam oleh sindiran orang.
Mengapa.
Untuk apa.
Menjadi apa.

Aku bertanya pada diriku.

Tidak ada komentar: